Peliharaan Raja Solo (2) : Kerbau Bule Dikirab Pakubuwono X, Ini Asal Mula dan Maknanya…

Raja-raja Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang bertakhta di Kraton Solo memiliki sejumlah kerbau bule sebagai binatang peliharaan. Konon kerbau-kerbau itu warisan Pakubuwono II, pendiri dan penguasa pertama di istana yang kini masuk wilayah Kelurahan Baluwarti, Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Surakarta, Jawa Tengah itu.

Asal muasalnya, kerbau itu dipersembahkan Bupati Ponorogo untuk dipotong sebagai hidangan pada perayaan peresmian Kraton Solo. Nyatanya, hingga kini kerbau-kerbau bule itu beranak pinak.

Sejak masa berkuasanya Pakubuwono X, kerbau-kerbau itu selalu  dilibatkan setiap kali Kasunanan Surakarta Hadiningrat menggelar kirab pusaka mengitari Baluwarti pada Malam 1 Sura atau malam Tahun Baru Jawa. Kerbau yang pengawal tombak pusaka Kyai Slamet pada masa berkuasanya Pakubuwono X itu lalu dianggap sebagai pasangan sang tombak pusaka dan dinamai sama, Kyai Slamet.

Kini kerbau-kerbau keturunan Kyai Slamet identik sebagai sumber berkah. Bukan tanpa sebab jika derajat kerbau begitu ditinggikan oleh sebagian orang Jawa di Surakarta dan sekitarnya. Wakil Pengageng Sasana Wilapa Keraton Surakarta, K.P.H. Winarno Kusumo kepada sejumlah awak media massa pernah mengingatkan betapa akrab kerbau dengan masyarakat Surakarta dan sekitarnya yang berpola kehidupan agraris.

Kerbau dalam masyarakat agraris, menurut Winarno Kusumo, dianggap sebagai perlambang rakyat kecil terutama kaum petani. Kehidupan pertanian di masa lalu memang tak lepas dari kerbau untuk membajak sawah. Meninggikan derajat kerbau rupanya dianggap petinggi Kraton Solo itu sebagai metafora penguatan martabat rakyat kecil. “Negara akan kuat apabila rakyat kecil juga kuat,” tegasnya.

Baca juga  Peliharaan Raja Solo (5) : Di Taman Sriwedari, Kebun Binatang untuk Hewan Kesayangan Pakubuwono X

Namun, diingatkannya pula oleh Winarno Kusumo, kerbau juga dianggap hewan yang bodoh. Bahkan di Jawa ada ungkapan, “bodho plonga plongo koyo kebo [bodoh tengak tengok seperti kerbau]”. Ungkapan itu mengingatkan manusia agar tidak bodoh seperti kerbau.

Di sisi lain, lanjut Winarno Kusumo, kerbau dalam tradisi masyarakat Jawa dianggap mempunyai kekuatan untuk mengusir roh jahat atau niat buruk. Metafora itu sejatinya tercermin gamblang dalam tradisi kuno rampogan yang menurut catatan sejarah seperti dikutip Peter Boomgaard dalam tulisannya Tijgerstekerijen en tijger-buffelgevechten op Java, 1620-1906 dalam jurnal Indische Letteren Jaargang 21 sempat pula diantut raja-raja Kraton Mataram.

Dalam salah satu bagian tradisi rampogan atau kerap pula disebut rampog macan atau ditulis rampok macan yang pernah rutin digelar di alun-alun Kraton Kartasura maupun alun-alun Kraton Solo, macan atau harimau dipertarungkan dengan kerbau. Biasanya seekor macan atau harimau dibiarkan mati dalam pertarungan melawan seekor atau beberapa ekor kerbau.

Kemenangan kerbau dalam laga sima-maesa itu dimaknai sebagai perlambang kalahnya angkara murka atas kebajikan. Ada pula peneliti sejarah atau antropologi yang menempatkan kerbau sebagai perlambang orang Jawa dan macan atau harimau sebagai orang asing—pelaku kolonialisme Belanda di Jawa, sehingga kalahnya macan atau harimau atas kerbau adalah perlambang kalahnya pemerintah Hindia Belanda oleh warga pribumi.

Anggapan kuno bahwa kerbau mampu memenangi angkara murka mungkin sama tuanya dengan anggapan kuno bahwa kerbau adalah simbol penolak bala atau bencana. Anggapan itu juga dipahami oleh masyarakat Jawa. Maka tak heran jika kepala kerbau hasil sembelihan untuk selamatan biasanya ditanam di bagian inti suatu proyek pembangunan.

Baca juga  Kebo Bule, Simbol Tradisi Agraris Keraton Surakarta

Kerbau juga dianggap memiliki kepekaan khusus mengendus bencana. Anggapan itu, bersama anggapan kuno lainnya mungkin mendasari harapan warga Surakarta dan sekitarnya atas hadirnya kerbau bule Kyai Slamet tatkala wabah penyakit menyerang. Ingatan publik Solo dan sekitarnya bahkan sampai pada kesimpulan bahwa Kasunanan Surakarta Hadiningrat sengaja dikeluarkan ketika kondisi dirasa sudah gawat darurat, misalnya ketika terjadi wabah penyakit atau terjadi bencana alam.

Dengan sedemikian tingginya makna kerbau bagi masyarakat Jawa di Surakarta, maka tak mengherankan jika sebagian dari mereka merelakan diri mengabdi di Kraton Solo demi melayani keseharian kebo-kebo bule keturunan Kyai Slamet. Bahkan tatkala kerbau albino itu mati, maka Kasunanan Surakarta Hadiningart menguburkan bangkainya layaknya memakamkan jasad manusia.

 

Sumber:

  • Boomgaard, Peter. 2006. Tijgerstekerijen en tijger-buffelgevechten op Java, 1620-1906 dalam Indische Letteren Jaargang 21. Leiden: Indische Letteren
  • Suara Merdeka. 2009. Kotoran Kyai Slamet Masih Dipercaya Beri Berkah dalam Suara Merdeka 17 Desember  2009.
  • Wismabrata, M. 2015. Inilah Makna Kebo Bule Kyai Slamet Bagi Orang Jawa dalam Kompas 15 Oktober 2015.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here