Peliharaan Raja Solo (1): Kuda dan Gajah Kesayangan Dikirab Pakubuwono II, Kerbau Tidak

Raja lazim dikisahkan memiliki binatang kesayangan. Sebagai klangenan, istilah Jawanya. Sebagian warga Trowulan—yang diyakini para arkeolog sebagai bekas kota besar Kerajaan Majapahit—misalnya, bakal fasih berkisah tentang raja Majapahit yang memiliki harimau putih, merak putih, perkutut putih, gajah putih dan banteng putih sebagai hewan kesayangan.

Tempat usaha Anda belum tercatat di web ini? Hubungi kami di sini.

Pakubuwono II sebagai raja pertama di Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat di Solo juga dikisahkan memiliki binatang peliharaan serupa.  Ingatan Anda pasti langsung terarah ke kerbau bule berjuluk Kyai Slamet, bukan? Maklum saja, dari waktu ke waktu, banyak referensi memang mengarahkan Anda ke sosok kerbau albino yang dianggap sebagian kalangan memiliki kekuatan magis kuat itu.

Konon kerbau bule itu, sebagaimana dituturkan Wakil Pengageng Sasana Wilapa Keraton Surakarta, K.P.H. Winarno Kusumo kepada sejumlah insan pers adalah pemberian dari Bupati  Ponorogo kepada Pakubuwono II. Akibat Geger Pacinan, Pakubuwono II memang sempat harus menyingkir dari Kraton Kartasura, mengungsi hingga Ponorogo.

Bukan bersamaan dengan pulangnya Pakubuwono II ke Kartasura, kerbau pemberian Bupati Ponorogo itu disertakan. Saat melakukan kirab agung perpindahan kraton dari Kartasura ke Dusun Sala, 17 Februari 1745, Babad Giyanti hanya menyebut kuda dan gajah milik raja yang turut dikirab. Tak ada kerbau, apa lagi sebagai cucuk lampah sebagaimana fungsi para kerbau turunan Kyai Slamet saat ini.

Kerbau bule itu baru dipersembahkan Bupati Ponorogo setelah Pakubuwono mewisuda Dusun Sala sebagai Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Kerbau albino itu bukan dipersembahkan sebagai hewan peliharaan, melainkan sebagai persembahan untuk dipotong dan dihidangkan sebagai masakan. Nyatanya, kerbau tersebut juga berkembang biak hingga kini.

Lalu apa pula sebabnya kerbau bule milik Kasunanan Surakarta Hadiningrat itu harus mengemban mitos mistis yang begitu kuat, sampai-sampai sebagian masyarakat Jawa percaya hewan tersebut membawa berkah dan keselamatan? Kisahnya bukan terkait langsung dengan kerbau bule kiriman Bupati Ponorogo, melainkan keturunannya.

Kisah bermula dari tradisi yang dilakukan Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat saat dipimpin Susuhunan Pakubuwono X (1893 – 1939) mengirab tombak pusaka Kyai Slamet berkeliling tembok Baluwarti pada hari Selasa dan Jumat Kliwon. Saat itu, kebo bule selalu mengikuti di belakang. Perilaku itu lalu membuahkan kesimpulan bahwa kerbau-kerbau bule itu adalah pasangan sang tombak pusaka.

Baca juga  Sejarah Solo (4): Keraton Porak Poranda

Alhasil, kini kerbau-kerbau albino keturunan kerbau persembahan Bupati Ponorogo itu berjuluk sama seperti tombak yang menjadi pasangannya. Mereka tetap setia mengawal seteiap kali tombak pusaka Kyai Slamet dikirab mengelilingi Baluwarti. Waktu terus berjalan, zaman pun berganti, derajat sang kerbau semakin tinggi.

Sejak Babad Solo karya Raden Mas (R.M.) Sajid diterbitkan Rekso Pustoko, 1984, berkembang banyak buku, karya ilmiah, hingga laman Internet yang menyebut kebo bule bernama Kyai Slamet sebagai hewan kesayangan Pakubuwono II. Keberadaannya sejak masih beristana di Kartasura. Dianggap keramat dan disucikan karena dipersembahkan Bupati Ponorogo kepada Pakubuwono II bersamaan dengan tombak pusaka yang merupakan pasangannya.

Babad Sala—atau lebih kerap ditulis Babad Solo—beserta buku, karya ilmiah, dan laman Internet yang merupakan turunannya bahkan mengabaikan uraian Babad Giyanti terkait proses panjang penentuan lokasi kraton baru pengganti Kraton Kartasura yang telah kehilangan wahyu akibat pernah diduduki musuh saat meletus Geger Pacinan. Dikisahkan seolah-olah Sri Susuhunan Pakubuwono II mempercayakan pencarian lokasi kraton baru pengganti Kraton Kartasura kepada kerbau-kerbau bule.

Padahal, dalam Babad Giyanti disebutkan, penentuan lokasi itu dilakukan Pakubuwono II dengan mengirim patih Pangeran Pringgalaya, adipati Puspanagara, Tumenggung Hanggawangsa, dan komandan Belanda J.A.B. van Hohendorff mencari lahan di timur kraton lama. Setelah calon lokasi diajukan, tim itu ditambah dengan abdi dalem-abdi dalem lain demi memperoleh pertimbangan yang lebih matang. Bukan dengan mengutus kerbau.

“Sejumlah kebo bule dilepaskan ke luar istana dan dibiarkan berjalan, sementara para abdi dalem mengikutinya dari kejauhan. Ketika sekawanan kebo bule itu berhenti cukup lama, di situlah yang kemudian ditetapkan sebagai lokasi yang tepat untuk membangun istana yang kini menjadi lokasi berdirinya Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat,” tulis pengelola Kerajaannusantara.com, salah satu penulis yang percaya Babad Sala.

Pada kenyataannya, kerbau-kerbau bule keturunan Kyai Slamet memang memesona. Tak sedikit warga yang menengok mereka di kandang yang terletak di sisi selatan Alun-Alun Kidul Kraton Solo. Kerbau-kerbau bule keturunan Kyai Slamet bahkan selalu lebih menarik perhatian publik setiap upacara adat mubeng benteng digelar pada Malam 1 Sura atau malam Tahun Baru Jawa.

Baca juga  Sejarah Solo (3): Kemunculan Sunan Kuning

Kawanan kebo bule Kyai Slamet itu selalu menjadi bintang yang ditunggu kedatangannya oleh masyarakat pada pelaksanaan upacara tahunan itu. Surat kabar dan laman-laman Internet turunan Babad Solo bahkan seakan-akan mengabaikan sangat sang raja sebagai penentu dimulainya acara. Sangat dipahami kerabat Kasunanan Surakarta Hadiningrat sebagai titah raja untuk menentukan waktu pelaksanaan upacara tradisi kraton.

“Waktu pelaksanaan upacara untuk memperingati Malam 1 Suro dilangsungkan pada tengah malam, namun waktu tepatnya disesuaikan dengan ‘kemauan’ kebo bule kapan mau keluar kandang. Terkadang kebo bule baru mau keluar kandang setelah pukul 01.00 dini hari dan itu harus dimaklumi oleh semua pihak yang terlibat dalam pelaksanaan upacara ini,” tulis pengelola Kerajaannusantara.com.

Nyatanya, pemahaman bahwa kerbau-kerbau bule itu lebih berkuasa menentukan waktu dimulainya upacara tradisi kraton ketimbang raja itu bahkan lebih melekat di benak masyarakat. Alhasil daya tarik kebo bule Kyai Slamet yang datang ke Kori Kamandungan dari kandang mereka di Alun-Alun Kidul itu lebih kuat ketimbang barisan abdi dalem pengusung pusaka-pusaka kraton yang keluar dari dalam istana raja.

Sepanjang barisan bercucuk lampah kerbau-kerbau bule itu mengitari Baluwarti Kraton Solo, warga yang berkerumun juga mengangap kebo bule lebih mendatangkan berkah ketimbang pusaka-pusaka Kasunanan Surakarta Hadingrat lainnya. Sebagian dari mereka biasanya mencoba mendekat demi menyentuh tubuh kerbau-kerbau albino itu.

Air bekas guyangan saat abdi dalem memandikan kerbau-kerbau bule sesaat sebelum kirab malam 1 Sura kerap diperebutkan karena dianggap bertuah. Bunga-bungaan biasanya disertakan didalam air itu. Bahkan jika pun satu atau dua binatang peliharaan raja Solo itu buang air selama kirab berlangsung, maka sejumput tahinya pun dianggap bertuah untuk menyuburkan lahan pertanian.

 

Sumber :

  • Al Mudra, Mahyudin (ed). Kerajan Nusantara: http://www.kerajaannusantara.com/id/surakarta-hadiningrat/petilasan/.
  • Sajid, R.M. 1984. Babad Sala. Surakarta: Reksa Pustoko Mangkunegaran.
  • Yasadipura. 1937. Babad Giyanti. Jakarta: Balai Pustaka.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here