Kontrak 11 Desember 1749 Serahkan Kedaulatan Mataram kepada VOC

Belum lima tahun diresmikan, situasi genting melanda Kraton Solo, medio 1745. Kekuasaan sah Kasunanan Surakarta Hadiningrat di bawah Pakubuwono II dirongrong saudara-saudaranya, Pangeran Mangkubumi dan Mas Said. Perseteruan berdarah antarsaudara itu oleh sebagian penulis Sejarah Indonesia disebut Perang Suksesi Jawa III.

Di tengah genting situasi tersebut, pada pengujung tahun 1749, Pakubuwono II jatuh sakit. Ia pun waswas anak keturunannya tak bakal mewarisi takhta karena intensif serangan Pangeran Mangkubumi dan Mas Said. Di tengah gundah sang raja, Joan Andries Baron van Hohendorff atau kerap pula dicatat sebagai Johan Andries Baron van Hohendorff, kawan lamanya dalam mempertahankan Kraton Kartasura, datang ke Kraton Solo.

Hohendorff yang kini telah menjabat gubernur pesisir Jawa bagian timur laut itu segera berangkat ke Kraton Solo begitu mendengar Pakubuwono II sakit keras. Ia berperan sebagai saksi Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) atas jalannya pergantian raja yang mungkin segera terjadi di Kraton Solo. Kehadiran wakil VOC itu tak disia-siakan Pakubuwono II.

Kepada Van Hohendorff, Pakubuwono II meminta VOC menjamin mulusnya suksesi kepemimpinan Kasunanan Surakarta Hadiningrat, dari dirinya kepada putra mahkota, Raden Mas Suryadi yang telah bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amangkunegara Sudibya Rajaputra Narendra ing Mataram. Van Hohendorff menawarkan ditandatanganinya perjanjian dan Pakubuwono II bersepakat.

Sebagian sejarawan menyebut perjanjian itu “kontrak politik”, ada juga yang spesifik menyebutnya “Kontrak 11 Desember 1749”. Menurut catatan para ahli sejarah itu, perjanjian tersebut membuat Kasunanan Surakarta Hadiningrat kehilangan kedaulatan, karena hanya VOC yang berkuasa atas kerajaan dan berhak melantik raja-raja keturunan Mataram.

Kelak, sesudah Perjanjian Gianti atau Perjanjian Giyanti dan Perjanjian Salatiga, terdapat empat wilayah terpisah keturunan raja Mataram, yakni Surakarta, Yogyakarta, Mangkunegaran, dan Pakualaman. Keempatnya terikat dengan kontrak politik yang kerap pula disebut Kontrak 11 Desember 1749 itu. Karena itulah, perjanjian itu dianggap menandai berpindahnya kedaulatan Kasunanan Surakarta Hadiningrat ke tangan kongsi dagang Hindia Belanda alias Kompeni (VOC) itu.

Algra dan H Algra dalam Dispereert Niet. Deel 4: Twintig Eeuwen Historie van de Nederlanden yang diterbitkan Uitgeverij T. Wever di Franeker pada 1956, mencatat penyerahan kedaulatan Pakubuwono II demi menjamin pemindahan kekuasaan kepada putranya itu berbunyi, “Ik Soesoehoenang Pacoeboeana Senapatty Ingalaga Abdul Rachman Sahidin Panatagama, bekenne en verklare met desen openlyk, dat alzoo my om de zware ziekte, waarmede van de hand des Almogenden bezogt, buyten staetbevinde om langer het magtige Mattaramsche ryk te beheeren, buyten confusie te houden en na behooren te regelen het voorsz. ryk met ap- en depondentie alle gezag, magt en authoriteit, welke ik tot dato hebbe gehad, over te geven aan de Doorlugtige 0. Ind. Comp. en aan handen van den bier thans van wegens opgem. Comp. present zynde Java’s Gouverneur en Directeur in hoofde deses gemeld, doende overzulks by desen daarvan vollen afstand en verklare van nu of aen, daer op geen de minste pretensie sneer te hebben of te houden.

Baca juga  Sejarah Solo (7): Sumpah Setia Mas Said

Johan Karel Jakob de Jonge, beserta para penerusnya dalam De Opkomst van het Nederlandsch gezag in Oost-Indie. Verzameling van onuitgegeven stukken uit het Oud-Koloniaal Archief yang diterbitkan Gravenhage, M. Nijhoff pada 1862 mencatat lebih lengkap. Sumber sejarah yang kini tersimpan di Harvard University itu telah digitalisasi oleh Google. Transkripnya adalah sebagai berikut: “Ik Soesoehoenang Pacoeboeana Senapatty Ingalaga , Abdul Rachman Sahidin Panatagama, bekenne en verklare met desen openlyk, dat alzoo my om de zware ziekte, waarmede van de hand des Almogende ben bezogt, buyten-staet bevinde om langer het magtig Mattaramsche ryk te beheeren j buy ten confusie te houden en na bohooren te regeren het voorsz. ryk met ap-en-dependentie alle gezag, magt en authori-tejrt, welke ik tot dato hebbe gehad, over te geven aan de Doorlugtige 0. Ind. Comp. en aan handen van den hier thans van wegens opgem. Comp, present zynde Java’s Gouverneur en Directeur in hoofde deses gemeld, doende overzulks by desen daarvan vollen afstand en verklare Yan nu af aen, daer op geen de minste pretensie meer te hebben of Ie honden; maar ‘t Ryk voorz. in voegen voormelt by deesen uyt eygen vrye en onbedwongen wil gecedeert en overgegeven te hebben aan voors. doorlugtige Comp. ten eynde van wegens dezelve op de regeringszaken tot best van land-en-volk by tyds na genoegen en goedvinden van Zyn HoogEdelheyt Gustaaf Willem Baron van Imhoff , Gottvemeur-Generaal ende raden van India, representerende het hoogst «n Bouverein gebied van w^ens de voormelde Generale Nederlandsohe geoctroyeerde Oost-Indische Compagnie, gesteld kunnen worden de nodige ordres en schikkingen, verklarende en betuygende my daarmedeen met alle rykszaeken voortaan in het geheel niet meer te willen nog zullen bemoeyen , ofschoon het ook God Aknagtig mogte komen te behagen , my van deze ziekte weder op te beuren en nog eenige jaren in den lande der levendigen te houden ; maar dat Ik in zulken gevalle de overige dagen myns levens begeer door te brengen in stilte , zonder de minste bemoeyenis met zaken en overbehouding van eenige Inyster, dat by desen voor geresigneerd houde, bevelende myne na te laten kinderen voornamentlyk den Kroonprins pangerang Adipatty Anom, in de protexie en bescherming van de voorm. Doorlugtige Oostindische Con^. en tot teeken der waarheyd heb ik drievoudig deese acte eygNihandig ondertekend en met myn groot eacbeit beseguld*

Baca juga  Sejarah Keraton Solo (5) : Nama Surakarta Dipilih Demi Tenteram Mataram Islam

K.P.H. Soedarisman Poerwokoesoemo dalam buku Kasultanan Yogyakarta: Suatu Tinjauan tentang Kontrak Politik (1877-1940) yang diterjemahkan oleh E. Suherman dan diterbitkan Gadjah Mada University Press, Yogyakarta, pada 1985 memaparkan kontrak politik itu dalam bahasa Indonesia. Demikian bunyinya, “Kami, Sunan Pakubuwono Senopati Ing Alogo Ngabdurrahman Sayidin Panotogomo mengakui dan menyatakan dengan ini secara terbuka, bahwa karena kami menderita sakit keras, maka kami tak mungkin memerintah kerajaan Mataram. Mengingat hal itu, maka kami menyerahkan segala kekuasaan kewibawaan, dan kedaulatan, yang kami miliki hingga saat ini, kepada Kumpeni, yang dalam hal ini diwakili oleh Gubernur dan Direktur Jawa.
Kami melakukan penyerahan ini atas kehendak kami sendiri dengan maksud, agar Kumpeni dapat menyelenggarakan pemerintahan dalam kerajaan Mataram untuk kepentingan kerajaan Mataram dan rakyatnya.
Sekalipun Tuhan Yang Maha Esa akan menyembuhkan penyakit kami dan kami akan diberi karunia untuk dapat hidup beberapa tahun lagi, kami sudah tidak akan turut campur lagi dalam pemerintahan kerajaan, malainkan hanya kehendak untuk hidup dengan tenang dan tentram.
Kami mengharapkan dari Kumpeni, untuk memberi perlindungan terhadap anak-anak kami terutama Pangeran Adipati Anom. “

Dengan perjanjian politik itu, VOC memastikan R.M. Suryadi bergelar Adipati Anom Kasunanan Surakarta Hadiningrat mulus dilantik sebagai Susuhunan Pakubuwono III pada 15 Desember 1749. Lima hari setelah Suryadi dilantik oleh Van Hohendorff, Pakubuwono II mangkat. Sementara itu, di Yogya, Pangeran Mangkubumi telah mengukuhkan diri sebagai raja tandingan yang juga bergelar Susuhunan Pakubuwono, pengganti kakaknya.

 

Sumber:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here