Pantai Nampu, keindahan alam nan luar biasa di Wonogiri

Salah satu pantai dari sejumlah pantai di Wonogiri yang masih alami adalah pantai Nampu.Pantai ini berada enam kilometer arah selatan dari Kecamatan Paranggupito atau sekitar 60 kilometer atau sekitar dua jam perjalanan dari pusat kota Wonogiri.

Wisatawan yang ingin ke pantai Nampu dapat mengambil rute perjalanan dari Kecamatan Ngadirojo-Kecamatan Baturetno-Giriwoyo-Giri Tontro-Perempatan Giri Belah-Paranggupito.

Jika wisatawan datang dari Surakarta (Solo) dapat mengambil jalur Kota Wonogiri-Wuryantoro-Eromoko-Pracimantoro-Giritontro lalu Paranggupito.

Lokasi pantai Nampu berada di Dusun Dringo RT 4/RW 6, Desa Gunturharjo, Kecamatan Paranggupito.Panjang pantai Nampu kurang lebih 75 meter berada diantara pantai Pringjono (Wonogiri) serta pantai Banyubiru (Pacitan, Jawa Timur).

Pantai Nampu di Paranggupito

Selama perjalanan menuju pantai Nampu, pengunjung bisa menikmati pemandangan khas berupa bebatuan karst dan bukit-bukit menghijau.Udara bersih dan menyegarkan, menjadi suasana nyaman bagi pengunjung sebelum sampai pada salah satu pantai di laut selatan ini.

Tiket masuk pantai hanya Rp 2 ribu, ditambah dengan uang parkir kendaraan juga Rp 2 ribu.Sangat murah, jika bandingkan dengan keindahan pantai di depan mata.

Untuk bisa menyentuh pasir putih dan beningnya air dan deburan ombak pantai, pengunjung harus menuruni puluhan undak-undakan anak tangga setengah berbelok yang dibuat dari semen.

Sebentar melewati beberapa warung, maka sampailah anda pada bentangan pantai Nampu yang begitu indah dengan pasir pantainya kuning bercampur warna putih.

“Tangga menuju pantai itu dibangun tahun 2001-2002 saat Wonogiri dipimpin bupati Begug Purnomosidi,” kata sesepuh Dusun Dringo, Marlan, 64 tahun.  Menurut Marlan, belum banyak sentuhan tangan pengelolaan pada pantai yang letaknya paling timur dari barisan beberapa pantai yang ada di Kecamatan Paranggupito.

Di lihat dari atas, sebelum menuruni undak-undakan anak tangga, panorama pantai Nampu yang sangat cantik, indah nan alami begitu kuat dirasakan pengunjung. Ombak pantai yang tidak terlalu kencang membuat pengunjung berani untuk bermain dengan pasir, lumut, bebatuan hingga beningnya air pantai Nampu.

“Warga disini juga mencari cumi-cumi untuk lauk pauk,” kata Marlan saat menjelaskan adanya beberapa orang yang berada agak jauh dari bibir pantai dan mencari-cari sesuatu di air.

Selain bentangan pantai berpasir putih, deburan ombak pantai yang beradu dengan karang disisi barat pantai memberi suasana alam yang luar biasa. Pantai Nampu juga menawarkan keindahan dari alaminya bentang alam berupa perbukitan menghijau yang bisa dilihat pengunjung arah timur, utara hingga barat dari bibir pantai.

Perbukitan yang seperti mengitari bibir pantai Nampu tersebut, meskipun jaraknya cukup jauh, tak kalah menarik untuk dilihat. Inilah perbedaan pantai Nampu dibandingkan pantai-pantai yang lain yang ada di Paranggupito.

Jika ingin beristirahat setelah lelah mengitari pantai, pengunjung bisa menikmati jajanan berupa makanan dan minuman yang disajikan warga Dringo pada warung-warung sederhana yang ada dipinggir pantai agak jauh dari bibir pantai Nampu.

Meski tak cukup banyak variasi makanan dan minuman atau jajanan yang dijual pemilik warung, namun itu cukup membuat pengunjung senang karena sembari makan atau minum, pengunjung tetap bisa menikmati deburan ombak pantai Nampu dan luasnya samudra Hindia.

“Makanan yang dijual masih biasa. Ada nasi bungkus, berbagai rasa es, mie instant. Pengunjung pantai Nampu memang tidak terlalu banyak pada hari-hari biasa. Kalau Sabtu dan Minggu pengunjung bertambah banyak. Pada saat lebaran dan akhir tahun,pengunjung pantai Nampu sangat banyak. Tapi itu kan musiman,” kata Marlan.

Marlan menjelaskan, pengunjung pantai Nampu dulu sangat banyak. Namun setelah pantai Klayar, Buyutan dan Banyubiri di Pacitan dibuka pada tahun 2011, jumlah pengunjung berkurang drastis.“Pantai Klayar tidak jauh letaknya dari pantai Nampu. Tinggal menyeberang saja,” kata Marlan.

Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbubparpora) Wonogiri, Sentot Sujarwoko mengatakan pantai Nampu memiliki keunggulan keindahan alam yang luar biasa dibandingkan pantai-pantai yang lain di Wonogiri misalnya saja pantai Sembukan.

Pemandangan alam yang sangat menarik dipadu dengan pasir putih membuat pantai Nampu memiliki keunggulan dari pantai-pantai yang lain misalnya pantai Sembukan. Saya kira pantai Sembukan saja kalah indahnya,” terang Sentot Sujarwoko.

Baca juga  Best Western Premier Solobaru: Profil 10 hotel pilihan di Solo (5)

Menurut Sentot, keberadaan pantai Nampu memang membutuhkan promosi yang lebih besar agar lebih bisa dikenal masyarakat luas. “Disbudparpora Wonogiri juga sudah membantu promosi pantai Nampu namun memang belum bisa maksimal,” kata Sentot.

Butuh pengembangan obyek wisata

Terkait pengembangan obyek wisata pantai Nampu,pihak Desa Gunturharjo mengakui belum memiliki rencana untuk pengembangan pantai Nampu.Pihak Desa malah meminta pengelolaan pantai Nampu dilakukan Pemkab Wonogiri.

Kepala Desa Gunturharjo, Suyadi mengatakan,pihak Desa Gunturharjo hingga saat ini belum memiliki rencana pengembangan terhadap keberadaan pantai Nampu yang lokasinya berada di selatan Desa Gunturharjo tersebut.

Pihak Desa Gunturharjo malah punya rencana untuk menyerahkan pengelolaan pantai Nampu kepada Pemkab Wonogiri.Di akui Suyadi, pihaknya saat ini sedang melakukan lobi-lobi dengan Pemkab Wonogiri terkait penyerahan pengelolaan pantai Nampu.

Fokus pekerjaan yang dilakukan aparat Desa Gunturharjo adalah persoalan Peraturan Desa (Perdes)tahun 2008 mengenai retribusi pantai Nampu.Hingga saat ini Perdes tersebut belum mengalami perubahan.

Di akui Suyadi, saat ini pantai Nampu belum memiliki fasilitas yang memadai sebagai sebuah obyek wisata alam.Akses menuju pantai Nampu berupa infrastruktur jalan misalnya belum pernah mendapatkan perbaikan dalam beberapa tahun terakhir. Banyak bagian jalan dari Paranggupito menuju pantai Nampu mengalami kerusakan.

“Fasilitas obyek wisata pantai Nampu saat ini belum ada. Akses jalan menuju pantai  belum ada (mengalami kerusakan). Sudah tiga tahun tidak ada perbaikan jalan. Kalau tidak di aspal total,susah,”kata Suyadi.

Dengan persoalan seperti ini, tentu saja pihak desa tidak berani melakukan langkah menaikan retribusi kepada pengunjung pantai Nampu.Suyadi mengakui sulit untuk melakukan pengembangan kalau tidak ada pengambil alihan pengelolaan dari Pemkab.

Terkait akses jalan menuju pantai Nampu tersebut,Suyadi mengatakan, masih menjadi tanggung jawab Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Wonogiri. Informasi yang didapat Suyadi,DPU Wonogiri akan melakukan perbaikan jalan dari Paranggupito menuju Pantai Nampu dengan anggaran sebesar Rp 950 juta.“Tapi kapan mau dilakukan perbaikan kita tidak tahu persisnya,” kata Suyadi.

Diterangkan Suyadi, sebenarnya di Dusun Dringo ada fasilitas homestay namun jumlahnya sangat sedikit,hanya dua homestay. Keberadaaan dua homestay tersebut dibuat oleh pihak Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) pada tahun 2013 yang lalu.

Selain itu,masyarakat sekitar  pantai Nampu juga sudah mulai memanfaatkan sumber daya alam yang ada di sekitar pantai Nampu untuk dijadikan souvenir, kerajinan miniatur bekerjasama dengan kegiatan Program Nasional Pemberdayaan Mandiri (PNPM) Mandiri yang sudah dilakukan dalam satu tahun terakhir.

Selain itu, sudah dalam beberapa tahun terakhir masyarakat dekat pantai juga sudah membuat kerajinan anyaman pandan yang diambil dari pantai Nampu.Produk kerajinan anyaman pandan sudah pernah diikutkan pada even promosi Wonogiri di tingkat Provinsi pada tahun 2012.

Produk kerajinan dengan bahan baku pandan yang dianyam tersebut berbentuk tas,pot bunga,meja kursi serta sepatu.

Ada juga kerajinan berupa souvenir dengan bahan yang diambil dari pantai atau laut antara lain dari kerang laut dan batu laut yang dibuat gelang, kalung,tempat tisu dll. Kata Suyadi, pembuatan souvenir dengan bahan hasil laut tersebut baru intensif dilakukan pada 2014 meskipun  beberapa tahun lalu sudah mulai dikerjakan masyarakat sekitar pantai.

Kalau kerajinan miniatur yang diciptakan warga Desa Gunturharjo berasal dari bahan kayu yang tumbuh dipinggir pantai Nampu yang kemudian di buat menjadi bentuk kapal terbang, sepeda dll.“Tapi ini memang baru embrio,”kata Suyadi.

Sayangnya,hingga saat ini,hasil kerajinan masyarakat di sekitar pantai Nampu tersebut belum bisa dipromosikan agar bisa menjadi barang bernilai ekonomi.

Terkait keinginan aparat Desa Gunturharjo yang menginginkan Pemkab Wonogiri mengambil alih pengelolaan obyek wisata pantai Nampu, Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora)Wonogiri, Sentot Sujarwoko mengatakan pihaknya menyambut baik keinginan tersebut.

“Namun sampai saat ini, kami belum mendapatkan informasi tentang keinginan pengambil alihan pengelolaan pantai Nampu kepada kita. Saya setuju,” kata Sentot Sujarwoko.

Baca juga  8 Pilihan Tempat Wisata di Ambarawa yang Harus Kamu Kunjungi Segera

Sentot menambahkan, sampai sekarang pantai Nampu dikelola pihak desa dibantu pihak kecamatan. Terkait promosi untuk pantai Nampu dari Disbubparpora, diakui Sentot memang ada tapi sejauh ini belum maksimal.

Dari pantauan lapangan, persoalan fasilitas pendukung obyek wisata pantai Nampu terlihat tidak ada sama sekali, kecuali fasilitas pendukung yang dibangun mandiri oleh warga sekitar  pantai Nampu. Selain itu, akses transportasi menuju pantai Nampu dari arah Paranggupito juga mengalami persoalan serius.

Jalan menuju pantai Nampu dari jalan besar (jalan kabupaten) di Kecamatan Paranggupito hanya satu jalur dengan lebar hanya 2-3 meter saja yang tentu saja hanya bisa digunakan untuk satu jalur kendaran roda empat.

Kalau rombongan besar yang menggunakan bus ukuran besar ingin masuk ke pantai Nampu sangat tidak mungkin bisa masuk. Belum lagi kondisi jalan yang lebih banyak bagian yang rusak daripada bagian jalan yang masih baik.

“Jalan menuju arah pantai banyak yang sudah rusak.selain itu sempit, tidak bisa untuk jalan kendaraan besar,” kata Marlan, tokoh Desa Gunturharjo.

Cerita tentang Batik Keris di pantai Nampu

Ada cerita menarik dari sesepuh Dusun Dringo Kelurahan Gunturharjo, Marlan tentang wilayah pantai Nampu terkait mengapa hingga saat ini, belum ada perkembangan yang menarik dari obyek wisata  pantai Nampu.

Menurut Marlan, wilayah sekitar pantai Nampu susah untuk dikembangkan untuk mendukung keberadaan pantai Nampu karena  tanah di wilayah Nampu dimiliki oleh perusahaan Batik Keris pada tahun 1979.

“Lahan yang dibeli Batik Keris itu mulai dari pantai Nampu hingga pantai Sembukan sepanjang sepuluh kilometer. Jadi mungkin pemerintah mau bangun fasilitas pendukung pantai Nampu kesulitan,” kata Marlan.

Pada waktu itu, menurut Marlan, pembelian tanah oleh Batik Keris tersebut dilakukan dengan paksaan, tidak dengan cara tawar- menawar harga tanah seperti biasanya jual beli tanah.

Tur dipekso. Mboten enten istilahe duweke si A dituku piro. Nek adol kan onten sistem nyang-nyangan (pakai dipaksa.Tidak ada istilahnya tanah milik si A dibeli berapa. Kalau jual tanah harusnya ada sistem tawar-menawar).Waktu itu dilakukan aparat keamanan.” kata Marlan.

Marlan menambahkan, pada awal proses pembeliah tanah tersebut, masyarakat diberitahu bahwa pemerintah yang akan membeli lahan tanah tersebut.

“Pas di tengah-tengah proses pembayaran tanah kepada masyarakat, diberi tahu kalau yang membeli lahan mereka itu Batik Keris, bukan pemerintah karena pemerintah tidak mampu(tidak punya dana),”cerita Marlan.

Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olah Raga (Disbudparpora) Kabupaten Wonogiri, Sentot Sujarwoko menjelaskan kawasan perbukitan yang ada di sekitar pantai Nampu memang sangat menarik dijadikan modal untuk mengembangkan dan memajukan keberadaan pantai Nampu di masa depan.

Sayangnya, menurut Sentot Sujarwoko, persoalan status tanah yang hingga saat ini menjadi kendala pengembangan obyek wisata pantai Nampu belum bisa diselesaikan. Tanah yang berada di sekitar pantai Nampu yang kepemilikannya berada di tangan Batik Keris sejak tahun tahun 1980 tersebut belum bisa diklarifikasi oleh Pemkab Wonogiri.

“Masalah pelik tentang status tanah yang kini dimiliki Batik Keris itu di sana (di sekitar Pantai Nampu) belum bisa diselesaikan,”kata Sentot Sujarwoko.

Sentot Sujarwoko mengakui Pemkab Wonogiri sebenarnya sudah melakukan usaha untuk memproses peralihan tanah dari Batik Keris kepada masyarakat sekitar atau di konversi menjadi milik negara. Namun saat ini, Sentot tidak mengetahui sampai dimana proses peralihan tanah tersebut berjalan.

“Pemkab Wonogiri sudah melakukan proses peralihan tanah dari Batik Keris.Namun sampai saat ini saya tidak mengetahui perkembangannya,”kata Sentot.

Sentot menambahkan, didalam Undang-Undang (UU) Agraria disebutkan, jika ada tanah yang diterlantarkan sekian tahun bisa diminta menjadi tanah Negara.

Bila masalah status tanah tersebut terselesaikan, dan pengelolaan pantai Nampu diserahkan ke Pemkab tentu akan sangat menggembirakan bagi Disbudparpora Wonogiri.(Joe)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here