Retno Tri Astuti : Penantian Panjang Pentas Perdana

solo-1

SOLORAYA.COM – Bisa mementaskan sebuah karya seni tari, bagi koreografer, Retno Tri Astuti bagai mimpi yang menjadi kenyataan. Memendam keinginan menjadi penari sejak tahun 1999, keinginannya itu baru bisa terwujud pada tahun 2014. Setelah penantian selama hampir 15 tahun, akhirnya Retno menggelar pentas perdana karya koreografinya yang berjudul “Solo, Duo, Trio, Quatro – The Story of My Life”, di Kemlayan Arts Camp, Serengan, Surakarta, Jumat (28/02/2013) lalu.

Putri pasangan Didik Gunawan Tamtomo dan Dwiyanti Hastuti itu sebenarnya sudah meminati dunia tari sejak ia lulus Sekolah Menengah Pertama (SMA). Namun keinginannya untuk menekuni seni tari ditolak oleh orang tuanya. “Orang tua saya mempunyai latar belakang akademis yang sangat kuat. Jadi, saya tidak diperbolehkan menekuni seni tari,” kata Retno saat ditemui wartawan di Kemlayan Arts Camp, Serengan, Solo, Senin (03/03/2014).

Penari Retno Tri Astuti

Penari Retno Tri Astuti

Ayahnya, seorang guru besar anatomi manusia di Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, melarang Retno menekuni seni dan memintanya untuk menyelesaikan pendidikan akademis di luar seni. Akhirnya Retno memilih kuliah di Fakultas Ekonomi, Universitas Atmajaya Yogyakarta dan mengambil jurusan Human Resources Management.

Selama 5 tahun menempuh masa study S1 di Yogyakarta, ia ternyata tak bisa lepas begitu saja dari dunia yang dicintainya, dunia seni tari. Di sela-sela kesibukan kuliah, Retno mencuri-curi waktu untuk berlatih tari latin. Pada tahun 2000, wanita berkulit putih itu bergabung dengan Studio Tari Bailamos di Yogyakarta dan mulai mendalami tari latin.

“Saya ingat waktu itu tari latin sedang trend di kalangan anak muda. Sekitar tahun 2000 saya bergabung dengan Bailamos dan serius menekuni tari latin,” kisahnya.

Menekuni bidang yang sangat disukainya, seni tari, prestasi Retno sebagai atlet cabang olah raga dansa cukup gemilang. Ia sempat menjadi couple 2 Indonesia yang dipersiapkan untuk gelaran Sea Games tahun 2010. Ia juga pernah meraih runner-up tingkat internasional dalam kejuaraan dansa, International Championship di Singapura pada tahun 2009.

Setelah berhasil menyabet gelar Sarjana Ekonomi pada tahun 2005, akhirnya ayahnya luluh, dan memperbolehkan Retno menekuni apa yang disukainya. Namun ternyata, ia tidak memilih untuk menekuni dunia tari, Retno justru belajar fashion design di LaSalle College Indonesia di Jakarta. “Selain senang tari, saya memang ingin jadi designer,” katanya.

Baru pada tahun 2009, penari yang juga hobi modelling itu mulai serius menekuni dunia tari kontemporer. Ia mendaftar sebagai mahasiswi S2 Seni Tari di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Ditempa pendidikan seni tari di ISI Surakarta, kemampuan Retno dalam menari dan menciptakan koreografi tari meningkat dan semakin dewasa.

Beberapa kali terlibat dalam sebuah pementasan tari membuat jam terbang dan pengetahuannya tentang seni tari bertambah. Hingga akhirnya, pada akhir tahun 2013, Retno memulai proses penciptaan koreografinya sendiri “Solo, Duo, Trio, Quarto”. “Prosesnya secara keseluruhan hanya selama dua bulan saja. Untuk persiapan teknisnya hanya sekitar 3 minggu,” katanya.

Pementasan perdananya ini pulalah yang ia ajukan sebagai pentas tugas akhir untuk memperoleh gelar Magister Seni tari. Dalam karya perdananya itu, ia mencoba merangkum seluruh perjalanan hidupnya hingga akhirnya bisa meraih cita-citanya menjadi koreografer tari. “Pentas ‘Solo, Duo, Trio, Quatro’ memang seperti merangkum perjalanan hidup saya hingga saat ini,” jelasnya.

Karena itulah ia mengangkat tema, “The Gallery of My Life” dalam pementasannya. Dalam pementasan tersebut ia tak hanya menceritakan perjalanan “tari”-nya, mulai dari menari latin hingga kontemporer, tapi juga menceritakan sisi lain dari kehidupannya.

Pada satu bagian koreografi tarinya, ia menceritakan tentang pengalaman hidupnya sebagai pemain basket. Retno sejak kecil memang senang olahraga, yakni renang dan basket. “Orang tua saya juga menginginkan anaknya aktif berolahraga,” ujarnya.

Olahraga basket, ia tekuni saat mengenyam pendidikan di Sekolah Menengah Atas (SMA). Ia bahkan sempat bergabung dengan klub basket profesional Bhinneka Solo dan mengikuti kompetisi bola basket nasional, Kobanita sejak tahun 1996 hingga 2003. “Saya juga sempat masuk tim PON (Pekan Olahraga Nasional) tahun 1999,” paparnya.

Aktifitasnya di dunia olahraga itu, tak bisa ia lepaskan sebagai bagian dari perjalanannya sebagai penari. Sebab, aktivitasnya sebagai atlet juga mempengaruhi dirinya dalam berkesenian. “Ide awal dari koreografi ‘Solo, Duo, Trio,Quatro’ ini sebenarnya dari ide memadukan gerakan olahraga basket dengan gerakan tari kontemporer. Tapi ternyata justru bisa dikembangkan,” tambahnya.

Aktivitasnya di dunia olahraga juga berdampak pada kemampuan stamina Retno saat menari. Dirinya merasa memiliki kemampuan fisik yang cukup kuat untuk menari secara non-stop dalam jangka waktu yang lama. Dalam pementasan perdananya, Retno mampu menari secara nonstop dengan gerakan yang cukup enerjik selama lebih dari satu jam.

Dalam pementasannya, Retno juga menggabungkan dua kultur yang berbeda, yakni kebudayaan Jawa dan kebudayaan Tionghoa (Cina). Hal ini tidak lepas dari latar belakangnya yang dibesarkan di lingkungan multikultural Tionghoa dan Jawa. “Ayah saya keturunan Belanda Jawa, dan ibu saya keturunan Tionghoa Jawa,” tuturnya.

Meski sukses menampilkan koreografi apik dalam pentas perdananya, Retno mengaku belum puas dan merasa masih banyak yang perlu ia pelajari. Karena itulah ia ingin lebih banyak terlibat dalam berbagai pagelaran tari, terutama karya-karya seniornya di ISI Surakarta.

Dengan terlibat dalam berbagai gelaran tari, dirinya berharap bisa memajukan seni tari baik tradisional maupun kontemporer di Kota Surakarta. Ia ingin, Kota Surakarta tak hanya maju di bidang pariwisata dan perekonomian semata, tapi juga bisa dikenal dari bidang seni tari.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: