Mahesa Lawung, Sesaji Penjaga Gaib Keraton Surakarta

Seorang abdi dalem berdoa di punden hutan Krendawahono, Gondangrejo, Karanganyar, Jawa Tengah, dalam ritual Mahesa Lawung. Ritual digelar Keraton Kasunanan Surakarta, Kamis (27/2)/Ganug Nugroho Adi.

Seorang abdi dalem berdoa di punden hutan Krendawahono, Gondangrejo, Karanganyar, Jawa Tengah, dalam ritual Mahesa Lawung. Ritual digelar Keraton Kasunanan Surakarta, Kamis (27/2)/Ganug Nugroho Adi.

Bau kemenyan dan dupa langsung menyeruak di hutan Krenda Wahono, Giondangrejo, Karanganyar, Jawa Tengah. Di bawah sebuah pohon beringin putih besar,  ulama Keraton Surakarta, Kanjeng Raden Aryo Tumenggung (KRAT) Pujodiningrat  memimpin doa dalam bahasa bahasa Arab, Jawa, Hindu, dan Budha. Di belakang ulama, ratusan abdi dan sentono dalem (kerabat keraton) terlihat khusyuk.

Suasana begitu hening. Asap dari kemenyan dan dupa yang dibakar meruap di antara bermacam sesaji yang ditata di bawah pohon; jajan pasar, ayam ingkung, ciu (arak   khas Bekonang, Karanganyar), setangkai bunga matahari, puluhan ekor belalang, dan satu kepala kerbau berikut daging, kaki, dan jeroannya. Sesaji kerbau ini harus berasal dari kerbau jantan yang belum pernah dikawinkan.

Di hutan yang sepi itu, Keraton Surakarta tengah menggelar ritual Mahesa Lawung, Kamis (27/2). Ritual ini rutin dilakukan pada bulan Rabiulakhir (bulan keempat dalam kalender Hijriyah), dan hanya digelar pada hari Senin ataui Kamis.

“Mahesa Lawung itu ritual memberikan sesaji kepada  Dewi Kalayuwati,  ‘penunggu’  hutan Krendawahono yang diyakini sebagai penjaga Keraton Surakarta di sisi utara dari dunia gaib,” jelas Wakil Pengageng Sasana Wilopo Keraton Surakarta, Kanjeng Pangeran (KP) Winarno kusumo.

Winarno menambahkan hampir seluruh sesaji berupa daging  mentah. Selain kepala, daging, dan jeroan kerbau, sesaji mentah lainnya adalah ikan lele daging ayam. Seaji-seaji ini  disiram ciu agar tidak amis.

Bagi Keraton Surakarta, hutan Krendawahono memiliki peran penting dalam menjaga kelangsungan keraton. Konon, hutan ini merupakan lawang gapit atau pintu masuk keraton di sisi utara. Kekuatan mahkluk gaib hutan Krendawahono dipercaya mampu menghalau segala bentuk kekuatan jahat yang akan masuk keraton.

Selain itu, lanjut Winarno, Mahesa Lawung sekaligus sebagai bentuk syukur atas keselamatan yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Ritual ini mengacu pada masa Raja Surakarta Paku Buwono II yang mengganti nama Desa Sala menjadi Nagari Surakarta Hadiningrat pada tahun 1670. Sang raja menggelar ritual Mahesa Lawung setelah sepanjang 100 hari sejak pergantian nama,  keraton mendapatkan berkah dan keselamatan.

Sebelum di Krendawahono, prosesi ritual ditandai dengan ratusan abdi dalem yang mengarak berbagai sesaji dari Dalem Gondorasan (dapur) keratin menuju Siti Hinggil Keraton Surakarta. Selanjutnya, para abdi dalem menggunakan bus menuju hutan Krendawahono yang berjarak sekitar 20 kilometer arah utara Keraton Surakarta.

Puncak ritual ini ditandai dengan menanam kepala, darah, kulit, jeroan dan kaki kerbau di area hutan. Selanjutnya sesaji berupa jajan pasar, ayam inkung, daging kerbau, dan nasi kebuli disantap bertsama-sama.

“Orang Jawa selalu menyebut bodo longa-longo koyo kebo (bodoh seperti kerbau). Menanam kepala kerbau itu filosofinya membuang kebodohan. Ritual ini juga sebagai permohonan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar selalu melimpahkan keselamatan bagi keratin,” ujar Winarno.

Winarno menyebut bunga matahari sebagai salah satu sesaji memiliki makna  kehidupan yang selalu mengacu pada aturan-aturan Tuhan Yang Maha Esa.  “Jadi tidak benar kalau ritual Mahesa Lawung ini ritual musrik,” kata dia.

Pengageng Museum dan Pariwisata Keraton Surakarta, Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Puger, juga menolak ritual Mahesa Walung sebagai ritual sesat. Dia mengungkapkan Mahesa Lawung berasal dari kata mahes mring kang Maha Esa (bersujud kepada Tuhan Yang Maha Esa). Sedangkan lawung artinya putih bercampur hitam, dua sisi dalam diri manusia sebagai hamba Tuhan.

“Ini ritual memohon keselamatan kepada Tuhan, bukan kepada takhayul. Pada zaman dulu, raja memohon keselamatan bukan hanya untuk dirinya sendiri dan keratin, namun juga keselamatan seluruh rakyat,” jelas Puger.

Sementara apa yang disebut sebagai Dewi Kayuwati, Puger memaknai sebagai waktu bagi manusia untuk memohon kedamaian dan keselamatan. Dari sisi etimologi, lanjut dia, kKalayuwati berasal dari kata kala hayuning jiwa lan ati.

Kala itu artinya waktu, hayu itu damai atau selamat. Jika ingin selamat dunia akhirat, manusia harus selalu meluangkan waktu untuk mengingat Tuhannya. Kita menyebutnya ibadah. Orang Islam sholat lima waktu, orang Kristen pergi ke gereja, Orang Hindu dan Budha ke candi, dan seterusnya.

Sedangkan kata krendawahana artinya tempat kematian. Artinya, di dunia ini manusia harus selalu ingat bahwa hidupnya tidak abadi. Manusia tidak boleh lupa bahwa suatu saat mereka akan meninggal dunia. Semua yang ada di dunia ini hanya sementara. Ingatlah kematianmu, ingatlah Tuhanmu,” ujar salah satu putra Paku Buwono XII ini.

Namun Puger tidak membantah adanya kepercayaan bahwa Keraton Surakarta dijaga oleh makhluk gaib di empat penjuru mata angin.  Di sisi timur, penjaganya adalah  Kanjeng Sunan Lawu yang menghuni Gunung Lawu.

Sementara Kanjeng Ratu Kidul (Nyai Rara Kidul) menjadi di sisi selatandan tinggal di Kereton Sokodomas Bale Kencono di laut selatan. Penjaga di sisi barat adalah Kanjeng Ratu Sekar Kedaton, Kyai Sapu Jagad, dan Kyai Sapu Regol yang tinggal di Gunung Merapi. Sedangkan sisi utara dijaga oleh Dewi Kalayuwati di hutan Krendawahono.

Budayawan asal Solo, Sugiyatno Ronggojati  justru melihat keangkeran hutan dari sisi lain. Ia tidak membantah bahwa dalam kisah-kisah pewayangan dan cerita-cerita pada zaman kerajaan bahwa hutan identik dengan sesuatu yang dan angker. Hutan dimitoskan sebagai rumah bagi para raksasa dan jin jahat, sehingga kemudian banyak orang menjadikannya sebagai tempat untuk tetirah (tirakat).

Menurut Sugiyatno, jika hutan tidak dibuat angker, maka manusia akan menebang pohon-pohon di hutan dengan membabi buta. Cerita-cerita angker tentang jin, siluman, dan makhluk gaib lainnya yang menunggu hutan, sedikit banyak mengurangi aksi pembabatan hutan, terutama hutan-hutan desa di Jawa.

“Banyak pelajaran yang sebenarnya bisa diambil dari ritual Mahesa Lawung. Salah satunya adalah menjaga kelestarian hutan. Selain itu ada juga pesan bahwa manusia harus untuk selalu ingat dengan Tuhannya, apa pun agamanya,” ujar dia.

Dia juga mengungkapkan keangkeran hutan Krendawahono pada zaman dulu membuat hutan ini hampir tidak pernah dijamah oleh manusia. Kondisi itu dimanfaatkan sebagai tempat pertemuan oleh Pabu Buwono VI, Pangeran Diponegoro, dan Senthot Prawiradirjo bersama pasukannya untuk menyusun strategi dalam menghadapi Belanda ketika itu.

“Tentara Belanda pun tidak berani masuk ke Krendawahono. Tempat itu menjadi tempat yang aman untuk bersembunyi para gerilyawan,” ujar dia.

Namun Sugiyatno juga membenarkan adanya penghuni gaib di hutan Krendawahono sebagai penjaga Keraton Surakarta di sisi utara. Kepercayaan ini sudah muncul sejak ratusan tahun lalu.

“Itu kearifan budaya Jawa yang harus tetap dijaga. Percaya tidak percaya, dunia gaib itu ada. Jangan mentang-mentang hidup di zaman modern terus kita melupakan kehidupan para leluhur,” Kata Sugiyatno. (Ganug Nugroho Adi).

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: