Riwayat Kamera Analog

Masih teringat betul saat pertama kali saya mengenal hobi fotografi. Kamera analog Nikon FM 10, menjadi sarana belajar saya bersama beberapa teman di sebuah klub fotografi di kampus Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo.

Dalam pelatihan dasar fotografi kala itu, 1 kamera dan 2 roll film isi 36 digunakan bersama-sama oleh enam orang. Jadi, jika di kalkulasi, setiap orang hanya memiliki 6 frame di setiap roll film, atau total 12 frame untuk praktik hunting foto saat pelatihan. Karena itulah satu frame terasa sangat berharga buat saya dan harus benar-benar bisa saya manfaatkan untuk berlatih memotret.

Jumlah 12 frame untuk hunting foto, rasa-rasanya sangat kurang, jika dibandingkan dengan jumlah foto yang bisa didapat jika berlatih dengan kamera digital saat ini. Belum lagi jumlah kamera yang hanya satu biji. Tak jarang, saat ingin memotret saya kehilangan moment karena harus mengantre untuk memakai kamera.

Usai memotret, setiap pemotret harus mencatat nomor frame yang digunakan pada secarik kertas, obyek yang difoto, termasuk kelengkapan teknisnya meliputi ISO, Diafragma dan Shutter Speed yang digunakan saat memotret. Data teknis ini penting sebagai catatan agar pemotret pemula bisa belajar dari kesalahannya. Saat era digital sekarang, pemotret tak perlu repot-repot mencatat data teknis karena semua sudah direkam oleh kamera digital yang canggih dalam Data EXIF.

Permasalahan tidak hanya terjadi saat hunting. Selepas hunting, permasalahan baru datang lagi. Karena memakai kamera analog, mustahil kita melakukan preview foto yang saya hasilkan. Saya harus menunggu beberapa hari saat film diproses di lab untuk dicuci dan dicetak. Saat era fotografi digital saat ini preview fata bisa dilakukan, dan jika foto yang dihasilkan tidak sesuai keinginan pemotret, tinggal hapus dan tinggal memotret lagi.

Jangan bayangkan foto pula hasil hunting bakal dicetak dalam ukuran besar. Bisa mencetak index print saja sudah terasa mewah. Lalu saya harus memelototi lembaran-lembaran index print hanya untuk melihat foto hasil hunting. Tiga orang senior di klub foto kemudian mengkurasi foto-foto hasil hunting. Jika ada hasil jepretan yang bagus, nantinya bakal dicetak ukuran 10 R (20×25 cm), sangat istimewa karena pasti foto kami akan terlihat jelas karena dicetak besar dan dipamerkan di loby kampus.

Nyatanya, keterbatasan, yang bagi saya sudah sangat terasa mewah kala itu, tidak menyurutkan semangat saya untuk mengenal hobi yang sangat menyenangkan ini. Terimakasi kamera analog, sudah menjadi guru saya.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: