Yeni Criwil Arama: Antara Tembang dan Rebab

YENI

Seorang perempuan muda, cantik, dengan suara  yang mempesona.  Tahun 2010, ia dipercaya untuk nembang (menyanyi lagu Jawa),  mengawali pentas langendriyan Matah Ati yang fenomal di Esplanade, Singapura.

Suaranya merdu dan syahdu. Ia pun kembali dipercaya ketika lakon itu kembali dipentaskan di Jakarta dan Solo. Termasuk ketika Matah Ati akan dipentaskan untuk yang keempat kali di Malaysia, April mendatang.

Namanya Yeni “Criwil” Arama. Nama tambahan “criwil” merujuk pada rambutnya yang keriting. Lahir di Tulungagung, Jawa Timur, 31 Desember 1986, Yeni   memang terbilang belia. Namun ia telah menjelajahi proses sebagai sinden kontemporer dengan musisi-musisi tradisi hebat, seperti maestro gamelan Rahayu Supanggah, pengrawit sekaligus dalang Blacius Subono, Dedek Wahyudi, Danis Sugiyanto, koreografer Mugiyono Kasido, dan almarhum I wayan Sadra.

Dalam dunia pewayangan, ia  mengasah kepiawaiannya nembang dengan menjadi sinden untuk pergelaran beberapa dalang kondang, semacam  Ki Enthus Susmono, Ki Manteb Soedarsono, Ki Naryo, dan almarhum Slamet Gundono.

“Saya mengenal nada slendro-pelog, cengkok, dan wiledan (olah vokal dalam tembang Jawa) dari ibu. Ibu adalah guru pertama saya dalam hal nembang,”  kata perempuan berkulit bersih ini di pendapa Wisma Seni, Taman Budaya Surakarta.

Sejak kecil Yeni suka menyanyi. Namun, awalnya ia sama sekali tidak tertarik dengan tembang-tembang Jawa semacam macapat, suluk, dang gending. Ia lebih memilih mendendangkan lagu-lagu pop.

Ia mulai mencoba belajar tembang-tembang tradisional ketika sang ibu, Tri Minarti –sinden kondang di Tulungagung, memintanya untuk mengikuti lomba macapat antar Sekolah Dasar (SD) tingkat kabupaten. Ayahnya, Heri Sudjono, bukan dari kalangan seniman, namun sangat mendukung anaknya berkesenian.

“Saya tidak bisa menolak. Ibu saya sinden, masak saya tidak bisa nembang? Selama dua bulan penuh saya digembleng ibu, dan guru kesenian sekolah. Saya belajar dasar-dasar nembang, cengkok, kemudian improvisasi,” kenang Yeni.

Hasilnya, ia menjadi juara pertama. Juga pada lomba seripa di tahun-tahun berikutnya. Tidak hanya tingkat kabupaten, tapi tingkat provinsi. Sampai akhirnya  ia ditolak oleh Pemerintah Daewrah Jawa Timur mengikuti lomba karena sudah terlalu sering menjadi juara.

“Saya akhirnya jatuh cinta dengan kesenian tradisi, terutama nembang, dan kerawitan. Selepas SMP di Tulungagung saya masuk Sekolah Menengah Kerawitan Indonesia (sekarang SMK Negeri 8) Surakarta,” ujar perempuan bertubuh mungil ini.

Di SMKI kemampuannya semakin berkembang. Ia juga mulai diajak nyinden oleh dalang-dalang kolak. Selain mendapatkan uang jajan, perbendaharaan tembang pun bertambah.

Yeni juga mulai belajar memainkan intrumen gamelan, sesuatu yang baginya baru. Sebab selama di Tulungagung ia hanya mendengar bunyi kenong, gong, kenong, atau pun gender. Belum pernah sekalipun memainkan.

“Dari semua intsrumen gamelan, rebab yang paling saya benci karena sulit sekali. Benci, tapi sekaligus juga tertantang. Setelah tiga tahun baru bisa merasakan suara hasil gesekan saya terdengar agak enak,” kata perempuan yang  menjadi sinden profesional sejak kelas 1 SMKI.

Masa-masa di SMKI menjadi momen penting dalam hidup Yeni. Bukan semata-mata karena mulai bisa mendapatkan penghasilan, tapi lebih dari itu karena ia mulai menetapkan hati untuk hidup dari kesenian.

Pada saat sebagian teman sekolahnya jalan-jalan ke mal, atau nonton bioskop, Yeni malah mencari uang.   Namun menurut Yeni  apa yang ia lakukan bukan semata-mata demi uang, tapi lebih pada membuka jaringan.

“Sangat melelahkan karena harus membagi antara jadwal ngamen dan mengerjakan tugas-tugas sekolah. Semua ini harus saya lalui, karena jaringan sangat penting bagi mereka yang ingin sepenuhnya hidup dari kesenian,” ujar pesinden yang beberapa kali tampil dalam festival kesenian di Singapura.

Semasa di SMKI pula Yeni mulai mengenal musik kontemporer yang kerap dipentaskan di sekolahnya atau di kampus ISI. Yeni merasa tertarik karena jenis musik seperti itu tak pernah dipentaskan di desanya.

“Saya mulai masuk dalam pergaulan musisi-musisi kontemporer.  Bagi saya yang penting tidak meninggalkan kesenian tradisi,” ujar pesinden yang pernah memukau penonton dalam pentas tari Bima Suci bersama koreografer Mugiyono Kasido, dan komposer Dedek Wahyudi di TMII Jakarta tahun 2011 lalu.

Setamat SMKI, ia melanjutkan ke Jurusan Kerawitan ISI Surakarta. Dalam pergaulan kampus itulah Yeyen bertemu dengan seniman-seniman penting yang kelak membawanya memasuki karir di dunia pertunjukan.

“Mas Dedek (Dedek Wahyudi) musisi yang berperan mengenalkan saya ke panggung-panggung besar, dan membukakan jaringan,” kata perempuan yang baru saja menyelesaikan program pasacasarja di ISI Surakarta ini.

Dedek pula yang mempromosikan suara elok Yeni ke dalang asal Tegal, Ki Enthus Susmono ketika sang dalang dating ke Solo. Ki Enthus langsung jatuh cinta dengan cengkok Yeyen, dan kemudian sering mengajaknya untuk nyinden dalam pergelaran wayangnya.

Sejak itu tawaran menjkadi sinden pun berdatangan dari beberapa dalang ternama, seperti Ki Manteb Soedharsono, dan almarhum Ki Slamet Gundono. Bahkan dua pekan sebelum Ki Slamet meninggal dunia, Yeyen ikut nyinden ketika Ki Slamet pentas di Pekalongan.

Tidak hanya dalam pergelaran wayang kulit, anak pertama dari tiga bersaudara ini juga terlibat dalam pentas-pentas teater, musik, dan sendratari. Sepanjang tahun 2008, ia tampil di Solo International Etnic Music (SIEM) di Beteng Vasternburg, Surakarta.

Pada tahun yang sama, Yeni juga terlibat dalam konser Mahakarya Borobudur di, Magelang, konser  gamelan bersama Rahayu Supanggah membuka gelaran Workd Heritage Center di Taman Bale Kambang, Surakarta. 2008, serta mengikuti Misi Kesenian Indonesia di Deen Haag, Belanda.

Setahun kemudian, ia menjadi pemudik utama dalam pentas teater-tari Paregreg bersama koreografer Elly D Luthan, dan musisi JokoPorong di Gedung Kesenian Jakarta. Ketika  Atilah Soeryadjaja mencari pesinden untuk bergabung dalam Matah Ati, Yeni ikut audisi dan akhirnya mendapat peran penting dalam pentas besar itu.

Karyanya, Laksita Jati, yang merupakan karya akhir kuliahnya di program pascasarjana mendapat banyak pujian dari para pengujinya.

“Saya berada di lingkungan yang tepat, berada di antara para guru, dan sahabat yang banyak memberikan ilmu. Mereka adalah orang-orang hebat,” kata perempuan yang tahun 2011 lalu pentas di Adishakti Campus, Pondicherry, India.

Di sela-sela kesibukan pentas, Yeni acapkali diminta untuk menggarap komposisi musik untuk pentas-pentas tingkat kampus, serta tugas-tugas ujian mahasiswa. Ssekali ia juga mengaransemen ulang komposisi untuk dipentaskian kembali. Pekerjaan sambilan seperti itu, menurut Yeni, sangat berguna untuk melatih kepekaan seniman musik.

“Saya tidak akan berhenti hanya sebagai senden. Saya punya cita-cita menjadi komposer. Semua harus disiapkan sejak sekarang,” kata perempuan yang kini sering tampil dengan alat musik rebab.

Penampilan terbarunya adalah ketika mengaransemen ulang tembang Sinom karya pesinden Endah Laras dalam pentas Indahnya Duinia Indah di Balai Soedjatmoko, Surakarta, Senin (20/1).

“Dulu saya hampir frustasi karena rebab. Sekarang saya malah tidak bisa dipisahkan dengan instrumen gesek ini. Ha ha ha…” ujarnya sambil tertawa.(Ganug Nugroho Adi).

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*