Rambat Yulianingsih: Sang Penari “Rubiyah”

Oktober tahun 2010 lalu, Rambat Yulianingsih memerankan Rubiyah, tokoh sentral dalam langendriyan Matah Ati di Esplanade Theatre Singapura. Setahun kemudian, tepatnya Mei, ia kembali memerankan tokoh yang sama ketika pentas kolosal itu diusung  di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki. Di kedua pentas itu, Langendriyan Matah Ati mendapat pujian  sebagai pertunjukan yang luar biasa.
foto-rambat-yulianingsih3

Lengendriyan adalah dramatari yang tumbuh di lingkungan Pura Mangkunegaran, di mana dialog antar penari mengunakan tembang-tembang macapat. Drama tari ini diciptakan oleh Raden Mas Arya Tandhakusuma yang ketika itu khusus dipersembahakan kepada Mangkunegara IV (1853-1881).

Bagi Rambat, langendriyan bukan sesuatu yang asing. Sejak kecil, perempuan kelahiran Solo, 23 Juli 1978, ini sudah belajar tari tradisi, tembang-tembang macapat, dan kerawitan. Ayahnya, Sarno, adalah seorang pengrawit sekaligus guru kerawitan di sejumlah sanggar kesenian.

“Darah seni mengalir deras dari bapak. Sejak kecil, saya sudah dikenalkan dengan berbagai kesenian tradisional, terutama tari, tembang, dan kerawitan,” kata perempuan berpenampilan kalem ini.

Tak heran ketika duduk di bangsu sekolah dasar, Rambat adalah langganan juara Porseni (lomba olah raga dan seni) antar sekolah, terutama untuk tari dan tembang macapat. Setamat SD, ia muali serius belajar tari tradisi di sanggar Soerjosoemirat, sanggar tari milik Pura Mangkunegaran. Di sanggar inilah Rambat semakin banyak mengenal tari tradisi gaya Mangkungeran.

“Saya banyak dibantu oleh Eyang Tarwo dan Ibu Umi, dua guru tari Mangkunegaran yag sangat luar biasa. Mereka tidak hanya mengajarkan tari, tetapi juga tata cara dan  estetika menari,” ujar Rambat.

Pada usianya yang masih belasan tahun, perempuan ini sudah hapal seluruh tari masterpeace Mangkunegaran, seperti Bedaya Anglir Mendung, Bedaya Dirada Meta, Srimpi Moncar, Srimpi Pande Lori, dan Gambyong Retno Kusumo. Sejak tahun 1994, ia pun menjadi salah satu penari tetap Mangkunegaran hingga kini.

Setamat  SMP, ia melanjutkan ke Sekolah Menengah Kerawitan Indonesia Surakarta (sekarang SMK 8). Padahal ketika itu ia lolos tanpa test di SMA favorit di kotanya. “Saya ingi kuliah tari di ISI (Institut Seni Indonesia). Kalau saya masuk SMA umum, saya pasti banyak ketinggalan pelajaran tari dibanding mahasiswa lain,” tutur perempuan berambut panjang ini.

Di ISI, bakat menari Rambat semakin terlihat. Ia pun mulai belajar tari tradisi lain, seperti tari gaya Surakarta,Yogyakarta, tari Bali, Sunda, dan tari-tari tradisi dari Sumatera. Tahun 1996, ia terlibat dalam “Opera Diponegoro” karya koreografer senior Sardono W Kusumo. Opera ini membawanya pentas ke berbagai kota, seperti Solo, Jakarta, Semarang, hingga New York, Amerika Serikat.

Tahun 2009, ia dipercaya memerankan tokoh gendari dalam lakon koreografi “Gendari” karya Elly D Luthan.   Pada tahun-tahun awal menjadi mahasiswa tahun 2003,  Rambat mementaskan karyanya, “Sekilas Sambal di Atas Meja”, di Taman Budaya Surakarta dalam gelaran pentas koreografer muda yang diprakarsai Studio Tari Taksu.

Sebelum terlibat dalam “Matah Ati”, istri Sri Jaya ini memang telah memiliki jejak pentas yang panjang di berbagai negara. Selama periode 1996 hingga 2008, ia mengikuti pentas tari keliling Amerika dan Eropa bersama sejumlah koreografer ternama, antara lain Retno Maruti, Mugiono Kasido, Eko Supriyanto,  Miroto, Suprapto Soeryodharmo, dan Jarot B  Darsono. Di dunia tembang, Rambat pun kerap terlibat dalam pergelaran bersama komponis gamelan Dedek Wahyudi, Blacius Subono, dan Rahayu Supanggah.

Menurut Rambat, Rusini dan Nanuk Rahayu, dua pengajarnya di ISI, sangat berjasa dalam membentuknya menjadi koreografer i seperti sekarang ini. Atas dorongan mereka pula setelah meraih gelar sarjananya,  Rambat melanjutkan kuliah di program magister.  Karyanya dalam ujian akhir, “Adaninggar: Kerikil Kecil Padang Pasir”, mendapat banyak pujian sekaligus mengantarnya meraih gelar Magister Penciptaan Seni dari ISI tahun 2011 lalu.

“Saya tidak ingin hanya menjadi penari. Saya ingin menjadi koreografer, sehingga sampai kapan pun saya bisa terus berkarya,” ujar perempuan santun ini.

Karirnya sebagai penari semakin bersinar ketika tahun 2009 lalu ia lolos audisi untuk pentas dramatari kolosal “Matah Ati” karya  Atilah Soeryadjaya.  Ia menyisihkan ratusan penari, sebelum akhirnya benar-benar terlibat dalam karya besar cucu Mangkunegara VII ini.

Bagi Rambat, sebuah kebanggan bisa bermain dalam dramatari Matah Ati. Apalagi  ia dipercaya menjadi pemeran tokoh sentral. “Saya pernah punya mimpi ingin pentas dalam sebuah karya besar yang luar biasa. Setelah bertahun-tahun akhirnya mimpi itu  bisa terwujud. Sungguh saya merasa bangga dan terhormat bisa bermain di Matah Ati,” kata Rambat di basecamp Matah Ati di kawasan Laweyan, Solo.

Kesabaran dan kesetiaan pada komitmen barangkali juga menjadi penentu  keterlibatan Rambat dalam dramatari kolosal ini. Betapa tidak, Rambat –juga para penari lain-  harus menunggu selama dua tahun lebih sebelum akhirnya “Matah Ati” benar-benar bisa dipentaskan.

Selama dua tahun  lebih, kata Rambat, mereka yang lolos audisi hanya latihan, riset, dan membaca semua naskah tentang Pangeran Sambernyowo (Mangkunegara I) dan permaisurinya, Rubiyah (Raden Ayu Kusuma Matah Ati ). Rombongan Matah Ati juga melakukan napak tilas perjalanan Raden Mas Sai, termasuk ziarah ke makam Rubiyah di  perbukitan Gunung Wijil di Desa Kaliancar, Selogiri, Wonogiri.

Matah Ati bukan karya instan. Dalam proses panjang yang harus dilaluinya, tak sedikit penari yang kemudian bosan karena menunggu terlalu lama, lalu mengundurkan diri dan memilih mengikuti audisi lain yang memiliki jadwal pentas lebih jelas..

“Meski tidak ada larangan, tapi saya tidak bisa seperti itu. Saya menghargai audisi. Saya melalui proses audisi yang berat agar bisa ikut Matah Ati. Ketika terpilih, saya harus menunjukkan komitmen,” ujar Rambat.

Kebanggaannya semakin membuncah ketika Atilah memilihnya untuk memerankan tokoh Rubiyah, pangliman perang sekaligus permaisuri Pangeran Sambernyawa atau Raden Mas said (Mangkunegara I). Ia tidak pernah menyangka akan mendapatkan peran besar ini karena sejak awal audisi memang tidak mengarah pada peran ketokohan. Bisa jadi, kata Rambat,  dirinya dipilih  memerankan tokoh Rubiyah karena memiliki tradisi panjang menari dan nembang.

“Sebuah peran dengan beban tanggung jawab yang sangat besar. Sekali saya salah, saya tidak akan dipercaya lagi. Sebagai salah satu tokoh sentral, Rubiyah pasti akan menjadi sorotan. Saya harus total, harus serius memerankan tokoh penting ini,” tutur perempuan berwajah sendu ini.

Menurut Rambat, awalnya ia kesulitan memerankan tokoh Rubiyah. Sebab, dalam Matah Ati ini karakter Rubiyah terbagi dalam tiga fase dengan karakter tari yang berbeda. Fase pertama adalah masa ketika Rubiyah yang beranjak dewasa, kemudian masa Rubiyah dewasa, dan terakhir fase ketika Rubiyah bertemu dengan Raden Mas Said. Ia mencontohkan karakter gerak Rubiyah ketika baru menginjak dewasa dengan Rubiyah ketika menjadi panglima perang sangat berbeda sekali.

“Rubiyah itu perempuan hebat. Saya sangat beruntung bisa memerankan tokoh yang luar biasa ini. Saya banyak mendapat inspirasi dari ketokohannya,” kata dia.(Ganug Nugroho Adi)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*