Putut H Pramono: Arsitek Panggung

Akhir tahun 1980-an, Putut H Pramono mendapat tantangan dari koreografer Sardono W Kusumo untuk membuat panggung di  Kraton Kasunanan Surakarta yang akan digunakan untuk penyerahan Agakhan Award –sebuah penghargaan di bidang arsitektur. Putut yang ketika itu hanya bekerja sebagai peñata panggung untuk pentas-pentas kecil di Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) awalnya ragu dengan kemampuannya.

foto-putut-h-pramono2

Namun karena Sardono terus-menerus meyakinkan dirinya, tawaran itu akhirnya ia menerima tantangan itu. Hasilnya, tata panggung outdoor karya pertamanya itu mendapat pujian dari berbagai kalangan. Panggung Kraton Kasunanan Surakarta itulah yang kemudian membuka jalan bagi karirnya sebagai skenografer, terutama untuk tata artistic panggung.

“Mas Don (Sardono W Kusumo) adalah orang yang paling banyak berjasa. Dialah yang membuka pintu, membukakan cakrawala tentang tata panggung,” ujar pengajar Desain Komunikasi Visual di Fakultas Sastra dan Seni Rupa (FSSRP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo.

Putut memang memiliki dasar-dasar seni rupa yang kuat. Ia lulusan jurusan Seni Murni di universitas tempatnya mengajar sekarang. Jauh sebelum menjadi seorang skenografer (piñata panggung), ia lebih dikenal sebagai pelukis. Tahun 1995, misalnya, ia memamerkan karya lukisannya keliling negara-negara Asean. Selama 15 tahun sejak tahun 1996, ia tidak putus  mengikuti Biennale –sebuah festival seni rupa dua tahunan yang digelar di beberapa kota besar seperti Yogyakarta, Bandung, Surabaya, dan Jakarta.

Lahir dari keluarga sederhana di Solo, 12 Juni 1956, bakat seninya mengalir dari sang ibu, Siti Mintarsih, seorang pembatik di Bayat, Klaten. Sejak kecil ia sering menunggui  ibunya menggambar pola, menorehkan canting, hingga ia hapal benar motif-motif batik klasik. Pengalaman masa kecil itulah yang kemudian menumbuhkan minatnya pada seni lukis.

“Sejak SD saya senang menggambar. Semua buku tulis saya gambari karena buku gambar sudah penuh semua. Ketika semua buku tulis habis, dinding rumah pun menjadi pelampiasan,” kenang dia.

Namun ketika ia ingin kuliah seni rupa, orang tuanya melarang. Ayahnya, Hadiprayitno yang pegawai negeri sipil (PNS), memaksanya untuk kuliah di arsitektur. Tak ada pilihan lain, Putut pun akhirnya kuliah di Akademi Arsitektur Yogyakarta (AAY).

“Dua tahun saya kuliah di arsitektur, namun tidak kuat karena banyak hitungannya. Dari dulu saya tidak suka matematika. Karena tidak merasa nyaman, saya akhirnya keluar dan nekat mendaftar di seni rupa (Fakultas Sastra dan Seni Rupa) UNS. Bapak sempat marah, tapi akhirnya bisa menerima,” kata pria yang pernah menggelar pameran lukisan di Australia ini.

Di tempat kuliahnya yang baru, Putut seperti menemukan dunia yang diimpikan. Ia bisa bertemu dengan banyak seniman, sharing, dan membuat karya kolaboratif. Selama lima tahun ia tak hanya kuliah, tapi juga menggelar sejumlah pameran tunggal, belajar manajemen pameran, dan menciptaakn jaringan.

Tahun 1990-an, ia bersama sejumlah seniman Solo, seperti koreografer Suprapto Soeyodarmo, Halim HD, dan BJ Riyanto menggagas Nur Gora Rupa, sebuah festival seni di Solo. Periode tahun 1992-1997 festival ini merupakan ajang bergensi karena selalu diikuti oleh seniman ternama di bidangnya, seperti Eddy Hara, S Teddy D, Heri Dono, Ray Sahetapy, Slamet Gundono, Suprapto Soeryodharmo, dan Djaduk Ferianto.

“Dari Nur Gora Rupa saya banyak belajar bagaimana menyelenggarakan sebuah festival, mengkoordinir seniman, dan menciptakan jaringan,” ujar Putut yang tahun 1996 lalu menampilkan karya instalasi di Mueum Nasional Jakarta dalam Festival Seni Rupa.

Belajar Otodidak

Pengalaman 17 tahun mengelola berbagai pementasan, terutama menyiapkan panggung, membuat karya Putut semakin matang. Tak heran tiga tahun setelah pergelaran “Nur Gora Rupa”, tepatnya tahun 1999,  ia diserahi tugas untuk ikut mengembangkan  Fakultas Sastra dan Seni Rupa (FSSR) UNS Solo yang ketika itu akan membuka beberapa program studi baru, salah satunya desain komunikasi visual.

“Sejak tahun 1999 saya mengajar di UNS, tapi bukan berarti berhenti tetap berkesenian. Saya lebih banyak menangani panggung, terutama artistiknya,” ujar seniman yang pernah mengikuti banyak pameran lukisan dan  instalasi di berbagai kota di Indonesia.

Putut belajar tata panggung (skenografi) secara otodidak. Persentuhannya yang panjang dengan lukisan dan pergaulannya yang luas dengan seniman dari berbagai bidang membuat dirinya peka terhadap estetika panggung.

“Selama ini saya hanya mencoba memberi sentuhan artistik, termasuk aksentuasi lighting, pada panggung agar roh panggung muncul, sehingga panggung tidak mati. Estetika panggung itu ibarat grammar dalam bahasa Inggris,” kata suami Aprilia Supardini ini.

Kepiawaian Putut dalam tata panggung memang sudah teruji. Setidaknya, sejak tahun 2007 hingga 2011, dia dipercaya menjadi direktur artitik Solo Intermasional Ethnic Music (SIEM). Tanggal 4-8  Juli lalu, ia kembali dipercaya menangani bidang artistik untuk perhelatan Kretakencana Wordmusic Festival (KWF)” pertama yang digelar di bekas Pabrik Gula Colomadu, Karanganyar, Surakarta.

Kretakencana Wordmusic Festival merupakan pergelaran musik yang melibatkan musisi dari berbagai negara dan aliran. Festival ini juga sebagai ruang bagi musik-musik alternatif di luar musik mainstream seperti pop.

“Festival ini sebagai kendaraan bagi siapa saja untuk eksis dan berkreasi. Lewat event ini, kami juga ingin mengenalkan kepada masyarakat bahwa ada musik-musik lain di luar musik pop, rock, atau pun dangdut yang selama ini mereka kenal,” ujar ayah tiga anak ini.

Bagi Putut, menjadi peñata panggung tak ubahnya dengan melukis. Bedanya, kata dia, kali ini kanvas yang dibutuhkan lebih besar.  Warna-warna bukan lagi berasal dari cat, melainkan cahaya lampu.

“Sama seperti melukis. Kanvasnya adalah panggung yang besar, sedangkan cat-nya berupa warna-warni lampu. Melukis itu menjadi bagian dari apa yang sekarang ini saya lakukan,” kata pria yang juga pemerhati heritage ini.

Menurut pria yang ikut merancang penataan beberapa ruang publik Kota Solo ini, harus ada orang-orang yang bekerja di balik panggung agar tercipta komunikasi antara seniman dan masyarakat penikmat karya seni, baik seni rupam seni ruang, maupun seni pertunjukan. Sebab, ruang seniman itu ruang yang tersendiri, terpisah dari masyarakat apalagi birokrat.

“Sekat-sekat yang memisahkan antara keduanya itu harus dipertipis agar ada komunikasi dan interaksi di antara keduanya. Tugas orang-orang di belakang layar adalah mengkomunikasikan kara seni dengan penikmat seni. Kalau proses komunikasi terjadi terus-menerus, maka munculah peradaban,” kata Putut.

Sebagai seniman, ia memang dikenal punya sikap. Tak jarang Putut melontarkan kritik, dan beradu argumentasi dengan para birokrat dan bahkan seniman lain terhadap penataan ruang-ruang publik  yang dinilainya kurang mempertimbangkan nilai-nilai artistik.

“Beda pendapat itu wajar. Tapi satu hal yang penting, seniman harus bermartabat. Jangan mau didikte oleh kepentingan,” ujar Putut. (Ganug Nugroho Adi)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*