KRT Sihhanto: Empu Wayang Kraton Surakarta

KRT Sihhanto (Foto: Ganug Nugroho Adi/solografi)

KRT Sihhanto (Foto: Ganug Nugroho Adi/solografi)


Maret hingga April lalu, Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Sihhanto Dipuro memamerkan karya wayang beber-nya di Hughes Gallery, Fullarton Park Center, Adelaide, Australia.  Wayang beber dipilih karena selain sudah sangat langka, karya Sihhanto dinilai masih berpijak pada pakem wayang beber, terdiri dari  24 jagong (fragmen) dalam dua epos besar,  yaitu “Joko Kembang Kuning”, serta “Kisah Asmara Raden Panji Asmorobangun dan Dewi Sekartaji”.

Membuat wayang beber bukan satu-satunya yang dikuasi oleh Sihhanto. Abdi dalem Kraton Kasunanan Surakarta ini juga menguasai pembuatan lima jenis wayang lain sesuai dengan pakem kraton, yaitu wayang purwo, wayang madya, wayang gedog, wayang klithik, dan wayang menak.

Wayang purwo adalah wayang kulit klasik, yang mengambil cerita epos Ramayana dan Mahabarata,  sedangkan wayang madya mengambil cerita pada masa pemerintahan putra Parikesit, Jayabaya, atau masa setelah Mahabarata. Wayang gedog dan wayang beber sebenarnya sama-sama mengambil kisah cerita Panji. Hanya saja   pada wayang beber wayang berupa lukisan per fragmen dalam selembar kain, sedangkan wayang gedog berupa wayang kulit.

“Wayang klithik mengadopsi kisah Damarwulan-Minak Jinggo, sedangkan wayang menak mengambil kisah Umarmoyo-Umarmadi. Wayang menak ini juga dikenal sebagai wayang syiar, karena sering digunakan para wali sanga sebagai media penyebaran agama Islam ketika itu,” jelas Sihhanto.

Lahir di Klaten, 30 Desember 1956, Sihhanto belajar membuat wayang secara otodidak sejak kelas 2 Sekolah Rakyat (SR). Setiap hari, sepulang sekolah, Sihhanto kecil bahkan harus menyeberangi Sungai Bengawan Solo dengan perahu hanya untuk belajar membuat wayang kepada Kartoyo, seorang perajin wayang kulit di Grogol, Sukoharjo.

Selama sekolah di SR pula ia berguru kepada Hadi Suwarno, pelukis kenamaan di Solo. Guru keduanya inilah yang kemudian mengarahkan Sihhanto untuk fokus ke pembuatan wayang kulit.

“Kata Pak Hadi, saya lebih bisa melukis wayang dibanding lukisan realis. Akhirnya saya banyak belajar tentang sapuan kuas dan komposisi warna dari Pak Hadi,” kenang pria yang juga menjadi anggota tim peneliti wayang kuno kraton ini.

Sihhanto lahir dari keluarga sederhana. Ayahnya, Soma Dimejo, dan ibunya, Tuminah, hanyalah buruh tani, sehingga tidak mampu menyekolahkan anak-anaknya ke jenjang pendidikan tinggi. Kondisi seperti itulah menuntut Sihanto untuk  bekerja. Maka, setamat SMP, ia bekerja di sebuah perusahaan pembuat sketsel wayang di Jakarta. Perusahaan inilah yang kemudian membawanya ke kediaman Presiden Soeharto ketika itu di Cendana, untuk mengerjakan proyek pembuatan wayang sketsel. Wayang sketsel adalah wayang yang di-sungging (ditatah) di atas lembaran kulit sapi atau kulit kerbau utuh.  Wayang jenis ini biasanya dipajang untuk hiasan ruang tamu.

“Selama tiga tahun saya ikut merancang dan membuat wayang sketsel di Cendana. Itu pengalaman mahal dalam karir saya sebagai penyungging (perajin) wayang kulit,” ujar pria yang tinggal di Kampung Pabelan, Sukoharjo, Surakarta.

Serelah proyek Cendana selesai, Sihhanto memutuskan kembali ke Solo. Ia sempat melanjutkan pendidikannya di SMA persamaan, namun tidak selesai karena terlalu sibuk bekerja. Anehnya, etos kerja dan hasil karya wayangnya yang bagus tidak juga mengubah nasibnya, terutama sisi perekonomian, menjadi lebih baik.

 

Abdi Dalem

Atas nasehat ayahnya, Sihhanto akhirnya menerima tawaran seorang teman yang mengajaknya untuk mengabdi ke Kraton Kasunanan Surakarta. Sebagian masyarakat Jawa percaya bahwa menjadi abdi dalem keraton akan mendapatkan berkah dan ketenangan.

“Mungkin dengan cara mengabdi di kraton hidup saya akan tenang dan penuh berkah. Saya tidak kaget ketika baru masuk hanya mendapat gaji Rp 2 ribu karena niat saya memang hanya untuk mengabdi. Semua saya jalani dengan ikhlas,” ujar Sihhanto.

Karena memiliki kemampuan membuat wayang kulit, Sihhanto ditempatkan di Gedong Lembisono, tempat penyimpanan wayang koleksi kraton. Dari tempat inilah suami dari Sri Lestari ini belajar banyak tentang wayang-wayang kuno. Secara otodidak, ia belajar tentang bentuk wayang, sunggingan, pewaarnaan, dan karakter wayang. Sihhanto juga membaca banyak buku tentang sejarah dan jenis wayang.

Raden Tumenggung (RT) Redi Suto  yang ketika itu menjadi kengageng (kepala) Gedong Lembisono banyak menuntunnya dalam belajar. Redi Suto pula yang mengenalkan Sihhanto dengan bermacam wayang kuno milik kraton,seperti Kyai Jimat, Kyai Kadung, Kyai Kanyut, dan Kyai Dewa Katong. Dari kraton pula ia belajar dan akhirnya menguasai pembuatan enam jenis wayang; purwa, madya, gedog, klithik, beber, dan wayang menak.

“Kraton itu guru sejati saya Bukan hanya perkara wayang, namun juga guru kehidupan. Dari kraton saya belajar ikhlas, sabar, dan bersyukur. Hidup  itu bukan semata-mata untuk mencari materi, meskipun materi itu penting,” kata bapak empat anak ini.

Puluhan tahun mengabdi di kraton, berkah itu benar-benar didapat Sihhanto.  Persentuhannya yang intend dan lama dengan wayang kraton membuatnya menjadi salah satu pakar wayang kuno di Kraton Kasunanan Surakarta. Tak hanya Solo, ia kerap juga diundang ke Kraton Kasultanan Yogyakarta, Kraton Kasepuhan Cirebon, dan beberapa kraton di luar Jawa untuk memeriksa keaslian wayang kuno. Kemampuannya itulah yang kemudian membuat Sihhanto dipercaya Kraton Kasunanan Surakarta untuk mengelola Bale Agung, pusat penyunggingan wayang kulit milik kraton, sekaligus diangkat sebagai empu wayang kulit di Kraton Kasunanan Surakarta oleh Paku Buwono XII.

Di luar lingkungan kraton, kepiawaiannya dalam membuat wayang juga diakui dunia pedalangan.  Karya sungging wayangnya banyak dipakai oleh para dalang ternama, seperti Ki Hadi Sugito, Ki Timbul Hadi Prayitno, Ki Manteb Sudarsono, Ki Anom Suroto, Ki Asep Sunarya, Ki Purbo Asmoro,  Ki Enthus Susmono, Nyi Suharni Sabdowati, hingga  Nyi Wulansari Panjangmas.

Di dunia kolektor wayang, larya Sihhanto tersebar di berbagai negara, seperti Amerika, Kanada, Jepang, Australia, dan Jerman. Tahun 1998 lalu, Sihhanto bahkan pameran keliling di sejumlah kota di Jerman dalam Pekan Seni Indonesia-Jerman, antara lain di  Wiesloch , Waldheim, dan Mannheim. Selain pameran, Sihhanto juga memberikan workshop untuk mahasiswa seni di beberapa perguruan universitas.

Kini, meski telah memiliki beberapa pekerja di Bale Agung, Sihhanto tetap menyempatkan diri untuk menyungging wayang. Tak hanya membuat anak wayang untuk keperluan pedalangan, tetapi juga jenis wayang lain.  Satu anak wayang kulit biasanya diselesaikan dalam waktu sekitar satu minggu, mulai pemilihan bahan, hingga pewarnaan. Kesabaran, ketelitian, dan kecermatan inilah yang membuat harga wayang mahal.

Untuk wayang putren, misalnya Srikandi, Kunthi, Drupadi dan tokoh wayang perempuan lain  yang ukurannya relatif lebih kecil dibanding wayang laki-laki, harganya antara rp 25000 sampai rp 400 ribu. Sedangkan untuk wayang laki-laki seperti Werkudara, Gatotkaca, dan Arjuna, harganya berkisar antara Rp 500 ribu sampai Rp 800 ribu. Untuk tokoh raksasa harganya lebih mahal lagi karena ukurannya lebih besar, yaitu sekitar Rp 1 juta hingga Rp 2 juta. Dari semua wayang untuk pedalangan, harga gunungan merupakan yang termahal, mulai Rp 3 juta sampai Rp 5 juta. Selain ukurannya lebih besar, sunggingan pada gunungan juga lebih rumit.

“Sampai sekarang masih sedikit kalangan muda yang menekuni sungging wayang kulit. Kalau pun ada, mereka biasanya tidak mau masuk kraton karena tidak digaji. Sebenarnya banyak mahasiswa  jurusan seni pedalangan dan tatah sungging yang bagus, tapi mereka lebih senang berkarya di luar tembok kraton,” ujar satu-satunya empu wayang kulit di Kraton Kasunanan Surakarta ini. (Ganug Nugroho Adi)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: