Joko Sri Yono: Pelestari Wayang Beber

JOKO-SRI-YONO

Ia belajar menyungging (melukis) wayang beber sejak masih duduk di Sekolah Rakyat (sekarang Sekolah Dasar) tahun 1962 dari seorang juru sungging di Kraton Kasunanan Surakarta yang juga tetangganya, Raden Ngabei Atmosoepomo. Tak heran jika pria ini, Joko Sri Yono, bisa begitu menguasai  wayang yang menampilkan cerita Panji  (kisah asmara Dewi Sekartaji dan Panji Asmorobangun).

“Awalnya saya sebenarnya terpaksa belajar wayang beber ini. Keluarga saya miskin, sehingga terkadang untuk makan saja tidak bisa. Dari menyungging wayang beber ini, saya bisa makan siang gratis. Baru setela SMA saya dapat honor untuk beli buku dan sdikit uang jajan,” kenang Joko dirumahnya, Kampung Gambuhan, Baluwarti, Solo.

Wayang beber merupakan rangkaian lukisan cerita wayang pada kain yang berpijak pada cerita Panji. Disebut “beber” karena sang dalang harus membentangkan kain bergambar wayang itu kemudian menguraikan atau membeberkan kisahnya.  Dalam bahasa Jawa, dibeber berarti dibentangkan.

“Berbeda dengan wayang kulit yang anak wayangnya diambil satu-satu ketika dimainkan, dalam wayang beber ini sang dalang tinggal  bercerita sambil menunjuk gambar dengan kayu atau bambu kecil,” kata dia.

Sekitar tujuh tahun, sejak kelas V SR hingga tamat SMA, Joko nyantrik pada Eyang Bei. Tak heran jika ia bukan sekadar mahir menyungging tapi juga menguasai cerita berikut ajaran filosofinya.  Menurut Joko, dibandingkan wayang kulit yang berdasarkan epos besar Ramayana dan Mahabarata dari India, wayang beber justru merupakan cerita asli  Indonesia.

Wayang beber diambil dari cerita panji yang lahir di masa Kerajaan Kediri,  berkembang di zaman  Majapahit hingga menyebar ke banyak kerajaan termasuk Mataram. Dalam perkembangannya, wayang beber beredar dalam berbagai cerita rakyat.

“Cerita Panji adalah pusaka yang harus diselamatkan dan dilestarikan karena tak ternilai harganya” ujar bapak dua anak dan kakek dua cucu ini.

Pemikiran seperti itulah yang dimiliki Joko sejak kecil. Namun setamat SMA tahun 1970, ia justru meninggalkan wayang beber. Joko memilih bekerja sebagai desainer batik di sebuah perusahaan batik di Jakarta. Lima tahun menjadi pekerja, Joko kemudian keluar dan membuka usaha jasa desaian batik sendiri.

Namun kehidupan Jakarta tidak membuat hidupnya nyaman. Ia pulang ke Solo dan menikah dengan Sukarti. Pria yang lebih dikenal dengan panggilan “Joko Kribo” ini  kemudian bekerja sebagai desainer batik printing di Batik Semar. Dalam produksi batik printing, kreasi desain sangat penting. Terlebih masa tahun 1980-an merupakan masa kejayaan batik printing, sehingga desainer laku keras.

“Saya harus menghidupi keluarga. Wayang beber tidak bisa untuk hidup, sehingga saya harus bekerja. Tapi akhirnya saya keluar dari Batik Semar dan membuka usaha jasa desain batik kembali,” tutur dia.

Usahanya berkembang pesat. Ia juga melayani produksi kain untuk seragam dari berbagai instansi dan ekspor untuk pasar Timur Tengah salah satunya  Abu Dhabi. Di sela-sela mengelola usahanya Joko tetap meluangkan waktu untuk melukis wayang beber.

“Barangkali ini bentuk dari kekhawatiran saya karena wayang beber mulai punah. Saya hanya tidak ingin wayang beber hilang karena modernisasi,” kata anak bungsu dari tujuh bersaudara pasangan Soepawi Atmowiyono dan Widji.

Reproduksi Babon

Bentuk kepedulian terhadap wayang beber itu antara lain diwujudkannya dengan membuat reproduksi babon atau master wayang beber pakem  lengkap sebanyak 24 jagong atau episode, terdiri dari dua cerita besar yaitu “Joko Kembang Kuning”, serta “Kisah Asmara Raden Panji Asmorobangun dan Dewi Sekartaji”. Babon ini dibuat dari bahan plastik bening yang digambari dengan tinta China. Nantinya master ini akan gambar satu demi satu ke atas kain.

“Setelah semuanya selesai dipindahkan ke kain, karya ini akan saya gunakan untuk modul pelatihan bagi mereka yang berminat belajar wayang khususnya wayang beber,” ujar pria kelahiran Solo 7 November 1951.

Menurut Joko, babon tersebut dibuat berdasarkan foto reproduksi wayang beber yang menjadi artefak di Desa Karangtalun, Kecamatan Donorejo, Pacitan (Jawa Timur), dan  Desa Gelaran, Kabupaten Gunung Kidul (Yogyakarta).

“Di Solo ada beberapa pelukis wayang beber, namun mereka sudah tidak mengikuti pakem sebagaimana wayang beber di keraton. Karya mereka lebih kontemporer. Tapi itu tidak masalah. Itu hanya soal pilihan,” ujar dia.

Untuk cerita dan jumlah episode, Joko sepenuhnya mengikuti pakem wayang beber Pacitan. Misalnya, jumlah cerita yang 24 episode itu. Setiap lembar kain terdiri dari 4 episode sehingga total jumlahnya 6 lembar kain. Sesuai dengan pakem lebar kain 50 cm sedangkan panjangnya tergantung cerita.

“Bisa satu meter, tapi bisa juga dua meter untuk satu epidodenya,” jelas dia.

Aturan pakem juga ia terapkan untuk  teknik pewarnaan dengan  menggunakan warna-warna primer; merah kuning hijau dan biru berikut gradasinya. Menurut Joko, wayang beber yang sekarang bermunculan lebih banyak menggunakan warna-warna pastel atau warna-warna yang soft.

Namun untuk media lukis, ia tak lagi menggunakan pakem delancang gedog, yaitu bahan kertas yang terbuat dari kulit kayu dari Ponorogo. Bahan ini sudah sangat sulit didapatkan sehingga Jokomenganggantikannya dengan kain mori sebagai media.

“Warna-warna soft seperti itu yang diminati pasar, terutama wisatawan asing, dengan harga berkisar antara Rp1 juta hingga Rp 2 juta per episode” kata dia.

Joko mengungkapkan cerita lengkap wayang beber Pacitan terdiri dari 24 episode. Namun, lebih dari 100 tahun terakhir  episode ke-24 atau adegan penutup cerita Panji ini tidak pernah dimainkan. Ia sendiri mengaku belum pernah melihat secara langsung jagong ke-24. Berbagai literatur baik dalam huruf latin maupun aksara Jawa pun tak menjelaskan isi adegan itu.

Joko memperkirakan lukisan asli adegan penutup sengaja dirahasiakan untuk memberi tempat bagi para dalang dan penyungging wayang beber untuk mengembangkan kisah Panji Asmorobangun dan Dewi Sekartaji sesuai dengan kreasi mereka.

“Saya memilih menutup kisah ini dengan happy ending. Panji Asmorobangun memadu kasih dengan perempuan impiannya Dewi Sekartaji. Mereka selanjutnya hidup bahagia seperti dongeng-dongeng zaman dulu, ” ujar pria berusia 65 tahun ini.

Untuk  pelatihan wayang beber, Joko bersama Insititut Senin Indonesia (ISI) Solo telah menyiapkan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) di Baluwarti. Di pusat studi ini, wayang beber menjadi salah satu materi workshop lengkap, selain batik tulis dan tari klasik Jawa.

“Saya ingin wayang beber kembali dikenal generasi sekarang. Pengenalan sejak dini kepada anak-anak akan membuat kesenian tradisi ini nantinya akan tetapterjaga,” kata Joko yang akhir tahun lalu memberikan pelatihan wayang beber di Papua selama dua bulan.

Kekhawatiran Joko akan punahnya wayang beber bukan tanpa alasan. Jangankan   regenerasi penyugging, bahkan secara fisik saja banyak generasi sekarang yang belum pernah melihat wayang beber. Lebih dari itu, Solo yang nota bene memiliki jejak tradisi panjang wayang beber saat ini tak memiliki banyak penyunging dan dalang.

“Sampai saat ini, jumlah perajin dan dalang wayang beber  di Solo ini tidak  lebih dari tiga. Kondisi seperti ini sudah terjadi sejak masa tahun 1970-an,” kata Joko juga sedang menyiapkan buku tentang filolosofi ornamen dalam wayang beber. (Ganug Nugroho Adi)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: