In Memoriam Slamet Gundono: “Seperti Suket, Kita Harus Selalu Tumbuh”

Tahun 1995, Slamet Gundono menggegerkan festival dalang di Solo (Surakarta). Dalam festival yang  digelar untuk memperingati 50 tahun Indonesia Merdeka itu, Gundono menampilkan pakeliran (pergelaran wayang kulit) di luar pakem.

foto-slamet-gundono2

Di hadapan dalang-dalang klasik yang sudah memiliki nama besar, seperti Ki Anom Suroto, Ki Manteb Soedarsono, dan Ki Purbo Asmoro, Gundono mengemas pergelaran wayangnya dengan memadukan berbagai disiplin seni, mulai teater modern, tradisional, musik, tari, musik, dan bahkan seni rupa kontemporer. Ia melakukan revolusi terhadap dunia wayang dan pedalangan yang oleh banyak pihak dinilai sudah lama mandek.

Tentu saja para dalang kaget. Penggemar wayang kulit pun ternganga, juga memprotes pergelaran wayang yang edan-edanan itu. Namun di luar para pengkritiknya, sederet nama besar seperti sastrawan Goenawan Mohammad, budayawan Umar Kayam, Murtidjono yang ketika itu Kepala Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) sampai pengamat seni Halim HD justru mendukung apa yang ditampilkan Gundono.

Sejak itu, daya jelajah kreasinya mengalir deras. Ia memunculkan Wayang Nggremeng, sebuah elaborasi dari wayang jemblung dengan berbagai garap an kontemporer. Setelah Wayang Nggremeng  berturut-turut ia mengenalkan wayang air, dan wayang api.

Tahun 1999, ia mengembangkan wayang suket yang akhirnya menjadi pertunjukan yang fenomenal di sepanjang karirnya. Meski ia memunculkan banyak pergelaran kreatif wayang, namun Julukan dalang Wayang Suket begitu melekat pada dirinya hingga sekarang.

Dalam sebuah perbincangan di Sanggar Wayang Suket , Jalan Sibela Timur III No 1 Mojosongo, Jebres, Surakarta, Gundono menyebut Wayang Suket temuannya berada di antara dunia teori teater Barat dan tradisi pewayangan Timur. Disebut wayang suket, karena wayang, atau semacam boneka yang dimainkan oleh Gundono ini benar-benar  terbuat dari suket atau rumput.

“Seperti suket (rumput), semangat itu harus selalu tumbuh. Suket tidak banyak butuh air dan sinar matahari. Tapi suket punya semangat untuk terus tumbuh. Saya banyak belajar dari filosofi suket,” ujar Gundono suatu kali.

Kekuatan filosofi ini menggambarkan kekuatan ruang imajinasi dari wayang suket. Pertunjukkannya merupakan simbol grass root yang mempertanyakan tentang diri, bukan memberontak atau merusak.

Urip  kuwi mung kaya bocah cilik dolanan nang pelataran(Hidup itu seperrti anak-anak yang bermain di halaman). Hidup itu hakikinya bersenang-senang. Tuhan mengirim kita ke dunia dengan gembira. Maka Tuhan juga harus bergembira jika kelak kita kembali kepadaNya. Jangan korupsi, jangan maling, jangan berjudi, jangan main perempuan,” kata dia.

Kelak, masyarakat tahu bahwa Gundono ternyata tidak  sekadar menciptakan bentuk anak wayang baru. Sebaliknya, lewat pertunjukannya itu, ia justru lebih banyak berbicara tentang masalah-masalah sosial di sekitarnya; banjir, kekeringan, dan rusaknya alam. Sesekali ia juga menyampaikan pesan-pesan kebaikan dan agama dalam pentas-pentas yang dibawakannya.

Ruang kreatifnya tidak sebatas pada bentuk pertunjukan wayang. Ia juga dikenal sangat piawai menciptakan suluk. Melalui beberapasuluknya, ia mengkritisi peristiwa-peristiwa aktual yang bertentangan dengan norma-norma kemanusiaan, sosial, dan agama.

Dalam salah satu suluknya, Palagan Kurusetra, Gundono mengkritisk keras  suasana keberagamaan (Islam) di Indonesia sarat kekerasan. Satu golongan membakar rumah dan rumah ibadat golongan lain.

“Bukankah Kanjeng Nabi (Muhammad SAW) tidak pernah menghalalkan umatnya untuk menistakan musuh yang sudah menyerah. Kenapa mereka justru bertindak anti kemanusiaan dengan saudara sesama muslim?”

Di mata kawannya sesama seniman, Gundono itu satu dari sedikit seniman yang bisa mencipta.  Ia sosok yang unik. Jika ia punya sebuah gagasan, maka ia terus bekerja untuk mewujudkannya. Ia juga seorang seniman yang selalu mencoba memainkan wayang dengan caranya sendiri.

Suprapto menyebut beberapa lakon masternya,seperti Kelingan Lamun Kelangan, Sukesi atau Rahwana Lahir, Limbuk Ingin Merdeka, dan Bibir Merah Banowati adalak karya-karya yang lahir dari kegelisahan panjang.

Ia selalu tampil energik di panggung, meski berat badannya lebih dari 150 kilogram. Dengan ukulele di tangan yang menjadi ciri khas penampilannya, Gundono tak canggung untuk menari dan bergoyang mengikuti irama musik yang dimainkannya. Gundono juga terus melakukan eksplorasi untuk memperkaya wayang-wayang ciptaannya. Di komunitas Sanggar Wayang Suket yang didirikannya tahun 1999, ia melakukan riset, kajian, dan berbagai diskusi kesenian.

Setelah lebih dari enam tahun berkarya dan mencipta, tahun 2005 lalu ia menerima Prince Claus Award, sebuah penghargaan di bidang Kebudayaan dan Perkembangan dari lembaga kebudayaan di Afrika, Asia, Amerika Latin, dan Karibia.

Lahir di Tegal 19 Juni 1966, ayahnya adalah seorang dalang wayang kulit klasik. Ketika remaja, ia sempat menolak belajar mendalang karena memandang dunia pewayangan sangat dekat dengan minuman keras dan main perempuan.

Gundono menolak permintaan ayahnya untuk nyantrik kepada seorang dalang kondang di kotanya. Setamat Sekolah Dasar, ia justru memilih sekolah di pesantren. Namun setelah tamat dari Madrasah Aliyah (setingkat SMA), Gundono . kecintaannya terhadap wayang justru meletup-letup.

Ia sempat kuliah di Jurusan Teater Institut Kesenian Jakarta (IKJ), namun  hanya bertahan setahun. Ia melanjutkan kuliahnya di Jurusan Pedalangan  Sekolah Tinggi Seni Indonesia (sekarang ISI Surakarta) hingga tamat.

Kabar tentang sakitnya Gundono pertama kali tersia pada malam pergantian tahun lalu (31/12/2013). lalu Ketika itu, sekitar pukul 22.00, ia masuk ruang ICU Rumah Sakit Yarsis dalam kondisi sangat lemah.

Setelah sempat dirawat selama sepekan, Minggu (5/1) Gundono menghembuskan nafaskan yang terakhir. Gundono sudah lama mengidap penyakit diabetes. Penyakit inilah yang kemudian merusak kerja jantung, ginjal, dan kaki gajah.

“Dua hari terakhir sebelum meninggal kondisinya koma. Mas Gundono meninggal dengan senyum setelah mengalami kritis selama beberapa hari,” kata dalang Wayang Golek Sri Waluyo yang juga kerabat dekat Gundono.

Kini, dalang nyentrik itu telah pergi. Tubuhnya yang besar, kemeja kedodoran, dan celana selutut yang selalu melorot itu hanya tinggal kenangan. Namun karya-karyanya akan abadi. Ia telah menorehkan karya seni yang mencerminkan semangat zamannya. (Ganug Nugroho Adi)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: