Topeng Klasik dari Bekonang

-

 Topeng klasik adalah topeng yang biasa dipakai dalam pentas sendratari klasik seperti cerita Panji, Minak Jingo dan Gunungsari yang saat ini mulai langka. Narimo (52) adalah satu-satunya perajin topeng klasik di Bekonang, Sukoharjo,  Jawa Tengah, yang hingga kini masih bertahan.

Dari tangannya, lahir ribuan topeng klasik yang keberadaannya mulai langka. Topeng-topeng karya Narimo biasanya dipergunakan sebagai pelengkap tarian, dan pertunjukan wayang topeng, seperti Kelono, Raja Mala, Sekartaji, Panji, Pentul, Tembem, Cakil, Buto Terong, Punakawan dan Durno.

“Ini bukan sekadar bisnis, tapi sebenarnya lebih pada upaya memelihara budaya yang adiluhung. Dengan cara ini saya mencoba menjaga apa yang pernah ada,” ujar Narimo.

Seni topeng sendiri memiliki jejak sejarah yang panjang di negeri ini. Pada masa perunggu, telah muncul topeng-topeng perunggu untuk ritual pemujaan. Kemudian di zaman Hindu, Majapahit, kesenian topeng mulai populer. Konon, raja besar   Hayam Wuruk pun pernah menarikan tari topeng  dalam sebuah perayaan kerajaan.

-

Pada masa kerajaan Mataram, tari dan wayang topeng dikenalkan oleh  Sunan sebagai syiar agama Islam dengan mengadopsi beberapa tarian warisan budaya Hindu-Buddha. Cerita Panji yang lahir pada masa Majapahit menjadi pijakan untuk menyampaikan dakwah. Topeng-topeng sebagai pelengkap cerita dan tarian sangat beragam sesuai buadaya masyarakat setempat. Misalnya topeng Jawa Barat dan Tengah yang formal tapi polos, hingga topeng Jawa Timur dengan ukiran yang berliku dan rumit.

Cerita Panji sendiri memiliki banyak versi, termasuk berbeda dalam penuturan ceritanya. Namun semuanya memiliki tema yang sama, yaitu  tentang cerita asmara antara putra mahkota kerajaan Janggala (Kahuripan) dengan putri kerajaan Panjalu (Kadiri) yang beribukotakan di Daha. Dalam kisah Panji, suasana yang disajikan adalah masyarakat dan kerajaan-kerajaan yang berkembang di wilayah Jawa (timur) dan Bali, bukan lingkungan istana dan pedesaan yang jauh di tanah India.

Namun, kini kesenian topeng klasik mulai ditinggalkan. Di wilayah Solo yang nota nene sebagai pusat kesenian dan kebudayaan Jawa, misalnya, hanya menyisakan seorang perajin topeng klasik. Padahal, sekitar 20 tahun lalu, Desa Jatisobo ini dikenal sebagai sentra penghasil topeng klasik untuk kelengkapan tarian dalam cerita Panji dan  wayang topeng. Sekarang kondisinya sudah berubah. Para perajin topeng dari desa ini beralih profesi menjadi petani atau pedagang..

Bisa jadi karena pertunjukan tari dan wayang topeng tidak lagi banyak digelar.  Kebutuhan topeng klasik hanya sebatas untuk dipajang sebagai huasan dinding atau untuk keperluan akademis perguruan tinggi seni yang jumlahnya terbatas. Menjadi petani dan pedagang dirasa lebih menjanjikan.

Namun tidak bagi Narino. Dibantu istrinya, Supriyanti, dan beberapa  pegawainya, Narimo terus berkarya. Ia memproduksi topeng Raja Mala, Hanoman, Garuda Jaksa, Kelono,  Dewi Sekartaji dan Panji Asmoro Bangun,  dan topeng Penthul-Tembem. Topeng-topeng buatan mereka tergolong halus dengan detail yang pas, menggambarkan karakter para tokohnya seperti Galuh Candra Kirana, Dewi Kili Suci, Batara Indra, Klana Raja

Proses pembuatan topeng dilakukan mulai memilih kayu, membentuk topeng, menatah dan kemudian mewarnai. Harga topeng-topeng ini berkisar mulai dari 6 ribu rupiah hingga 5 juta rupiah, tergantung ukuran dan motif topeng. Namun untuk topeng standar, harganya mulai dari 150 ribu rupiah hingga 300 ribu rupiah.  Bahan kayu yang digunakan biasanya dari jenis sengon, pule, puso, mahoni dan jati.

“Saya sudah 30 tahun mengeluti pekerjaan ini. Konsumennya tidak banyak. Selain untuk kebutuhan pentas, biasanya juga para turis asing atau kolektor seni. Saya  sangat mencintai topeng panji. Saya tidak ingin tradisi pembuatan topeng panji hilang,” kata dia.

Belajar Otodidak

Keahlian membuat topeng ini dipelajari Narimo secara otodidak. Awalnya dia justru menekuni pembuatan wayang. Namun Narimo kemudian mencoba belajar ke beberapa seniman topeng di Solo dan Gunung Kudul (Yogyakarta), hingga akhirnya terus bertahan hingga sekarang. Ketekunan inilah yang membuat Narimo mencapai tangga keberhasilan. Karya-karya topengnya bahkan tersebar hingga Korea Selatan, Belanda, dan Jepang.

Narimo tak hanya belajar membuat topeng, tapi juga belajar mengenal tari topeng, terutama topeng Panji. Maka, tak heran jika dia paham benar tentang  karakter tokoh dalam tari topeng yang mengacu pada cerita Panji. Ia paham benar bagaimana mewujudkan sepotong kayu menjadi sebuah topeng yang membentuk karakter tertentu dalam kisahan cerita panji. Karakter kayu pun ia kenal benar. Untuk membuat topeng dengan kualitas yang baik, misalnya, diperlukan jenis kayu jaranan. Sedangkan untuk kualitas topeng kayu yang berikutnya adalah jenis kayu pule dan kayu putih (sengon).

Kayu jaranan memiliki keunggulan pada warnanya yang cenderung putih agak kekuningan, seratnya relatif lembut, tidak mudah pecah atau retak, tidak memiliki teras (galih) sehingga seluruh bagian kayunya berwarna nyaris sama. Selain itu jenis kayu jaranan juga relatif lunak ketika ditatah atau dikerat. Hanya saja jenis kayu atau tanaman jaranan ini nyaris tidak pernah dibudidayakan masyarakat. Jenis kayu ini biasanya tumbuh di pinggir-pinggir sungai. Kayu jaranan juga memiliki keunggulan lain, yakni jika telah kering bobotnya cukup ringan sehingga jika dikenakan oleh penari maka tidak melelahkan penarinya.

Puluhan topeng karya Narimo biasanya dipajang di Galeri Panji yang sekaligus sebagai rumahnya, sebelum akhirnya menyebar ke berbagai tempat. Topeng-topeng lainnya yang digunakan untuk asesori interior, antara lain ada motif Merak, Bunga, Bulan Sabit dan Badak. Sementara topeng-topeng buat sovenir, gantungan kunci dan bandul kalung lebih beraneka ragam: dari topeng yang bermotif bunga hingga rojo molo.

-

Narimo sendiri adalah prototipe orang kampung yang ulet. Sejak lulus Sekolah Dasar di tempat kelahirannya, Klaten, ia telah memulai membuat wayang kulit. Empat tahun kemudian, minat seninya bertambah hingga memutuskan untuk belajar membuat topeng. Kala itu, ia hijrah ke Kota Surakarta, belajar membuat topeng kepada Bambang Suwarno, dosen STSI Solo Bagian Pedalangan.

Sambil terus menerus menggeluti topeng, Narimo tak menyia-nyiakan kesempatan ajakan budayawan Murtijono untuk turut aktif di Taman Budaya Surakarta (TBS). Ia juga bersekolah di Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) Surakarta, hingga tamat pada 1989. Tak heran bila Narimo kian matang dalam berkarya. Lantas, topeng-topeng karya Narimo muncul ke pasaran.

Tahap pembuatan dimulai dari pemotongan kayu, penatahan, dan penyunggingan. Penyunggingan adalah pewarnaan baik dengan pengecatan ataupun teknik membatik. Supaya lebih efektif, proses pemotongan kayu dan pengukiran menjadi bentuk awal topeng diserahkan kepada para perajin di Yogjakarta. Namun untuk detil ia kerjakan sendiri. Terutama bagian rias wajah atau pelukisan raut muka.

“Istilahnya ulat-ulat. Sampai sekarang belum ada pekerja yang bisa membuatnya sesuai desain yang saya inginkan. Jadi harus saya kerjakan sendiri. Karena kalau salah sedikit saja akan merusak karakter wajah,” ujar Narimno.

Satu topeng jenis klasik yang berkualitas baik biasanya diselesaikan dalam 5 hari. Namun jika kelasnya massal, satu topeng bisa dirampungkan dalam satu hari.

“Tergantung mau dibuat seperti apa. Kalau bagus ya lama, kalau biasa-biasa saja lebih cepat. Kali suvenir topeng kecil-kecil biasanya 2-3 bulan bisa dapat 300-400 buah,” ujar perajin yang sudah pernah mengikuti pameran di Korea dan Singapura ini.

Sebelum krisis, Narimo bisa menjual karyanya sampai Jepang, namun sekarang penjualan hanya terbatas di dalam negeri. Pemot Solo pun memintanya untuk membuat topeng-topeng klasik raksasa sebagai penghias taman kota, antara lain di beberapa penggal ruas Jalan Slamet Riyadi, kawasan Ngarsopuro, Sriwedari, Taman Sekartaji,  dan sekitar pintu masuk Stadion Manahan.

Narimo mengaku saat ini sedang mencari pembeli yang bisa membantu penjualan karyanya ke manca negara. Bukan semata-mata untuk mencari keuntungan, melainkan untuk mengenalkan topeng klasik ke dunia luar. Selama ini memang ada konsumen dari luar negeri, namun masih dalam skala kecil karena hanya perorangan. Narimo bermimpi topeng klasik akan mendunia seperti hanya batik.

“Mau pesan seperti apa akan saya layani dengan syarat saya mencoba kapasitas produksi saya dulu. Soalnya kalau ditarget harus jadi sekian ratus, nanti kualitasnya asal-asalan. Saya nggak puas kalau bekerja seperti itu,” katanya. (Ganug Nugroho Adi).

 

1 Comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*