Sesaji Seni, Penghormatan untuk Gendhon Humardani

-

Gending Pangkur itu mengantarkan sebelas perempuan memasuki Pendapa Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta membawakan Tari Gambyong. Bukan para penari muda. Mereka adalah para perempuan yang  telah berusia lebih dari 50 tahun.

Memang tak biasa. Sebab selama ini penari Gambyong adalah gadis-gadis muda.  Bentuk “pelanggaran” lain terjadi pada kostum. Alih-alih mengenakan kemben  dan membiarkan bagian bahu terbuka, para perempuan sepuh ini memilih kebaya dengan warna mencolok dipadukan kain batik.

Pakem yang mewajibkan penari Gambyong  harus cantik, langsing, dan luwes layaknya sekar kedhaton  (putri keraton) kali ini tak berlaku. Toh meski dibawakan oleh para penari tua, tarian ini tak kehilangan pamor.

Para penari yang semuanya merupakan pengajar di ISI Surakarta -termasuk rektor terpilih  Sri Rochana Widyastutieningrum- ini masih menyisakan gerakan-gerakan yang luwes, lentur, dan lembut. Tak heran, pada era tahun 1970-an ketika masih kuliah di Akademi Seni Karawitan Indonesia (sekarang ISI) Surakarta.

Kelenturan mungkin telah berkurang. Namun mereka masih mampu mengimbangi ketukan kendang lewat gerak tangan, kaki, sambil sesekali memainkan selendang di leher. Di usia mereka yang telah lanjut, para perempuan ini masih terlihat fasih melakukan gerak ukel asta (memutar pergelangan tangan). Mereka juga tak terlihat kaku pada gerakan-gerakan kaki seperti srisig (berdiri dengan jinjit kemudian  langkah kecil-kecil).

“Kami sengaja menampilkan ibu-ibu ini sekaligus untuk bernostalgia. Mereka adalah para penari hebat pada zamannya,” kata Agus Tasam, pengajar Juruan Tari ISI Surakarta.

-

Tari Gambyong tadi merupakan salah satu dari rangkaian pergelaran “Memperingati 30 Tahun Wafatnya Gendhon Humardani”. Gendhon adalah  budayawan, seniman tradisi, sekaligus pemimpin pertama Akademi Seni Kerawitan Indonesia (ASKI) sebagai cikal bakal ISI Surakarta. Pentas bertajuk Sesaji Seni itu digelar di pendapa kampus, beberapa waktu lalu.

“Atas nama penghormatan kepada Pak Gendhon kami tampilkan sesaji seni selama tiga hari,” tambah Agus yang juga sebagai ketua penyelenggara.

Sebelum Gambyong tampil konser gamelan dengan komposer Rahayu Supanggah, dan Al Suwardi. Al yang dikenal sebagai pengusung musik-musik eksperimental, malam itu menampilkan reportoar Planet Harmonic. Musisi kontemporer ini mengeksplorasi bunyi genta (lonceng yang biasa dikalungkan di leher sapi).

Al mengusung puluhan genta yang terbuat dari logam kuningan ini ke atas panggung dalam berbagai bentuk dan ukuran. Ada genta yang diletakkan berjajar dan kemudian dipukul layaknya meabuh bonang, gender, gambang, dan kenong. Ada pula yang digantung berjajar-jajar.

Pada zaman dulu, lonseng sapi pernah menjadi bagian dari orkestra gamelan di Keraton Kasunanan Surakarta. Namun keberadaan musik lama itu telah hilang. Jejak itulah yang membuat pengajar Jurusan Kerawitan ISI Surakarta ini menampilkan kembali genta. Ia memadukan instrumen genta yang berlaras slendro dengan ensemble berupa kawat beton. Di tangan Al, perangkat yang sepele dan biasa ini menjadi seperangkat instrumen  dengan bunyi yang luar biasa.

Dua pertunjukan menutup sesaji seni hari pertama, yaitu “Tari Watang”, dan “Degung Sunda” oleh Rasita Satriana. Degung Sunda layaknya gamelan di Jawa,  namun dengan tangga nada yang unik karena mengambil bagian kecil dari laras slendro, yaitu dwiswara dan triswara.

-

Tak hanya kesenian tradisional Jawa, pergelaran Sesaji Seni juga menampilkan kesenian dari Bali; gamelan dan “Tari Legong Keraton” yang membuka pergelaran hari ketiga.  Tarian berdurasi sekitar 15 menit ini dibawakan tiga penari, mengambarkan tata cara atau etika abdi dalem dan para putri keraton  dalam bersikap terhadap raja.

Tak heran jika karakter tarian ini lemah gemulai. Namun gerakan-gerakan cepat dan seakan reflek yang menjadi ciri khas semua tarian Bali tetap terlihat, terutama gerak tangan berikut kipas, kaki, dan mata.

Selepas Legong Keraton adalah “Bedhaya Tolu” yang dibawakan oleh enam penari.  Tari karya dosen ISI Surakarta, Agus Tasman ini terinspirasi  oleh wuku Tolu (sistem penanggalan Jawa Kuno). Mengambil karakter angin, maka gerak pada tarian ini cenderung gemulai dan tegas.

Berbeda dengan Bedhaya Ketawang yang benar-benar sebagai tari Jawa klasik dan menjadi induk dari semua tari bedhaya,  Bedhaya Tolu merupakan tari gagrak anyar (garapan baru).

Sahita yang Menghibur

Tampil pada hari kedua adalah “Tari Topeng Sekartaji” yang nerupakan fragmen cinta segitiga antara Klana Sewandana, Dewi Sekartaji, dan Panji Inu Kertapati atau Panji Asmara Bangun dalam kisah wayang gedhog (cerita Panji). Fragmen menceritakan  peperangan antara Klana Sewandana melawan Panji Inukertapati dari demi memperebutkan  Dewi Sekartaji.

Sebelumnya tampil tarian yang hampir serupa, yaitu  “Tari Adaninggar-Kelaswara”. Di sajikan dalam gaya Kasunanan Surakarta, tokoh Kelaswara mengenakan kain samparan, dan baju beludru tanpa lengan. Sementara kostum Adaninggar seperti busana pengantin putri, lengkap dengan sanggul, cundhuk mentul,(hiasan di kepala),  paes (hiasan pada dahi pengantin perempuan), dan kebaya beludru lengan panjangnya.

Tarian ini disajikan dalam bentuk putri, salah satu dari tiga genre dalam tari klasik Jawa,  selain putra gagahan, dan putra alus. Meski tarian ini sering ditampilkan, namun tetap mencuri perhatioan penonton.

Pentas nakal, segar, dan mengundang tawa ditampilkan oleh kelompok teater-tari asal Solo, Sahita. Membawakan lakon “Srimpi Papat Lima Enem Ganep”, Sahita tampil kocak di sepanjang pentas berdurasi sekitar 45 menit.

Begitu muncul di panggung, Inonk (Wahyu Widayati), Sri Lestari alias Cempluk, Suharti, Sri Setyoasih alias Tingtong, dan Atik Sulistiyaning “Kencana Sari”  langsung membuat penonton tergelak. Padahal mereka belum melakukan apa-apa.

Berdandan ala mbok-mbok bakul pasar (nenek-nenek pedagang di pasar) yang menjadi ciri khas penampilan mereka, Sahita mengawali pentas dengan meletakkan sesajen jajan pasar di empat sudut ruangan.

Sebelum meninggalkan sesajennya, masing-masing duduk dengan mata terpejam dan mulai berdoa. Tiga “perempuan tua” mengakhiri doa mereka, namun seorang yang lain tetap duduk. Ketiga tiga perempuan tadi mendekat, ternyata kawannya itu tertidur. Inilah yang membuat penonton tergelak.

-

Hampir di sepanjang pertunjukan penonton terpingkal-pingkal. Apalagi ketika empat perempuan itu mulai menari  dengan koreografi yang terkesan asal-asalan, namun enak dilihat. Musik gamelan pengiringnya adalah mulut mereka sendiri. Ada yang menjadi gong, kenong, bonang, dan rebab. Tak jarang mereka bersuara  sekehendak hati sehingga irama menjadi kacau dan gerak terlihat  konyol.

Srimpi Papat Lima Enem Ganep menjadi semacam parodi. Mereka  seakan sedang belajar menari, memelesetkan  pakem tari Srimpi menjadi tarian yang komikal dan segar.  Topik yang diangkat dalam pentas ini sangat beragam dan menggelinding bewgitu saja, mulai dari kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), isu politik, anggota DPR, calon presiden, dan sampai urusan rumah tangga.

Mengusung gaya teater sampakan, Sahita dengan enteng mengolok-olok korupsi,  kekuasaan dan menjadikan peristiwa-peristiwa kontroversial menjadi guyonan. Dengan cerdas, Sahita menampilkan persoalan-persoalan serius dalam kemasan dagelan Mataraman, tarian gaya Surakarta  yang halus, serta seni lawak modern yang tteatrikal. Di tangan mereka, perkara-perkara besar menjadi sederhana, enteng, dan segar.

Sesaji Seni memperingati 30 tahun wafatnya Gendhon Humardani ditutup dengan pergelaran wayang kulit pakeliran padhet (durasi empat jam) lakon “Kangsa Dewa” oleh Ki Mantab Soedarsono. (Ganug Nugroho Adi)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*