Ki Saroyo: Empu Gamelan Desa Wirun

Ia dikenal sebagai empu pembuat gamelan, khususnya gong. Bukan sebuah predikat yang datang dengan tiba-tiba, karena ia mendapatkannya setelah selama hampir 40 tahun menekuni gamelan. Namanya Saroyo. Ia mengawali karir empu dari buruh kasar di sejumlah besalen (tempat pembuatan gamelan) di Solo atau Surakarta, dan Sukoharjo, Jawa Tengah. Puluhan tahun ia harus melewati hidup yang keras dan pahit sebagai buruh bakar, buruh tempa, dan pelaras (penyetem nada).

-

“Kemiskinan yang membawa saya ke dunia gamelan. Dulu saya malu karena tidak bisa melanjutkan sekolah. Tapi sekarang saya sering berkelakar, untung dulu saya  miskin ha.. ha.. ha…,” kata Saroyo di besalen miliknya, Desa Wirun, Bekonang, Sukoharjo.

Lahir di Sukoharjo, 11 April 1955, Saroyo hanya tamat ST (sekolah teknik tingkat SMP). Ayahnya, Kromo Prawiro, meninggal dunia ketika Saroyo masih duduk di sekolah dasar. Ibunya, Satinem, hanya bekerja sebagai buruh tani sehingga tidak mampu membiayai anak-anaknya  ke jenjang sekolah yang lebih tinggi. Saroyo yang ketika itu baru berusia 16 tahun pun memilih berhenti sekolah. Ia mengikuti jejak kakak-kakaknya menjadi buruh  besalen gamelan milik  Sumo Kuwat, tetangganya.

Selama setahun ia bekerja di bagian mrapen (perapian). Tugasnya adalah menyiapkan kayu bakar dan arang untuk membakar besi, tembaga, timah, dan perunggu yang merupakan bahan utama membuat gamelan.

“Saya bekerja agar bisa makan, terutama makan nasi putih. Sejak kecil keluarga kami makan tiwul (nasi yang dibuat dari singkong) karena ibu tidak mampu membeli beras. Setiap sore, sebagian upah saya dan kakak, kami berikan ibu untuk membeli beras,” kenang Saroyo, anak kelima dari delapan bersaudara.

Tahun ketiga, posisinya naik dari penyedia bahan bakar menjadi juru bakar. Tugasnya lebih berat, karena juru bakar inilah yang menentukan berapa lama besi, tembaga, dan perunggu berada di tempat pembakaran. Juru bakar pula yang bertugas membalik-balik lempengan yang sedang dibakar agar  nantinya mudah ditempa.

“Juru bakar harus mempunyai tenaga besar, karena harus membalik-balik lempengan dengan tuas yang panjang. Selain melelahkan juga panas bukan main, karena posisinya paling dekat dengan perapian,” jelas  pria bersahaja ini.

Dua tahun Saroyo menjadi juru bakar sebelum akhirnya menjadi juru tempa. Bagian ini juga tak kalah sulit, karena tempaan harus benar-benar terukur, tidak asal menempa sekuat tenaga. Di sela-sela tugas pokoknya sebagai juru tempa inilah Saroyo mulai belajar mengenal nada gamelan. Ia kerap memperhatikan bagaimana juragannya, Sumo Kuwat, melaras (menyetem) nada  kenong,  saron, bonang, gong, dan instrumen gamelan lainnya.

Tak hanya belajar nada dari besalen, Saroyo pun mulai sering menonton pertunjukan kerawitan untuk mengasah kepekaannya terhadap nada. Ia juga membaca sejarah gamelan, biografi para empu gamelan, serta mempelajari slendro- pelog (nada dalam alat musik gamelan).

“Saya tidak mau seumur hidup menjadi buruh tempa. Saya harus tahu nada, dan segala sesuatu tentang gamelan  jika ingin mendapatkan pekerjaan yang lebih baik,” kata dia.

Sumo Kuwat rupanya melihat bakat Saroyo. Sesekali ia pun meminta Saroyo untuk membantu melaras nada. Hingga akhirnya Saroyo pun “pindah tugas” dari juru  tempa menjadi juru stem atau penglaras nada.

“Setelah sekitar lima tahun bekerja di bagian perapian, saya akhirnya dipercaya menjadi menjadi pelaras,” tutur suami dari Widuri ini.

Tahun 1983, Saroyo memberanikan diri berguru ke besalen Ki Tentrem, empu gong  dari Kraton Kasunanan Surakarta, di Ngepung, Pasar Kliwon, Solo. Sebagai empu gong, nama Ki Tentrem cukup ternama pada zamannya. Ia tak hanya membuat gong pesanan Kraton  Surakarta, tetapi juga Kraton Kasultanan Yogyakarta.

Di besalen ini, kemampuan Saroyo dalam membuat gamelan pun semakin terasah, terutama untuk gong besar, yaitu gong berdiameter 90 cm, 95 cm, dan 105 cm. Gong ukuran 105 cm  hingga kini bahkan terbilang langka karena hanya bisa dibuat oleh empu yang benar-benar piawai.

Laku Ritual

Tak hanya belajar teknik membuat gamelan, Saroyo juag menjalani kehidupan ritual layaknya yang dilakukan para empu pendahulunya, seperti puasa Senin-Kamis, serta meditasi di sejumlah tempat keramat.

“Semuanya untuk memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar diberikan  kemudahan dan berkah dalam bekerja. Ritual batin ini juga untuk meminta kekuatan dari Tuhan  agar saya bisa terus membuat gamelan,” ujar dia.

Menurut Saroyo, laku batin seperti itu diperlukan karena proses pembuatan gamelan sangat berat.  Bagi para pembuat gamelan, proses peleburan, penempaan, pelarasan, hingga menjadi gamelan, merupakan  proses yang tidak hanya membutuhkan kekuatan fisik, tetapi juga faktor yang “tak terlihat”.

Tahun 1987 adalah tahun yang mengubah hidup Saroyo ketika ayah tiga anak ini bertemu dengan KRT Saptono, kerabat Kraton Kasultanan Yogyakarta dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Saptono mengajaknya ke Jepang untuk melaras gamelan Jawa yang ada di sana. Saptono pula yang mengenalkan Saroyo dengan para akademisi di lembaga pendidikan kesenian.

Sejak itu, selama tahun 1987 hingga 1993, ia sering bolak-balik Indonesia-Jepang untuk memberikan workshop, dan melaras gong.   Ketika di Jepang, ia bertemu dengan sejumlah empu gamelan dari Bali. Pertemuan itu sangat bermakna bagi Saroyo, karena memperluas wawasannya untuk belajar gamelan Bali.

“Tahun 1993 saya keluar dari besalen Ki Tentrem untuk membuka usaha pembuatan gamelan sendiri. Karena tidak memiliki  modal untuk membuat besalen, saya pinjam besalen tetangga untuk pengerjaannya,” ujar Saroyo yang pernah mengerjakan pesanan seperangkat gamelan lengkap dari Raja Surakarta Paku Buwono XII.

Tak hanya gamelan Jawa, Saroyo juga mahir mengerjakan gamelan Bali. Ia bahkan membuka besalen di Bali karena banyaknya pesanan yang harus dipenuhi. “Kalau di Bali, mereka biasanya pesan gong. Sebenarnya bisa dibuat di sini (Desa Wirun), tapi biaya transportasinya mahal. Akhirnya saya buka besalen di Bali untuk menekan biaya yang dikeluarkan si pemesan. Kasihan kalau terlalu mahal,” kata pemilik besalen Palu Gongso ini.

Kini, setelah hampir 40 tahun menggeluti gamelan, ribuan instrument gamelan baik dalam jumlah kecil maupun besar telah ia kerjakan. Harga seperangkat gamelan lengkap bervariasi antara Rp 200 juta hingga Rp 500 juta, tergantung kualitas perunggu dan timah yang menjadi bahan utama. Sedangkan waktu pembuatan berkisar empat hingga lima  bulan untuk gamelan lengkap.

Nama Saroyo makin tersohor ketika ia  dipercaya oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membuat seperangkat gamelan lengkap untuk istana. Sebelumnya, Saroyo juga telah mennyelesaikan pesanan gamelan untuk lima negara, yaitu Jepang, Singapura, Malaysia, Amerika Serikat, dan Kanada. Ia juga telah mengunjugi negera-negara pemesan itu untuk memberikan workhshop, dan melaras gamelan.

Tidak heran jika maestro musik gamelan, Rahayu Supanggah, dan maestro kerawitan Aloysius Suwardi, pun terpikat dengan gamelan karya Saroyo. Kedua maestro dari ISI Surakarta ini, tahun 2012 lalu memberikan kepercayaan kepada Saroyo untuk memulai membuat seperangkat gamelan lengkap senilai Rp 650 juta pesanan dari KPA Wiwoho Basuki Cokrohadiningrat, seorang pengusaha batu bara.

“Setelah puluhan tahun, baru sekarang ini saya dipercaya mengerjakan seperangkat gamelan yang sangat lengkap. Pesanan ini sangat istimewa, karena gong-nya sendiri berdiameter 105 cm, dan bahannya dicampur emas,” jelas dia.(Ganug Nugroho Adi)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*