Calon Arang dari Sanggar Tunjung

-

Sanggar Tunjung, sebuah kelompok kesenian tari dari Ubud, Bali, beberapa waktu lalu menyajikan tiga reportoar klasik di pendapa SMK Negeri 8 (SMKI) Solo; Windhu Pranawa, Barong Ket, dan Tri Semaya.yang terdiri dari Telek, Jauk, Panamprat, Rangda dan Tari Keris.

Istimewa karena ketiga nomor tari tersebut selama ini sangat jarang ditampilkan untuk masyarakat luar Bali.  Di Bali sendiri, tarian merupakan tarian sakral dan hanya ditampilkan  dalam ritual-ritual khusus.

Pentas Sanggar Tunjung ke Solo merupakan bagian dari rangkaian pentas keliling Jelajah Nusa Lestari Budaya #1 ke beberapa kota, yaitu Jakarta, Bandung, Sumedang, Indramayu, Yogyakarta, Solo, Malang dan Kediri.

Di setiap kota, sanggar yang didirikan oleh  Ida Bagus Swardika ini tidak menggelar pentas tunggal, namun  berkolaborasi dalam pementasan bersama komunitas seni setempat.

“Semua musisi dan penari kami masih sangat muda. Sebagian besar masih duduk di SD dan SMP, sisanya SMA. Mereka harus tahu bahwa di luar Bali banyak kesenian hebat,” kata  Swardika.

-

Mengusung sebanyak 80 penari dan musisi gamelan, Sanggar Tunjung mengawali pentas lewat tari Windhu Pranawa. Sdebuah tarian yang menggambarkan munculnya bunga teratai dari dasar kolam yang kotor, namun bisa mengembang dengan indah. Dalam mitologi Hindu, bunga teratai merupakan bunga suci karena  menjadi singgasana para dewa.

Sajian Windhu Pranawa diawali dengan delapan penari perempuan yang membawa bunga teratai dalam bokor di tangan. Di tengah musik gamelan rancak khas Bali, tarian ini didominasi oleh gerakan yang cepat berganti serta  ekspresi yang kuat para penarinya.

Seperti umumnya tari Bali –terutama Legong dan Pendet-  gerakan pada Tari Windu Pranawa terlihat beragam. Sesekali lembut, sesekali menghentak. Di belakang mereka, para penabuh gamelan memainkan musik yang rancak mengiringi gerak mata penari tajam dan tegas, sertta tangan yang selalu terbuka dan bergetar.

Tari yang biasa disajikan dalam upacara-upacara persembahan di Pura membawa pesan bahwa kebajikan dan kemuliaan bisa datang dari mana saja, termasuk dari tempat yang buruk. Sebab kebaikan berawal dari hati yang bersih dan niat yang baik. Seperti bunga teratai yang tumbuh di tempat-tempat yang kotor.

Selepas Windu Pranawa adalah sajian Srimpi Ludi Madu oleh empat penari dari SMKI. Sangat kontras dengan tari sebelumnya, Ludira Madu penuh dengan gerakan lembut, terutama lengan, tangan, dan kepala. Pelan dan lembut seperti gerakan air tenang yang mengalir.

-

Tari karya Paku Buwono V (ketika masih menjadi putra mahkota) ini menggambarkan sosok perempuan yang bijaksana, lembut, dan sabar. Tak heran jika tarian ini terkesan lambat dan gemulai. Konon, Raja Keraton Kasunanan Surakarta itu menciptakan tari ini sebagai bentuk kerinduannya pada sosok ibu. Pasalnya, sang ibu yang berdarah Madura itu sudah meninggal dunia ketika Paku Buwono V masih berusia dua tahun. Nama Ludira madu bermakna darah atau keturunan Madura.

Sanggar Tunjung kembali tampil dengan tari Barong Ket. Sebuah fragmen klasik peperangan antara kebaikan dan kejahatan. Tarian ini terkesan lamban dan sedikit gerak. Berkisah tentang pertempuran antara Barong yang melambangkan kebajikan dan Rangda yang mewakili kejahatan.

Tari Barong Ket dibawakan oleh dua penari yang berada di dalam barong. Masing-masing memainkan bagian depan (kepala) barong dan tubuh bagian  belakang. Meski dimainkan oleh dua orang yang tidak bisa leluasa melihat keluar, namun gerak-gerak barongan terlihat hidup.

Tarian ini berlangsung dalam lima babak. Namun memasuki babak ketiga diselingi sajian Perang kembang Jawa klasik yang dibawakan oleh para penari dari SMKI. Seperti halnya tari Barong Ket, tari Perang Kembang juga menggambarkan pertempuran yang tak pernah selesai antara kebaikan dan kejahatan.

Jika biasanya tarian ini berupa perang tanding antara Arjuna dan Buta Cakil beserta pengikutnya, kali ini perang kembang menyajikan peperangan generasi kedua, yaitu  antara Abimanyu (putra Arjuna),   Gatotkaca (putra Werkudara), melawan Cakil bersama pengkikutnya.

Babak ketiga Barong Ket dilanjutkan seusai perang kembang usai. Barong Ket merupakan kelompok tari Barong yang paling sering dipentaskan di Bali gerak tari yang lengkap. Fragmen tari ini menggambarkan peperangan abadi antara kebajikan dan kejahatan yang dilambangkan oleh dua tokoh utama yang sama-sama sakti, yaitu Barong dan Rangda.

Di tengah adegan perang tanding, muncul tarian keris yang dibawakan oleh enam remaja. Tari ini menyimbolkan pengikut kebajikan yang ingin memberantas kelompok angkara murka.

Unsur Magis

Tari Barong Ket ini sebenarnya hanya sebagai tari pembuka dari sendratari  Calon Arang. Jika dipentaskan secara lengkap, sendratari ini merupakan perpaduan  tiga elemen tari di Bali, yaitu babarongan (tari Barong Ket, Rangda dan Celuluk), kemudian pagambuhan (tari Condong, Putri, Patih Manis, dan Patih Keras), serta palegongan.

Tarian ini memiliki unsur magis yang kuat, karena lakon yang dibawakan merupakan kisah-kisah ilmu sihir. Cerita berakar dari cerita Calonarang yang pernah hidup pada masa pemerintahan Airlangga (Raja Kahuripan).

Tak heran jika pada beberapa adegan menampilkan ilmu kebal. Di akhir pertunjukanj misalnya, para penari keris yang masih berusia belasan tahun in-trance. Mereka menusuk dadanya sendiri kuat-kuat. Mereka ambruk, namun tidak sedikit pun para penari terluka. Seorang pawang tergesa naik pentas, mencipratkan air penawar, dan mereka kembali sadar.

“Di Bali, sendratari Calonarang termasuk kesenian sakral dan selalu ditampilkan secara utuh. Namun hanya disajikan  untuk kepentingan ritual, seperti bersih desa adat, dan bersih pura,” tutur Swardika.

-

Pentas keliling Sanggar Tunjung sendiri, menurut Swardika, bertujuan ingin memberikan pengalaman pentas bagi anggota sanggar yang sebagian besar masih sangat belia. Pentas ini sekaligus juga sebagai cara untuk memberikan wawasan baru kepada mereka tentang keberadaan kesenian lain di luar Bali.

“Mumpung masih muda, mereka harus mencoba berkolaborasi dengan kesenian tradisi lain, seperti Tari Topeng, Tari Jawa klasik, Jaipong, gamelan kromo dan seterusnya, agar mereka kaya,” seniman dari Ubud, Bali, ini.

Kekhawatirannya terhadap generasi muda Ubud yang mulai berjarak dengan  akar budayanya membuat Swardika mendirikan Sanggar Tunjung. Dia mengumpulkan anak-anak yang ingin serius belajar menari dan menabuh gamelan, dan kemudian menyatukannya dalam sebuah sanggar kesenian.

“Sebelum masuk sanggar mereka sebenarnya setiap hari juga menari dan bermain gamelan. Namun semuanya demi uang. Hasil gamen untuk meniru gaya para bule; beli alkohol, ke cafe… Pokoknya mulai kebule-bulean,” ujar dia.

Swardika mengungkapkan Sanggar Tunjung bukan sanggar kesenian yang besar dan kaya dengan perlengkapan gamelan serta kostum tari yang lengkap. Ia membangun sanggar bersama beberapa seniman Ubud anak-anak asuhnya dari nol. Mereka berlatih dengan peralatan sederhana namun terus-menerus.  Setelah setahun, mereka baru bisa membeli seperangkat Gong Suling sederhana.

“Kemudian banyak yang bergabung. Anak-anak berdatangan. Beberapa seniman bergabung dan melatih tanpa dibayar. Tahun 2012 lalu akhirnya kami bisa membeli seperangkat Gong Semar Pagulingan dan  kostum tari. Jelajah Nusa Lestari Budaya ini merupakan pentas keliling kami yang pertama,” kata Swardika. (Ganug Nugroho Adi)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*