Ronggojati Sugiyatno: Belajar Menjadi Orang Jawa

-

Ronggojati Sugiyatno  adalah sedikit orang yang menguasai kebudayaan Jawa secara lengkap, mulai tosan aji (senjata tradisional dari besi yang dianggap pusaka), busana tradisional Jawa, serat (sastra), hingga sikap (ajaran hidup) orang Jawa berikut falsafahnya.  

“Belajar budaya Jawa itu belajar memaknai hidup,” kata Sugiyatno.

Ia kemudian menuturkan bahwa Jawa salah satunya  merupakan penggalan dari  “jo” yang artinya laku (hidup), dan “wo” yang  bisa dimaknai sebagai dunung atau asal usul atau pedoman. Jadi, Jawa adalah pedoman hidup.

“Bukan hanya pedoman bagi orang Jawa saja, tapi juga bagi siapa saja yang ingin menjalani hidup njawani (secara Jawa), termasuk saya. Saya bukan ahli budaya Jawa, tapi orang yang sedang belajar menjadi Jawa,” kata pria yang pernah menjadi penasehat spiritual Raja Surakarta Paku Buwono XII ini.

Sugiyatno menyebut konsep Asta Brata (delapan konsep) dalam masyrakat Jawa merupakan salah satu  pedoman untuk mencapai tujuan hidup ideal.  Namun ia meringkas delapan konsep yang  diambil dari Kitab Cupu Manik Asta Gina -pegangan hukum bagi para dewa dalam kisah pewayangan- itu menjadi lima, yaitu pusoko (senjata), kukilo (burung peliharaan),  wismo (rumah), turonggo (kuda) dan garwo (jodoh).

“Banyak yang salah dengan memahami lima konsep itu dalam wujud yang sebenarnya.  Padahal itu hanya kiasan, hanya simbol. Mereka berlomba-lomba  mengejar wujudnya, tanpa mendalami pesan yang ingin disampaikan,”ujar anggota Tim Strategi Kebudayaan Kota Surakartaini.

Ia, misalnya, menyebutkan bahwa konsep pusoko (senjata) itu bukan sekadar dipahami sebagai wujud,  yaitu keris dan tombak. Makna yang lebih mendalam dari pusoko adalah jeneng atau nama baik.

“Jagalah nama baik leluhur dan nama baikmu sendiri. Sebaba nama baikitu senjatamu untuk mencari nafkah dan mendapatkan rezeki. Sekali namamu hancur, kamu tidak akan mendapatkan apa-apa,”  jelas Sugiyatno di rumahnya, kawasan Begalon, Panularan, laweyan, Solo.

Tentang wismo (rumah),Sugiyatno menguraikan bahwa hendaknya manusia memiliki sifat seperti rumah, yaitu tempat berlindung, bisa  menyimpan dan mengatur segala sesuatu, sebaliknya juga bisa memiliki pikiran dan tindakan yang yang mapan atau bijaksana. Mapan berasal darikata dasar papanyang berarti  rumah.

“Kukilo itu burung (perkutut) yang suaranya merdu. Manusia harus  bisa mengatur  perkataannya agar enak didengar dan menentramkan seperti perkutut,”ujar dia.

Sedangkan turonggo, kata Sugiyatno, adalah kuda atau kendaraan yang tak lain adalah badan jasmani, dimana jiwa kita sebagai penunggangnya.  Jiwa harus mampu menguasai diri agar kendaraannya tidak liar.

Garwo yang sering diartikan sebagai sigaraning nyawa (belahan jiwa) itu melambangkan titik keseimbangan manusia dalam pikir, rasa, dan perbuatan. Maka, orang yang sudah beristri atau bersuami seharusnya  bisa lebih bijaksana,” kata suami dari Endang Listiorini.

Lahir di Solo, 20 Maret 1951,Sugiyatno tumbuh dalam keluarga Jawa tradisional yang sederhana. Ayahnya, Suratman, adalah pengrajin blangkon  kondang pada zamannya. Sang ayah meneruskan usaha keluarga secara turun temurun. Sebab, kakek buyutnya, Kartodinomo, adalah  pembuat blangkon untuk Raja Surakata Paku BuwonoX.

“Saya banyak belajar budaya Jawa dari kakek, Joyo Sumarto, yang banyak menggeluti keris, batik, busana tradisional Jawa, dan mengajarkan sastra (serat dan tembang Jawa). Ketika masih di SR (Sekolah Rakyat), saya sering ikut kakek ke kraton yang mengajar sastra untuk utuk sentono (keluarga kraton) dan abdi dalem (abdi kraton),”kenang Sugiyatno.

 

Berlayar Keliling Dunia

Namun selepas SMP,Sugiyatno justru memutuskan sekolah di pelayaran. Setamat dari akademi pelayaran, dia melanglang buana selama 11 tahun (1971-1982). Sekembalinya dari melaut, ia keliling Jawa untuk mendalami batik, keris, sastra dan budaya Jawa dengan cara mendatangi para maestro yang tersebar mulai dari Jawa Barat hingga Jawa Timur. Ia menyebut beberapa nama sebagai gurunya, antara lain Harjonagoro( Go Tek Swan), KPA Yosodipuro, dalang wayang kancil Ki Lejar Subroto, Ki Hadi Sugito, dan Mbah Marijan. Sugiyano juga nyantrik untuk belajar menulis huruf Jawa hanacaraka secara khusus di majalah berbahasa Jawa Penjebar Semangat  dan percetakan huruf Jawa, Tan Kun Sui, untk belajar aksara Jawa.

“Dengan mengerti huruf Jawa, kita akan lebih banyak tahu lagi tentang Jawa,” kata dia.

Pengembaraan Sugiyatno tak sia-sia. Salah satunya adalah ketika ia diminta oleh Pemerintah Kota Surakarta untuk menulis seluruh nama jalan, nama instansi, dan nama gedung di Solo dengan huruf atau aksara Jawa. Ia menyanggupi, namun menolak dibayar untuk  tulisannya. Padahal jumlah nama yang harus ditulis mencapai ratusan. Kini,  tulisan huruf Jawa karyanya tersebar di berbagai sudut Kota Solo.

“Banyak cara untuk memelihara nama baik keluarga. Itulah salah satunya. Orang Jawa bilang, jeneng itu akan selalu diikuti oleh jenang (nama baik akan selalu mendatangkan berkah),” ujar Sugiyatno yang juga sangat menguasai busana tradisonal  Jawa berikut falsafahnya.

Tak hanya menulis aksara Jawa, Sugiyatno juga melakukan tranliterisasi atau alih aksara ratusan  naskah kuno dari huruf Jawa hanacaraka ke bahasa latin. Tentu saja ia bukan sekadar mengalihkan huruf apa adanya, tetapi juga harus sesuai dengan makna naskah. Salah satunya adalah “Serat Centhini” yang dianggap babon kitab-kitab Jawa. Karya alih aksaranya ini kemudian menjadi salah satu acuan bagi Elizabeth D Inandiak, sastrawan dari Prancis, dalam menulis novel “Centhini”.

Serat Centhini ditulis tahun 1814 – 1823 oleh tiga pujangga besar kraton Surakarta semasa Paku Buwono V, yaitu  Ranggasutrasna, Yasadipura II (Ranggawarsita I), dan Sastradipura. Centhini adalah salah satu karya sastra besar dunia yang keberadaannya  terancam hilang. Itulah salah satu alas an saya melakukan alih aksara,” ujar Sugiyatno yang sering diundang sebagai pembicara dalam berbagai seminar “kebudayaan Jawa ini.

Selain “Centhini”, karya alih aksara lainnya adalah berupa buku “Tosan Aji”, “Adat Istiadat Jawa”, “200 Tahun Kepindahan Kraton Surakarta dari Kartasura”, dan “ Perjanjian Giyanti”.  Bersama seorang indonesianis dan peneliti naskah-naskah kuna Jawa, Nancy Florida, Sugiyatno juga melakukan dokumentasi sejumlah naskah kuno ke bentuk   mikrofilm, dan sekaligus melakukan tranliterisasi.

“Naskah-naskah kuno rata-rata usianya sudah lebih dari 200 tahun, sehingga   gampang rusak karena sudah lapuk. Kami mendokumentasikannya ke bentuk mikrofilm agar awet,” ungkap kolektor keris kuno dari berbagai masa dan kerajaaan ini.

Bersama beberapa pencinta budaya Jawa, Sugiyatno mendirikan “Padeprokan Gedong” untuk mendiskusikan sastra,, budaya, dan filsafat Jawa.  Di padeprokan itulah beberapa tokoh nasional sering bertemu, antara lain Setyawan Djodi, Sawong Jabo, Gus Dur, Gus Mus,  Eep Saifuloh, Rendra dan Paku Buwono XII.

“Kami namai padeprokan, bukan padepokan, karena semua yang datang  ndeprok (duduk santai).  Diskusi pun mengalir dalam suasana santai, tidak seperti seminar,,” kata Sugiyatno.   

Di tengah kesibukannnya, pria yang juga seorang empu keris ini masih menyempatkan diri mengelola toko busana tradisional Jawa “Suratman” yang merupakan peninggalan keluarga. Menurut Sugiyatno, toko ini didirikan oleh kakek buyutnya tahun 1921 dengan nama “Hamung Seneng”.  Namun sekitar tahun 1942 toko ini dirampas oleh tentara jepang. Baru tahun 1971 ayah Sugiyatno membangun kembali toko ini dan kemudian mengganti namanya dengan “Suratman”.

Di toko ini, Sugiyatno bukan sekadar berdagang, Namu ia juga memberikan pemahaman tentang bagiaman berbusana Jawa yang pantas kepada setiap konsumennya.

 

“Busana itu bukan sekadar penutup tubuh, tetapi juga papan linuwih kang gawe kaendahan (pakaian yang mencerminkan keindahan). Banyak orang tidak tahu menyerasikan pakaiannya. Mereka masih beranggapan jika pakaian mahal pasti bagus. Padahal berbusana itu sangat dekat dengan rasa,” ujar Sugiyatno yang mendapat gelar Ronggojati langsung dari Paku BUwono XII.(Ganug Nugroho Adi)

1 Comment on Ronggojati Sugiyatno: Belajar Menjadi Orang Jawa

  1. jebul dadi wong jowo ki angel men,yo wes dadi wong karanganyar waelah :mrgreen:

    Suka

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: