Blacius Subono: Dalang, Pengrawit, Komposer

-

Blacius Subono merasa beruntung karena tumbuh dalam tiga pijakan seni tradisi. Pertama, ia lahir di lingkungan keluarga dalang. Kedua, ketika memasuki masa sekolah menengah ia belajar karawitan secara formal di Sekolah Konservatori (sekarang SMK Negeri 8 Surakarta). Keberuntungan ketiga, ia belajar mendalang di Akademi Seni Kerawitan Indonesia (sekarang ISI Surakarta).

Kini, tiga pijakan seni tradisi itu telah membentuk dirinya menjadi dalang, pengrawit, dan komposer  andal. Di kalangan pengrawit, ia dikenal sebagai pengrawit edan karena  kreativitasnya yang melampaui kemampuan pengrawit-pengrawit pada umumnya. Konon karena banyak gending ciptaannya yang keluar dari patron atau pakem kerawitan.

“Di konservatori dan akademi saya bertemu dengan banyak seniman yang benar-benar maestro di bidangnya. Ada Gendhon Humardani, Rahayu Supanggah, dan sebagainya. Saya berada dalam iklim kompetisi kreativitas kesenian di Solo yang berkembang masa itu,” kenang pria yang akrab disapa Bono.

Lahir di Klaten, 3 Februari 1954, sejak kecil Bono  sudah berada di tengah pusaran seni tradisi yang deras. Ayahnya, Yusuf Kiyatdiharjo, merupakan dalang tangguh di wilayah Surakarta, sekaligus guru bagi dua dalang ternama saat ini, Ki Anom Suroto, dan Ki Manteb Soedarsono. Ibunya adalah seorang penembang.

Darah seni sang ayah mengalir deras ke dalam tubuhnya. Ia mulai belajar gamelan dan mendalang sejak usia 6 tahun. Pada usia 12 tahun, Bono sudah hapal puluhan gending, dan tampil mendalang di muka umum.

“Saya belajar kerawitan dan dalang sejak kanak-kanak. Keduanya sangat kompleks dan rumit. Karena sudah meiliki dasar, saya tinggal mengembangkannya di sekolah formal, dan masa-masa berikutnya membuat keduanya sesuai dengan keinginan saya,” kata  pria bertubuh tambun ini.

Menurut Bono, bagi siapa saja yang belajar dalang mau tidak mau harus mengenal gending (kerawitan). Hanya dalam kondisi seperti itulah dunia seni pedalangan diniscayakan. Kedua wilayah itu merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan.

“Bagi seorang dalang, belajar gending itu mutlak. Bagi pengrawit, memahami dunia wayang itu sebuah keharusan. Itulah mengapa saya merasa beruntung bisa belajar keduanya sejak kecil,” ujar anak ketujuh dari sembilan bersaudara ini.

Dia menilai pada masa sekarang tidak banyak pengrawit muda yang mau belajar pedalangan. Hal yang sama juga terjadi pada sebagian besar dalang muda yang hanya mau belajar wayang, tanpa mengembangkan pengenalannya terhadap gamelan.

“Pedalangan dan kerawitan tidak bisa dipisah-pisah. Jika ingin menguasai ya harus mau mempelajari keduanya dengan serius,” ujar pengrawit yang beberapa kali diundang mengikuti festival dan memberikan workshop gamelan di Vancouver, Kanada.

Tahun 1980, setamat dari Jurusan Pedalangan ASKI Surakarta, merupakan awal titik balik kehidupan Bono berkesenian. Ia tak hanya dikenal sebagai dalang dan pengrawit, tapi juga    seorang komposer khususnya garap gending untuk pertunjukan tari, wayang kulit, wayang orang, teater, dan konser gamelan..

Dunia Kontemporer

Tahun-tahun berikutnya ia mulai merambah dunia seni kontemporer. Bono misalnya mulai menggarap penataan gending bagi pertunjukan seniman-seniman  besar lintas kalangan, seperti musik tari untuk pertunjukan Sardono W Kusumo, Retno Maruti, Elly Luthan, Deddy D Luthan, serta gending-gending untuk pahelaran wayang kulit Ki Anom Suroto, Ki Manteb Soedarsono, dan Ki Sudjiwo Tedjo. Tahun 2010, ia menggarap musik Sendratari Matah Ati yang menghebohkan itu.

Tidak hanya pakeliran klasik, ia juga menggarap gending pakeliran baru yang inovatif, antara lain untuk Wayang Wahyu, Wayang Sandosa, Wayang Kancil,  dan bahkan Wayang Multimedia.

“Akar saya tetap seni tradisi. Karya-karya saya yang disebut kontemporer itu hanya bentuk eksplorasi saya terhadap musik tradisional,” ujar pria yang  tahun 1995 lalu mendapat penghargaan Satya Lencana Budaya dari Lembaga Kebudayaan Jawa , dan Anugerah Seni dari Mendikbud (sekarang Mendiknas) setahun berikutnya.

Sebagai komposer, beberapa  komposisi Bono yang fenomenal antara lain Karno Tanding , Bismo Gugur, Rudrah,  Drupadi, Savitri Padnecwara, Bhagawatgita, Kunti, Gamelan Liturgi, Dalang goyang gendheng gendhung, Kalabendu, dan Matah Ati.

Dalam garapan gending untuk teater-tari ini, betapa Bono terlihat sangat menguasai dramaturgi musik tari, serta tetap mempertahankan nuansa budaya Jawa klasik yang menjadi akar kreativitasnya.

Tahun 2010, ia mengejutkan para musisi, khususnya pengrawit, ketika  menciptakan Gending Suryo Gumlewang. Gending yang khusus diciptakan untuk  Solo International Ethnic  Music  (SIEM) itu dalam bentuk orkestra  yang mengeksplorasi gamelan Bali, Minang, dan Sunda. Gending ini melibatkan 50 pengrawit, dan  10 pesinden. Suryo Gumlewang sendiri merupakan media baru bagi Bono untuk menyampaikan pesan moral dan kemanusiaan

“Ajaran kebaikan bisa disampakan lewat media apa saja. Kebetulan saya berada di dunia musik tradisi, maka pesan kebaikan saya sampaikan lewat gending-gending seperti ini,” ujar komposer yang setiap tahun diundang mengikuti festival gamelan di berbagai negara di Asia, Eropa, dan Amerika.

Sementara sebagai dalang, sejak 10 tahun lalu Bono mulai memperkenalkan kembali Wayang Wahyu. Tak hanya mendalang, pengajar Kerawitan dan Pedalangan di ISI Surakarta ini juga menulis naskah, serta menggarap gending untuk wayang yang menampilkan cerita dari Injil ini.

Wayang Wahyu termasuk garapannya yang fenomenal. Sejak wayang ini diciptakan oleh Bruder L Timotius Wignyosubroto  FIC tahun 1960, selama lebih dari 20 tahun wayang ini mati suri.

Wayang Wahyu adalah pergelaran wayang kulit dengan misi penyebaran agama Katolik. Kisah-kisah dalam wayang ini mengadopsi cerita dalam Alkitab (Injil), baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru.

“Jangankan masyarakat umum, umat Katolik sendiri pun banyak yang tidak tahu wayang ini,” ujar Bono yang  pernah menjadi anggota Tim Delapan penyusun naskah wayang Semar Mbabar Jati Diri pesanan mantan presiden Soeharto almarhum.

Bono sendiri sampai saat ini terlibat aktif untuk mengenalkan kembali Wayang Wahyu, baik sebagai dalang, pembicara, dan menggarap gending untuk pertunjukannya.

Tidak hanya gending untuk Wayang Wahyu, sejak tahun 2011 Bono juga mulai menciptakan gending-gending berdasarkan teks Injil ke dalam macapat.  Beberapa macapat ini kemudian dilahirkan kembali dalam bentuk Kidung Lelayu untuk misa requiem (kematian), serta  menggarap orkestrasi gerejani untuk misa Ekaristi, Natal, dan Paskah.(Ganug Nugroho Adi)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: