Danis Sugiyanto: Komposer Tiga Dunia

-

Danis Sugiyanto, komposer papan atas asal Solo, Jawa Tengah, tidak pernah bercita-cita menjadi musisi, apalagi  komposer. Bahkan hingga kelas III SMA cita-citanya tetap satu; menjadi anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Namun kedekatannya dengan dunia pertunjukan selama bertahun-tahun, terutama musik, membuatnya putar haluan. Setamat SMA ia memupus keinginannya masuk Akademi Militer (Akmil), dan memilih melanjutkan kuliah di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (sekarang ISI) Surakarta.

“Sejak kecil saya sudah dekat dengan gamelan dan keroncong. Setiap hari saya bertemu dengan penari, pemusik, pengrawit, dan dalang  yang hampir setiap hari latihan di rumah. Saya terlanjur menikmati hidup di lingkungan kesenian,” kata Danis.

Ayahnya, Sugiman, merupakan penabuh kendang yang piawai di kelompok Sendratari Ramayana, Candi Prambanan.  Setiap latihan atau pun pentas, ia selalu mengajak Danis.

Di luar aktivitasnya sebagai pemain kendang di kelompok sendratari, Sugiman juga menyediakan pendapa rumahnya untuk latihan kerawitan bersama. Setiap hari menyaksikan para seniman berlatih, otomatis Danis kecil pun ikut latihan. Dari seniman yang datang ke rumah itu pula Danis belajar nembang (menyanyi lagu Jawa), dan menari.

Sang Ayah sendiri mengajarkan teknik dasar menabuh instrumen gamelan sejak Danis masih SD. Di luar masalah teknis, Sang Ayah kerap menanamkan sikap yang harus dimiliki oleh seorang seniman.

“Seniman itu harus mau terus menerus belajar agar tidak ketinggalan zaman.  Bapak itu seorang seniman kerawitan yang total. Ia menguasasi instrumen kendang sama baiknya dengan instrumen gamelan lainnya,” kata pria kelahiran Solo, 2 Maret 1971.

Meski sejak kecil akrab dengan gamelan, namun Danis baru belajar musik secara serius ketika duduk di bangku SMP dalam pelajaran ekstra kulikuler. Guru formal pertamanya adalah Katiman, seorang guru kesenian sekolah.

“Teman-teman menganggap saya aneh karena memilih belajar gamelan. Mereka umumnya memilih ngeband, basket, atau sepak bolai,” kenang Danis.

Selepas SMP, ia mulai belajar musik keroncong. Apalagi tempat tinggalnya ketika itu, Kampung Mangkuyudan, setiap malam selalu ada musik keroncong, baik sekadar latihan maupun pentas kecil-kecilan.

“Kebetulan Ibu Waldjinah (maestro keroncong Waldjinah) juga tinggal di Mangkuyudan. Jadi iklimnya memang sangat mendukung. Rasanya belum sah menjadi warga Mangkuyudan kalau tidak bisa bermain keroncong. Ha ha ha,” kata suami dari penari Lien Monika Widiasih.

Ketika di SMA, Danis bergabung di Teater Golek (Teater SMA Negeri 4 Surakarta). Bukan sebagai aktor, melainkan sebagai ikustrator musik. Beberapa kali garapan musiknya mendapat penghargaan sebagai ilustrasi musik terbaik. Kepiawaiannya menggarap musik membuat Danis dilirik Teater Gidak Gidik, sebuah kelompok teater ternama di Surakarta yang melahirkan actor-aktor teater kondang seperti Hanindawan dan Sosiawan Leak.

Keasyikan bermain musik inilah yang membuat Danis melupakan cita-citanya menjadi anggota TNI. Tanpa pikir panjang, setamat SMA ia mendaftar di  Jurusan Kerawitan, STSI (ISI) Surakarta.

“Saya merasa dunia saya ada di kesenian. Apa boleh buat, cita-cita menjadi anggota TNI harus saya kubur,” ujar bapak dua anak ini.

Pergaulannya dengan banyak musisi andal di ISI Surakarta semakin memunculkan bakat Danis yang luar biasa di bidang musik. Maestro gamelan Rahayu Supanggah dan maestro musik eksperimen  almarhum I Wayan Sadra  merupakan dua musisi yang banyak mempengaruhi garapan musik Danis.

Gamelan dan Keroncong

Setamat dari STSI, Danis meninggalkan Indonesia karena diangkat menjadi staf  lokal Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Santiago, Chile. Selama tiga tahun ia bekerja di bagian penerangan sosial dan budaya dengan tugas mengenalkan budaya Indonesia, serta melatih kesenian.

“Saya bosan karena pekerjaannya monoton dan cenderung formal. Jika saya lanjutkan, apa yang sudah saya miliki (musik) tidak berkembang, dan akhirnya malah hilang. Karena itu saya memutuskan pulang ke Indonesia,” ujar musisi yang pernah menggarap musik untuk rekaman buaya keroncong Anjar Any (1996), dan Waldjinah (2008).

Sepulang dari Chile, ia mengambil program pascasarjana Humanirora dengan konsentrasi Pengkajian Seni Pertunjukan, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

Di luar kegiatan penciptaan, Danis sering diundang untuk memberikan workshop gamelan. Tahun 2001, ia memberikan workshop di University of Taipe, Taiwan, kemudian memberikan workshop bersama Teater Works Singapura di New York (2011).  Di dalam negeri, Danis adalah tutor tetap kerawitan di Program Pendidikan Apresiasi Seni Universitas Muhamadiyah Surakarta (UMS),  dan pernah melatih kerawitan di Lembaga Pemasyarakatan Anak Jateng dan Yogyakarta.

Bersama Orkes Keroncong Swastika –grup musik keroncong yang didirikannya bersama beberapa musisi Solo,  Danis kerap melakukan eksperimen musik  keroncong. Beberapa karyanya antara lain  Pasamuan Panggung, Conglung,  dan Eksperimen Keroncong. Tahun 2011 lalu, ia membawa Swastika tampil  di Knejpe Festival, Helsingor, Denmark.

“Saya beruntung bisa bertemu dengan banyak musisi hebat di Swastika. Kolaborasi itu bukan sekadar main bersama, tetapi juga berposes bersama. Saya banyak belajar dari mereka,” ujar pengagum maestro keroncong Gesang ini.

Di bidang gamelan, Danis  pernah melahirkan komposisi fenomenal, Bahana Gita Persada. Karya kerawitan ini menjadi luar biasa karena sarat dengan berbagai  bentuk dan jenis musik. Melibatkan sebanyak 75 pengrawit,  komposisi ini menyajikan keindahan bunyi gamelan Sekaten, Corobalen, Gong Kebyar, Monggang, keroncong, serta string section yang mewakili unsur musik barat. Karya kolaborasi bersama komposer Dedek Wahyudi ini membuka Temu Karya Taman Budaya se-Indonesia tahun 2011.

“Keberagaman menjadi inspirasi komposisi Bahana Gita Persada.  Menggabungkan dua jenis musik yang berbeda, tradisional dan barat, menjadi musik baru tanpa kehilangan warena dari mana musik itu berasal,” kata Danis yang tengah menyiapkan konser Drupadi bersama Rahayu Supanggah untuk dipentaskan di Teater Jakarta, Februari mendatang.

Sebagai komposer, Danis memang berbeda dengan komposer-komposer lain. Salah satu ciri yang menonjol dalam karyanya, ia selalu menggabungkan warna keroncong, gamelan, dan kontemporer.

Tak heran jika garapannya kerap dibicarakan di kalangan pengamat dan penikmat musik. Beberapa karya musiknya pun menjadi ilustrasi untuk pentas-pentas besar, seperti La Galigo (Bedah Dot Com), Matah Ati (Arus Monggang), pentas tari Substation (Circular Ruins), fashion show Anne Avantie (Aku, Wanita dan Kebaya), serta Roro Mendut (Prihatin, Janturan).

“Ide semua karya musikal saya lebih banyak bersumber dari gamelan dan keroncong. Kalau ada warna lain, itu hasil pengembangan dari dua jenis musik itu,” ujar Danis yang September lalu mengikuti Festival Spoleto, Italia,  bersama Garasi Benowo pimpinan Rahayu Supanggah.

Keroncong dan gamelan telah membawanya keliling dunia sekaligus melontarkan namanya sebagai musisi muda dunia. Dalam rentang yang panjang, Danis yang juga mengajar di almamaternya ini terus menerus berproses di tiga dunia musik, yaitu keroncong, gamelan, dan kontemporer.

“Konsep penciptaan musik saya selalu berkembang dari awal sampai entah kapan nanti. Bermusik itu harus hidup agar terus-menerus bisa dinikmati,” kata komposer yang belajar musik ekperimen di Sono Sini Ensembel.(Ganug Nugroho Adi)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: