Bambang Besur: Jejak Tari Tradisi

Tanggal 30 Juni 2013 lalu, koreografer Bambang Besur terlibat dalam Jakarnaval, sebuah karnaval yang dirancang semeriah karnaval kelas dunia di Rio De Jenairo, Brazil, atau pun Tournament of Roses di Pasadena, Amerika serikat.

Bersama sekitar 3000 orang, ia  melahirkan pawai besar bertema Keajaiban Ondel-ondel sejauh sekitar 3 kilometer mulai halaman Balai Kota hingga Monas.

i

“Karnaval mengeksplorasi bahan-bahan alam seperti mendong, daun pandan, daun aren, dan ilalang sebagai kostum, dipadukan dengan material dasar batik motif Betawi. Jadi ini bukan sekadar pawai ondel-ondel, tetapi karnaval kreatif dengan tema ondel-ondel,” kata Bambang  Besur.

Besur adalah direktur artistik Jakarnaval. Sejak tiga bulan lalu, pria asal Solo, Jawa Tengah, ini bersama komunitas Rumah Karnaval Indonesia mondar-mandir Solo-Jakarta untuk menggelar workshop pembuatan kostum karnaval bagi ribuan calon peserta. Ia mengajarkan bagaimana mengeksplorasi, melakukan kreasi dan inovasi dari bahan-bahan sederhana menjadi benda yang bernilai.

Alhasil, peserta workshop bukan sekadar menduplikasi ondel-ondel yang sudah ada, namun menciptakan kreasi baru baik bentuk, warna, dan ornamen.

“Kami juga melibatkan sejarawan dan budayawan Betawi untuk memberikan masukan tentang nilai-nilai filosofi dari ondel-ondel,” kata dia.

Dalam Jakarnaval, tugas Besur adalah mendesain artisitik pergelaran  secara keseluruhan, mulai kostum peserta, panggung, lighting, instalasi, dan pertunjukan. Jakarnaval merupakan puncak peringatan HUT Kota Jakarta yang ke-486.

Terpilihnya Besur untuk terlibat dalam event akbar ini tentu tidak asal comot. Dalam dunia artistik pertunjukan, kepiawaiannya tak diragukan lagi. Tahun 2010 dan 2011 lalu misalnya, ia sukses membenahi Solo Batik Carnival (SBC) III dan IV sebagai karnavalnya orang Solo.

Dalam dua kua karnaval sebelumnya, SBC sangat kental dengan nuansa Jember Fashion Carnaval (JFC) yang nota bene mermang sebagai cikal bakal Solo Batik Carnival. Garapan Besur ini berhasil membawa SBC tampil dalam Parade Chingay, Singapura.

Selain di Solo, ia juga membidani lahirnya Tegal Pesisir Carnival (TPC), sebuah karnaval tradisional yang menampilkan kostum keberagaman citra batik pesisir utara mulai Cirebon, Brebes, Tegal, dan Pekalongan.

“Berbeda dengan SBC, dalam TPC kami lebih menonjolkan motif batik, bukan ornamennnya. Kostum lebih sederhana, sehingga tidak membebani pemakai saking beratnya. Kalau di Solo berat satu kostum bisa sampai 5 kilogram,” tutur dia.

Lahir di Solo, 20 Oktober 1960, pria bernama lengkap Bambang Suryono ini  memiliki dasar tari Jawa klasik yang kuat. Darah kesenian mengalir deras dari leluhurnya. Kakeknya, Raden Mas Duto Diprodjo, adalah seorang dalang di Keraton Kasunanan Surakarta, sedangkan neneknya, Ray Dipo Wiyoto, seorang penari bedaya pada masa Raja Surakarta Paku Buwono XI (1939-1945) yang kemudian diteruskan oleh ayahnya, Raden Soetarso. Sementaranya ibunya, Soelastri, seorang pembatik.

Sejak kanak-kanak ia sudah akrab degan seni tradisi Jawa, seperti kerawitan, tari, wayang kulit, dan  batik. Namun ia akhirnya lebih fokus belajar tari, karena sering diajak nenek dan ayahnya menonton pertunjukan tari di keraton. Ia pertama kali  belajar tari klasik dari guru-guru Keraton Kasunanan Surakarta dan Pura Mengkunegaran. Tari-tari Jawa klasik seperti Bedaya, Srimpi, dan Wireng sudah ia kuasai ketika ia masih duduk di SMP.

“Sebenarnya saya agak terlambat belajar menari, karena baru belajar secara serius ketika SMP. Namun karena sejak kecil sering melihat orang menari, semuanya menjadi lebih mudah,” ujar anak keempat dari sepuluh bersaudara ini.

Selepas SMP, Besur melanjutkan ke Sekolah Menengah Kerawitan Indonesia (SMKI) –sekarang SMK 8 Surakarta. Di luar jam sekolah, ia nyantrik (belajar secara khusus) kepada maestro tari  Sardono W Kusumo.

“Saya merangkak dari bawah. Setahun pertama hanya ikut latihan tanpa sekalipun dilibatkan dalam pementasan. Baru tahun kedua tampil sebagai dari penari latar, itu pun hanya tampil sekilas. Setelah lima tahu baru menjadi penari pembantu. Mas Don sangat selektif dalam memilih penarinya,,” kata koreografer yang kini sedang menyelesaikan program doktoral di ISI Surakarta.

Koreografer Profesional

Suami dari Sri Rustiana Isfandari ini baru menjadi penari utama setelah bergabung selama 10 tahun di Sardono Dance Theatre, antara lain dalam Opera Diponegoro di Art Summit Indonesia , Jakarta (1995),  Passage Through The Gong  di Tanz Festival, Vienna, Austria (1996), dan Soloensis,  Jerman dan Korea Selatan (1997).

Pengalamannya di  Sardono Dance Theatre inilah yang kemudian membawanya pentas di festival-festival tari internasional. Tahun 2010 lalu, ia tampil di Minnesota, California, Amerika Serikat,  lewat karya Rain Coloring Forest.  Sebelumnya, tahun 2007 hingga 2008 ia tampil di sejumlah negara di Eropa.

Selain mementaskan karya, ia juga melakukan workshop dan mengajar di sejumlah universitas, antara lain Swatmorth College Philadelphia, Amerika Serikat, dan School of Oriental and African Studies,  London, Inggris.

Besur mulai belajar menjadi koreografer ketika kuliah di Akademi Seni Kerawitan Indonesia (ASKI) –sekarang ISI Surakarta tahun. Pada awal-awal kuliah, ia banyak menciptakan koreografi tradisi Jawa klasik sesuai basiknya. Pertemuan dan pergulatannya dengan  para seniman tari di kampus kemudian semakin memperkaya ide dan kreativitasnya dalam menari yang pada kemudian berkembang pada penciptaan tari kontemporer.

“Ketika kecil, saya sering menunggui ibu membatik. Setelah dewasa, saya menangkap bahwa membatik itu ternyata juga menari. Pengalaman masa kecil sangat mempengaruhi proses kreatif saya menjadi koreografer,” kata Besur yang tahun 2004 lalu mencengangkan dunia tari dengan karya koreografi Bedhaya Layar Cheng Ho.

Karya untuk ujian akhir program pascasarjanya ini memadukan buadaya China dan Jawa, terinspirasi naskah drama berjudul Cheng Ho karya Kuo Pao Kun, serta buku Chinese Eunuchs karya Taisuke Mitamura, yang banyak mengisahkan kehidupan para  kasim (pria yang dikebiri).

Selain di Taman Budaya Jawa Tengah dan Taman Ismail Marzuki (TIM), tari ini juga pernah dibawakan Besur bersama seniman tari Singapura dan Taipei di Philadelphia dan Minneapolis, Amerika Serikat, atas undangan Dance Advance dan Asian Cultural Council (2005).

Setelah Bedhaya Layar Cheng Ho, lahir beberapa karya masterpiece-nya antara lain Kagura, Interview with Palace Ghosts (2007), Offering (2009), dan Circular Ruins (2009).

Sepanjang tahun 2010, Besur mendapatkan sponsor penuh dari Singapore Art Council untuk berkolaborasi dengan  koreografer India, Raka Maitra, membawakan  Circular Ruins keliling berbagai negara di Asia, seperti Singapura, Korea Selatan, Jepang, Thailand, dan India.  Circular Ruins sendiri merupakan interprestasi Besur atas naskah sastrawan Argentina, Jorge Luis Borges.

“Saya masuk ke dunia kontemporer agar jejak tari tradisi masih bisa dilihat.  Dasar kontemporer itu tradisi, tidak bisa tidak. Tapi pakem masa lalu tak bisa dipaksakan untuk masa kini. Setiap masa memiliki hak untuk memberi warna,” ujar pengajar tari pada program pascasarjana di almamaternya ini.

Bagi dia, sebuah koreografi harus memiliki pesan. Ia mengkritik karya-karya koreografi yang hanya mementingkan segi artistik tanpa muatan pesan yang bisa dibawa pulang para penontonnya.

“Seni sebisa mungkin ikut berperan mengajarkan manusia menjadi lebih baik, meski hanya sedikit. Kalau manusianya baik, alam pasti juga akan lebih baik. Keindahan itu hanya visual, hanya tampilan fisik,” kata pria yang juga mengajar mata kuliah Voice and Movement di Theatre Training Research Programme, Singapura ini.

Kini disela-sela kesibukannya mengajar, ia masih menyempatkan diri untuk menggarap nomor-nomor koreografi baru, dan mendesain artistisk pertunjukan.(Ganug Nugroho Adi)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: