Singo Barong Gaya Solo

-

Gerimis turun menderas. Namun di tanah lapang berumput puluhan pembarong (pemain reog) itu terus melakukan atraksi, mengikuti irama terompet tradisional yang terdengar serak menyayat, kendang dan  kenong yang terus ditabuh.

Mereka menari  dengan gerak yang ritmis, kompak, dan lincah. Sesekali mereka bahkan menyajikan gerakan-gerakan akrobatik, seperti berputar berulang kali dengan posisi badan miring.

Dengan beban dadak merak (bentuk kepala harimau dengan hiasan bulu burung merak) setinggi dua meter yang beratnya lebih dari 50 kilogram, tentu akan menyulitkan gerak para pemain reog. Namun  ternyata mereka terlihat sangat lincah membawakan gerakan-gerakan itu.

Dari pinggir lapangan kendang terus ditabuh. Ketika suara terompet yang serak itu kembali terdengar, puluhan warok (penari dalam atraksi reog) berloncatan ke tengah lapangan.

Mereka menari dengan sangat atraktif. Warok sering digambarkan sebagai  pengawal utama singo barong (reog) yang menguasai ilmu olah kanuragan (kesaktian). Tak heran jika tarian warok cenderung gagah, tegas,dan eksotis.

Atraksi para warok ini cukup menarik perhatian ribuan penonton yang memenuhi pinggir lapangan. Mereka menampilkan gerakan-gerakan bela diri yang memukau. Tak jarang para warok melakukan koprol, melompat dan melayang di udara layaknya pesenam loncat indah.

Tak hanya reog, acara bertajuk Festival Singo Barong 2013 yang digelar di halaman Balai Kota Surakarta, Jawa Tengah, Selasa (19/11), ini juga menampilkan atraksi Bujanganom, dan   jatilan. Seperti halnya warok, tari bujangganong juga enerjik dan atraktif.

Di tengah gerimis, tepuk tangan dan sorak sorai penonton pun selalu terdengar setiap kali bujangganong melakukan atraksi salto dan koprol. Pertunjukan semakin meriah dengan kemunculkan para penari jatilan (kuda lumping).

“Meskipun reog berasal dari Ponorogo, namun kesenian ini tumbuh pesat di wilayah Surakarta. Kelompok kesenian reog  berkembang di kampung-kampung dan desa, beriringan tumbuh bersama kesenian tradisional lain seperti ketoprak dan wayang orang,” kata seniman sekaligus penggagas festival, Suprapto Suryodarmo.

Suprapto mengungkapkan jika menengok sejarah, Kota Solo (Keraton Kasunanan Surakarta) dan Ponorogo memang memiliki hubungan sangat dekat. Jejak kedekatan itu bermula  ketika meletus pemberontak kaum Tionghoa terhadap keratin yang lebih dikenal dengan peristiwa Geger Pecinan (1742).

Raja Surakarta ketika itu, Paku Buwono II, yang terdesak mengungsi ke Ponorogo. Bupati Ponorogo pun mengerahkan para warok hingga akhirnya Paku Buwono II berhasil merebut kerajaannya kembali.

“Zaman dulu atraksi reog selalu ikut meramaikan acara-acara keraton, terutama Sekaten, dan gerebeg. Tidak heran kalau di Solo banyak bermunculan kelompok reog karena Ponorogo dulu juga menjadi bagian dari wilayah keraton,” ujar  Pengageng Kusuma Wandawa Keraton Surakarta, Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Puger.

-

Sejarah Reog

Festival diikuti sebanyak 33 kelompok reog yang berasal dari berbagai kota di eks karesidenan Surakarta, yaitu Solo, Sragen, Karanganyar, Sukoharjo, Klaten, Boyolali, dan Wonogiri.

Satu kelompok  terdiri dari penari Singo Barong atau pembarong, empat warok dengan kostum serba hitam dan wajah dicat merah, dan dua putri pengiring yang naik kuda kepang ditambah belasan pemusik yang mengiringi atraksi.

Festival yang baru pertama kali digelar ini dibuka dengan fragmen mengenai asal-usul kesenian reog, yaitu perseteruan antara  Singo Barong dan Prabu Kelono Sewandana yang memperebutkan Dewi Sangga Langit, putri Raja Kediri.

Sejarah reog selama ini mengacu pada beberapa babad,  antara lain babad Kelono Sewandana, dan babad Panji. Kisah dalam Babad Kelana Sewandana ini mirip kisah   Bandung Bondowoso dalam cerita rakyat Lara Jongrang,

Dewi Sangga Langit meminta Prabu Kelono memindahkan isi hutan ke istana sebagai  mas kawin. Ia juga meminta Sang Prabu membunuh penunggu hutan, yaitu Singo Barong. Dalam pertempuran ini Prabu Kelono kehilangan banyak prajurit.

Dalam versi Babad Panji, cerita mengisahkan perjalanan Prabu Kelono yang mencari gadis pujaannya, Dewi Sangga Langit, ditemani prajurit berkuda dan patihnya, Bujangganong.

Dewi Sangga Langit bersedia menerima cinta Parbu Kelono jika Sang Prabu bisa menciptakan sebuah kesenian baru. Dalam pencariannya, Prabu Kelana dihadang Singo Barong.

Pertempuran demi pertempuran mereka lakukan, sehingga menimbulkan banyak korban. Ketika prajurit kedua kubu mulai banyak berkurang, Singo Barong dan Prabu Kelono pun melakukan perang tanding satu lawan satu.

-

Dalam sebuah adu kesaktian, Prabu Kelono berhasil mengubah sosok Singa Barong menjadi mahluk berkepala dua. Satu kepala berwujud singa, sedangkan kepala kedua berupa kepala merak (burung). Kelono Swandana kemudian mengarak Singo Barong dengan diiringi gamelan. Kesenian arak-arakan singa dan gamelan inilah yang kemudian dikenal dengan nama reog.

Pertempuran antara pasukan Singo Barong dan Prabu Kelono ini digambarkan dengan sangat menarik lewat Tari Warok, Bujangganong, Jatilan, dan Tari Topeng Kelono. Dalam durasi sekitar 30 menit, fragmen Singo Barong berhasil menjaga alur cerita lewat gerak para penari.

Dengan sentuhan estetika panggung, adegan pertempuran sebenarnya mengadopsi gerak pada tari prajurit pun berubah menjadi koreografis. Dari sisi penceritaan, fragmen Singo Barong dan Prabu Kelono ini pun memiliki alur dan urutan penampil.

Warok mendapat giliran pertama, disusul jatilan, bujangganong, Kelono Sewandana, dan singo barong atau dadak merak pada bagian akhir. Namun ketika salah satu pemain tampil, beberapa pemain lain juga  ikut menari. Masuknya estetika panggung ini membuat tari reog atau singo barong menjadi kaya gerak.

Pada adegan pertempuran para warok dan bujangganong, gerak tarian terlihat ekspresif, liar, dan atraktif. Di sela-sela gerak yang beringas, beberapa penari bujangganong mengendorkan ketegangan dengan menampilkan gerak-gerak jenaka.

Setelah melakukan salto berulang kali misalnya, beberapa penari mengubah gerakannya dengan goyang dangdut ala Caesar yang mirip robot. Sementara beberapa penari lain menampilkan gerakan breaksdance. Tak pelak, di tengah debar penonton menyaksikan gerakan akrobatik, mereka bisa tertawa karena kejenakaan para bujangganong.

Pada sisi lain, fragmen juga diwarnai dengan gerak-gerak lembut yang mencerminkan sosok Sang Prabu. Fragmen diakhiri dengan penampilan 33 reog yang menari secara bersama “Kesenian reog sangat terbuka dengan koreografi dari daerah lain. Keterbukaan itu semakin menjadikan kesenian reog abadi dan terus berkembang,” ujar Suprapto yang juga koreografer senior.

-

Menurut Wali Kota Surakarta FX Hadi Rudyatmo, kesenian reog memang berasal dari Ponorogo. Namun reog sudah menjadi milik bangsa Indonesia. Sebagai kota budaya, lanjut Rudy, Kota Solo tidak boleh terpaku hanya pada wayang dan tari Jawa klasik.

“Solo harus selalu membuka diri terhadap budaya lain. Di luar sana masih banyak kesenian-kesenian lain yang siap mewarnai Kota Solo,” kata dia.(Ganug Nugroho Adi)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*