Romantisme Drawing Tiga Kota

Pada awalnya adalah kegelisahan dari beberapa perupa Yogyakarta tentang mulai menjauhnya semangat kebersamaan dalam berkesenian di antara mereka. Barangkali ini semacam romantisme masa lalu.  Mereka -beberapa perupa yang antara lain Ivan Sagita,  Melodia, Nasirun, Yuswantoro Adi, dan Laksmi Siroresmi merasa tidak bisa menghindar dari realitas kehidupan modern yang membentuk seseorang menjadi pribadi-pribadi yang individualistik, dan menggoyahkan hubungan sosial antar  mereka.

Beberapa perupa ini merasa bahwa nama besar, kesibukan yang padat, dan jarak yang tidak lagi dekat  telah membuat mereka seperti kehilangan rasa kebersamaan, harmoni kekeluargaan, serta pergaulan yang akrab dan hangat.

“Jogja, Solo, Klaten itu kan hamper tidak berjarak secara geografis. Di sepanjang tiga kota itu tinggal para perupa hebat. Namun mereka seolah hidup sendiri-sendiri. Harus ada tempat untuk mempertemukan mereka kembali,” Kurator Bentara Budaya Balai Soedjatmoko, Hari Budiono.

-

Maka, lahirlah gagasan mengajak para perupa di tiga kota, yaitu  Yogyakarta, Klaten, dan Solo untuk “menggambar bersama”.   Gagasan ini kemudian muncul dalam Pameran Drawing Sepanjang Yogyakarta-Klaten_Solo di Balai Soedjatmoko, Solo, Jawa Tengah,   Senin (4/11).

“Kami melibatkan para seniman dari tiga kota yang letaknya saling berdekatan itu untuk mengakrabkan mereka kembali. Solo dipilih karena  pameran lukisan di kota ini masih jarang,” ujar Hari.

Teknik drawing dipilih, menurut Hari, karena lukisan dengan teknik goresan dirasa telah lama tidak dilakukan oleh para perupa. Pada era tahun 1970-an, teknik pernah sangat digilai oleh para perupa pada masa itu.

Drawing, terutama dalam bentuk sketsa, sendiri sebenarnya merupakan fase yang wajib dilalui oleh perupa untuk menghasilkan karya yang utuh. Belakangan para perupa lebih senang melewati proses membuat sketsa, dan sebaliknya lebih senang memilih untuk membuat lukisan warna.

Ada sekitar 100 karya drawing dari 45 perupa dipajang dalam pameran ini. Menurut Hari, drawing dipilih teknik menggambar  yang ditandai dengan  permainan garis dan  goresan ini merupakan teknik dasar atau tingkat pemula dalam seni rupa. “Dengan bentuk drawing yang sederhana ini, maka jumlah perupa yang  pameran pasti lebih banyak. Dalam waktu singkat mereka toh bisa menggambar sketsa   dan mengikutkan ke pameran ini,” tambah Hari.

Semiotika

Meski selama ini ada anggapan bahwa drawing sebagai lukisan kelas pemula, namun  banyak dari lukisan yang dipajang dalam pameran ini yang ternyata jauh melebihi karya pemula. Tidak sekedar memindahkahkan objek ke media kertas, beberapa perupa bahkan memberikan gagasan lebih lewat semiotika pada lukisannya.

Kusno: Warisilah Apinya Jangan Abunya karya Sigit Santosa misalnya. Lukisan menggunakan pensil dan media kertas ini memunculkan portrait Presiden Pertama Republik Indonesia, Soekarno, yang tengah merokok. Secara mudah kita bisa segera tahu antara “api” dan “abu” memiliki semiotika yang berbeda.

Gagasan cerdas seperti ini juga muncul dalam Tumbuh (Quda Teda Ena), Jagonya Jagoan (Budi Sulistyo), Janan Nuh (Fajar Sutardi), Death ( (Usman Supardi), Bibir (Sony Hendawan), dan Lelaki Gunung (Ivan Sagita). Sedangkan kesederhanaan teknik goresan tetap bisa ditemukan pada karya-karya, GM Sudarta (Angkringan), Kawit Tristanto (Serakah), Herri Sudjarwanto (Setengah Dewa Setengah Setan), Nanik Sri Gunarni (Asyik), serta Ibnu Sukodok (Gandrung Tayub).

-

Beberapa perupa melengkapi karyanya dengan seni instalasi. Misalnya Bonyong Munnie Ardhie yang memajang Gedung MPR dengan teknik drawing pensil di atas kertas. Di bawah lukisan ia pajang drawing mulut-mulut yang terbuka lebar, serta pispot sebagai karya instalasi.

Lewat karya ini, Munnie juga menulis kalimat dengan huruf kapital Rakyat Sudah Tidak Percaya, dan  Tercerabut dari Akarnya. Lukisan teknik drawing yang dianggap karya sederhana itu telah dibawa Munnie ke luar dari batas kesederhanaannya. Selain Munnie, beberapa perupa memamerkan instalasi bertajuk KPK yang mengambil tokoh wayang.  Tampak replika Togog, Dasamuka, dan Baladewa yang identik dengan sosok seorang yang rakus. Ketiga tokoh wayang ini berhadapan dengan tokoh  Gatotkaca yang menjadi lambang kebaikan.

Teknik drawing tidak melulu bicara tentang lukisan realis tapi juga gaya figuratif, abstrak, dan komik. Perupa I Gusti negah Nurata bahkan menyajikan karya surealis lewat Misteri Candi.Misteri Candi, terutama dengan cara dia menghadirkan obyek makluk-makluk antah berantah dalam lukisannya.

Sedangkan lukisan figuratif bisa ditemukan pada karya  Murtiyanti Antik (Seteru),  Edi Sunaryo (Mother of The World), dan Alit Ambara (Fair Trade). Beberapa perupa, meski dengan teknik drawing dan menggunakan media kertas, mencoba bermain-main dengan gaya lukisan modern. Sebut saja antara lain lukisan  Energi Pagi karya Dian Anggraeni, Gadis dari Selangor (Hadi Susanto), dan Kreasi (Narsen Afatara).

Drawing portrait, baik portrait wajah maupun potrait bertema kehidupan sehari-hari masih menjadi magnet bagi sebagian perupa.  Seperti drawing karya MM Nanik Sri Gunarni (Asyik), yang menggambarkan seorang perempuan noni-noni Belanda sedang melukis.

Ada juga Yuswantoro Adi lewat karyanya, Self Potrait As Prenancy. Seperti judulnya, drawing warna ini berupa potret dirinya yang mengenakan daster seolah-olah tengah hamil. I Wayan Cahya dan Susilo Budi Purwanto memajang karya masing-masing berjudul Metamorphosis, dan Eh. Sementara meski dilukis di atas kertas Koran, namun potret  Presiden RI ke empat Gus Dur tetap meninggalkan jejaj drawing yang kental.

“Kami memang tidak membatasi kreativitas para perupa. Mereka bebas membuat drawing dengan aliran apa pun. Kami  juga tidak ingin membebani perupa karena  tujuan dari pameran ini sebenarnya kebersamaan, seperti tema besar pameran yaitu Pada Awalnya adalah Rindu,” kata Hari.

Melukis Bersama

Sore sebelum pameran dibuka, Bentara Budaya mengadakan acara melukis bersama di halaman Balai Soedjatomoko, Jl Slamet Riyadi, Solo. Selain dikuti oleh 20 perupa dari Yogyakarta, Klaten, dan Solo, acara ini juga melibatkan puluhan mahasiswa, pelajar, serta siswa sanggar seni rupa.

-

Selama sekitar dua jam, puluhan perupa muda ini melukis dengan teknik goresan menggunakan pensil dan media kertas. Menariknya, peserta tidak perlu mendaftar jauh-jauh hari sebelumnya untuk dapat bergabung dalam acara ini. Banyak dari perupa yang dating, kemudian langsung melukis. Hasil karya mereka akan dipamerkan di Bentara Budaya Bali tahun depan.

Teknik drawing atau gambar memang bukan sesuatu yang baru dalam dunia seni rupa. Sebelumnya, lukisan dengan teknik goresan  dianggap sebagai karya seni kelas dua,  karena lebih sering berupa sketsa atau  dasar gagasan visual dari para perupa.

Namun dalam perkembangan seni rupa kontemporer, lukisan dengan teknik drawing mulai menempati posisi terhormat. Kini banyak perupa muda yang mulai beralih dari teknik melukis konvensional (cat air, cat minyak, dan akrilik) ke lukisan dengan teknik goresan ini.

“Jika ingin potret berwarna kini sudah ada kamera digital. Tinggal jepret langsung jadi.  Namun orang mulai jenuh. Mereka menginginkan sesuatu yang unik, yang berbeda. Lukisan dengan teknik drawing menjadi pilihan karena dirasa lebih natural dan apa adanya,” jelas Hari.(Ganug Nugroho Adi)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*