Ketoprak Ngampung: Mengembalikan Ketoprak ke Kampung

-

Gagasan kelompok ketoprak ini cukup mulia: ingin mengembalikan sebuah tontonan rakyat (ketoprak) ke kampung-kampung ketika pentas-pentas ketoprak di gedung kesenian mulai ditinggalkan penonton.  Karena itu, kelompok ini dinamakan Ketoprak Ngampung. Kata ngampung bermakna kembali atau masuk kampung.

“Periode tahun 1960-an sampai tahun 1980-an, Solo menjadi pusat pertunjukan ketoprak selain Yogyakarta. Namun perkembangan zaman menggerus kesenian tradisi, termasuk ketoprak. Gedung-gedung kesenian mulai sepi dan ketoprak mulai jarang dipentaskan,” kata salah satu penggagas Ketoprak Ngampung, Joleno.

Jejak Ketoprak Ngampung berawal dari Ketoprak Balekambang yang sebelumya dikenal dengan sebutan Ketoprak Tobong –karena tempat pertunjukan selalu berpindah-pindah.  Pada tahun 1989, kelompok ini mulai mentap dan melakukan pertunjukan rutin di kawasan taman kota, Balekambang. Sekali pentas, komunitas ini mendapatkan bantuan dana operasional Rp 1 juta dari Dinas Pariwisata Surakarta,   dan pentas di gedung kesenian dengan kapasitas 450 penonton tanpa sewa. Dengan harga tiket  Rp. 5.000, tontonan ini cukup diminati.

Namun, masa kejayaan ketoprak ini ternyata hanya singkat. Tahun 1995 Ketoprak Balekambang mati suri dengan maraknya bioskop dan televisi yang menyajikan hiburan lebih modern. Jumlah penonton ketoprak pun anjlog setiap malamnya sampai akhirnya hilang sama sekali. Ketoprak Balekambang yang melegenda ini akhirnya tutup.

Tahun 2006, Walikota Solo ketika itu, Jokowi, merevitalisasi Balekambang. Penataan ulang inilah yang kemudian menumbuhkan kembali semangat berketoprak di antara beberapa pemain senior. Ketika panggung sekaligus tempat tinggal para pemain ketoprak dirobohkan, mereka justru bangkit untuk menghidupkan kembali ketoprak di tengah-tengah kesenian modern. Maka, tahun 2007, beberapa seniman ketoprak Solo pun melahirkan Ketoprak Ngampung yang sesenungguhnya merupakan metamorfosa dari Ketoprak Balekambang.

”Modernisasi memang tidak bisa dibentung. Tapi kami yakin sesuatu yang tradisional tidak sepenuhnya bisa ditinggalkan. Pasti ada cara lain agar ketoprak tetap diminati,”  ujar Dwi Mustanto, pimpinan rombongan Ketoprak Ngampung Balekambang.

Cukup menarik ketika menyaksikan kelompok ketoprak ini pentas. Terutama konsep banyolan sebagai cara untuk membuat  para penonton betah menyaksikan pertunjukan hingga berakhir. Lakon-lakon Ketoprak Ngampung digarap lewat proses adaptasi dan pendekatan bentuk teater modern (barat). Namun, mereka tetap mempertahankan roh atau gaya tobong.

-

Pembaruan yang paling kentara adalah banyak ditemukannya bentuk-bentuk komedi yang mengadopsi permainan Lenong Betawi serta perkelahian gaya film kungfu mandarin yang kocak. Alhasil, bentuk pertunjukan yang mereka mainkan menjadi lebih kaya, atraktif dan komunikatif dengan bumbu-bumbu humor segar.

Sedangkan konsep panggung pun berbeda dengan panggung di gedung-gedung kesenian, karena Ketoprak Ngampung mengadopsi konsep panggung  lenong sehingga hampir tak berjarak dengan penontonnya.

“Kami sengaja memotong jarak dan lebih mendekatkan ketoprak dengan para penontonnya. Bukan hanya dekat, karena penonton bahkan memungkinkan ikut  terlibat menjadi pemain,” jelas Dwi yang juga sutradara lakon-lakon Ketoprak Ngampung.

Para pemain bukan sekadar hapal lakon, namun juga sangat fasih dalam menyampaikan parikan (pantun berbahasa Jawa) yang segar, kocak, dan menggelitik. Bukan sekadar membanyol, cerita garapan ketoprak ini juga aktual dan kritis. Mereka tidak menampilkan lakon-lakon pakem ketoprak pada umumnya, tapi lebih pada lakon-lakon carangan  -lakon tambahan biasanya karangan sendiri- yang diambil dari masyarakat atau peristiwa-peristiwa aktual.

Mereka menyiasati berkurangnya peminat ketoprak di gedung-gedung kesenian dengan cara menggelar pentas ketoprak dari satu kampung ke kampung yang lain. Panggung ketoprak bisa di lapangan desa, kebon tebu, pendapa kantor kelurahan, perempatan jalan, dan bahkan pinggiran rel kereta api. Pentas seperti ini sekaligus menjawab tantangan bahwa ketoprak tidak dibatasi ruang dan waktu.

“Setelah gedung kesenian sepi, kami mencari kesempatan di tempat lain.  Itulah mengapa ketoprak ini dinamakan Ketoprak Ngampung,” jelas Joleno.

Uniknya, mereka tidak pernah mecetak tiket. Sebaliknya, kelompok ini hanya  mengedarkan tampah dan penonton akan membayar pertunjukan secara suka rela sesuai kemampuan mereka. Namun jika untuk tanggapan, Ketoprak Ngampung mematok biaya antara Rp 3 juta hingga Rp 5 juta yang dibagi rata sekitar 30 anggotanya.

“Uang saweran itu bukan untuk membayar kami, tapi untuk membayar biaya  produksi, terutama seperti sound system dan transportasi untukmengangkut gamelan,” tambah Joleno.

Menurut pria yang bernama asli Muhammad Sahid ini, sejak dibentuk tahun 2007, Ketoprak Ngampung telah pentas 2-4 kali per minggu dan menjelajahi ratusan kampung. Di luar pementasan rutin, Ketoprak Ngampung juga menerima pentas tanggapan untuk acara ulang tahun, hajatan pernikahan, dan pentas-pentas untuk keperluan sosialisasi program departemen.

“Sosialisasi program atau kebijakan pemerintah biasanya sangat formal, sehingga sering membosankan. Kami sebisa mungkin menyampaikannya dengan cair,” kata Joleno.

Pria yang sudah puluhan tahun menggeluti ketoprak tobong ini mencontohkan ketika Ketoprak Ngampung menampilkan cerita mengenai narkoba dan kenakalan remaja dengan porsi humor yang lebih banyak. Bahasa dialog yang digunakan pun lebih komunikatif sehingga mudah dipahami dan menarik kalangan muda. Meski demikian, mereka tetap mempertahankan roh dalam ketoprak.

“Bagi kami,  ketoprak itu identitas orang Jawa. Karena itu dalam setiap pentas kami hanya memakai bahasa Jawa. Ini juga sebagai salah satu cara kami untuk  melestarikan bahasa Jawa,” ujar Joleno.

Penuh Improvisasi

Keunikan lain, hampir di setiap pementasannya para pemain Ketoprak Ngampung tidak membutuhkan latihan rutin. Mereka hanya cukup tahu garis besar cerita, kemudian pengarahan dari sutradara menjelang pentas. Selebihnya adalah spontanitas dan improvisasi.

Konsep pementasan yang sama sekali berbeda dari perjuntukan ketoprak konvensional seperti ini bukannya tanpa persoalan. Sebab, mereka ternyata harus berhadapan dengan sikap konservatif generasi tua. Tak jarang konsep pementasan Ketoprak Ngampung dianggap  mbalela dan merusak pakem ketoprak. Apalagi lakon-lakon yang mereka bawakan bukan berasal dari lakon babad. Namun Ketoprak Ngampung jalan terus.

-

“Lewat ketoprak ngampung inikami sekadar mengingatkana bahwa kesenian ketoprak masih ada. Kamihanya mengubah konsep pementasan agar lebih diminati penonton,” kata Tatak Prihantoro, pomponan Ketoprak Ngampung.

Selama lima tahun keliling kampung, Ketoprak Ngampung setidaknya telah membawakan 50 lakon yang naskahnya ditulis beberapa pemain. Semuanya bercerita tentang peristiwa-peristiwa sederhana yang biasa terjadi di kehidupan nyata masyarakat bawah. Meski sederhana, namun setiap lakon meninggalkan pesan moral yang dalam, seperti pada lakon “Pasung”, “Jaran Sepasang”, “Jambul Kramayudha”, “Rebut Bener”, “Tatasing Dhadhung”, “Putri Jemani”, “Poligami”, dan “Kemul Pedut”.

Begitulah. Ketika tobong atau tempat pertunjukan mereka dirobohkan, para seniman  ketoprak ini justru menemukan cara lain agar kesenian ketopak tetap hidup. Eksistensi kesenian (tradisional) bagaimanapun memang tergantung dari mereka yang  mengelola. Ketoprak Ngampung  setidaknya bisa menjadi kelompok kesenian yang  pementasannya banyak ditunggu. (Ganug Nugroho Adi)

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*