Keroncong Segala Zaman

 

-

Sambil memainkan ukulele di tangannya, penyanyi keroncong Endah Laras melantunkan lagu lama Ayo Ngguyu. Suaranya jernih. Gayanya kenes, dan kemayu. Berbeda dengan lagu-lagu keroncong  yang pada umumnya mendayu, lagu ini memang tergolong energik dan riang.   

Ia mengitari luas panggung, berinteraksi dengan penonton dan mengajaknya untuk ikut bernyanyi.  Di luar dugaan, lagu jenaka yang pernah dipopulerkan oleh maestro keroncong Wadjinah itu mendapat sambutan luar biasa dari ribuan penonton yang memadati halaman Balai Kota Surakarta, Jawa Tengah.

Setiap kali ia selesai melantunkan lirik ayo ngguyu, ribuan penonton yang terdiri dari orang tua, kalangan muda, dan remaja langsung menyahut dengan tertawa bersama-sama.  Endah Laras bahkan harus menambah durasi lagu karena harus mengulang lirik sampai dua putaran.

ayo ngguyu ha ha ha

ngguyumaneh ha ha ha

yen ngguyu yo aja seru-seru…

Luar biasa selain karena malam telah begitu larut, hampir tak pernah terjadi penonton musik keroncong demikian bersemangat.  Musik keroncong yang selama ini identik dengan irama yang kalem dan penikmat yang tenang malam itu tak berlaku. Endah Laras sangat pintar memunculkan karakter lagu Ayo Ngguyu yang riang dan menggoda.

ayo ngguyu ha ha ha

ngguyumaneh ha ha ha

yen ngguyu yo aja seru-seru…

Di tangan Endah Laras, juga Orkes Keroncong Swastika yang mengiringinya, musik keroncong menjadi hidup dan segar. Musik keroncong yang selama ini identik dengan musik kuna dan ketinggalan zaman tidak terlihat.

-

Musik keroncong bukan lagi hanya milik para orang tua. Idiom baru itu tampaknya   ingin disampaikan dalam Solo Keroncong Festival yang digelar selama dua malam,  Jumat-Sabtu (12-13/9), di halaman Balai Kota Surakarta, Jawa Tengah.

Menampilkan 15 grup keroncong, sebelas grup di antaranya terdiri dari kalangan muda. Mereka tidak hanya berasal dari Kota Solo, tapi juga datang  dari berbagai kota besar seperti Bandung, Jakarta, Bali, Palembang, dan Padang.

Agenda tahunan yang digelar Pemerintah Kota Surakarta dan Himpunan Artis Musik Keroncong Indonesia (HAMKRI) ini juga menampilkan beberapa penyanyi keroncong papan atas, antara lain Tuty Maryati, Endah Laras, Sruti Respati, Indra Utami Tansir , dan Mel Sandy yang pada era tahun 1990-an dikenal sebagai penyanyi rock.

Ruang Eksperimen

Sebelum Endah Laras, festival dibuka dengan penampilan  Orkes Keroncong Suara 8 dari SMK Negeri 8 (dulu Sekolah menengah Kerawitan Indonesia) Surakarta. Tak hanya menampilkan musisi muda, Suara 8 juga menyajikan kemasan musik keroncong yang segar dan  dinamis.

Tak hanya menyajikan lagu-lagu keroncong asli, seperti Kota Solo dan Yen Ing Twang Ono Lintang, dan Rhapsody, Suara 8 juga mengemas lagu pop Janji Hati yang dipernah dipopulkerkan oleh Memes.

Bintang Swalayan dari Salatiga juga mencoba membawa keroncong keluar dari pakem. Jika selama ini musik keroncong dimainkan dengan tujuh alat musik, yaitu cak, cuk, selo, kontrabas, flute, gitar, dan biola, Bintang Swalayan mengusung kendang dan drum untuk memberi warna dinamis.

“Sudah saatnya musik keroncong harus memberikan ruang eksperimen untuk anak-anbak muda. Keroncong jangan hanya menjadi artefak, tetapi harus  berkembang menyesuaikan zaman,” ujar Wakil Ketua Hamri Surakarta, Wartono.

Penampilan menawan disajikan oleh Hamkri Sumatera Selatan.  Orkes yang mengusung 35 orang musisi dan penyanyi ini menyuguhkan  keroncong melayu dengan Tari Serampang 12 untuk memberi warna lain pada lagu-lagu yang dibawakan, seperti  Pempek Lanjar, Ya Samaan, dan Laila Canggun.

Di Palembang, Sumatera Selatan, musik keroncong berakulturasi dengan kebudayaan lokal. Tak heran jika warna melayu terasa begitu kental mewarnai musik keroncong. Sementara itu Orkes Keroncong Lapsek dari Sawah Lunto, Sumatera Barat, menampilkan tembang-tembang Minang, seperti Hitam Manis, Kasiah Tak Sampai, dan  Risalam.

Keroncong Komedi

Festival hari pertama ditutup oleh Orkes Plasu Minimalis asal Surakarta yang menampilkan keroncong komedi. Membawakan empat lagu, kelompok nyeleneh ini tak henti-hentinya membuat penonton terbahak-bahak.

Para musisi, seperti Max Baihaqi (gitar), Agung Riyadi (biola), Diaz (bas betot), Kukuh (kendang), Adi (ukulele cak), Budi (ukulele cuk), Dul (selo), serta Sosiawan Leak dan Cahwati (vokal) membuat festival di malam pertama meriah dengan sajian penampilan dan  lagu-lagu  berlirik naif namun segar.

Pada beberapa lagu, Orkes Plasu Minimalis mengajak penonton untuk berinteraksi, berdialog layaknya pada pementasan lenong. Mereka juga menyelipkan fragmen-fragmen dengan muatan kritik k sosial di sela-sela lagu yang mereka bawakan, juga mengkritisi peristiwa yang terjadi dengan gaya kocak dan segar.

Tentu saja tak semua lagu yang mereka sajikan merupakan komedi. Pada tembang macapat Sinom yang diambil dari syair Serat Wedhatama karya Mangkunegara IV, mereka menunjukkan kemampuan dalam memberi warna lain pada musik keroncong. Di luar gaya pentas yang nakal dan naïf, mereka adalah musisi yang andal.

-

Cahwati, pesinden  yang beberapa kali diundang pentas ke Eropa dan Amerika, membuktikan kelasnya. Suaranya yang jernih begitu enteng menapaki nada-nada tinggi dengan cengkok pesisiran yang khas. Penonton pun merinding.

Festival pada hari kedua dimeriahkan oleh para bintang keroncong, antara lain  Tuty Maryati,  Sruti Respati, Indra Utami Tansir , dan Mel Sandy. Tutik Maryati mengawali dengan lagu Gesang ciptaan Dorce, disusul langgam Bengawan Solo yang legendaries karya Gesang. Di usianya yang mendekati kepala enam, Bintang Radio dan Televisi tahun 1986 ini  tak kehilangan suara emasnya.

Sementara maestro langgam Jawa, Indra Utami Tansir, membawakan lagu Pengantin Agung karya Koko Thole. Lagu inilah yang membawakan Indra masuk nominasi AMI Awards 2012. Setahun kemudian, ia meraih AMI Awards lewat tembang Nggayuh Katresnan.

Pesinden dari Solo, Sruti Respati, merupakan  penampil yang paling ditunggu-tunggu penonton. Membawakan lagu Kidung Surgawi yang bertempo lambat, suara bening Sruti  mendayu. Pada nada-nada panjang, vokalnya tetap bulat dengan cengkok keroncong yang khas.

Nuansa lagu Kidung Surgawi yang  menyayat seperti menusuk-nusuk hati pendengarnya.  Dan ketika suara Sruti menapaki nada-nada tinggi, ribuan penonton seperti tersihir oleh lantunan tembang yang lembut membelah malam itu. Betapa sebuah lagu mampu menghanyutkan rasa pendengarnya.

“Keroncong itu musik yang agung. Musik ini tidak akan rusak dengan tumbuhnya ruang-ruang eksperimen atas keroncong. Tembang Kidung Surgawi itu salah satu contoh bahwa keroncong asli pun tetap digemari,” kata Max Baihaqi seorang musisi keroncong alternatif.

Menurut Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya Surakarta, Widdi Sihanto,  Solo Keroncong Festival tahun ini merngambil tema Keroncong Segala Usia. Artinya, festival ini  menyediakan ruang bagi musisi muda untuk bereksperimen, mengemas musik keroncong sesuai dengan olah rasa mereka.

“Selama ini muncul kesan bahwa musik keroncong identik dengan musiknya  para pensiunan. Kami ingin menghapus kesan itu. Keroncong itu musik segala zaman, bisa dinikmati oleh orang tua dan anak-anak muda,” ujar Widdi.(Ganug Nugroho Adi)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*