Jejak Purba di Sungai Bengawan Solo

-

Bengawan Solo bukan sekadar sungai panjang. Di sepanjang aliran yang melintas dari salah satu hulu di Kecamatan Pracimantoro, Wonogiri, Jawa Tengah,  hingga beberapa kota di wilayah Jawa Timur; Ngawi, Madiun, Bojonegoro, Mojokerto, Gresik- ini juga tersimpan jejak panjang  purbakala manusia, binatang, dan peradaban yang pernah hidup pada berjuta-juta tahun silam.

“Masih banyak benda arkeologi yang terkubur di sepanjang 550 kilometer aliran. Para arkeolog terus mencari dan menemukan benda-benda yang menjadi bagian dari rekam jejak sejarah manusia ini,” kata Kepala Pusat Arkeologi Nasional Bambang Sulistyanto ketika menghadiri pameran arkeologi Bengawan Solo Riwayatmu Dulu di  Gedung Graha Solo Raya, Surakarta, Rabu (25/9).

Menurut Bambang, rangkaian sejarah dan peradaban manusia yang setidaknya  sejak dua juta tahun lalu hampir semuanya dimulai dari alirah Sungai bengawan Solo. Beberapa peristiwa besar itu, antara lain  penemuan manusia Trinil, penemuan Kubah Sangiran yang merupakan salah satu bukti migrasi pertama manusia pertama ke Nusantara (homo erectus) dan gelombang migrasi kedua, yaitu homo sapiens.

“Di bagian hulu sungai, kita bisa mendapatkan gambaran tentang periode paleolitik (masa berburu tingkat sederhana),  preneolitik (zaman batu), dan neolitik (masa bercocok tanam),” jelas dia.

Pameran ini memajang benda-benda arkeologi menggambarkan perkembangan peradaban di sepanjang aliran sungai Bengawan Solo, seperti fosil, prasasti, tembikar, diorama, dan kepala arca budha.

-

Begitu memasuki ruang pameran, pengunjung langsung berhadapan dengan rahang  Crocodylus (buaya purba) koleksi Museum Sangiran yang dipajang dalam kotak kaca. Fosil sepanjang 95 cm itu diperkirakan pernah hidup pada 700.000 hingga 800.000 tahun lalu.

Menurut Kepala Seksi Pemanfaatan dan Publikasi Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran, Gunawan, rahang yang ditemukan oleh seorang petani di situs Sangiran,  Desa Dayu, Gondangrejo, Karanganyar, Jawa Tengah, ini tergolong lengkap. Fosil ini berupa  rahang atas dan bawah berikut giginya.

Bersebelahan dengan Crocoylus adalah dua  potongan gading Gajah Purba. Potongan pertama  sepanjang sekitar 1,5 meter, sedangkan potongan kedua hanya sepanjang 50 centimeter.

Fragmen potongan gading ini ditemukan dua tahun lalu oleh seorang warga Sangiran di di lapisan Kabuh, beberapa saat setelah hujan reda. Gunawan mengungkapkan gading ini diperkirakan dari gajah yang panjang tubuhnya sekitar 11 meter dan tinggi 6 meter.

Manusia Purba

Museum Sangiran juga mengusung homo erectus tipik, yaitu manusia purba yang diperkirakan hidup dalam rentang waktu 900 ribu sampai 400 ribu tahun (masa Plestosen Tengah). Berbeda dengan manusia purba sebelumnya (homo erectus arkaik), kelompok manusia purba tipik berpostur lebih ramping, serta memiliki tempurung kepala yang tidak terlalu menjorok ke belakang.

 

-

Pendahulu mereka, homo erectus arkaik yang berjalan dengan membungkuk, diperkirakan berasal dari Afrika pada 1,8 juta tahun lalu. Kelompok manusia purba kemudian menyebar, berpindah-pindah mencari sumber air dan makanan sampai akhirnya sampai di pulau Jawa.

“Homo erectus tipik termasuk species manusia berjalan tegak. Mereka berburu, dan  hidup berpindah pindah mengikuti binatang buruan. Volume otak dan ketegakan postur itu   dua unsur penting dalam evolusi manusia,” ujar Gunawan.

Peralatan berburu dan untuk mempertahankan hidup yang muncul pada zaman paleolitik (zaman batu tua) juga melengkapi pameran ini. Alat-alat dari batu ini terlihat sangat sederhana, kasar, bahkan jarang hanya berupa pecahan batu. Beberapa hasil kebudayaan zaman paleolitik yang dipamerkan, antara lain kapak genggam, kapak  perimbas, alat-alat serpih, dan kapak penumbuk.

“Setelah zaman batu tua, mereka baru mulai tinggal secara menetap dan bercocok tanam (zaman neolitik 2000 SM). Masa ini merupakan fase penting dalam sejarah perkembangan peradaban manusia purba,” tambah Gunawan.

Meski segala peralatan masih terbuat dari batu, namun bentuk fisiknya jauh lebih halus dan lebih bagus dibandingkan masa sebelumnya. Dalam pameran ini, Museum Sangiran memajang antara lain kapak lonjong yang terbuat dari batu kali, kapak persegi,   dan beberapa perhiasan gelang, kalung, dan anting yang dibuat dari kalsedon (baru dengan Kristal sangat halus), dan batu indah.

Batu klasedon kini banyak ditemukan di wilayah Donorejo, Pacitan, Jawa Timur, dan kawasan situs Sangiran, Sragen, Jawa Tengah. Warga menjualnya sebagai souvenir. Bentuknya yang artistik dan warnanya yang terang membuat batu ini banyak diminati wisatawan.

-

Prasasti Majapahit

Tidak hanya memamerkan benda-benda pra sejarah, pameran kali ini juga memajang beberapa prarasati pada zaman Kerajaan Majapahit. Salah satunya dalah prasasti Gosari yang diperkirakan dibuat tahun 1376 pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk.

Prasasti ini ditemukan pada dinding Goa Butulan, di Desa Gosari, Ujungpangkah, Gresik, Jawa Timur. Selain prasasti, ikut dipamerkan juga peralatan tembikar (gerabah) seperti tungku, kendi, celengan, teko dan cawan dari Ujung Pangkah.

Masih dari Gresik, benda bersejarah lain yang dipamerkan adalah prasasti Leran, sebuah prasasti perunggu yang menggunakan huruf Jawa Kuna. Prasasti yang  diperkirakan berasal dari abad ke-13 ini menyebutkan sebuah daerah perdikan yang bernama Leran.

Salah satu jejak budaya Islam yang ditemukan adalah inskripsi (tulisan pada batu)  tertua dengan pahatan kaligrafi pada sebuah batu nisan di Gresik. Inskripsi ini  menyebutkan nama seorang perempuan, Fatimah Binti Maimun Bin Hibatallah, meninggal pada tanggal 7 Rajab 475 H (25 Nopember 1082).

Dalam pameran ini dipajang juga kepala arca Budha dan Budha Bodhisatva dari Candi Bendo yang ditemukan di sekitar Waduk Gajah Mungkur, Wonogiri. Candi ini terletak di Desa Bendo, salah satu desa yang ditenggelamkan dalam pembuatan waduk.

-

Bangunan candi ini sebenarnya langka dan unik dibandingkan dengan candi-candi lain karena  terbuat dari  batu kapur. Beberapa bagian dalam candi terdapat arca seperti pada Candi Plaosan, relief pisang Bali seperti Candi Sewu, Kalasan, Mendut, dan Candi Jago. Teknik penyambungan batu memperlihatkan kesamaan dengan Candi Borobudur. Sayang, candi dari batu kapur ini ikut tenggelam bersama 16 desa lain di Wonogiri.

“Pameran ini sekaligus sebagai kampaye kepada masyarakat untuk lebih mengenal arkeologi. Kami juga berharap masyarakat mempunyai rasa memiliki artefak-artefak ini, sehingga kelestarian peninggalan kepurbakalaan tetap terjaga,” kata Bambang.

Benda-benda prasejarah dan sejarah yang dipamerkan memang tidak sebanyak koleksi di Museum Sangiran dan Trinil. Namun, setidaknya pameran ini bias memberikan gambaran mengenai evolusi alam dan perkembangan peradaban manusia purba mulai  zaman poleolitik, preneolitik, dan neolitik sampai masa peralihan ke periode sejarah (budaya baca tulis).

Benda-benda dalam pameran arkeologi ini semuanya merupakan hasil penelitian dari Daerah Aliran Sungai (DAS) Bengawan Solo. Sepanjang aliran sungai terpanjang di Jawa ini dikenal memiliki kandungan fosil yang padat, terutama di sekitar kubah Sangiran (Sragen) dan Trinil (Ngawi).

“Bukan hanya jejak kehidupan prasejarah, tetapi juga sisa-sisa kebudayaan zaman Hindu-Budha hingga Islam. Bengawan Solo menyimpan jejak panjang peradaban manusia sejak purba hingga kini,” kata Gunawan.(Ganug Nugroho Adi).

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*