Suparto Brata: Menulis Sampai Mati

SUPATO BRATA

SUPATO BRATA (Credit: soloraya.com)

Pada usianya yang sudah 81 tahun pada pertengahan 2013, sastrawan Suparto Brata masih terlihat bersemangat. Setidaknya, itulah yang terlihat ketika ia mengikuti launching sekaligus bedah novel karyanya, Tak Ada Nasi Lain, di Balai Sudjatmoko, Surakarta pada Juli lalu. “Dunia tulis-menulis itu selalu membuat hati saya mekar. Saya selalu mendapatkan pencerahan baru dalam setiap diskusi seperti ini,” ujar pria bertubuh kurus itu.

Lahir di Surabaya Lahir di Surabaya 27 Februari 1932, Suparto tidak pernah membayangkan bisa menjadi penulis. Apalagi tidak ada keturunan penulis dalam keluarganya. Orang tuanya, Raden Suratman Bratanaya dan Bandara Raden Ajeng (BRA) Jembawati adalah bangsawan Surakarta yang kehidupannya serba kekurangan. Sang Ayah harus merantau ke Surabaya untuk bekerja serabutan, sementara ibunya menjadi pembantu rumah tangga, baby sitter, dan buruh batik.

“Saya tidak pernah berkumpul dengan bapak, karena sejak usia enam bulan saya dibawa ibu ke Solo (Surakarta). Apalagi bapak meninggal ketika saya masih kecil. Panutan saya adalah kakak yang usianya 10 tahun lebih tua dari saya. Namun dia lebih mengarahkan saya ke sekolah teknik,” kata dia.

 

Belajar dari Rubai Katjasungkana

Perkenalannya dengan dunia tulis menulis justru didapat dari seorang teman sekolahnya ketika masih di SD, Rubai Katjasungkana, yang sering membawakan buku-buku cerita. Mereka sering membaca buku bersama dan kemudian mendiskusikannya. Pada saat yang lain, mereka mencoba menulis ulang apa yang mereka baca dengan tambahan imajinasi masing-masing. .

“Salah satu buku favorit saya itu Don Quixote de la Mancha (karya Cervantes, Balai Poestaka, 1932). Buku itu sampai sekarang masih saya simpan,” kenang Suparto.

Ketika SMP, ia bersama Rubai membuat koran sekolah Api Murid yang berisi tentang peristiwa-peristiwa di sekolah dan cerita pendek. Pembacanya adalah teman-teman sekolah mereka sendiri. Namun koran kebanggaannya ini akhirnya dilarang beredar oleh sekolah tanpa alasan yang jelas.

Selepas SMP ia pindah ke Solo menyusul ibunya. Di Solo inilah ia memulai karir kepenulisannya. Bahkan ketika menjadi karyawan tetap di Kantor Telegrap, ia tak bisa lagi menghentikan kegiatannya menulis. Karangan-karangannya yang sebagian besar ditulis dalam bahasa Jawa dimuat di berbagai media massa.

Tahun 1958, Suparto memenangi sayembara menulis cerita sambung berbahasa Jawa di majalah Panjebar Semangat, kemudian secara berturut-turut ia menjuarai sayembara serupa di majalah Mekar Sari, Jaya Baya, Djaka Lodang, Jawa Anyar, dan Dharma Nyata.

Karir pekerjaannya menanjak seiring dengan karir kepenulisannya. Tahun 1960, ia mendapat tawaran bekerja di Perusahaan Dagang Negara Djaya Bhakti. Tujuh tahun bekerja di perusahaan negara itu, Suparto terpaksa keluar karena setiap karyawan Djaya Bhakti harus menjadi anggota SOKSI yang merupakan embrio Golkar.

“Berpolitik itu kan hak individu. Saya merasa kemerdekaan saya dirampas. Saya tidak suka politik, jadi ya keluar saja,” kenang dia.

Praktis sejak itu ia hanya hidup dengan menulis. Ia menjadi penulis lepas untuk beberapa media nasional seperti Siasat, Aneka, Mimbar Indonesia, dan Kisah Tanah Air. Ia juga menulis cerita silat untuk CV Gema Solo (Kho Ping Hoo).

Khusus untuk fiksi, hingga 2005 Suparto telah menulis 122 karya dalam bahasa Indonesia dan bahasa Jawa, baik berupa cerita pendek maupun novel. Beberapa bukunya yang fenomenal adalah Saksi Mata, Gadis Tangsi, Kerjaan Raminem, Omnibus, Garuda Putih, Republik Jungkir Balik, dan Tak Ada Nasi Lain.

Five Thousand Personalities of the World

Intensitasnya selama bertahun-tahun di dunia tulis-menulis membuat namanya tercatat dalam buku Five Thousand Personalities of the World, Sixth Edition, 1998, terbitan American Biographical Institute, Inc 5126. Suparto juga Dia juga menerima Hadiah Sastra Rancage untuk dua novel berbahasa Jawa, yaitu Trem (kumpulan cerpen, 2001) dan Donyane Wong Culika (roman, 2005).

Rancage merupakan penghargaan tertinggi kepada mereka yang berjasa bagi pengembangan bahasa dan sastra daerah oleh Yayasan Kebudayaan Rancage (didirikan oleh budayawan Ajip Rosidi).

Tahun 2007 lalu, penulis sastra Jawa yang hingga kini masih masih aktif menulis itu juga dinobatkan sebagai salah satu penulis Asia Tenggara terbaik lewat novel Saksi Mata oleh Kerajaan Thailand, dan menerima Southeast Asia Writer Awards.

Penghargaan itu pula yang membawanya kembali ke Thailan pada April lalu untuk menghadiri perayaan The Bangkok World Book Capital 2013, peringatan ke-35 program the SEA Write Award, serta ulang tahun ke -30 penulisan alphabet di negara itu.

Ia berkesempatan bertemu dan berbagi pengalaman dengan beberapa penulis dunia seperti Lord Jeffrey Archer, Frederick Forsyth, VS Naipaul, dan Sarah Bradford -penulis biografi Jacqueline Kennedy Onassis, Disraeli, Raja George VI, dan Ratu Elizabeth II.

“Menjadi penulis itu bukan sekadar bagaimana membuat karya yang baik, tetapi lebih pada bagaimana caranya kita bersetia. Anda tidak akan pernah bisa membuat tulisan yang baik jika tidak mempunyai tradisi membaca. Menulis harus dilakukan secara terus menerus,” kata penulis novel Mentari di Ufuk Timur Indonesia ini.

Tentang tradisi membaca dan menulis ini, Suparto mengkritik kurikulum pendidikan nasional yang lebih menekankan pendidikan ilmu pasti dibandingkan melahirkan budaya membaca dan menulis bagi para siswa.

“Sekarang lebih parah lagi karena ada Ujian Nasional (UN) yang memaksa siswa bel;ajar secara instan. Tingkat SD sampai SMA itu yang penting membaca dan menulis. Bukan matematika, kimia, atau pun fisika,” ujar dia.

Suparto selalu meminta mereka yang sekarang ini akttif menulis, terutama para penulis muda, untuk tetap bersemangat dalam berkarya. Apa pun yang ditulis; puisi, cerpen, esai, dan bahkan menulis di buku harian pun suatu saat pasti akan berguna, meski tidak pernah dipublikasikan.

Namun jika kondisi keuangan memungkinkan, ia menyarakan agar penulis mencetak, menerbitkan, dan menjual sendiri bukunya. Langkah ini dilakukan untuk mengurangi risiko, karena tidak semua penerbit fair.

“Saya sendiri tidak pernah pusing tentang honor atau royalti. Saya pernah membiayai percetakan, kemudian penerbit yang menjualnya. Sampai sekarang bukunya laku atau tidak saya tidak pernah diberi tahu. Ya sudah,” tutur dia.

Pengfalaman buruk lain, Suparto pun pernah mengirimkan empat naskah buku kepada sebuah penerbit, namun hanya dua naskah yang disanggupi untuk diterbitkan menjadi buku. Kenyataannya, keempat naskah dicetak dan dijual di pasaran. Padahal ia hanya dibayar dua naskah.

“Jika Anda tidak bisa legawa (ikhlas) seperti saya, lebih baik Anda terbitkan sendiri. Yang penting jangan sampai kemungkinan-kemungkinan buruk seperti itu akan melemahkan semangat Anda,” ujar suami dari Rr Ariyati (almarhumah) ini.

Tak Ada Nasi Lain

SUPATO BRATA, MENULIS SAMPAI MATI (Credit: soloraya.com)

SUPATO BRATA, MENULIS SAMPAI MATI (Credit: soloraya.com)

Suparto mengaku karir kepenulisannya semakin terasa lengkap ketika Mei lalu, Penerbit Kompas menerbitkan novelnya, Tak Ada Nasi Lain, yang ditulis tahun 1958. Praktis selama 55 tahun naskah ini sebelumnya hanya tersimpan di lemari rumahnya karena tidak ada penerbit yang berani menerbitkan.

“Ketika itu pemerintahan sangat represif. Banyak buku sejarah yang ditarik dari peredaran karena dianggap subversif. Saya maklum jika menerbitkan buku sejarah sangat berisiko,” ujar bapak empat anak ini.

Tak Ada Nasi Lain yang merupakan novel pertama Suparto menceritakan kehidupan pribadinya (lewat tokoh Saptono) selama periode tahun 1938-1958. Novel ini berlatar belakang kependudukan Jepang, Belanda, pemberontakan komunis, dan perang kemerdekaan berikut peristiwa-peristiwa yang mewarnainya.

“Perang dilakukan karena untuk masa depan yang lebih baik. Tapi kondisi perang itu sendiri selalu membuat rakyat menderita. Novel ini sekadar memotret situasi keluarga saya pada masa itu,” tutur Suparto.

Kini, di usianya senjanya, Suparto mengaku masih terus menulis. Dan ia tak membatasi pada karya-karya fiksi, tetapi juga esai dan catatan kesaksian.

“Mumpung saya masih kuat menulis, saya akan terus menulis. Sampai saya tidak kuat lagi, sampai saya mati nanti,” ujar dia. (Ganug Nugroho Adi)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: