Fajar Satriadi: Laku Seorang Penari

Fajar Satriadi

Fajar Satriadi

 Juni 2013 lalu, penari Fajar Satriadi tampil menawan dalam pertunjukan drama tari berjudul Romansa Ariah, di Taman Monas, Jakarta. Ariah adalah seorang tokoh emansipasi perempuan Betawi yang legendaris. Ia merupakan perempuan penting ketika terjadi pemberontakan petani tambun pada masa pemerintah Hindia Belanda sekitar tahun 1869.

Sayangnya, selama ini sosok Ariah (lebih sering disebut sebagai Mariah atau Mariam –karena barangkali pada zaman dulu tidak ada gadis Betawi), justru tenggelam dalam  mitos sebagai setan Ancol.

Celakanya, ketika film bergenre horor naik daun, sosok Ariah, Mariah, atau Mariam ini  justru ditampilkan  sebagai setan gentayangan dalam tayangan sinetron.

“Padahal Ariah itu tokoh penting sejarah. Ia seorang pejuang perempuan, bukan setan. Kehidupan dan perjuangan Ariah benar-benar nyata” kata Fajar mengawali perbincangan.

Lakon Ariah ini nantinya akan semakin menambah panjang keterlibatan Fajar dalam pertunjukan-pertunjukan besar bersama para maestro tari. Dalam dua puluh tahun terakhiri, setidaknya penari menyang menyelesaikan program pasca sarjana di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta ini selalu tampil dalam pertunjukan-pertunjukan besar dan fenomenal.

Tahun 1990, ia menjadi penari utama dalam lakon drama tari Suropati garapan Ratno Maruti dan Sewntot S. Empat tahun kemudian, Fajar dipercaya maestro tari Indonesia, Sardono W Kusumo memerankan tokoh Diponegoro dalam Opera Diponegoro (1994), dan kemudian dipercaya Atilah Soeryadjaya   untuk memerankan RM Said dalam drama kolosal Matah Ati.

Pertunjukan-pertunjukan itu pula yang membawanya ke berbagai event tari internasional, seperti Singapura, Jerman, Amerika Serikat, Jepang, dan Inggris. Tak hanya pentas, Fajar   juga memberikan workshop tari ke beberapa negara di Eropa dan Amerika.

Lahir di Jakarta  16 Oktober 1968, Fajar tidak tumbuh dalam tradisi kesenian yang kuat. Ayahnya, Tunggal Tarunadi, adalah seorang tentara. Sejak kecil, Fajar pun  tumbuh dalam lingkungan tentara yang kaku di Halim Perdana Kusuma, tempat ayahnya bekerja.

“Tapi justru Ayah yang menginginkan saya belajar tari. Ketika saya kelas 5 SD, ayah mendatangkan guru tari ke rumah, mengajar saya dan dua adik saya,” kenang Fajar di sela-sela menghadiri Srawung Seni Segara Gunung di halaman Museum Sangiran, Sragen, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu.

Menurut Fajar, meski tentara, namun ayahnya tumbuh dan besar di tengah keluarga yang mencintai budaya Jawa. Kakek Fajar bahkan memiliki seperangkat  gamelan Jawa   yang selalu ditabuh setiap hari.

“Kata bapak, belajar seni itu akan membuat hidup terasa lapang, tidak kaku. Seni membuat hidup kita bergerak, dinamis,” ujar dia.

Moch Jubad dan Wisnu Priyadi adalah dua guru les tari pertamanya yang mengajarkan gerak-gerak dasar tari Jawa klasik. Menginjak  SMA, sang ayah mulai mengenalkannya pada dunia sastra, seperti tembang, cerita-cerita babad (Babad Tanah Jawa, serta epos besar Ramayana dan Mahabarata. Setiap liburan sekolah, ia dikirim ayahnya ke rumah kakeknya di Solo untuk belajar tari di Mangkunegaran.

“Ketika kecil, saya sering berkata di depan teman-teman bahwa nanti saya akan menari keliling dunia. Saya sendiri tidak menyangka keinginan masa kecil itu benar-benar menjadi nyata,” kata Fajar.

Dimensi Pikir dan Tubuh

Namun semasa remaja itu, ia mengalami resistensi yang luar biasa. Ketetapan hatinya masih sering turun naik jika berkaitan dengan aktivitasnya menari. Tidak sedikit teman yang mencibir.  Dalam kondisi seperti itu, ayahnya selalu tampil menjadi penyemangat.

“Menjadi penari itu tidak lebih buruk dari menjadi tentara, pemain band, penyanyi, atau pun lainnya. Menari itu menghaluskan perilaku dan budi pekerti. Itu yang selalu bapak katakan setiap kali saya ragu,” kenang Fajar.

Selepas SMA di akhir tahun 1980-an, ia sempat terpikir untuk  masuk Akademi Militer (Akmil) di Magelang, Jawa Tengah. Apalagi lingkungan tempatnya tinggal sangat mendukung. Namun ketika ia melihat ayahnya menangis saat menonton dirinya menari di panggung, Fajar kembali menetapkan hati ke tari. Maka, ia pun melanjutkan kuliah di Akademi Seni Kerawitan Indonesia (sekarang ISI) Surakarta.

Di Solo, ia mendapat tempaan langsung dari koreografer meditasi  Suprapto Suryodarmo, yang tidak hanya mengajarkan gerak tapi juga silat.  Fajar juga berguru meditasi kepada Romo Pudjo Darmo, dan teknik pernafasan di Tri Makna, Bedugul Bali. Sejak awal menggeluti tari, ia juga nglakoni (tirakat, semedi, dan puasa).

“Seorang penari harus bias menggabungkan dimensi pikiran dan tubuh. Jika ia berhasil, maka gerakan yang dibawakan akan bernyawa. Tariannya memiliki roh. Bahasa gampangnya, penari akan memiliki karisma. Ia akan dilingkupi oleh aura yang hidup ketika sedang menari,” tutur Fajar.

Dan apa ang disebut dengan nglakoni atau laku itu bukan proses yang mudah. Fajar menceritakan bentuk laku itu, antara lain menari di puncak gunung Lawu dengan telanjang dada, berendam sungai atau sendang, dan bahkan bersemedi di antara ratusan ekor kalajengking.  Ia tidak sedang mecari kesaktian, tapi sebaliknya belajar tentang  lima elemen kehidupan, yaitu air, api, tanah, cahaya, dan angin. Dari laku itu, Fajar mengaku bisa menemukan kiblat papat lima pancer (dimensi keseimbangan dalam masyarakat Jawa.

“Ketika menari saya merasa sedang berdoa kepada Tuhan. Saya konsentrasi, yakin, tapi sekaligus pasrah,” ujar dia.

Lewat proses seperti itulah pria berambut panjang ini menlengkapi kemampuannya menari. Lebih dari itu, Fajar mengaku dirinya  merasa ku beruntung karena berada di sekitar para empu tari. Sardono W Kusumo, misalnya, adalah orang yang mengenalkan dirinya ke dunia tari profesional.

Ia menyebut guru-gurunya di awal  pergelutannya dengan tari sebagai peletak dasar gerakan tari. Selanjutnya beberapa empu tari seperti Mimi Rasinah, Ketut Ceni, Retno Maruti,  dan Sentot  menyempurnakan apa yang ia miliki.

Sebagai penari, Fajar sendiri terhitung jarang melakukan pentas. Ia bahkan lebih terlihat sibuk sebagai dosen tamu dan memberikan workshop tari, baik di dalam maupun luar negeri. Namun ia selalu terpilih dalam pertunjukan-pertunjukan besar dan fenomenal.

Ia menceritakan keterlibatannya dalam langendriyan Matah Ati pun terhitung belakangan. Awalnya, sang sutradara, Atilah, sedikit pun tidak tertarik karena tubuh Fajar dinilai masih terlalu gemuk untuk seorang tokoh RM Said.

Namun karena semua koreografer merekomendasikan namanya, Atilah akhirnya menantang Fajar untuk menurunkan berat badan. Selama tiga bulan, ia berhasil menurunkan berat badannya 15 kilogram, dan jadilah ia Pangeran Sambernyawa alias Raden Mas Said.

Atilah pun kembali memberi kepercayaan kepada Fajar untuk tampil dalam garapan terbarunya pada Juni mendatang, Romansa Ariah. Padahal selama ini Fajar merupakan penari independen. Bukan penari yang menjadi bagian dari sebuah sanggar tari, teater, atau pun kelompok kesenian  lainnya.

“Sebagai penari independen, maka saya harus selalu menjadi  yang terbaik. Jika tidak, maka tidak akan ada yang mau mengajak saya pentasm” ujar dia.

Tidak heran jika Fajar mengibaratkan panggung pertunjukan sebagai medan pertempuran. Keberhasilan pentas pertama akan membawa ke pentas-pentas berikutnya. Jika gagal, maka harus mengulang dari nol.

Menurut dia, menari bukan sekadar menampilkan keindahan gerak. Menari juga berarti keberhasilan si penari dalam memunculkan roh dan dimensi tariannya.

“Semua tari tradisional mengajarkan keindahan. Dalam tari Jawa klasik misalnya, gerak merupakan cerminan dari apa yang ada di alam. Ada gerakan melambai seperti nyiur  diterpa angin, ada pula pula gerakan gagah layaknya kuda yang bersiaga,” tutur pria berpembawaan ramah ini. (Ganug Nugroho Adi)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: