Missing Link Teknologi Pembuatan Keris “Subandi & Joko, Kumpulkan Pasir Besi Untuk Buat Keris”

Subandi tengah membuat keris di besalen miliknya. Demi mencari ilmu pembuatan keris pada zaman dahulu, Subandi bersama rekannya berburu pasir besi di sungai Bengawan Solo

Subandi tengah membuat keris di besalen miliknya. Demi mencari ilmu pembuatan keris pada zaman dahulu, Subandi bersama rekannya berburu pasir besi di sungai Bengawan Solo

Buat Keris

Seiring dengan kemajuan zaman dan teknologi, jati diri bangsa Indonesia semakin lama terkikis. Hal ini tidak hanya terlihat pada tataran perilaku maupun tata cara berkehidupan masyarakat Indonesia yang seolah hanya mengikuti euforia kehidupan dunia modern, namun terlebih pada hal-hal budaya warisan leluhur yang kini mulai hilang ditelan deras teknologi modern.

Salah satu fakta yang nampak nyata adalah keberadaan keris. Benda yang sudah ditetapkan sebagai World Heritage Of Intangible Culture oleh UNESCO ini merupakan salah satu warisan leluhur yang sarat akan nilai intangible yang menyertainya. Meski demikian, keberadaan keris sebagai warisan dunia, menyisakan tanda tanya besar bagi sebagian kalangan pecinta keris yang hidup di jaman sekarang.

Jika saat ini, para empu atau pengrajin keris memiliki akses, bahan, dan teknologi yang maju dalam membuat keris. Lantas bagaimana dengan proses pembuatan keris pada zaman terdahulu. Bukankah, pada saat itu, belum ada industri besi? Lantas dari manakah, para empu-empu agung, seperti empu Tantular dan empu Gandring mendapatkan besi dan material lainnya, mengingat pada masa itu, teknologi belum semaju sekarang ini. Missing link, ilmu-ilmu kuno dan tradisional dalam membuat keris kini mulai hilang seiring dengan perkembangan industri dan teknologi yang maju cukup pesat.

Ya, hari demi hari, pertanyaan-pertanyaan liar tersebut kian membangkitkan gairah Subandi.  Pria separuh baya yang berprofesi sebagai pembuat keris ini terus membayangkan bagaimana cara empu-empu keris pada sekitar abad 6/7 masehi membuat keris. Mengingat pada masa itu, logam besi belum dibuat secara massal. Hal inilah, yang akhirnya membuat Subandi bersama Joko Suryono, rekannya yang seorang dosen Ilmu perkerisan ISI Solo, mencoba melakukan riset kecil untuk menemukan jawaban tersebut.

Akhirnya setelah melalui rangkaian analisis data dan fakta dari sejarah serta kumpulan cerita-cerita masa lalu, mereka berdua berkesimpulan bahwa logam besi yang dijadikan bahan material utama pembuatan keris berasal dari pasir besi yang ada di dasar sungai di sekitar kerajaan. Maka demi membuktikan analisis tersebut, Subandi bersama dengan Joko berburu pasir di sekitaran sungai Bengawan Solo.

Dengan berbekal aki dan magnet, mereka berdua berburu pasir besi di sekitaran sungai Bengawan Solo yang nampak kering. Dan ternyata memang benar  sesaat setelah menempelkan magnet di pasir, tiba-tiba magnet tersebut langsung dipenuhi dengan pasir warna hitam keabu-abuan. Setelah menyisir beberapa lokasi, mereka berhasil mengumpulkan satu karung pasir besi dengan berat lebih dari 2 kilogram.

Selanjutnya pasir besi tersebut didoakan dengan sesaji  dan uba rampe. Setelah dilakukan ritual, pasir tersebut disaring untuk memisahkan pasir biasa dengan pasir besi. Kemudian langkah setelah itu adalah membakar pasir besi dalam sebuah tungku besar yang dibuat dengan menggunakan batu bata dan tanah liat. Ajaib, setelah beberapa jam dibakar, pasir tersebut menjadi bongkahan besi.

Tidak selesai disitu, bongkahan tersebut kemudian dipukul dengan menggunakan palu, agar menjadi pecahan kecil-kecil. Selanjutnya dimasukkan dalam cetakan dari besi untuk kemudian dipanaskan. Beberapa saat kemudian besi tersebut sudah menjadi bongkahan besi dan siap diolah untuk menjadi bahan dasar keris.

“Apa yang kami lakukan ini merupakan upaya untuk mencoba mencari pengetahuan yang sempat hilang. Yaitu proses pencarian bahan material. Permasalahannya, dahulu kala belum ada industri besi. Maka kami mencoba mencari tahu, bagaimana para empu mendapatkan besi untuk membuat keris,” ujar Joko Suryono di Besalen (tempat pembuatan keris) milik Subandi, kemarin.

Joko mengatakan umumnya setiap kerajaan di pulau Jawa berada dekat dengan aliran sungai. Keberadaan sungai tersebut merupakan tambang bagi kerajaan untuk membuat persenjataan. “Sedangkan sungai Bengawan Solo ini adalah sungai yang ada di wilayah mataram. Maka untuk membuktikan analisis ini, kami berburu pasir di sungai itu. Dan ternyata memang ada pasir besinya,” jelasnya.

Ia mengatakan, keris yang dibuat dengan menggunakan pasir besi dibandingkan dengan keris yang dibuat dengan menggunakan bongkahan besi dari pabrik industri, kualitasnya jauh berbeda. Menurut Joko, keris yang dibuat dengan menggunakan pasir besi memiliki ciri khas yang kuat. “Untuk itu kedepan, saya akan mencoba menggali pasir sungai di daerah bekas Kerajaan Majapahit, lalu kemudian saya bandingkan karakternya dengan pasir yang ada di sungai Bengawan Solo,” katanya.

Sedangkan harga keris yang dibuat dengan menggunakan pasir besi, menurut Joko harganya jauh lebih mahal daripada keris industri atau keris yang dibuat secara massal. Hal ini mengingat selain pembuatannya dengan cara kuno dan sederhana, proses pembuatannya jauh lebih lama karena harus mencari pasir besi. “Jauh berbeda, keris yang dibuat secara massal dengan proses industri dibandingkan keris yang dibuat sebagai sebuah pusaka. Maka untuk harga keris ini, jika dijual harganya bisa lebih dari Rp30 juta,” katanya.

Sementara itu, Subandi mengatakan dari pasir yang diambil, hanya 10 persen yang mengandung besi. Itupun setelah diolah besi, lanjutnya,  beratnya juga akan berkurang. “Kemarin pasir besi totalnya dua kilo. Setelah diolah dan menjadi lempengan hanya 1,5 kilo. Sedangkan untuk pamornya hanya 300 gram,” katanya.

Menurut Subandi, tiap keris mempunyai pamor yang berbeda-beda. Bahkan meski bahan maupun pembuatnya sama, tidak bisa menjamin bahwa pamornya akan tetap sama. “Karena dalam membuat keris itu juga ngolah rasa. Maka hasil keris tergantung dari emosi dan laku dari si pembuat keris,” katanya.  (Damianus Bram)

2 Comments on Missing Link Teknologi Pembuatan Keris “Subandi & Joko, Kumpulkan Pasir Besi Untuk Buat Keris”

  1. ada videonya ga waktu mbengkokin tuh keris… yang sampe ada bekas jari di keris tersebut,.

    Suka

  2. populasi penduduk indonesia 200juta lebih , budaya aseli tergerus budaya import , ini sebuah napak tilas leluhur jawa , keris adalah pisau dengan tajam dua sisi , maknanya sebagai manusia memiliki ketajaman rasa dan intuisi , untuk merombak sesuatu yang kurang baik menjadi sesuatu yang lebih baik demi kesejahteraan generasi penerus bangsa ini , bukan mahir mencontek budaya bangsa asing , yang belum tentu cocok dengan jati diri bangsa ini .
    ayo kita mulai dengan yang kecil namun meyakinkan !

    Suka

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: