Sinden Keliling, Wajah Seni Tradisi di Solo

Mereka duduk di meja pendek di teras warung pecel, menghadap ke  para pengunjung yang siang itu memadati warung. Empat perempuan dan satu laki-laki yang semuanya berusia mendekati senja. Kamiyem (55),  Zainah (70), Sri Mulyati, Suparmi (61), dan Sukimin (72). Yang  perempuan mengenakan kebaya motif bunga yang dipadu selendang warna merah dan biru serta jarik batik dengan rambut disanggul. Sedangkan Sakimin, satu-satunya pria dalam kelompok ini, mengenakan kemeja putih panjang dan berpeci.

Kedua ibu jari Sukimin lincah memetik dawai siter -alat musik tradisional Jawa semacam gitar dengan nada slendro dan pelog (pentatonik, skala lima dana per oktaf). Suara alat musik khas Jawa itu melengking mendayu. Sementara di dekatnya, Kamiyem mendendangkan tembang “Uler Kambang” , bersahut-sahutan dengan Sriyatun.  Dua perempuan lain, Zainah dan Sri Mulyati memberi senggakan di sela-sela jeda tembang.

Kelima orang tua ini adalah anggota “Suka Maju”, sebuah kelompok musik tradisional yang membawakan tembang-tembang Jawa. Mereka bertahan hidup dari satu tanggapan (undangan pentas) ke tanggapan lain. Biasanya mereka diundang tampil dalam acara hajatan seperti pernikahan dan sunatan. “Mereka menyebut kami sinden keliling, karena memang ngamen dari satu tempat ke tempat lain. Pokoknya tergantung yang nanggap. Pernah juga sampai luar kota, Klaten, Boyolali, dan Wonogiri,” kata Zainah.

Jika sedang sepi tanggapan, “Suka Maju” memilih mangkal di warung Pecel Solo di Jalan Supomo, Solo. Dari para pengunjung warung inilah mereka  mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Pada tahun 1970-an, Zainah adalah sinden yang cukup terkenal. Tak jarang suara dan penampilannya menjadi rebutan para dalang masa itu. Namun usia yang terus bertambah akhirnya membuatnya “tersingkir”, kalah bersaing dengan sinden-sinden muda. Bersama teman senasibnya, Kamiyem, Sriyatun, Sri Mulyati dan Sakimin, sejak enam tahun lalu Zainah membentuk grup sinden keliling “Suka Maju”.

“Sinden sekarang sudah beda dengan sinden zaman dulu. Sekarang bayarannya mahal dan bisa masuk tivi (televisi),” kata Zainah di rumah kontrakan “Suka Maju”, di kawasan Pringgading, Banjarsari, Solo, Jawa Tengah.

Dari televisi, Zainah memang mengenal sederet sinden muda yang belakangan sedang naik daun, seperti Sruti Respati, Peni Candrarini, Soimah, dan Rina Sinden.

Kata Zainah, sinden yang pada zaman dulu sebagai penyanyi yang mendampingi dalang, dan  duduknya pun di belakang dalang. Kini sinden  menjadi primadona pertunjukan, menggeser posisi dalang sebagai peran utama.

Masih menurut nenek 8 cucu ini, sinden zaman sekarang tidak lagi sebatas manggung di pertunjukan wayang kulit dan kelompok karawitan, namun juga bisa tampil dalam pertunjukan musik pop, drama, dan  sendratari.

Zainah tidak salah. Saat ini pesinden memang sedang naik daun. Penyanyi perempuan pada musik tradisional (karawitan) Jawa dan Sunda, belakangan ini terus bermunculan. Di tengah zaman yang terus berubah, beberapa dari mereka berhasil menembus pasar hiburan yang selama ini dikuasai musik modern (pop). Layaknya penyanyi pop, para pesinden atau biasa disingkat sinden ini “naik kelas” tampil di televisi, memenuhi undangan konser dan festival internasional.

Wajah Solo

Sinden yang selama ini dikenal sebagai penyanyi dalam musik gamelan dan penyemarak pertunjukan wayang kulit, kini berubah posisi menjadi pemeran utama. Sinden yang tradisional pun menjadi  selebritis, dan tentu saja dengan bayaran yang lebih baik. Di tengah hiruk-pikuk “kemodernan” sinden itulah, sinden keliling  mengais rejeki agar bisa makan.

Kamiyem (56)  sebenarnya belum terlalu tua tua untuk menyandang gelar sebagai mantan sinden. Semakin umur bertambah, suara perempuan ini  Namun, perempuan asal Banjarsari, Solo, Jawa Tengah, ini mulai tersisihkan dari pesona para penari tayub muda.

Ibu rumah tangga ini belajar menyinden saat bergabung dengan perkumpulan ibu-ibu PKK di kampung tempat tinggalnya di Joyotakan, Solo. Saat ketiga anaknya masih kecil, ia menyambi membuat keset. Pernah pula ia berjualan pecel, bakmi, dan lotis untuk menambah penghasilan keluarga.

“Ada seorang kenalan yang kemudian mengajak saya mengamen. Katanya hasilnya lumayan untuk tambah-tambah membayar uang sekolah anak,” ujar ibu tiga anak ini.

Bagi Kamiyem yang tidak pernah mengecap bangku sekolah, melakoni diri sebagai pesinden jalanan memberi hasil yang cukup lumayan buat ekonomi keluarganya. Dalam kondisi tak memiliki keterampilan khusus, Kamiyem juga tak punya banyak pilihan menjalani profesi yang diinginkannya.

“Saya tidak punya keterampilan apa-apa. Tidak punya ijazah. Mau kerja di pabrik sudah tidak ada yang mau pakai tenaga saya karena sudah tua,” papar Kamiyem dalam balutan kebaya brokat hijau dan kain batik lengkap dengan konde di kepala.

Pawirorejo awalnya pembuat siter. Lama-kelamaan ayah enam anak ini malah menjadi pengajar instrumen siter. “Lha saya juga tidak tahu, banyak orang bule datang ke sini minta diajari main siter,” kata Pawirorejo. Kerja di proyek bangunan seperti saat muda tak mungkin lagi, sedangkan pesanan siter sebulan paling 3-4 buah.

“Harga siter saya itu Rp 500.000-Rp 800.000,” kata lelaki tua yang tinggal di Kampung Sambeng, Kelurahan Mangkubumen, Solo, itu.

Sriyatun dan teman-teman sepuhnya itu niscaya tak sekadar mencari sesuap nasi. Mereka menghibur para pencinta pecel di rumah makan itu sembari memperpanjang usia tradisi sastra dan karawitan Jawa.

Sebelumnya, sambil sesekali melempar senyum, Sriyatun menceritakan kisah hidupnya. Sriyatun, perempuan asal Ngawi, Jawa Timur, sudah sekitar 20 tahun menjadi pesinden keliling, termasuk di Kota Solo, Jawa Tengah. Empat tahun terakhir, ia bersama empat rekannya menjadi “musisi” tetap di depan rumah makan Pecel Solo.

Sekilas pandang saja, kelompok tua-tua ini menjadi bagian wajah Solo dan tradisi Jawa yang ngelangut dan antik itu. Penghasilan kelimanya dengan mengamen sejak pukul 10.00 sampai pukul 15.00 atau 16.00 dirasakan lumayan. Dalam sehari setidaknya masing-masing bisa membawa pulang Rp 20.000.

Dengan makan siang disediakan oleh rumah makan Pecel Solo, menurut Sriyatun, setiap hari ia bisa menyisihkan Rp 7.000 setelah mengeluarkan uang untuk makan dan kebutuhan sehari-hari lainnya. “Jika uang sudah terkumpul cukup banyak, saya bawa pulang. Uangnya untuk jajan anak, bayar sekolah, dan ongkos bolak-balik ke kampung dari Solo,” kata Sriyatun di tengah petikan suara siter dan lantunan rekannya menyinden.

Saat pengunjung rumah makan sangat ramai dan murah hati, masing-masing bisa membawa Rp 75.000 dalam sehari, seperti saat Lebaran kemarin. Menjadi pesinden awalnya “kecelakaan” bagi Sriyatun. Ia sebelumnya buruh tani tebu. Lalu, ia diajak temannya ke Jakarta.

“Eee … bukan kerja di Jakarta, malah diajak jadi sinden keliling di Pacitan. Pernah juga saya mengamen di Ngawi. Tapi, di sana sepi. Jadi, kami pindah ke Solo,” ujar Sriyatun yang kini fasih mendendangkan tembang Jawa Caping Gunung, Ali-ali, dan banyak lagi lagu yang mengiris hati.(Ganug Nugroho Adi)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: