Romantisme Dolanan Anak Tempo Dulu

-

 Tujuh anak usia sekolah dasar itu menyanyikan tembang Cublak-cublak Suweng dengan gembira. Wajah mereka tampak riang. Sesekali anak-anak itu tertawa cekikikan. Mereka duduk melingkar dengan lutut ditekuk.

Sambil terus bernyanyi, seorang dari mereka memberikan potongan genteng    kepada teman di sebelahnya yang kemudian diteruskan kepada temannya yang lain. Potongan genteng terus berputar mengikuti tembang, sampai semua anak kebagian. Sementara itu seorang anak  yang lain tertelungkup di tengah lingkaran.

Tembang dolanan yang mereka nyanyikan terus terdengar…

cublak-cublak suweng, suwenge ting gelenter

mambu ketundung gudel, pak gempo lera-lere

sopo ngguyu ndelekakhe, sir.. sir pong dele kopong

 Ketika tembang selesai, semuanya langsung terdiam. Anak di tengah lingkaran tadi bangun. Ia harus harus menebak dengan tepat di tangan siapa potongan genteng tadi berhenti.  Jika tebakannya tepat, anak yang menyimpan potongan genteng harus menggantikan posisinya.

Namun jika salah, anak dalam lingkaran harus menjalani hukuman. Dan kali ini tebakannya salah. Sesuai perjanjian, ia harus berjalan megal-megol (berjalan dengan pinggul bergoyang) menirukan jalan menthok (sejenis unggas). Anak–anak yang lain mengiringinya dengan nyanyian sambil tertawa-tawa…

Menthok..  menthok, tak kandani

mung lakumu, angisin-isini

mbok yo ojo ngetok, ono kandhang wae

enak-enak ngorok, ora nyambut gawe

menthok.. menthok mung lakukumu

megal megol gawe guyu

 Itulah salah satu jenis dolanan bocah tempo dulu (permainan anak tradisional). Puluhan tahun lalu -biasanya pada malam bulan purnama atau malam liburan sekolah- anak-anak memainkannya di tanah kosong di kampung mereka. Bukan hanya Cublak-cublak Suweng, tapi juga permainan-permainan tradisional yang lain, seperti Jamuran, Dakon, Gobak Sodor, Delikan, Engklek, dan Bentengan.

-

Beragam permainan tempo dulu itu, beberapa waktu lalu kembali dimainkan oleh ratusan anak dari delapan sanggar kesenian.  Bukan di atas tanah kosong, melainkan di panggung terbuka Taman Sriwedari, Surakarta, Jawa Tengah, dalam gelaran Festival Festival Dolanan Bocah.

“Sekarang kondisinya sudah jauh berbeda. Festival ini untuk mengenalkan anak-anak zaman sekarang dengan permainan tempo dulu. Ini semacam upaya pelestarian agar permainan anak zaman dulu tidak hilang,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata  Kota Surakarta Widdi Sihanto.

Menurut Widdi, upaya pelestarian ini penting karena permainan anak tempo dulu memiliki nilai-nilai budi pekerti, kebersamaan, gotong royong, kerukunan, dan kedekatan dengan alam. Pada zaman sekarang, tambah Widdi, nilai-nilai luhur semacam itu mulai menipis.

Individual

Anak-anak zaman sekarang lebih akrab dengan game online, play station, mobil-mobilan remote control,  dan bermacam mainan buatan pabrik yang cenderung bersifat individual karena  dimainkan sendiri.

“Permainan modern lebih mengajarkan seorang anak menjadi pemenang. Tidak ada interaksi komunal di sana. Interaksi hanya terjadi antara si anak dan mainan,” ujar pengamat anak sekaligus Ketua Penyelenggara Festival, Esti Andrini.

Esti menambahkan permainan modern cenderung akan membentuk si anak  pada usia dewasa kelak menjadi pribadi yang individualistis, egois, dan sinis terhadap kesetiakawanan, kebersamaan, serta rasa sosial.

Festival yang digelar dua hari ini melibatkan delapan sanggar kesenian di Surakarta, yaitu Meta Budaya, Galuh Art, Eka Santi Budaya,  Sarwi Retno Budaya, Penta Budaya, Arlang Budaya, Sana Budaya, dan Krida Budaya.

-

Menariknya, dalam satu panggung tidak hanya disajikan satu jenis permainan. Ketika permainan utama disajikan, beberapa jenis permainan lain juga tampil seakan-akan menjadi ilustrasi.   Misalnya permainan Jamuran. Ketika permainan tengah berlangsung, di salah satu sudut panggung terlihat dua anak yang bermain dakon. Sementara di sudut yang lain empat anak laki-laki terlihat bermain benthik (permainan mengungkit sebatang kayu dan kemudian melontarkan sejauh mungkin).

Jamuran sendiri merupakan jenis dolanan bocah yang paling populer. Permainan ini  dilakukan oleh lima anak. Empat anak berdiri melingkar bergandengan tangan sambil menyanyikan lagu Jamuran. Sementara itu seorang anak yang lain berdiri di tengah lingkaran.  Ketika lagu berakhir, anak yang berada di dalam lingkaran harus  menjawab tebakan dari anak-anak  yang mengelilinginya. Pertanyaannya berkisar tentang jamur. Itulah alasan mengapa permainan ini dinamakan Jamuran.

“Jamuran yo ge ge tok... Jamur opo yo gege tok.. sira bade jamur opo? teriak anak-anak di ujung nyanyian.

Anak yang di tengah harus menyebutkan salah satu nama jamur yang kemudian akan diperagakan anak-anak di luar lingkaran.  Misalnya jamur kuping. Maka, anak-anak   akan memegang telinganya masing-masing. Tugas si anak dalam lingkaran adalah melepaskan tangan mereka dari telinga. Siapa yang tangannya berhasil diepaskan, ia akan menggantikan posisi masuk ke dalam lingkaran. Permainan pun dimulai dari awal lagi.

Dolanan bocah lain yang tak kalah seru adalah bobak sodor yang konon berasal dari kata go back to the door.  Di panggung terbuka Taman Sriwedari itu, anak-anak memainkan permainan ini dengan gegap-gempita. Mereka terdiri dari dua kelompok.

Lantai panggung disulap mirip arena badminton dengan menaburkan kapur yang berfungsi sebagai garis pembatas ruang. Satu kelompok masuk ke dalam ruang pertama, untuk kemudian berlari memasuki ruang-ruang yang lain. Sesampai di ruang terakhir, mereka harus berbalik ke tempat awal mereka masuk.

Kelompok kedua berjaga di sepanjang garis dengan tugas mencegah lawannya  memasuki ruang. Jika penjaga berhasil menyentuh tangan atau badan kelompok pertama, maka   permainan selesai. Mereka menggantikan posisi masuk ruang.

Semangat Kebersamaan

Tak hanya anak-anak, puluhan orang tua pun menyaksikan festival ini. Banyak di antara mereka yang mengaku merasa sentimentil karena teringat masa kecil. Mereka yang mengalami masa kanak-kanak pada era tahun 1970-an sampai 1980-an memang masih mengalami kemeriahan dolanan bocah tradisional ini. Setelah era itu, dolanan bocah seperti lenyap berganti dengan permainan pabrikan.

“Masa kecil saya tinggal di desa.  Hiburannya ya hanya jamuran, gobak sodor, dakon, atau jelungan (petak umpet). Maklum waktu itu belum ada listirk dan televisi. Kalau malam bulan purnama suasana tambah ramai karena semua anak kecil keluar rumah,” kata Handoyo (50).

Menurut Esti, festival ini bukan sekadar pelestarian budaya. Lebih dari itu, festival menjadi semacam media untuk menanamkan semangat rasa kebersamaan, gotong royong, dan kerja sama.

“Dolanan bocah seperti gobak sodor, lompat tali, congklak, dan benthik bisa membuat anak-anak berinteraksi dan aktif bergerak,,” tutur Esti.

Namun permainan anak tradisional terlanjur tergerus zaman, tergantikan oleh permainan modern seperti playstasion dan angry bird. Berulang kali festival, parade, atau pun kontes  permainan anak tradisional digelar. Apa mau dikata, keberadaan  dolanan bocah tempo dulu pada akhirnya selalu hanya menjadi semacam romantisme bagi mereka yang pernah melakukannya.

-

Festival yang diharapkan bisa menjadi media menanamkan nilai-nilai permainan tradisional tak pernah diikuti dengan kegiatan lain yang berkesinambungan. Alhasil begitu  festival berakhir, dolanan bocah seolah terbang ke sarangnya di masa lalu.  Anak-anak masa kini pun segera kembali pada permainan mereka sehari-hari; games online, playstasion, gadget, boneka barbie, dan mobil tamiya.

Mereka mungkin baru akan kembali memainkan gobak sodor, bentengan, egrang, dakon, dan jamuran setahun mendatang pada festival berikutnya. Memang perlu komitmen serius jika ingin menanamkan nilai-nilai mulia doalanan bocah tempo dulu kepada anak-anak zaman sekarang. (Ganug Nugroho Adi)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: