Rahayu Supanggah: Maestro Gamelan

-

 IA telah membawa musik gamelan pentas ke  lebih dari 40 negara sekaligus mengajarkannya ke hampir semua negara yang pernah ia kunjungi. Ia juga banyak melakukan kolaborasi dengan seniman dunia, mulai musisi, desainer, skenografer (peñata panggung), koreografer, dalang hingga sutradara film. Lebih dari itu, dialah yang mengenalkan sekaligus mengangkat musik tradisional gamelan ke dunia internasional, lebih dari 30 tahun lalu.

Rahayu Supanggah. Nama ini memang sudah identik dengan musik gamelan. Padahal, ketika remaja dulu, Panggah pernah menolak apa pun yang berkaitan dengan gamelan sebagai profesinya.

“Saya bahkan pernah memiliki masa-masa sangat membenci gamelan. Gara-gara gamelan cita-cita saya menjadi insiyur bangunan gagal,” kenang Panggah.

Lahir di keluarga dalang, mau tidak mau Panggah sudah akrab dengan perangkat gamelan sejak kanak-kanak.  Ayahnya, Gondo Saroyo, adalah dalang kondang di Boyolali, sedangkan ibunya, Jami, seorang penabuh gender (salah satu perangkat gamelan) yang andal.

Di rumah yang sekaligus dijadikan sanggar, setiap hari Panggah  menyaksikan puluhan orang kru gamelan ayahnya latihan. Di sanggarnya pula sang ayah membuka pelatihan bagi mereka yang ingin belajar kesenian tradisional Jawa, mulai waranggana, penabuh gamelan, sinden hingga dalang.

Sampai sebelum masuk sekolah konservatori (SMK jurusan Karawitan) di Solo, Panggah mengaku tidak pernah belajar gamelan secara formal. Namun anehnya, ia selalu lebih pintar dari mereka yang belajar di sanggar ayahnya.

“Hanya dari mendengar, saya langsung bisa memainkannya. Mungkin karena bakat,” ujar Panggah yang kini guru besar di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.

Momen Penting

Lahir di Klego, Boyolali, 29 Agustus 1949, Panggah mengikuti misi kesenian ke luar negeri dalam usia yang relatif masih sangat muda, 15 tahun. Semua berawal dari ketidaksengajaan. Ketika itu, tahun 1964, sekolah konservatori tempatnya menuntut ilmu sedang mempersiapkan sebuah repertoar gamelan untuk acara pembukaan Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI).

“Guru dan senior saya bingung, karena salah satu penabuh gamelan inti tidak bisa main. Akhirnya saya diminta menggantikannya,” kenang dia.

Seusai pertunjukan, Priyono (Menteri Kebudayaan yang meresmikan ASKI ketika itu) langsung menunjuk Panggah agar ikut dalam rangkaian misi kesenian Indonesia ke Jepang, Korea dan China. Inilah momen yang membelokkan jalan hidup Panggah.

“Itu momen terpenting dalam hidup saya. Sepulang dari misi itu, saya mulai serius menekuni gamelan. Saya ingin mengangkat seni tradisi ke tingkat dunia,” kata suami dari Sundari ini di rumahnya, Kampung Benowo, Ngringo, Kecamatan Jaten, Karanganyar.

Dari Sekolah Konservatori Karawitan, Panggah melanjutkan ke ASKI Surakarta yang kemudian ia rampungkan pada awal tahun 1970-an. Selepas dari ASKI, ia tinggal di Australia selama dua tahun (1972-1974) menjadi guru  karawitan. Selanjutnya sepanjang tahun 1976 Panggah pestas keliling Eropa, menyinggahi Jernam (Barat), Perancis, Belanda dan Swis.

Tahun 1979, Panggah menciptakan reportoar “Gambuh” yang menggegerkan forum Pekan Komponis-Dewan Kesenian Jakarta. Reportoar itu pula yang membawanya pentas di Royal Albert Hall bersama London Symphonieta Orchestra.

“Saya itu mau disebut apa saja terserah. Mau komposer, penabuh  gamelan, pengrawit.. bagi saya yang penting bermusik dengan sebaik-baiknya. Bermain musik itu intinya menjaga harmonisasi. Ketika kita bermain dengan musisi lain, kita harus menghargai saru dengan lainnya,” kata Panggah yang meraih Best Composer dalam SACEM Film Festival Nantes di Perancis (2006), Best Composer dalam Film Festival Asia di Hongkong (2007), Best Composer dalam Festival Film Indonesia di Jakarta (2007), serta Best Composer dalam World Master on Music and Culture di Seoul, Korea (2008).

Lewat film “Opera Jawa” garapan Garin Nugroho, ia menyabet predikat sebagai komposer terbaik dalam tiga festival sekaligus; Festival Film Asia Pasific, Festival Film Indonesia, dan Asia Film Award.

Awal tahun 1980-an Panggah mengambil gelar doktoral bidang Etnomusikologi di Universite de Paris VII. Selama periode 1980-1990-an, Panggah mengenal dan melakukan kerja sama kreatif dengan sejumlah sutradara terkenal, seperti  Barbara Benary, Jody Diamond, Toshi Tsuchori, Phillip Corner, Katsura Kan dan  Warner Kaegl.

Di dalam negeri, ia  sering berkolaborasi intensif dengan sejjumlah seniman penting, seperti  Suprapto Suryadarmo, Jun Saptohadi, Suka Hardjana, Sardono W Kusuma, Garin Nugroho, Dwiki Dharmawan dan Idris Sardi.

“Saya belajar musik dengan meresapi ruh musik itu sendiri, bukan  bukan fisiknya.   Musik itu bukan sekadar estetika, tetapi sebagai perangkat budaya.  Ia adalah filosofi kehidupan,” ujar  musisi yang Agustus tahun 2010 lalu mendapat penghargaan Bintang Budaya Parama Dharma dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Mengangkat Citra Gamelan

Keinginannya  mengangkat gamelan ke level dunia benar-benar tercapai. Lewat karya-karyanya, ia mengenalkan gamelan ke dunia internasional. Komposisinya menjadi bagian utama pergelaran epos panjang dalam sastra Bugis, “I La Galigo”, garapan sutradara kenamaan Robert Wilson.

Panggah juga melakukan kolaborasinya dengan Kronos, sebuah grup kwartet gesek Amerika paling bergengsi. Karya-karya spektakuler lainnya adalah opera   “Mahabarata”, “King Lear”, “Opera Jawa” (2006) dan Purnati (2009).

“Musik tradisi bukanlah sebuah harga mati. Ia justru memiliki  kekuatan luar biasa. Seperti mutiara, agar kekuatan itu berkilau ya harus digosok.  Jika statis, ia akan ditinggalkan masyarakatnya,” ujar Ketua STSI Surakarta (1998-2003) sebelum akhirnya menjadi Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.

Persentuhannya dengan banyak musisi membuat bapak tiga anak (Bontos, Gandang dan Wirid) ini tak hanya  menguasai gamelan Jawa, Bali, dan Makasar, namun juga memahami musik tradisional Jepang dan Perancis. Tak heran jika Panggah banyak menciptakan pamijen (komposisi yang dalam gamelan).

“Ada yang menganggap pamijen itu melanggar pakem. Tapi ini saya lakukan agar music tradisi tidak statiis. Dalam garapan saya, pamijen ini justru  yang berkuasa dalam sebuah orkestrasi,” turur Panggah yang tahun depan akan kembali pentas keliling ke Jerman, Swis, Inggris, dan Malaysia.

Di tengah kesibukannya mengajar di almamaternya, Panggah juga masih rutin memberi workshop gamelan dan dosen tamu di Amerika, Australia, serta  beberapa negara di Eropa.

“Di Amerika kini sudah ada 600 set gamelan, kemudian di Inggris  terdapat 100 set. Dulu gemelan hanya pentas lesehan, tapi sekarang bisa pentas di gedung teater paling bergengsi di dunia,” ujar musisi yang tetap sederhana ini.

Toh di antara kesibukannya itu, Panggah tetap bisa meluangkan waktu untuk menikmati suasana pedesaan di sekitar rumahnya di tepian Sungai Bengawan Solo, sambil menikmati kegemarannya yang lain, merawat tanaman dan hewan-hewan piaraan seperti burung, anjing, kucing dan ikan.

”Tanaman, ikan dan burung-burung itu menenangkan hati. Hidup itu harus dinikmati,” ujar pria yang mengagumi cerita pewayangan “Dewa Ruci” ini.(Ganug Nugroho Adi)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: