Dewi Candraningrum: Perempuan telanjang, simbolisme ekologi yang rusak

DEWI1 CANDRANINGRUM -2- SOLOGRAFI.COMLahir di Boyolali, 12 September 1975, Dewi Candraningrum tidak pernah bercita-cita menjadi pelukis. Namun tanggal 26-31 Agustus lalu, ia memamerkan seratusan karya lukisnya bersama sang anak, Ivan Ufuq Isfahan (13).  Para pengunjung pameran pun terkesima dengan lukisan karya kolaborasi ibu dan anak itu.


“Biasanya orang tua melahirkan anak-anaknya. Tapi kali ini seorang anak melahirkan ibunya. Ivan yang melahirkan saya sebagai pelukis,” kata Dewi di  rumahnya, Colomadu, Karanganyar, Jawa Tengah.

Tentang Ivan yang melahirnya dirinya itu Dewi tidak sedang bercanda. Ivan adalah seorang anak dengan sindrom autis. Dalam kondisi mental seperti itu, Dewi harus menyiapkan segala sesuatu ketika Ivan hendak melukis, mulai menyiapkan kanvas, mencampur cat, dan bahkan akhirnya Dewi ikut memberikan sentuhan akhir pada lukisan-lukisan Ivan.

“Selama bertahun-tahun saya melakukan itu. Saya akhirnya ketagihan melukis. Sekitar dua tahun lalu saya mulai ikut-ikutan melukis, dan hasilnya ya seperti sekarang ini. Jadi Ivan yang melahirkan saya sebagai pelukis,” tutur pengajar Sastra Perempuan   di Fakultas Sastra Inggris, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).

Ada sebagain orang tua yang malu memiliki anak yang mengalami sindrom autis. Mereka sering meninggalkan anak yang autis di rumah bersama pembantu rumah tangga, sementara bersama anak-anaknya yang normal mereka pergi ke mal, taman bermain, dan mengunjungi saudara. Ketika ada tamu di rumah, mereka dengan cepat mengurung anaknya yang autis agar  tidak terlihat.

“Alasan pertama biasanya malu. Malu anaknya tidak normal, malu anaknya akan membuat ulah dan membuat repot orang-orang sekelilingnya. Ketidaktahuan menghadapi anak  autis membuat para orang tua frustasi lalu memilih menganggap anaknya tidak ada,” ujar Dewi yang menyelesaikan program master  Kajian Perempuan di Monash University, Australia.

Sempat shok

Bagi perempuan single parent ini, dalam kondisi apapun Ivan merupakan hadiah terbaik yang diberikan Tuhan.  Ia mengaku sempat shok ketika pertama kali mengetahui anak yang dilahirkannya mengalami sindrom autis. Namun ia segera berhasil megatasi tekanan itu dan mulai menyusun rencana menghadapi hari-hari yang sulit yang bakal dilalui Ivan.

“Jujur dan terbuka kepada orang lain mengenai kondisi anak kita yang autis akan meringankan beban.  Saya tidak pernah menutup-nutupi kondisi Ivan yang autis,” kata dia.

Bahkan jika kondisi memungkinkan, Dewi acap kali membawa Ivan pergi bersama; sekadar jalan-jalan, tamasya, menghadiri hajatan, arisan, atau pun datang ke acara pertemuan keluarga. Tanpa  merasa malu, risih, apalagi merasa repot.

Dewi sendiri menanggkap gejala-gejala autis pada Ivan sejak awal. Ketika lahir, misalnya, Ivan tidak menangis layaknya bayi-bayi lain  yang baru lahir. Ada enam bayi lain yang lahir bersamaan dengan Ivan, dan semuanya menangis. Tapi Ivan tidak. Ketika menyusu, Ivan juga tidak pernah melihat mata saya. Pandangannya selalu menerawang ke arah lain.

“Menghadapi anak autis itu membutuhkan perhatian dan energi ekstra. Bukan dengan memberikan materi berlimpah, tapi  kesabaran dan kasih sayang yang panjang,” kata Dewi yang meraih gelar doktoral di Universitas Muenster, Jerman.

Dewi mengungkapkan membentuk perilaku positif seorang anak autis tidak bisa  dengan cara kekerasan. Sikap anak autis yang bagi orang normal menjengkelkan itu muncul karena adanya gangguan pada perkembangan neurobiologis.

“Anak-anak autis sangat membutuhkan bantuan mengatasi sulitnya berkomunikasi, dan berinteraksi dengan lingkungannya. Percayalah, anak autis tidak pernah berniat untuk menjadi pembangkang. Kita harus memiliki kesabaran yang berlebih. Itu kuncinya,” ujar Dewi yang juga sebagai dosen tamu di Kajian Perempuan,  Program Pasca Sarjana Universitas Indonesia (UI).

Merasa terlahir lagi

DEWI1 CANDRANINGRUM SOLOGRAFI.COMMenjadi pelukis, dan kemudian pameran membuat Dewi merasa seperti terlahir kembali.  Selama ini, anak dari pasangan Soekirno dan Dewi Ngaenah ini dikenal sebagai aktivis perempuan. Ia merupakan anggota Dewan Redaksi Jurnal Perempuan, dan salah satu pendiri Jejer Wadon, sebuah forum diskusi tentang perempuan di Surakarta. Ia banyak terlibat dalam berbagai gerakan yang memperjuangkan nasib perempuan.

Dengan kesibukannya sebagai aktivis perempuan, tak heran jika tema-tema perempuan begitu kental mewarnai karya-karya lukisannya.  Masalah perempuan memang menjadi salah satu perhatiannya sejak remaja.

“Saya lahir bungsu dari tiga bersaudara di tengah keluarga Jawa yang patriarkis. Dua kakak saya semuanya laki-laki. Saya merasakan perbedaan kebebasan sejak anak-anak. Tentu saja kakak-kakak saya lebih mendapatkan kebebasan dibanding saya yang perempuan,” ujar dia.

Ia mencontohkan kakak-kakaknya bisa bermain dan pulang malam. Sementara dirinya harus sudah ada di rumah sebelum petang. Kedua kakaknya boleh membawa sepeda motor sendiri ke sekolah, sedangkan dirinya harus dibonceng atau naik angkutan umum.

Selain perbedaan kebebasan, lanjut Dewi, investasi orang tua kepada anak perempuan tidak sebanyak laki-laki. Dia mencontohkan dua kakaknya kuliah dengan biaya dari orang tua, sementara dirinya harus melalui beasiswa. Beruntung meski sebagai anak bungsu, Dewi tidak manja.

“Apa yang saya pelajari di perguruan tinggi kemudian membantu saya dalam menyikapi apa yang terjadi, terutama masalah perempuan,” kata Dewi yang juga aktif di International Journal of Indonesian Studies (IJIS) di Monash University, Melbourne, Australia.

Di Jurnal Perempuan, Dewi bersama para penganut feminisme lainnya banyak melakukan penelitian, dan menerbitkan jurnal  yang bermuara pada upaya memajukan hak perempuan.

Dewi memang selalu bersemangat jika membicarakan masalah perempuan. Ia mengungkapkan telah terjadi pergeseran dalam memandang tubuh perempuan. Pada abad kuno, tubuh perempuan disucikan, ditabukan, dan tidak didiskusikan. Tubuh perempuan diposisikan sebagai Ibu Ratu yang merupakan awal  peradaban manusia.

Bahkan dalam pelacuran di kuil suci, tubuh perempuan dihargai dengan tinggi karena dianggap suci. Hal yang sama juga terjadi pada penari Tayub. Hubungan  seksual antara penari dan pemegang selendang adalah sakral. Tidak heran jika para lelaki berebut untuk mendapatkan darah perawan sang penari.

“Pada abad modern, pandangan masyarakat atas tubuh dan seksualitas telah bergeser. Dari yang suci dan sakral  menjadi murahan.  Perempuan dijajar di mal dan supermarket. Kecantikan mereka didikte oleh produk kosmetik dan fashion, bukan  diukur dari integritas dan karya,” ungkap dia.

Konsep tubuh, menurut Dewi, tak bisa dilepaskan dengan ekologi. Bahwasanya tubuh adalah representasi dari bumi. Namun kini bumi telah rusak karena budaya tidak berpihak pada keseimbangan ekologi. Pada gilirannya, kerusakan lingkungan membawa imbas pada rusaknya tubuh-tubuh. Budaya telah mengasingkan manusia dari tubuhnya sendiri.

Menurut Dewi, krisis ekologi telah memunculkan abnormalitas baru pada tubuh, melahirkan penyakit-penyakit baru seperti kanker, kolesterol, asam urat dan sebagainya.

Perempuan-perempuan telanjang pada banyak karya lukisnya, itulah simbolisme ekologi yang telah rusak. “Itulah alasan saya banyak melukis tubuh telanjang perempuan. Bukan pornografi yang saya titipkan, tapi tubuh dalam hubungannya dengan ekologi tadi,” jelas  Dewi tentang . (Ganug Nugroho Adi)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: