Joleno: Kesetiaan pada ketoprak

Pada dekade 1970-an,  Joleno pernah merasakan masa keemasan sebagai pemain ketoprak. Setiap malam ia tampil di panggung dengan penonton yang berjubel. Bukan hanya uang yang ia dapatkan, tapi juga puja-puji para penggemarnya.  

Pemain Ketoprak Joleno soloraya.com

Joleno

Namun selepas tahun 1980-an tontonan ketoprak mulai terpinggirkan. Para penggemar ketoprak mulai bergalih ke televisi dan bioskop. Panggung pun lengang. Kursi-kursi kosong tanpa penonton. Undangan pentas pun mulai jarang datang. Para pemain ketoprak seperti terjatuh dari ketinggian.

“Ketika jaya, saya bisa makan apa saja yang saya inginkan. Tapi saya juga pernah berbagi makan dengan ayam ketika ketoprak mulai tidak laku,” kata dia.

Namun pria bernama asli Muhammad Sahid ini tidak kapok.  Bahkan ketika pamor ketoprak semakin tenggelam pada era tahun 2000-an, ia bersama beberapa seniman perunjukan justru mendirikan sebuah grup ketoprak di Solo atau Surakarta, Jawa Tengah, yaitu Ketoprak Ngampung. Sebuah pergelaran ketoprak dengan kemasan baru ia tampilkan; nakal, ringan, dan penuh dengan humor.

“Kami namakan ketoprak ngampung, karena ketoprak ini pentas dari kampung ke kampung. Kami tidak mempunyai markas tetap,” kata Joleno seusai pentas di Pendapa Sriwedari beberapa waktu lalu.

Angkat kehidupan riil masyarakat

Joleno memberi sentuhan gaya teater modern, namun tetap memmpertahankan  gaya ketoprak tobong yang menjadi akar dari para pemainnya. Bentuk-bentuk komedi diadopsi dari Lenong Betawi, dan dagelan gaya Yogyakarta. Ia juga menyisipkan atraksi silat dan kungfu dalam setiap adegan perang tanding.

Berbeda dengan kelompok ketoprak yang pada umumnya menceritakan lakon-lakon dari Babad Jawa (cerita kerajaan), Ketoptak Ngampung justru menampilkan  cerita dari kehidupan sehar-hari masyarakat pedesaan. Konflik-konflik sederhana seputar hewan ternak, pembangunan pasar modern, dan pemilihan kepala desa menjadi bahan garapan ketoprak ini.

“Ketoprak itu sebuah dunia kecil, tapi nyata. Dari menonton ketoprak kita bisa melihat bagaimana sesungguhnya kehidupan orang-orang desa.  Menurut saya, sebelum menjadi pejabat seseorang harus sering menyaksikan pentas ketoprak, terutama para calon anggota dewan, calon gubewnur, dan calon bupati,” kata Joleno.

Lahir di Solo, 10 Maret 1962, Joleno tumbuh dan besar di lingkungan ketoprak tobong. Ayah dan ibunya adalah pemain ketoprak Siswo Budoyo, sebuah ketoprak  legendaris asal Tulung Agung, Jawa Timur.

Tak heran jika sejak kecil ia sudah akrab dengan ketoprak, termasuk elemen di dalamnya; gamelan, gending-gending Jawa, tembang macapat, juga wayang kulit dan wayang orang. Ketika kelas V SD, ia sudah fasih memainkan beberapa perangkat gamelan, seperti kendang, kenong, gambang, bonang, dan gong. Ia juga bisa menyanyikan  puluhan tembang macapat dan gending Jawa dengan sangat indah. Menariknya, semua itu ia pelajari secara otodidak.

“Kesenian itu masalah rasa, bukan teknik. Saya beruntung sejak kecil hidup di tengah-tengah para seniman tradisi,” ujar dia.

Cara hidup orang Jawa  

Joleno paham lingkungan sekitarnya bukan hanya mengenalkan kesenian tradisi sebagai tontonan, tapi juga mengajarkan bagaimana cara orang Jawa hidup dengan sesama, alam, dan hubungannya dengan Tuhan.

Selepas SMP, ia mengikuti jejak ayah-ibunya sebagai pemain ketotprak di Siswo Budoyo. Pada usia yang masih belia itu, ia tampil dari kota ke kota di sepanjang pesisir, seperti Gresik, Tuban, Rembang, dan Pati.

Sebagai ketoprak tobong, Siswo Budoyo memang selalu pentas berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain, termasuk panggung, perlengkapan gamelan, dan tempat tinggal para pemainnya.

“Sekolah saya berantakan karena selalu pindah-pindah kota. Saya baru bisa  sekolah dengan benar ketika orang tua menetap di Solo bergabung di komunitas ketoprak tobong Balekambang,” tutur dia.

Tahun 1979, ia kembali mengikuti jejak orang tuanya bergabung di tobong yang sama. Di tempat inilah Joleno bertemu dengan hampir semua bintang  Srimulat ketika itu, seperti Gepeng, Timbul, Basuki, dan Djudjuk Djuariah. Pengalamannya tampil satu panggung ketoprak dengan para pelawak Srimulat membuatnya semakin piawai menguasai panggung.

“Mereka sangat luar biasa. Saya banyak belajar improvisasi, belajar bagaimana membuat sebuah tontonan tidak kaku dan  selalu segar,” ujar dia.

Joleno menuturkan selama puluhan tahun ia tinggal di tobong -sebuah gedung yang  tak terpakai di Taman Balekambang. Tidak ada rumah lain.  Hingga akhirnya tobong harus dirobohkan karena program revitalisasi Taman Balekambang di awal masa Joko Widodo alias Jokowi menjadi Walikota Surakarta  (2006). Seluruh pemain ketoprak direlokasi ke Kampung Kipang, kawasan Banjarsari, Solo. Praktis pentas rutin ketoprak di Balekambang terhenti. Namun kondisi ini justru menumbuhkan ide bagi Joleno untuk terus menghidupkan pentas ketoprak.

“Karena tidak punya tobong lagi, maka kami pentas dari kampung ke kampung. Pentasnya kemudian kami namakan ketoprak ngampung. Saya kumpulkan teman-teman yang kebetulan berada di satu lokasi untuk kembali pentas,” tutur Joleno.

Alhasil, sejak tahun 2007 Ketoprak Ngampung pentas keluar-masuk kampung. Panggung mereka bisa di mana saja; pendapa kantor kelurahan, lapangan bola, perempatan jalan, dan bahkan pinggir sawah.

Begitulah, ketika gedung pertunjukan sudah tak lagi bisa untuk pentas setiap malam, Joleno dan para seniman ketoprak di Solo mencari pangung lain. Dengan memberi sentuhan teater modern, lenong Betawi, dagelan, atraksi silat, kungfu dengan iringan musik kontemporer, Ketoprak Ngampung menyuguhkan tontonan ketoprak yang berbeda dari pentas ketoprak pada umumnya.

Menurut Joleno, konsep Ketoprak Ngampung adalah memberi hiburan kepada masyarakat. Di tengah cerita utama terdapat guyonan tentang kenaikan harga BBM, korupsi pejabat, kenaikan harga sembako, kios yang digusur, dan banjir.

“Ini cara kami melestarikan ketoprak di tengah maraknya sinetron, konser musik, kemeriahan kafe, dan hiburan modern lain. Kami ingin menunjukkan bahwa ketoprak masih ada di Solo,” ujar dia.

Menariknya, penonton tidak diwajibkan membayar nominal tertentu seperti ketika menyaksikan pentas ketoprak di gedung. Mereka cukup mengisi kotak secara  suka rela sesuai kemampuan dan keikhlasan. Jika diundang pentas, mereka memasang tarif antara Rp 2 juta hingga Rp 3 juta.

“Hasilnya memang tidak seberapa. Hanya habis untuk makan.  Tapi ketoprak tetap hidup,” ujar Joleno, enteng.

Seperti halnya kesenian tradisional lain, kata dia, ketoprak akan sulit diterima oleh masyarakat masa kini jika kemasan tidak berubah. Nasib seperti itu juga berlaku untuk wayang orang, wayang kulit, dan kesenian tradisional lain.

“Di masa sekarang, pelaku seni tradisi harus mampu melakukan inovasi. Harus terus membaca dan mengikuti perkembangan, dan pintar mengkolaborasikan antara yang pakem dan yang modern. Jika tidak, semuanya akan berhenti sampai di sini,” kata dia.

Bagi sebagian orang barangkali aneh. Tapi itulah Joleno. Ia lebih memilih hidup untuk ketoprak dengan cara pentas dari kampung ke kampung, dari satu kota ke kota lain.

Ia terus mencari ide-ide segar agar ketoprak terus hidup dan ditonton, tanpa  memikirkan apakah seni pertunjukan tradisional ini bisa menghidupi atau tidak. Bagi dia ketoprak ibarat ritual, bukan tempat untuk mendapatkan penghasilan.

“Semua ini karena panggilan jiwa. Kalau sudah begini ya sulit untuk menjelaskannya,” kata pria yang juga sering menjadi pemain tambahan di pentas-pentas wayang orang serta  mengisi dagelan dalam pagelaran wayang kulit ini.

Joleno tidak mempunyai keinginan bahwa suatu saat ketoprak akan menjadi kesenian yang besar seperti masa-masa puluhan tahun lalu. Ia hanya memiliki mimpi sederhana; ketoprak tidak mati dan tetap memiliki penonton. (Ganug Nugroho Adi)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: