Waluyo Sastro Sukarno: Antara Tembang, Adzan, dan Dakwah

KETIKA kanak-kanak hingga sekolah menengah, Waluyo Sastro Sukarno tak pernah berpikir akan menjadi pengrawit, sinden, dan penembang (pelantun) macapat –sebelas  tembang tradisional Jawa, yaitu maskumambang, mijil, sinom, kinanthi, asmarandhana, gambuh, dhandhanggula, durma, pangkur, megatruh, dan pocung.

Cita-citanya hanya satu, menjadi camat. Alasannya pun sederhana, karena terpesona dengan  mobil VW Safari (lebih dikenal dengan sebutan VW Camat), kendaraan  mobil dinas sang camat. Bukan karena sosok camat yang necis, berwibawa, dan dihormati banyak orang.

Waluyo Sastro Kabar Soloraya
“Saya merasa bentuk mobil itu unik, berbeda dengan mobil-mobil lain yang pernah saya lihat,” kenang Waluyo di rumahnya, Dusun Kaplingan, RT 2 RW 20, Jebres, Solo, Jawa Tengah.

Hingga menjelang tamat SMA, keinginan menjadi camat masih  terpelihara dengan baik di benak Waluyo. Ia bahkan mulai merencanakan jalur kuliah yang tepat untuk mencapai cita-citanya, yaitu  Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN –kini Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri,  STPDN) kemudian Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN).

Hingga suatu hari dua guru keseniannya, Miyadi dan Soedjito, memberikan gambaran lain atas pilihan-pilihan. Kedua gurunya seperti mengingatkan bakatnya nembang yang di atas rata-rata, sehingga sayang kalau tidak dikembangkan.

“Mereka tidak memaksa, hanya memberikan gambaran. Sikap itu justru membuat saya berpikir tentang cita-cita lain di luar camat,” ujar bapak empat anak ini.

Tawaran dari kedua guru SMA-nya itu memang bukan tanpa alasan. Sejak SD, bakat nembang Waluyo memang menonjol. Dia adalah langganan juara nembang macapat, nyinden dan keroncong, meski hanya dalam event Pekan Olah Raga dan Kesenian (Porseni) tingkat kabupaten. Saat SMP dan SMA, Waluyo juga selalu menjadi anggota vokal grup dan  paduan suara sekolah. Ia memiliki banyak piala dan piagam penghargaan di bidang tarik suara, termasuk penghargaan sebagai muadzin terbaik dalam beberapa kali lomba adzan di Blora. Saat sekolahnya mengikuti lomba vocal grup di Solo tahun 1979, gurunya mengajaknya ke Akademi Seni Kerawitan Indonesia (ASKI –kelak menjadi STSI dan kini Institut Seni Indonesia, ISI Surakarta).  Setamat sekolah menegah, Waluyo akhirnya masuk akademi kerawitan itu. Pria berpenampilan kalem dan santun ini mengaku sempat minder, karena hampir sebagian besar temannya kuliah di fakultas hukum, teknik, mesin kedokteran dan ekonomi.

“Saya minder, kuliah kok di kerawitan. Tapi saya harus realistis. Ekonomi orang tua pas-pasan, jadi lebih baik memilih yang hampir pasti saja. Setelah lulus, saya ingin mengajar di SMA almamater seperti yang ditawarkan Pak Miyadi,” ujar Waluyo yang kini dosen Jurusan Kerawitan di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.

Baca juga  Riwayat Pakubuwono II (2): Raja Jawa dalam Genggaman Serikat Dagang Belanda

Lahir di Blora,  21 Agustus 1962, Waluyo sebenarnya tumbuh di lingkungan keluarga yang relatif jauh dari dunia kesenian. Ayahnya, Sastro Sukarno, adalah kamituwo (kepala dukuh) yang tidak memiliki minat pada dunia seni. Demikian pula ibunya, Srining (almarhumah). Dia menyebutkan guru nembang pertamanya adalah radio.

“Waktu kecil saya sering mendengarkan orang nembang macapat,   kerawitan, dan semua lagu termasuk pop  dan keroncong di radio. Saya sering menirukan, dan  kata temen-teman tidak fals ,” tutur Waluyo.

Tentang cengkok-nya yang khas, kata Waluyo, dirinya tidak pernah belajar secara khusus. Cengkok yang mengalun panjang itu,  menurut dia, terbentuk dengan sendirinya, barangkali karena sejak kecil ia sering mengumandangkan adzan.

“Bahkan selama kuliah, saya menjadi muadzin selama delapan tahun di masjid keraton. Sampai sekarang saya juga masih sering adzan di masjid perumahan. Adzan itu  juga seni suara, bagus untuk melatih vokal,” kata suami dari Heni Nuril Muharamiwati, seorang guru  SMP.

Tamat dari ASKI, Waluyo tak hanya menguasai tembang, namun juga tetabuhan sekaligus mencipta gending dan tembang. Pergaulannya yang inten dengan para seniman di Solo, seperti pengrawit Rahayu Supanggah, koreografer Sardono W Kusumo, Suprapto Suryodharmo, musisi Wayan Sadra, dan komunitas macapatan di Kraton Surakarta semakin membuat bakatnya berkembang.

“Almarhum Pak Wiradi (mantan rektor ISI Surakarta) adalah orang yang berjasa menumbuhkan semangat sejak saya masih kuliah di ASKI.  Dia salah satu orang yang ikut membentuk saya menjadi seperti sekarang ini,” kata Waluyo.

Tahun 1991, Waluyo mengikuti Pekan Kebudayaan Indonesia-Amerika di New York, Amerika Serikat, dan Canada. Karyanya yang berjudul “Cangkem” (sebuah ensemble vokal) ketika itu mencengangkan banyak peserta festival.   Dua tahun kemudia dia diundang kembali ke New York dalam dalam Next Wave Festival,  dan Tahun 1994 pentas dalam Cultur Global Festival di Osaka Jepang.

Sepanjang tahun 1995 hingga 2000 Waluyo mengikuti berbagai festival, antara lain Festival of Asean Performing Arts di Singapura (1995),  International Gamelan Festival di Yogyakarta (1995),   Hongkong Arts Festival (1996), Pacific Music Festival di Sapporo Jepang (1999), serta Indonesian Dance Festival,  Taman Ismail Marzuki Jakarta ( 2001). Akhir tahun 2010 lalu, Waluyo menjadi co-composer membantu Rahayu Supanggah menggarap musik teater “Opera Jawa: Tusuk Konde” dalam International Gamelan Festival, memperingati 100 tahun Tropen Museum di Belanda.  Sebelumnya, tahun 2008 dan 2009, Waluyo mengikuti berbagai festival musik di Swis, Paris dan New York, Amerika Serikat.

Baca juga  Rahayu Supanggah: Maestro Gamelan

Di sela-sela kesibukannya mengajar, tahun 1996 Waluyo menghidupkan kembali kelompok musik tempo dulu, Santi Suara Laras Madya, di kampong tempat tinggalnya. Kelompok yang memadukan budaya Jawa-Islam ini dulunya  dibentuk Raja Surakarta Paku Buwono (PB) V.  Tembang-tembangnya menggabungkan macapat dengan doa-doa dalam Islam, dengan iringan kemanak, gender, bonang dan rebana. Santi Suara yang artinya doa yang baik pernah sangat populer di Solo hingga era tahun 1960-an. Namun, keberadaan musik ini seperti menghilang. Waluyo mencoba membuat rintisan baru.

”Saya memulai dari anak-anak, karena mereka lebih gampang diajari musik dan budi pekerti yang baik. Selanjutnya anak-anak muda dan para orang tua,” ujar pria yang tahun 1997 lalu mengikuti Sharq Taronalari International Music Festival di Samarkand, Uzbekistan.

Tak bisa dipungkiri, Santi Suara Laras Madya berhasil menyatukan   warga Dusun Kaplingan dari beragam profesi, mulai  dosen, guru, buruh, tukang batu,  pedagang pasar, ibu rumah tangga, hingga   mahasiswa.

”Sebelum ada Santi Suara, saya merasa semuanya serba berjarak. Sekarang warga bisa membaur dengan mudah satu sama lain. Suasana dusun menjadi guyub (rukun),” kata Waluyo, komposer “Shalawat Rambu” , sebuah nomor komposisi yang memadukan shalawatan dalam gending Jawa dengan syair-syair tembang macapat.

Menurut Waluyo, Santi Suara Laras Madya tidak sekadar melestarikan tradisi, namun sekaligus menjadi media untuk menyebarkan kebajikan dan kebaikan,  seperti cara yang pernah dilakukan para wali dalam menyebarkan agama Islam.

“Syair-syair macapat itu penuh ajaran agung dan tuntunan hidup yang luar biasa, untuk membentuk pribadi luhur. Macapat mengajak kearah kebajikan, seperti halnya adzan mengajak kita untuk sholat menuju pada kebaikan,” ujar pria yang kini lebih dikenal dengan nama Waluyo Tembang.(Ganug Nugroho Adi)

Foto: Ganug Nugroho Adi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here