Suprapto Suryodarmo: Meditasi Gerak Joget Amerta

Suprapto Suryodarmo: Meditasi Gerak Joget Amerta HAKEKAT gerak bukanlah ekspresi, tetapi lebih pada bentuk transformasi. Bentuknya bisa sangat beragam; pergerakan dari sebuah ketidaksadaran menjadi sebuah kesadaran, keberadaan menjadi ketidakberadaan dan seterusnya. Itulah pemaknaan gerak dari Suprapto Suryodharmo, seorang guru spiritual bagi ratusan seniman.

Di kalangan koreografer, Mbak Prapto –begitu ia biasa disapa- dikenal sebagai penganut gerak bebas. Ia bukan penari, tetapi banyak penari datang kepadanya untuk mendapatkan inspirasi, untuk merasakan “pencerahan” dari gerak bebas-nya.

Suprapto Suryodarmo Kabar soloraya.com
Lahir 65 tahun lalu di Kampung Kemlayan, Solo, sejak kanak-kanak pria ini telah mengenal gerak, mulai tari klasik Jawa, silat hingga kungfu. Ia juga belajar meditasi Buddhis (vipassana) serta relaksasi Jawa (sumarah) yang katanya berguna untuk mengeksplorasi alam dan kesadaran.

Saat remaja, ayahnya yang penganut aliran kepercayaan kejawen sering mengajaknya ke tempat-tempat keramat, seperti gunung, pepunden, sendang dan kuburan. Selama menemani sang ayah “berpetualang”, tak jarang Suprapto kecil pun terpaksa ikut nglakoni, seperti puasa, tidur di sendang atau pun kuburan.

“Itulah cara ayah mengenalkan saya sekaligus mendekatkan diri kepada Tuhan,” ujar Mbah Prapto di Taman Hiburan Sriwedari, Solo.

Bakat seni ayah tiga anak ini terbentuk oleh lingkungan. Semasa ia kecil, dari rumah-rumah di Kemlayan tempatnya tinggal, selalu terdengar lantunan gending atau langgam. Kemlayan sendiri dulunya merupakan perkampungan tempat tinggal para pengrawit (musisi gamelan) keraton.

“Dulu setiap malam saya selalu ikut latihan nembang (menyanyi lagu Jawa) dan menabuh gamelan,” kenangnya.

Ia berguru tari pada koreografer S Ngaliman, serta Mloyo Widodo dan Guno Pengrawit untuk musik. Ketika koreografer Sardono W Kusuma belum hijrah ke Jakarta, Mbah Prapto banyak menghabiskan waktu belajar dengannya di Solo.

Kelak, pengalaman religi bersama sang ayah ia jadikan pijakan dalam berkesenian, lewat “gerak bebas” yang ditekuninya hingga kini. Mbah Prapto sendiri lebih senang menggunakan istilah joget dibanding tari untuk gerakannya.

“Namanya Joget Amerta. Saya sebut joget, karena lebih merujuk pada orang yang sedang belajar menari dari dasar. Dasar menari itu banyak, termasuk hal-gal di luar teknik gerak, seperti puasa , meditasi dan nglakoni,” kata dia.

Joget Amerta sendiri, lanjut Mbah Prapto, diadopsi dari gerak sehar-hari, seperti tidur berikut perubahan posisinya, berjalan, merangkul, lambaian tangan dan sebagainya. Gerak-gerak informal itulah yang menjadi dasar dari joget amerta.

Baca juga  I Wayan Sadra: Musik Kita Didikte Industri!

“Seperti orang baru bangun tidur, kadang dia ngulet (meluruskan otot tubuh). Kita sering lupa bahwa ngulet itu seperti nge-charge, sehingga kesadaran dan aliran darah kembali sempurna,” ujar pemimpin Padepokan Lemah Putih, Desa Gondangrejo, Karanganyar, Jawa Tengah, itu.

Mbah Prapto menambahkan secara filosofi jogetnya bertolak dari konsep tradisi, yaitu hunungan manusia, alam dan Tuhan. Transformasi harus selalu mengacu ke tiga hal itu. Sedangkan dari sisi bentuk, Joget Amerta adalah olah tubuh sehari-hari yang mengabaikan pakem yang selama ini berlaku dalam olah tubuh. Lewat Joget Amerta inilah ia mengajarkan murid-muridnya untuk merespon dirinya sendiri dan atmosfir di sekelilingnya.

“Jika sudah sampai pada tataran itu, penari akan merasakan transform. Joget yang dibawakan bisa menjadi terapi mengembalikan kondisi mati rasa,” lanjut pria yang pernah latihan di depan Piramid di Mesir itu.

Seniman yang masih terlihat energik di usia senja ini juga tergolong nyentrik. Ia misalnya akan tetap menari meski tidak ada orang yang menonton dan memperhatikan. Ia juga tak pernah bersepatu.

“Joget itu bentuk pelepasan. Ada yang menonton ya syukur, tidak ada ya syukur. Saya tidak menjadikan banyak sedikit, ada atau tidaknya penonton sebagai patokan,” ujar enteng.

Kiprah keseniannya diawali tahun 1966, ketika ia mendirikan grup Barada (binaraga budaya). Di tempat itu, ia melatih tari dan beladiri. Pada era tahun 1974-1975, ia menciptakan Wayang Budha yang menjadi pembicaraan banyak kalangan. Wayang Budha adalah pementasan wayang gaya baru yang menggabungkan seni rupa, musik dan dunia pewayangan.

“Sekarang kita menyebutnya sebagai seni pertunjukan ritual,” kata senimkan yang pernah mengajar di Akademi Seni Kerawitan Indonesia (ASKI) – sekarang ISI Solo- itu.

Pentasnya ke Jerman (bersama koreografer Sardono W Kusuma) dalam Festival Pantomim Internasional tahun 1982 mempertemukannya dengan orang-orang yang memiliki pendekatan gerak bebas, sama dengan dirinya. Setiap tahun sejak lawatannya yang pertama itu, Mbah Prapto terus-menerus diundang untuk memberikan workshop dan mementaskan jogetnya di Eropa, Australia, Filipina, Korea, Jepang dan Amerika Serikat.

Ketika jaringannya mulai tersebar di banyak negara, tahun 1986 ia mendirikan Padepokan Lemah Putih, sebuah wadah untuk menampung murid-muridnya. Di padepokan itulah kemudian lahir komunitas Sharing Movemen. Istilah ini untuk menyebut teknik mengajar Mbah Prapto yang lebih banyak sharing.

Membaca Candi

Baca juga  Rahayu Supanggah: Maestro Gamelan

Sebuah metode belajar yang selalu ia terapkan untuk murid-muridnya adalah srawung candi (mengunjungi candi). Setiap tanggal 1 Januari, Mbah Prapto selalu mengajak murid-muridnya keliling Candi Sukuh di lereng Gunung Lawu, Karanganyar, Jawa Tengah.

“Biasanya saya mengajak mereka mengitari candi, mengamati dan menghayati kekosongan relief dan batu-batu untuk mendapatkan energinya. Saya menyebutnya dengan membaca candi. Ini salah satu cara untuk memunculkan gerakan spontan dari rasa inner kita,” kata pria yang selalu mengucir rambut putihnya itu.

Tidak hanya Sukuh, tapi juga Borobudur, Sewu, Prambanan, Gedong Sanga, hingga cadi-candi di Bali dan Toraja. Menurut dia, candi-candi memiliki hubungan dengan waktu. Dalam ruang candi masih mengalir atmosfer waktu alam, waktu kepurbaan alam raya, yang sedemikian dekatnya alam dengan Tuhan dan manusia.

“Pada bangunan perkotaan, atmosfir kepurbaan dan energi kekosongan itu tak pernah ditemukan karena waktu berjalan linier,” ujar ayah dari seniman Melati Suryodharmo ini.

Lantas apa yang sebenarnya ia cari dari “membaca candi”?

“Intinya untuk mencapai pencerahan. Caranya dengan mengembalikan rasa ketuhanan, kealaman dan kemanusiaan. Itu konsep tradisi pada manusia.,” ujar senikman yang telah menggelar banyak festival di dalam dan luar negeri ini.

Mbah Prapto mencontohkan ajaran pencerahan itu antara lain bisa dilihat dari relief Dewaruci pada candi Sukuh yang menggambarkan perjalanan Bima menemukan pencerahan, juga Sudamala yang bercerita tentang ruwatan Betari Durga agar berubah cantik rupawan, serta cerita Garudeya yang menjadi cikal bakal lambang Negara, Garuda Pancasila.

“Gerak saya itu melaraskan tubuh. Bergerak, bermeditasi menghidupkan tradisi. Menyeimbangkan hubungan manusia, alam dan Tuhan. Itu inti joget amerta,” kata pria yang juga gemar menyelenggarakan ritual ruwatan pasar tradisional ini. (Ganug Nugroho Adi)

Foto: Ganug Nugroho Adi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here