Supardjo: Menyelamatkan Naskah Kuno

Supardjo: Menyelamatkan Naskah Kuno SOSOK yang santun, ramah, dan sederhana. Itulah kesan pertama dari Supardjo. Namun, apa yang telah dilakukan pria kelahiran Kebakkramat, Karanganyar, 21 September 1956, terhadap budaya Jawa tidak bisa disebut sedehana. Dalam 15 tahun terakhir ini, lewat Yayasan Sastra yang didirikannya bersama John Paterson, seorang Indonesianis sekaligus peneliti budaya dan bahasa Jawa pada Monash University, Australia, Supardjo telah melakukan alih aksara ribuan naskah kuno dari huruf Jawa hanacarakake bahasa latin.

Sebuah pekerjaan yang rumit. Sebab alih aksara bukan sekadar  mengalihkan aksara atau huruf apa adanya, tetapi juga harus sesuai dengan aturan-aturan dalam pelaguan naskah.  Kata Supardjo, naskah kuno sebagian besar dalam bentuk macapat (tembang atau puisi Jawa tradisional), sehingga naskah yang dialihkan harus sesuai dengan pakem macapat.

SUPARDJO2-300x189“Ada 11 sampai 15 baku metrum (jenis) macapat, seperti Dandanggulo, Asmaradana, Pocung, Sinom dan seterusnya. Masing-masing mempunyai aturan pakem tentang jumlah baris, jumlah suku kata, dan bunyi vokal suku kata di bagian akhir tembang,” jelas ayah tiga anak ini di kantor Yayasan Sastra, Jalan Jageran I No 7 Solo atau Surakarta, Jawa Tengah.

Dengan pengertian alih aksara seperti itu, maka seorang pengalih aksara juga harus memahami tembang-tembang macapat. Mereka dituntut untuk bias melagukan, agar rasa dan makna dari tembang  macapat tidak terlewatkan.

“Saya lahir dan besar di desa yang hiburannya hanya wayang kulit danmacapatan (menyanyikan lagu-lagu macapat). Jadi sejak kecil sudah akrab dengan macapat,” ujar dosen sekaligus Ketua Jurusan Sastra Daerah untuk Jawa, Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Solo.

Supardjo lahir dalam keluarga sederhana yang tidak memiliki tradisi kesenian.  Ayahnya, Supardi Djojoredjo (88), adalah seorang veteran, sedangkan ibu nya, Marinah, seorang ibu rumah tangga biasa. Tidak ada  darah seni yang mengalir dari orang tuanya. Pengetahuan Supardjo terhadap aksara Jawa dan nembang (menyanyi) macapat hanya didapat dari pelajaran di sekolah, serta seringnya menyaksikan pertunjukan wayang kulit dan macapatan ketika masih duduk di SD dan SMP.

Selepas SMP, dia melanjutkan ke Sekolah Menengah Konservatori (SMKI) jurusan Pedalangan. Jurusan ini dipilih, karena hanya di jurusan pedalangan yang mengajarkan sastra Jawa. Salah satunya adalah pelajaran aksara Jawa. Pengalaman nonton pertunjukan wayang kulit dan macapatan saat kanak-kanak, rupanya telah menumbuhkan kecintaan Supardjo terhadap sastra Jawa. Dari SMA Konservatori, dia melanjutkan ke Fakultas Sastra dan Budaya Jawa, UNS Solo.

Baca juga  Riwayat Pakubuwono III (2): Tak Kunjung Berputra, Pakubuwono III Besan Idaman…

“Awalnya saya merasa sendiri dan merasa kesepian. Sebab teman-teman yang lain kuliah di fakultas-fakultas favorit. Pada tahun-tahun pertama, saya  sering bertanya untuk apa gunanya kuliah sastra Jawa. Tapi saya jalan terus, karena sudah telanjur senang,” kenang dia.

Di sela-sela kuliah itulah Supardjo mencoba memanfaakan pengetahuan sastra Jawa yang dimiliki dengan menjadi pambiwara (pembawa acara dalam bahasa Jawa). Tak jarang ia harus keluar kota untuk memenuhi undangan untuk menjadi pambiwara di berbagai hajatan. Ia juga merintis sekolah pembawa acara berbahasa Jawa di Solo yang terus berkembang sampai sekarang. Dari honor menjadi master of ceremonyJawa itulah Supardjo membiayai kuliah.

Alih aksara itu berawal Tahun 1996, ketika ia bertemu dengan John Paterson, yang sedang mengerjakan desertasi tentang ”Perkembangan Budaya pada Abad ke-19”, untuk pendidikan doktoralnya.

“Mas John (John Paterson) memerlukan naskah-naskah kuno untuk melengkapi desertasinya. Kebetulan saya punya beberapa naskah yang ia butuhkan dan bisa mengalihhaksarakan hanacaraka ke bahasa latin. Sejak itu kami bekerja sama menemukan naskah-naskah yang lain,” ujar Supardjo.

Naskah-naskah kuno ini didapat dari sejumlah kolektor, hibah, dan pasar loak seperti Triwindu, Sriwedari, dan pasar loak di Yogyakarta. Pada periode tahun 1996-1997, kata Supardjo, naskah-naskah kuno masih banyak dan mudah ditemukan. Harganya pun tidak semahal sekarang.

“Dulu mahar-nya (istilah harga untuk menebus benda kuno) hanya puluhan ribu rupiah untuk beberapa naskah. Sekarang satu naskah harganya bisa mencapai puluhan juta rupiah. Mereka tahu kalau harga naskah kuno mahal. Padahal kita membeli untuk kepentingan pengetahuan, bukan untuk dijual kembali,” kata Supardjo.

Namun, keasyikan memburu dan mengalihkaksarakan naskah ini justru membuat desertasi John terbengkelai. Uang John yang seharusnya untuk biaya menyusun tesis habis untuk memburu naskah.

“Banyaknya naskah kuno yang kami dapatkan itu akhirnya memunculkan ide untuk mendirikan Yayasan sastra ini,” kata alumni pasasarjada Kajian Filologi pada Ilmu Sastra, Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung.

Setelah 15 tahun berdiri, kini Yayasan Sastra sudah mengalihaksarakan lebih dari 3000 naskah kuno atau sekitar 2500 judul, atau sebanyak 15 juta kata. Dari jumlah ini, sekitar 1300 naskah sudah dalam bentuk digital, sehingga bisa diunduh lewat internet.

Baca juga  Riwayat Pakubuwono IV (3): Sunan Bagus nan Romantis, Cintai Permaisuri hingga Akhir Hayat

“Kami dibantu sekitar 30 sampai 40 tenaga lepas untuk melakukan alih aksara ini.”

Menurut Supardjo, umumnya naskah-naskah koleksi Yayasan Sastra  terbitan awal abad ke-19 hingga awal abad ke-20 yang merupakan karya pujangga-pujangga dari Pura Mangkunegara dan Kasunanan Surakarta, seperti Yosodipura II, Ronggowarsito, Padmosusastro, dan Sasradiningrat IV. Tidak semuanya dalam bentuk tembang, tapi juga prosa dalam tulisan tangan, cetakan dan ketikan. Naskah paling tua ditulis tahun 1810, antara lain Serat Damarwulan, Babad Majapahit, Srikandi Meguru Manah, dan Sembadra Larung yang masih dalam bentuk aslinya.

“Jangan salah, naskah kuno tidak hanya membicarakan kesenian, tapi juga agama, pertanian,  obat-obatan, filsafat dan lainnya. Bahkan ada naskah  yang khusus mengajarkan cara menanam kelapa padi,” jelas pria berkaca mata ini.

Supardjo menyebutkan alih aksara ini untuk memudahkan mereka yang tidak  mengerti aksara Jawa bisa memahami isi naskah kuno. Tidak hanya alih aksara, Yayasan Sastra juga melakukan menyelamatkan naskah-naskah kuno, antara lain dengan cara pembersihan dan fumigasi naskah, serta perawatan beberapa bagian naskah yang rusak.

”Lebih dari itu, kami ingin menyebarkan naskah-naskah ini ke publik. Tidak ada gunanya naskah ini terawat dan lestari, kalau tidak sampai ke masyarakat umum. Kami hanya berusaha memudahkan mereka yang ingin  memahami budaya Jawa,” kata suami dari Sri Wahyuni ini.

Sebuah pilihan yang tidak sederhana. Apalagi Yayasan Sastra merupakan lembaga non profit. Pemerintahan Kota Solo yang selama ini menyatakan diri sebagai kota budaya, sampai saat ini pun belum pernah sekalipun memberi bantuan pendanaan.

“Selama ini pendanaan yayasan ini dari uang pribadi Mas John. Baru tahun ini kami mengajukan bantuan dana ke Perpustakaan Nasional. Mudah-mudahan bias segera cair,” ujar Supardjo. (Ganug Nugroho Adi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here