Sumartono Hadinoto: Manusia ”Gawat Darurat”

“Manusia tidak bisa memilih untuk terlahir sebagai Tionghoa, Jawa, Batak, atau yang lainnya. Tapi Tuhan selalu memberi pilihan kepada kita untuk menjadi manusia yang baik,  dari mana pun asalnya.  Bagi saya, manusia yang baik adalah mereka yang berguna bagi orang lain, mereka yang mau berbagi dan menolong sesamanya,” kata Sumartono Hadinoto.


Sumartono HadinotoKalimat itu tampaknya bukan sekadar pemanis, namun benar-benar telah lekat dalam kegidupan pria yang terlahir dengan nama Khoe Liong Haow ini.  Betapa tidak. Di tengah kesibukannya mengurus beberapa perusahaannya, pria yang akrab disapa Martono ini tergabung dalam 19 organisasi sosial kemasyarakatan yang hampir semuanya berurusan dengan upaya menolong sesama.

“Memang sibuk, tapi saya mengalir saja. Bertemu dengan banyak orang dari berbagai latar belakang itu mengasyikkan. Semuanya saya lakukan dengan senang hati,” katanya.

Bersama organisasinya, Martono selalu terlihat dalam penanganan musibah dan bencana,   seperti membantu korban banjir,  gunung meletus, gempa bumi, mengatasi krisis stok darah di PMI, sampai mencari bantuan sembako serta biaya sekolah untuk siswa miskin.

“Dengan membantu orang, saya merasa  masih berguna. ‘Dengan membantu sesama, maka saya ada’. Begitulah kira-kira,” ujar Martono setengah berseloroh.

Minat Martono pada dunia sosial tidak datang secara tiba-tiba. Ia  memiliki jejak kesedihan yang panjang sebelum akhirnya terjun ke duniankegawatdaruratan. Ketika masih SMP, ayahnya, Winarso Hadinoto, meninggal dunia. Peristiwa itu seperti meluluhlantakkan hidupnya: mimpi bersekolah di luar negeri  lenyap dan kehidupan ekonomi keluarga berbalik 180 derajad.

“Ketika ayah meninggal, saya benar-benar putus asa. Saya tidak mempunyai harapan bisa melanjutkan sekolah,” kenang suami dari Meliana Kusyanto.

Untuk bertahan hidup, Martono bersama kakaknya pun membantu ibunya, Kusmartati, berjualan kain batik. Setiap hari seusai pulang sekolah, ia menawarkan kain batik ke Pasar Klewer dan menjajakannya dari kampung ke kampung.

“Tidak setiap hari ada yang membeli. Pernah selama tiga hari berturut-turut tidak ada satu pun kain yang laku. Kami sekeluarga baru bisa makan setelah mendapat kiriman nasi dari tetangga,” ujar pria kelahiran Solo, 21 Maret 1956.

Karena terus menerus merugi, usaha batik akhirnya ditutup. Sebagai gantinya, Martono bekerja menjadi pelayan toko sambil menyelesaikan pendidikan SMA-nya. Dari penghasilan sebagai pelayan toko itulah ia membiayai sekolahnya. Martono sempat beberapa kali pindah pekerjaan, sebelum akhirnya sekitar tahun 1986, seorang temannya menawarinya untuk melanjutkan bisnis alumunium yang baru dirintisnya, karena sang teman ingin tinggal di luar negeri.

“Saya terima tawaran itu meskipun ketika itu sama sekali tidak tahu soal aluminium. Saya bersyukur bisnis itu masih bertahan hingga sekarang. Pengalaman pahit masa lalu itulah yang menumbuhkan keinginan saya untuk terus berbagi dan membantu sesama,” ujar Sumartono di rumah sekaligus kantornya, Bengkel Candi di Jl Juanda 150, Solo.

Persentuhan Martono dengan dunia kegawatdaruratan dimulai ketika suatu hari ia menyaksikan sebuah kecelakaan lalu-lintas. Para korban yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak dalam kondisi kritis dan membutuhkan darah. Martono bersama beberapa kawannya tergerak mencari darah ke kantor PMI (Palang Merah Indonesia).

“Namun stok darah di PMI sedang kosong. Saya akhirnya menghubungi teman-teman SMA untuk donor karena saya tidak punya teman lain. Beruntung saya berhasil mendapatkan darah yang diinginkan. Saya puas karena para korban akhirnya selamat,” kenang dia..

Sejak peristiwa itu, Martono menjadi donor darah aktif di PMI. Ia kemudian juga bergabung dalam beberapa organisasi penanganan musibah dan bencana, antara lain Organisasi Amatir Radio Indonesia (Orari), Solo Emergency Response Unit (SERU), Search and Rescue (SAR) Universitas Sebelas Maret (UNS), Tim Kegawatduratan Solo, Medical Action Team, Yayasan Kesejahteraan Tunanetra (Yaketuntra), dan Persatuan Masyarakat Surakarta (PMS). Dua organisasi terakhir memfokuskan pada kesehatan dana pendidikan untuk siswa miskin.

Tahun 2010 lalu, Martono mendirikan Solo Bersama Selamanya (SBS) untuk membantu para korban bencana erupsi Gunung Merapi. Bersama PMI Cabang Solo, SBS bukan hanya menangani para korban ketika terjadi erupsi, namun juga penanganan pasca-bencana.

“Sampai sekarang kami masih menangani mereka, terutama kondisi psikis korban setelah bencana. Sebab penanganan korban bencana tidak bisa ditangani secara instan, tetapi harus berkelanjutan,” ujar  pria penggemar musik country ini.

Ia juga melakukan bermacam terobosan untuk PMI Cabang Solo. Misalnya mengembangkan Medical Team Action yang salah satu tugasnya adalah menjaga agar stok darah di Kota Solo. Kini, dengan keberadaan Medical Team Action, PMI Cabang Solo selalu mempunyai stok darah tak kurang dari 1.000 kantong per harinya. Lewat organisasi ini pula Martono merintis pelayanan mobil ambulans gratis.

“Kami hanya ingin memudahkan mereka yang ingin ke rumah sakit. Jangan sampai ada pasien yang terlambat dibawa ke rumah sakit gara-gara tidak mampu membayar sewa mobil ambulans,” ujar ayah dari Wiranti Widyastuti Hadinoto ini.

Tak hanya turun langsung dalam penanganan kecelakaan dan bencana, Martono juga selalu menyempatkan memberikan informasi perkembangan kondisi sekaligus  penanganannya kepada mereka yang membutuhkan informasi. Di kalangan wartawan  Solo, Martono kerap menjadi rujukan.  Ia pun mendapat julukan sebagai “manusia gawat darurat” karena kesibukannya yang luar biasa di dunia kegawatdaruratan. Tak heran jika kemudian muncul kelakar di kalangan wartawan bahwa jika Martono tak kirim short message service(SMS), maka Solo  aman dari bencana banjir sekalipun Kota Solo diguyur hujan deras seharian.

Namun, berbuat baik ternyata tidak selalu mendatangkan anggapan yang baik pula. Martono pun sering mendapat cibiran dan  sikap sinis, terutama karena dia keturunan etnis Tionghoa dan seorang pengusaha.

“Stereotip bahwa Tionghoa hanya berorientasi pada bisnis dan untung-rugi masih terus ada. Padahal semua itu tergantung pada manusianya. Tidak bisa di-gebyah uyah (dianggap sama) seperti itu,”kata Martono.

Ketika terjadi kerusuhan Mei 1998. Rumah yang sekaligus menjadi perusahaannnya menjadi sasaran penjarahan. Seluruh hartanya habis. Rumahnya pun dibakar. Martono dan keluarga terpaksa mengungsi ke tetangganya untuk menyelamatkan diri. Namun ia tak dendam. Ia menilai kerusuhan tahun 1998 lalu itu sebagai peristiwa politik,bukan peristiwa sosial.

“Banyak tetangga yang membantu saya. Itu bukti bahwa peristiwa itu tidak dipicu oleh ketimpangan sosial, rasa iri hati dan kebencian etnis. Itu peritiwa politik,” tambah Martono.

Hebatnya, meski bisnisnya porak-poranda, Martono justru mempertahankan seluruh karyawan perusahaannya. Ia merangkul para pegawainya untuk kembalibangkit membenahi bisnisnya.

“Dulu mereka membantu saya dari nol  hingga akhirnya usaha saya besar. Tidak ada satu pun pegawai yang saya pecat. Saya ajak mereka bersama-sama untuk bangkit dari keterpurukan,” kata Ketua Komite Olah Raga Nasional Indonesia (KONI) Solo ini.

Kini, 14 tahun setelah peristiwa kerusuhan itu, bisnisnya telah pulih. Namun,di tengah bisnisnya yang berkembang, ia justru menyerahkan seluruh pengelolaan perusahaann sepenuhnya kepada sang istri. Martono sendiri memilih fokus kepada kegiatan organisasi sosial.

“Setiap organisasi sosial itu tidak peduli Anda dari berasal dari mana. Hanya keikhlasan dan komitmen untuk membantu sesama yang dibutuhkan.  Jangan mengejar ambisi, karena niatnya adalah berbagi,” kata Martono yang juga pengurus Forum Perdamaian Antar Agama dan Golongan (FPLAG), sebuah organisasi yang aktif mendorong perdamaian melalui penanganan bencana.(Ganug Nugroho Adi)

Foto:  Ganug Nugroho Adi

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*