Sukiyat: Henry Ford dari Klaten

Sukiyat:  Henry Ford dari Klaten: Sosok pria ini seperti mewakili stereotip orang desa; perawakan pendek, kulit kecoklatan karena sering terbakar matahari, serta  parasnya yang biasa-biasa saja. Sebulan lalu, tidak banyak orang yang mengenal pria bernama Sukiyat. Ia barangkali hanya dikenal  oleh para pelanggan bengkel cat miliknya.

Namun dalam dua pekan terakhir, namanya melambung bersamaan dengan munculnya mobil Kiat-Esemka yang fenomenal. Tak ada yang menyangka bahwa “wong ndeso” ini adalah arsitek di balik kesuksesan mobil buatan para siswa SMK ini.

Sukiyat KabarSoloraya.Com
“Saya hanya membantu anak-anak (siswa SMK). Kalau akhirnya mobil Kiat-Esemka menjadi seperti sekarang, semua ini hasil kerja dan ketekunan mereka,” katanya, merendah.

Sukiyat memiliki jejak panjang dalam dunia otomotif.   Jauh sebelum menjadi pengusaha bengkel dan cat mobil, pria ini pernah menjadi menjadi penambal ban dan menjual bensin eceran. Padahal orang tuanya adalah seorang pengusaha kain tenun lurik yang kaya dan terpandang di desanya,  Jotang Kradenan, Kecamatan Trucuk, Klaten, Jawa Tengah.

“Setamat SMP saya sempat sekolah di STM (sekarang SMK), tapi akhirnya keluar karena tidak betah. Teman-teman mengejek karena kaki saya kecil sebelah. Akhirnya saya keluar dan memilih kursus menjahit di Pusat Rehabilitasi Prof Dr Soeharso Solo,” kenang pria klahiran Klaten, 22 April 1957.

Salah satu kaki Sukiyat memang tidak tumbuh sempurna akibat serangan polio ketika ia masih berusia 6 tahun. Tak heran jika pria ini selalu terlihat tertatih-tatih setiap  kali berjalan. Namun, kekurangan fisik justru menumbuhkan sikap mandiri dan pantang menyerah.

Tahun 1975, ia mengikuti program pelatihan montir sepeda motor di Yayasan Darmais selama enam bulan. Setamat dari pelatihan, ia sempat bekerja di bengkel sepeda motor dan mobil, sebelum akhirnya membuka bengkel kenteng dan cat khusus vespa di kampung halamannya tahun 1978.

“Modalnya Rp 75 ribu. Itu uang dari yayasan tempat saya mengikuti pelatihan yang sengaja saya simpan untuk membuka bengkel. Orang tua saya waktu itu mau nambahin modal, tapi saya tolak. Saya biasa  mulai dari yang ada saja,” ujar  ayah dua anak itu.

Tak  ada yang menyangka bengkel cat miliknya banyak diminati. Pengalaman masa kecil mencampur pewarna kain lurik rupanya menjadikan   Sukiyat ahli dalam membuat campuran warna cat. Pelanggan tidak hanya datang dari Klaten, namun juga dari kota-kota di sekitarnya, terutama Yogyakarta dan Solo. Bengkel cat yang semula khusus  melayani pengecatan vespa itu akhirnya juga melayani pengecatan dan body repair mobil. Kini, bengkel di Trucuk itu telah berubah menjadi karoseri besar dengan nama Kiat Motor di Jalan Solo-Yogya, Ceper, Klaten. Bengkel dengan modal awal Rp 75 ribu itu kini memiliki aset ratusan miliar rupiah.

Baca juga  Budi Soelaiman: Bapak Biofeul dari Karanganyar,

Tak hanya bengkel cat-nya yang berkembang. Nama Sukiyat pun mulai diperhitungkan dalam dunia otomotif, khususnya pengecatan. Ia sering diundang untuk memberikan  pelatihan di berbagai negara, seperti Jepang, China, dan beberapa negara di Eropa.

“Sekarang saya hidup serba kecukupan. Ibaratnya saya ongkang-ongkang (tidak bekerja) pun tetap bisa hidup mewah sampai mati. Tapi saya tidak ingin seperti itu. Saya harus terus bekerja, karena saya punya mimpi suatu saat negeri ini punya mobil buatan sendiri,” ujar pria yang tidak tamat SMA ini.

Maka, tahun 2007 mulai bermain-main dengan mimpinya. Ia  memodifikasi sebuah sedan menjadi mirip Toyota Land Cruiser yang bertipe Sport Utility Vehicle (SUV). Direktur Pembinaan SMK Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ketika itu, Joko Sutrisno, terkesima dan menawarkan  kerja sama merakit mobil dengan melibatkan siswa-siswa SMK. Sejak saat itu, bengkel Kiat Motor pun menjadi semacam laboratorium. Para siswa SMK melakukan kerja praktek membuat mesin, rangka, dan komponen-komponen mobil lain. Mereka melakukan eksperimen demi eksperimen.

Gagasan membuat mobil Esemka itu baru muncul ketika Sukiyat  memotivasi siswa-siswa SMK Negeri 1 Trucuk yang ketika itu sekolahnya terancam bubar. Para siswa magang di karoseri, belajar membongkar dan merakit kembali mobil. Mereka juga belajar bagaimana membuat bodi dan pengecatan.

“Saya mencoba mendesain prototipe bodi dan sasis mobil Kiat Esemka, bersama para siswa SMK Negeri Trucuk, SMK Negeri 2 dan SMK Warga Solo. Prototipe Kiat Esemka dipamerkan pada Expo Produk Unggulan di Jakarta Convention Center (JCC) tahun 2010,” tutur suami Halimah ini.

Namun, lanjut dia, prototipe itu tidak mendapat respon dari kalangan mana pun. Mobil Kiat Esemka generasi pertama itu justru menarik perhatian Walikota Surakarta Joko Widodo (Jokowi) ketika dipamerkan dalam ajang Kreasi Anak Sekolah di kawasan Ngarsopuro, Solo, setahun kemudian.

“Pak Jokowi menantang para siswa untuk membuat mobil dengan tipe berbeda untuk kendaraan dinas. Tapi kean gagah dan elegan harus dipertahankan. Desember harus sudah jadi. Padahal ketika itu sudah bulan Juli,” kata Sukiyat.

Baca juga  Joko Widodo: Solo Masa Depan adalah Solo Masa Lalu (Bagian 2)

Awal tahun 2012, mobil Kiat Esemka tipe SUV warna hitam dengan interior mewah pun dipamerkan ke Jokowi. Sang Walikota benar-benar terpikat. Mobil ini  diklaim menggunakan 80 persen komponen lokal dan 20 persen sisanya impor.

“Saya jamin Kiat Esemka ini produk dalam negeri. Kami terus berusaha agar nanti komponen lokal bisa 91%. Memang sulit, karena spare part seperti ring seker, gardan, dan speedometer belum bisa membuat sendiri. Tapi suatu bangsa ini pasti bisa. Semuanya perlu proses,” ujar Sukiyat yang selalu menyempatkan sholat berjamaah bersama keluarganya di rumah ini.

Tak hanya SMK di Klaten dan Solo. Kini sebanyak 15 SMK dari berbagai daerah di Jakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur mulai melakukan kerja sama dengan karoseri Kiat Motor. Selama dua tahun, 2010-2011, Sukiyat dan para siswa SMK sudah memproduksi 10 mobil,  termasuk dua unit yang akan digunakan sebagai mobil dinas Walikota dan Wakil  Walikota Surakarta.

“Semuanya handmade. Satu  mobil membutuhkan waktu dua sampai tiga bulan. Kalau sekarang banyak yang berminat ya Alhamdulillah. Ini bagus juga untuk siswa SMK agar tidak lagi dipandang sebelah mata. Dari dulu SMK kan selalu dianggap lebih rendah dibanding siswa SMA,” tutur dia.

Kini, pria yang di kalangan siswa SMK dijuluki “Henry Ford dari Klaten” ini boleh bangga karena mimpinya tentang mobil nasional segera terwujud. Dia berharap pemerintah segera memberikan izin bagi produksi massal setelah uji emisi selesai.

Menurut dia, Kiat Esemka bisa menjadi mobil nasional jika semua pemegang kepentingan di negeri ini konsisten memberikan dukungan. Mobil buatan para siswa SMK merupakan bukti bahwa bangsa ini tidak kalah dengan negara lain.

“Bangga saja tidak cukup. Kalau nanti kita punya mobil buatan sendiri, ya kita harus memakainya. Ibaratanya, kalau ibu sudah memasak di rumah, mengapa kita harus membeli makanan yang sama di warung sebelah?” kata pria yang juga menggagas berdirinya  Difabel Training Center (DTC), sebuah  pusat pelatihan bagi para difabel di bidang otomotif ini.(Ganug Nugroho Adi)

Foto: Ganug Nugroho Adi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here