Soedarmono: Penjaga Cagar Budaya

Soedarmono: Penjaga Cagar Budaya – SOEDARMONO adalah sosok yang kontroversial. Ia kerap berseberangan dan tak jarang memprotes kebijakan-kebijakan pemerintah dalam urusan heritage dan cagar budaya. Pada awal Juli lalu, misalnya, ia memilih mundur dari anggota Tim Independen, sebuah tim bentukan pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang bertugas mengkaji kelayakan sebuah bangunan sebagai bangunan cagar budaya.
Gara-garanya, tim yang diketuai oleh pakar perkotaan Prof Ir Eko Budihardjo MSc, itu memutuskan bahwa sebuah bangunan di kawasan Purwosari, Solo, yaitu bekas pabrik es PT Saripetodjo, bukan merupakan bangunan cagar budaya. Padahal, sebelumnya Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah, menyatakan bekas pabrik es itu merupakan bangunan cagar budaya. Dengan keputusan tim independen ini, maka bangunan di atas tanah seluas 1,24 hektar tersebut boleh dirobohkan dan diganti dengan pendirian mal sesuai keinginan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
Soedarmono soloraya.com
“Saya kecewa. Keputusan itu terlalu dini, karena tidak disertai kajian sejarah dan heritage ada sama sekali. Apalagi saya tidak diundang rapat, tahu-tahu disuruh menandatangani hasilnya. Saya punya data yang menunjukkan bangunan itu termasuk cagar budaya,” ujarnya penuh semangat.

Tempat usaha Anda belum tercatat di web ini? Hubungi kami di sini.

Meski usianya sudah menginjak kepala enam, namun jika berbicara tentang heritage, dosen Fakultas Sastra dan Seni Rupa Jurusan Sejarah, Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Solo ini selalu berapi-api.

“Heritage itu jejak peradaban manusia, jangan dianggap remeh. Saya tidak antipati dengan bangunan modern. Saya hanya tidak setuju jika untuk membangun mal atau bangunan modern lain, kita harus merobohkan bangunan bersejarah dengan cara membai-buta,” ujar dosen Historiografi Indonesia di UNS Solo ini.

Sikap kritis seperti ini bukan yang pertama dilakukan oleh pria kelahiran Solo, 13 Agustus 1949 ini. Tahun 2010 lalu, ia juga memutuskan untuk tidak terlibat lebih jauh dalam tim kelayakan benda cagar budaya Benteng Vasternburg. Alasannya hamper sama, di lokasi benteng peninggalan Belanda yang dibangun pada 1745 itu, akan dibangun hotel berbintang.

“Saya cinta cagar budaya. Begitu saya tahu slide paparan dari pihak pengembang hotel, saya geram dan menolak rencana itu. Sebelum diminta mundur, saya pilih mundur duluan. Beruntung hotel itu sampai sekarang tidak dibangun,” kata Soedarmono di rumahnya, Jl Yosodipuro 136 Mangkubumen, Solo.

Baca juga  Riwayat Pakubuwono II (1): Usia 15 Tahun Naik Takhta, Mengungsi hingga Ponorogo

Menurut Soedarmono, “Bicara sejarah itu harus berdasar kumpulan arsip dan kajian serta studi lingkungan social. Tidak boleh dibelok-belokkan untuk pentingan lain, seperti ekonomi dan politik.”

Sikap tegasnya juga muncul dalam kasus pencurian belasan arca kuno di Museum Radya Pustaka tahun 2008 lalu. Soedarmono bahkan termasuk orang yang gigih meminta kasus jual-beli arca itu dibongkar, sekaligus membawa kasus Museum Radya Pustaka ke pengadilan. Maka, sejarawan dari UNS ini pun menjadi semacam penjaga benda cagar budaya Solo.

“Orang-orang bilang saya seperti branwir (pemadam kebakaran) untuk urusan cagar budaya,” selorohnya.

Perkenalan Soedarmono dengan ilmu sejarah sebenarnya berawal dari iseng. Ia yang ketika itu masih SMA, melihat kakaknya begitu menikmati kuliahnya di Fakultas Sastra Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta. Karena penasaran, iseng-iseng ia menemani kakaknya saat mengerjakan tugas-tugas lapangan. Rupanya, keisengan Soedarmono justru berubah menjadi ketagihan. Tanpa menunggu diajak, Soedarmono remaja akhirnya justru yang sering mengajak sang kakak untuk “kuliah lapangan”.

“Kalau pas lagi kuliah lapangan, saya sering diajak ke kawasan heritage. Lama-lama saya tertarik dengan sejarah,” ujar suami dari drg Tri Darmini.

Dari kakaknya itulah ia mengenal lebih banyak bangunan-bangunan kuno dan bersejarah, seperti candi, museum, keraton, dan bangunan-bangunan di kota lama. Maka, selepas dari SMA Negeri 1 Solo tahun 1978, Soedarmono mengikuti jejak sang kakak masuk Fakultas Sastra UGM.

“Belajar sejarah itu salah satu cara kita mengenal sebuah bangsa. Siapa yang mempelajari sejarah, maka dia akan mengetahui peradaban bangsanya,” ujar pria yang sampai sekarang masih sering keluar-masuk daerah yang kaya warisan budaya ini.

Sebagai dosen, Soedarmono tidak mengajarkan banyak teori. Ia lebih sering melatih kepekaan para mahasiswanya dengan mengunjungi kawasan-kawasan heritage. Para mahasiswa, misalnya, diajak keliling Keraton Kasunanan Surakarta, menyusuri seluruh bangunan keraton, seperti Bangsal Kamandungan, Sangga Buwana, Siti Hinggil, Sri Manganti, Alun-alun (lapangan) Utara dan Selatan Keraton, berikut Ringin Kurung (pohon beringin kembar) yang tumbuh di sana.

Baca juga  Furqon: Ujian Nasional harus dimodifikasi

“Dua alun-alun itu simbol dunia nyata (utara) dan gaib (selatan). Jika kita menghadap dari arah selatan, maka di arah utara akan terlihat garis poros lurus yang bersifat sakral magis bagi raja saat bersinggasana,” ujar ayah dua anak ini.

Tidak hanya mengajar, alumni pascasarjana jurusan Humaniora Universitas Gajah Mada ini juga aktif dalam “Solo Heritage Community” sebuah komunitas pecinta di Solo. Lewat komunitas ini, Soedarmono menawarkan pencinta heritage masyarakat untuk mendalami kekayaan warisan budaya dengan bermacam kegiatan, seperti wisata budaya, kuliah umum, dan kelompok belajar. Sebab, bagi Soedarmono, belajar sejarah tidak hanya lewat buku, tapi juga bisa dipelajari melalui tempat atau bangunan bersejarah seperti candi, benteng, keraton, dan bangunan-bangunan kuno lain.”

“Intinya kami mengajak masyarakat untuk mencintai heritage. Solo Heritage Community ini wadah bagi mereka yang ingin mengetahui masa lalu Solo. Dari tahun ke tahun anggotanya selalu bertambah. Tahun ini sudah seribuan orang, termasuk orang asing,” jelas dia.

Tidak hanya di Solo Heritage Community, Soedarmono juga menjadi pembicara tetap dalam pertemuan bulanan “Solo Masa Depan adalah Solo Masa Lalu” di Loji Gandrung, rumah dinas walikota Solo.

“Ilmu Sejarah itu dekat dengan budaya berikut keanekaragamannya. Jika kita bisa mencintai sejarah, maka kita akan dengan mudah mencintai seni budaya bangsa,” kata penulis buku “Sejarah Ketataprajaan Mangkunegaran” (2010) ini.

Kepiawaian lain yang dimiliki Soedarmono adalah mendongeng. Karena keahliannya bercerita ini, Soedarmono sering diminta mendongeng ol;eh beberapa lembaga pendidikan dasar di Solo.

“Bukan dongeng semacam fabel, tapi sebenarnya lebih mengarah pada cerita tentang cagar budaya, seperti Benteng Vasternburg, Taman Sriwedari, keraton, dan lainnya. Gaya mendongeng saya pilih, karena biasanya lebih mengena untuk anak-anak.“ (Ganug Nugroho Adi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here