Santosa Doellah: Penjaga Tradisi Batik

Santosa Doellah:  Penjaga Tradisi Batik Tanggal 29 Februari  ini, Santosa Doellah dikukuhkan sebagai Empu batik oleh Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Ratusan karya batiknya dianggap sudah sama dengan guru besar dan bahkan lebih, sehingga ia layak untuk menularkan kemampuannya kepada generasi penerusnya.

Bagi pendiri sekaligus pemilik perusahaan batik Danar Hadi ini, penghargaan itu  bukan yang pertama.   Tahun 2010 lalu, ia meraih UNS Award dalam perayaan Dies Natalis Universitas Sebelas Maret Solo karena kontribusinya yang besar  terhadap pelestarian dan pengembangan kriya seni batik nusantara di Indonesia.

Santosa Doellah Kabarsoloraya.com

Lahir di Solo, 7 Desember 1941, Santosa mengenal batik sejak usinya masih belia. Ia memang lahir dari keluarga saudagar (pengusaha) batik. Kakek buyutnya, H Bakri, adalah salah seorang saudagar (pengusaha) batik dan tokoh Serikat  Dagang Islam yang aktif di zaman masa pergerakan. Ia pertamakali mengenal batik  dari kakeknya, Wongsodinomo, yang juga saudagar batik pada zamannya. Tak heran jika sejak kecil Santosa sudah terbiasa membuat desain batik, mengenal bermacam motif,  menggunakan canting (alat untuk menggoreskan malam ke kain), pewarnaan dan nglorot (menghilangkan malam atau lilin batik pada kain).

“Usaha kakek cenderung ke arah seni batik.  Saat kecil saya sering membantu karyawan yang sedang mengerjakan souvenir. Ketika dewasa, pengalaman masa kecil itu ternyata memudahkan saya dalam membuat desain dan menciptakan motif  batik,” kenang pria berpenampilan kalem  ini.

Pengalaman masa kecil itu pula yang kemudian menumbuhkan kecintaan Santosa terhadap batik. Saking cintanya terhadap batik, ketika remaja Santosa bahkan sudah memutusakan batik sebagai pilihan hidupnya. Selepas SMA, misalnya, ia memilih masuk Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung.

“Saya ingin punya perusahaan batik. Soal teknik membatik, desain dan motif-motif batik saya sudah banyak  tahu. Tapi saya buta ilmu manajemen, sehingga saya masuk fakultas ekonomi ,”ujar anak  ke-5 dari 10 bersaudara dari pasangan dr Doelah dan   Fatimah ini.

Bisnis batiknya ia mulai ketika masih menjadi mahasiswa. Dari Solo ia membawa kain batik yang kemudian dijajakan di Bandung. Tak heran jika selama kuliah  ia sering ke Solo untuk kulakan kain batik.

“Saya memulai bisnis ini dengan berdagang batik eceran. Semuanya dari nol. Benar-benar dari nol,” kata Santosa di Ndalem Wuryaningratan, rumah sekaligus tempat usahanya.

Ketika kuliahnya tinggal skripsi, bisnis batiknya mulai berkembang. Ia akhirnya memilih berhenti kuliah, kemudian  menikah dan  mendirikan usaha batik Danar Hadi tahun 1967 di Solo. Nama Danar Hadi meripakan penggalan dari nama istrinya, Danarsih, dan nama depan mertuanya, Hadi.

Baca juga  Endah Laras: Dari Keroncong ke Film

Dengan mempekerjakan 20 orang karyawan, produksi pertama Danar Hadi  adalah batik tulis Wonogiren yang merupakan adaptasi dari motif Batik Klasik Kraton Surakarta.

“Akar saya adalah batik tradisional. Tidak disangka produksi pertama ini banyak peminatnya. Ketika itu kami bahkan menerima pesanan sampai berkodi-kodi, sampai kami kewalahan,” kenang peraih penghargaan Upakarti ini.

Dari hasil penjualan Batik Wonogiren, Santosa bisa membuka perkampungan batik di perkampungan tempat tinggalnya di kawasan Singosaren tahun 1968. Dua tahun berikutnya Danar Hadi mengembangkan sayap dengan mendirikan perkampungan serupa di Masaran, Sragen –sekitar 30 km arah timur Kota Solo. Disusul kemudian pendirian sentra usaha batik di Pekalongan tahun 1973.

Batik produksi Danar Hadi semakin dikenal lewat pameran-pameran dan fashion show. Bukan hanya di Indonesia, tapi juga di beberapa negara seperti Singapura, Malaysia, China, Jepang dan negara-negara di Eropa serta Amerika. Danar Hadi pun membuka gerai di sejumlah kota besar, seperti  Jakarta, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Bali, dan Medan.

Di awal  tahun 1980, produksi batik Danar Hadi mulai   diekspor ke beberapa negara seperti Amerika Serikat, Italia dan Jepang. Dari 20 orang karyawan pada awal pendiriannya, kini Batik Danar Hadi memiliki lebih dari 1.000 karyawan.

“Saya tidak pernah khawatir batik dari luar negeri akan mengalahkan batik kita. Indonesia lebih kaya motif dan perajinnya lebih kreatif.  Selama  kita melakukan proses  batik yang asli, kita tidak perlu khawatir dengan batik  dari  negara lain. Tradisi membatik seperti itu harus kita jaga,” ujar Santosa yang juga sebagai penasehat Yayasan Batik Indonesia (YBI).

Proses batik yang asli adalah metode membuat batik dari  menggambar motif, penempelan malam (lilin batik), pewarnaan, hingga pencelupan yang seluruhnya dilakukan secara manual.

“Jangan sampai industri batik Indonesia meniru motif yang sudah ada. Para perajin harus kreatif untuk membuat sesuatu yang baru. Sebab originalitas itu selalu mempunyai  tempat di pasar,” ujar peraih berbagai penghargaan internasional dari Spanyol dan Jepang ini.

Kecintaan Santosa terhadap batik tidak  hanya berhenti pada bisnis batik. Tahun 1999 lalu, bapak empat anak ini mendirikan museum batik kuno di Solo. Lebih dari10 ribu lembar kain batik kuno tersimpan di museum yang terletak di kompleks Ndalem Wuryoningratan di Jalan Slamet Riyadi ini.

Baca juga  Budi Soelaiman: Bapak Biofeul dari Karanganyar,

Di museum inilah Santosa menyimpan koleksi  batik kuno dari berbagai motif dan gaya yang semuanya memiliki ninilai sejarah yang tinggi. Sebut saja Batik Keraton (Kasunanan Surakarta Kasultanan Yogyakarta,, Mangkunegaran dan Pakualaman) yang berusia di atas 200 tahun, kemudian Batik Belanda, Batik China, Batik Hokokai,  Batik Indonesia (karya empu batik Go Tik Swan), dan Batik Saudagaran.  Di museum itu pula  masih tersimpan seperangkat kain dodot yang dikenakan Raja Surakarta Paku Buwono X saat menikahi Kanjeng Ratu Emas (1893).

Batik-batik kuno dikumpulkan sejak Santosa masih remaja. Ketika usaha batiknya mulai berkembang, hobi berburu kain batik langka semakin menjadi. Ia rela datang ke kolektor maupun pemilik pertama untuk mendapatkan batik  yang diinginkan. Santosa bahkan harus terbang ke Belanda untuk bisa mengoleksi selembar kain batik buatan tahun 1830. Alhasil,  seluruh kain batik  koleksi museum ini tergolong langka, berkualitas, dan tidak  diproduksi secara umum lagi.

“Semua ini karena saya cinta batik. Kalau kemudian orang-orang menyebut saya sebagai pelestari batik ya biarlah. Mungkin pelestarian itu hanya imbas dari rasa cinta saya terhadap batik,” ujar pria yang mendapat penghargaan dari Pemerintah Indonesia dan Museum Rekor Indonesia (MURI) kategori pelestari batik.

Keberadaan museum yang didirikannya pun tak sekadar menjadi ruang pamer dan tempat menyimpan koleksi batik. Lebih dari itu, museum ini bisa menjadi tempat belajar segala sesuatu tentang batik.

“Batik itu bukan melulu soal belanja, tapi juga  wisata. Museum ini buka setiap hari, memberi kesempatan bagi mereka yang ingin belajar tentang batik baik secara literatur maupun cara atau teknik membatik,” kata pria yang mewakafkan beberapa masjid megah miliknya ke masyarakat umum ini.

Kini, di usia senjanya, sesekali Santosa masih mengunjungi pabriknya yang tersebar di beberapa kota. Ia juga masih menyempatkan diri untuk membersihkan mobil antik Mercedes buatan tahun 1936, Mercedes tahun 1956, serta skuter Vespa tahun 1967 miliknya.

“Bagi saya, mobil dan skuter ini bukan sekadar  barang lama. Di situlah bagian masa lalu saya. Orang harus menghargai  sejarahnya sendiri, asal usulnya, agar  tidak sombong dan besar kepala,” tutur Santosa.(Ganug Nugroho Adi)

Foto: Ganug Nugroho Adi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here