Ki Purbo Asmoro Wayang Tanpa “Campursari”

Ki Purbo Asmoro Wayang Tanpa “Campursari” – SEBAGAI dalang wayang kulit, nama Purbo Asmoro semakin diperhitungkan ketika Agustus tahun 2009 lalu diundang Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mendalang di Istana Negara. Sebuah pentas yang istimewa. Sebab itulah untuk pertama kalinya seorang dalang bisa kembali menggelar pertunjukan wayang kulit di istana setelah masa pemerintahan Presiden Soekarno 40 tahun lalu.

“Sudah sepantasnya kalau istana memulai kembali tradisi nanggap wayang.  Lucu kalau wayang sebagai kesenian adi luhung yang  harus  dilestarikan, tapi pemerintahnya  tidak pernah nanggap  wayang,” ujar Purbo di rumahnya, Dusun Gebang, Kadipiro, Solo.

Jejak Purbo Asmoro sendiri sebagai dalang profesional mulai  terlihat pada era tahun 1990-an, meski ketika itu tanggapan (undangan) pentas masih di seputaran Kota Solo, Jawa Tengah.  Lahir dari keluarga dalang membuat Purbo sudah dekat dengan dunia pewayangan sejak masa kanak-kanak. Ayahnya, Sumarno, adalah dalang kenamaan di  Pacitan, kota kelahirannya. Setiap kali  ayahnya mendapat tanggapan pentas, Purbo kecil selalu ikut.

“Saya selalu duduk dekat kotak (tempat menyimpan wayang) agar tidak mengantuk. Dari situ saya belajar gaya ayah mendalang, mulai sabetan dan cara nembang (menyanyikan gending),” kata Purbo yang juga dosen Jurusan Pedalangan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.

Tak heran jika dalam usia yang masih belia Purbo sudah hapal tokoh dan cerita pewayangan dalam dua epos besar, Ramayana dan Mahabarta. Minatnya yang besar untuk menekuni dunia pedalangan membawanya  belajar secara akdemis di Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) Surakarta. Saat masih sekolah itulah, dalam usia 17 tahun, Purbo mulai tampil mendalang di muka umum. Sejak itu pria kelahiran Dersana, Pacitan, Jawa Timur, 17 Desember tahun 1961 itu pun mulai ngamen. Honornya untuk memenuhi kebutuhan sekolah dan hidup sehari-hari di perantauan. Apalagi ia kemudian melanjutkan kuliah di Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI) Surakarta. Kelak, ASKI berubah menjadi Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) hingga akhirnya ISI.

“Sekolah itu masa-masa paling sulit. Jauh dari orang tua dan kiriman uang sering terlambat, maka saya ngamen dalang. Honornya tidak besar, tapi lumayan bisa untuk makan ha ha ha…” kenang dalang yang  menjuarai Lomba Dalang se-Jawa Tengah tahun 1992 itu.

Baca juga  Djarot B Darsono: Mimpi Membuat Kita Kuat

Di luar pendidikan akademis, Purbo mengaku banyak belajar dari pakeliran dalang-dalang yang lain, sekalipun dalang tersebut tidak terkenal. Sebab, menurut dia, setiap dalang selalu  mempunyai sesuatu yang khas yang bisa memberikan ispirasi untuk menggarap pakeliran.

“Semakin beragam dalang yang saya tonton, maka semakin banyak pula pelajaran yang saya dapat,” ujar dia.

Masa-masa sulit itu kini tentu sudah berlalu.  Purbo tak lagi ngamen kecil-kecilan, tapi bahkan sudah mendalang hingga ke berbagai negara.  Banyak dari penggemarnya yang menyebut gaya mendalang Purbo unik, karena  memadukan unsur klasik dengan inovasi.

“Klasik, karena saya mempertahankan cerita konvensional. Di luar itu, saya mencoba melakukan inovasi dalam penggarapannya,” jelas suami  dari sinden Sudi Rahayu.

Soal pakem, Purbo memang tidak bisa ditawar. Namun pada aspek  garapan, Purbo sering melakukan inovasi-inovasi sesuai dengan kebutuhan, tertama pertimbangan nilai moral dan pendidikan. Ia memberi contoh, dalam lakon “Banjaran Karna”, ia sengaja tidak menampilkan Dewi Kunti yang membuang bayinya (Karna) ke sungai.

“Kesannya jahat sekali, wong ibu kok sampai tega membuang bayinya sendiri. Itu bukan nilai-nilai yang baik untuk anak-anak.”

Oleh karena itu, lanjut Purbo, garapan harus diubah tanpa menghilangkan maknanya. Di tangan Purbo, Kunti tidak lagi membuang bayinya, tetapi menyerahkannya kepada Duwasa.

“Biarlah Duwasa yang membuang bayi itu ke sungai, asal bukan  ibunya yang melakukan,” jelas Purbo.

Tak hanya dalam soal sastra, Purbo juga melakukan inovasi dalam kemasan gending, dramatisasi, dan konsep banyolan. “Tapi maaf, saya tidak memakai musik campursari. Bukan karena  jenis musik itu jelek, tapi saya merasa tidak cocok saja.”

Bukankan kalau ada musik campursari tambah laku karena banyak yang nanggap?

“Biarlah tu menjadi pilihan dalang lain. Saya lebih patuh pada wayang sebagai filsafat, sastra lisan, dan makanan untuk berpikir, yang bisa disajikan dalam gaya dramatis dan menghibur.”

Sebab, lanjut Purbo, dengan memilih jalur tradisi klasik yang inovatif justru menciptakan pasar baru. Artinya ketika dia sedang mendalang, maka penonton yang datang adalah mereka yang benar-benar ingin menonton pertunjukan wayang. Bukan untuk menonton yang lain.

Baca juga  Dalang wayang Suket Slamet Gundono

“Saya tidak boleh latah. Bagi saya yang penting tetap menjaga konsep keseimbangan antara hiburan dan seni. Jika kita membuat terlalu banyak tikungan ke pasar, tradisi wayang akan melemah,” ujar ayah  dua putra itu.

Tidak hanya di dalam negeri, mulai tahun 2005 lalu   peraih Magister Pengkajian Seni Pertunjukan (Master’s Degree in Performance Art) dari Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta, itu juga melakukan pentas keliling Amerika, Eropa, dan Asia. Bahkan di beberapa negara, Purbo tidak hanya pentas tetapi sekaligus menggelar workshop gamelan dan mendalang. Purbo juga kerap pentas untuk kalangan expatriat di Jakarta.

Di Jakarta Internatiobal School, Purbo membimbing sekitar 800 siswa dari sekitar 40 negara. Menurut peraih penghargaan sebagai Dalang Favorit pada Festival Greget Dalang 1995 itu, murid-muridnya sangat antusias  mempelajari wayang, mulai cara membuat wayang kulit, gamelan, sampai cara mendalang.

Bersama Kitisie Emerson, seorang penerjemah yang pecinta gamelan dan wayang, Purbo menyampaikan nilai-nilai pertunjukannya kepada penontonnya di luar negeri. Bukan sekadar terjemahan secara garis besar, melainkan terjemahan secara langsung dari dialog-dialog dalang, termasuk improvisasinya.

“Saya beruntung punya penerjemah seperti Kitisie. Ia berhasil membuat sebuah terobosan sehingga kesenjangan budaya dan bahasa bukan lagi menjadi hambatan untuk memahami jalannya cerita,” kata dalang yang juga dikenal pintar menirukan gaya dan suara dalang-dalang lain itu.

Menurut bapak dua putra itu, penerjemahan perlu dilakukan karena penonton luar negeri selalu menginginkan pertunjukan wayang kulit dalam bahasa aslinya. Dalang yang menggunakan bahasa Inggris justru sulit sulit dimengerti, karena kendala lafal pengucapan serta penggunaan bahasa yang terlalu simpel dan tidak puitis. Akibatnya pementasan menjadi kaku dan kurang spontan. Apalagi penonton harus mengikuti teks yang sudah dipersiapkan sebelumnya.(Ganug Nugroho Adi)

Foto-foto: doumen Ki Purbo Asmoro

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here