Joko Widodo: Solo Masa Depan adalah Solo Masa Lalu (Bagian 2)

Di tangan Anda, Solo juga dikenal sebagai kota kirab, karena hampir setiap bulan ada kirab budaya…

Tempat usaha Anda belum tercatat di web ini? Hubungi kami di sini.

Saya juga mendengar istilah kota kirab itu. Tapi tidak apa-apa. Saya ingin Solo ramai dengan kegiatan seni dan budaya yang juga melibatkan masyarakat. Solo Batik Carnival (SBC), misalnya, itu khan meicu masyarakat untuk berkreasi dalam hal batik, terutama rancangan atau desain. Jadi bukan sekadar berjalan kaki di Jalan Slamet Riyadi.    Ada juga Solo International Performance Art (SIPA), atau Solo International Ethnic Music (SIEM) yang bisa menjadi alternatif tontonan masyarakat. Mereka tidak perlu ke Jakarta atau bahkan keluar negeri untuk menyaksikan kehebatan seniman asing.

Joko Widodo KabarSoloraya.Com

Mengenai Solo Spirit of Java itu bagamana ceritanya?

Saya sebenarnya khan hanya melakukan rebranding. Solo sendiri sudah lama menjadi kota budaya. Solo juha menjadi pusat kebudayaan Jawa. Jadi sebenarnya tidak aneh kalau saya menggaungkan kembali Solo sebagai ruh-nya (budaya) Jawa.

Salah satunya mewajibkan penggunaan aksara Jawa itu…

Betul. Dulu saya sering ke luar negeri,  Rusia, Korea, China, Jepang, juga Negara-negara di Eropa dan Amerika. Negara mereka sangat modern, namun  tradisinya tetap kuat. Tulisan jalan, nama gedung.. memakai bahasa mereka. Lha kita di sini kok malah menggunakan bahasa Inggris.

Tujuan Anda?

Ini memang bagian dari konsep ”Solo Masa Depan adalah Solo Masa Lalu”. Tapi lebih dari itu, saya hanya ingin membantu mengembalikan Solo menjadi kota yang berkarakter.

Pembangunan karakter itu termasuk menghidupkan pasar tradisional?

Banyak sekali aspeknya. Tapi salah satunya ya pasar tradisional. Itu khan termasuk heritage dan ruh-nya rakyat kecil.  Di Solo banyak pasar tradisional yang selama 30-an tahun tak pernah diurus. Saya menjadi walikota untuk melayani rakyat. Tidak semua dari rakyat saya itu orang kaya, sehingga butuh pasar tradisional yang lebih murah. Bukan mal yang megah tapi mahal.  Di Solo ini sudah sekitar 40 pasar tradisional yang selesai dibangun dan ditata ulang.

Saking semangatnya mengurus pasar, Anda bahkan sampai membuat promosi   belanja di pasar dapat hadiah mobil…

Ha ha ha… saya memang banyak belajar mengelola kota dari luar negeri. Saat masih menjadi pengusaha, saya sering melihat pasar tradisional di  negara lain lebih banyak dikunjungi dibanding mal karena pasar tradisional si sana komplet, segar, dan jauh lebih murah. Tapi di sini sebaliknya. Ibu-ibu lebih suka ke mal, karena pasarnya kotor dan berbau. Karena itu pasar tradisional harus dibenahi agar lebih menarik.

Citra Solo sebagai sebagai kota budaya sudah melekat cukup lama. Apa yang akan Anda lakukan untuk mempertahankan citra itu?

Itu bukan hanya citra, tapi sebenarnya itulah karakter Kota Solo. Semua yang   saya lakukan selama ini ya untuk mempertegas karakter itu. Dua lembaga adat budaya Jawa, yaitu Keraton Kasunanan Surakarta dan Pura Mangkunegaran sangat mendukung pencitraan dan karakter itu. Hampir tiap tahun dua keratin  menggelar beragam tradisi, mulai dari Grebeg Besar, Kirab Malam 1 Syura dengan Kebo Bule Kiai Slamet-nya, jumenengan… Belum lagi kegiatan  kesenian, baik tari, sinden, klenengan yang ada di Keraton Kasunanan Surakarta maupun Pura Mangkunegaran…

Di luar lingkungan keraton, kota ini mempunyai banyak kelompok kesenian. Wayang Orang Sriwedari itu sangat legendaris, ada juga kelompok WO RRI dan Ketoprak Balekambang. Semuanya masih konsisten tampil rutin, meski penonton hanya sedikit.

Baca juga  Sosiawan Leak: Penyair Gaduh

Kita juga punya ISI (Institut Seni Indonesia) dan  gedung pementasan yang memadai. Hampir setiap hari ada kegiatan kesenian di  Taman Budaya Surakarta (TBS), Sono Seni, Joglo Sriwedari, dan Balai Soedjatmoko.
Solo juga memiliki  seniman kenamaan cukup banyak, sebut saja Waldjinah, Rahayu Supanggah, Siprapto Suryodharmo, Slamet Gundono, Sardono W Kusumo, Eko Supriyanto, Dedek Wahyudi, Pak Manteb (KI Manteb Soedharsono), Pak Anon (Ki Anom Suroto) dan seterusnya. Keunikan dan keunggulan Solo itu terletak pada kekayaan dalam seni pertunjukan. Ini berbeda dari Yogyakarta  yang sangat kuat dalam seni rupa.

Apakah semua itu sudah cukup menunjukkan jati diri Solo sebagai kota budaya?

Memang tidak otomatis seperti itu. Tapi bahwa gaung kegiatan seni budaya di Solo itu sangat besar, itu harus diakui. Pemerintah khan hanya fasilitator, hanya mendorong kearah pencitraan dan membangun karakter kota. Para pelaku seni dan budaya, termasuk masyarakat  banyak yang akhirnya menentukan.  Sebenarnya yang lebih penting bukan pada banyaknya kegiatan seni budaya, tapi justru pembentukan karakter budaya tadi.

Maksudnya?

Terus terang, penjagaan terhadap tradisi kedaerahan masih memprihatinkan. Tak sedikit  anak muda jaman sekarang yang lupa sifat dan bentuk tradisi daerah asalnya. Karena itu, kami mulai memasukkan pengembangan karakter budaya Jawa ke dalam kurikulum pendidikan.  Roh Jawa yang sesungguhnya itu ada di sana. Ada tata karma, suba sita, sopan santun, hingga mengenal adat dan istiadat di suku Jawa itu seperti apa tradisinya. Jadi jangan sampai citra budaya hanya sampai di permukaan.

Apakah yang Anda maksud itu revolusi budaya?

Lebih tepatnya harus ada pergerakan revolusioner untuk memngembalikan budaya kejawaan kita. Masyarakat Solo sudah lama dikenal ramah tamah, sopan santun, lembah manah. Itu yang harus kita kembalikan. Percuma setiap hari ada kegiatan budaya, tapi budi pekerti yang merupakan basik karakter hilang.

Ada kritikan terhadap beberapa kegiatan kesenian yang sebenarnya tidak sesuai dengan karakter Solo, misalnya Solo City Jazz. Mengapa tidak Solo City Kerncong saja misalnya…

Petanyaan bagus. Tapi begini, dalam sebuah peradaban kota, kita juga perlu memberi tempat bagi peradaban lain.  Solo memang tidak mempunyai tradisi jazz seperti di Chicago, New Orleans dan Detroit di Amerika sana. Tapi bukan berarti di Solo tidak ada penggemar jazz khan? Itulah barangkali perlunya even-even seperti itu. Dan soal keroncong, kita sudah punya gelaran International Keroncong Festival juga.

Kita juga tahu keroncong menjadi sesuatu yang paling unik dan hanya ada di Indonesia. Solo adalah salah satu kota yang telah membuktikan bahwa keroncong itu hidup. Kota ini juga telah melahirkan maestro-maestro keroncong seperti Gesang dan Waljinah. Mereka ikut membentuk cultural image kota Solo melalui lagu dan nyanyian kroncong. Bahkan bukan hanya keroncong, kita juga mempunyai karawitan. Siapa yang tidak tahu tentang hebatnya karawitan di  Solo ini. Banyak pengrawit kota ini yang menjadi guru besar tamu (visiting professor) di berbagai universitas di mancanegara. Pak Panggah (Rahayu Supanggah, pengrawit dan dosen ISI Solo) bahkan dipercaya menciptakan  komposisi untuk para sutradara kelas dunia, seperti Peter Brook, Robert Wilson, Orson Welles, Ong Keng-sen, dan berbagai seniman panggung lainnya.

Kritikan lain, Anda dinilai membuat citra budaya hanya pada tataran etalase kota, sementara bagian dalam tidak digarap…

Semua harus ada tahapannya. Kita rapikan bagian luar, sekaligus memberi isi.  Yang penting kita bangun fondasinya dulu. Banyak yang melihat pembangunan citywalk di (Jalan) Slamet Riyadi,  penataan kawasan Manahan, Taman Balekambang dan Taman Banjarsari hanya dari sisi fisik saja.   Padahal sebenarnya saya sedang membuat paru-paru kota. PKL yang sebelumnya ada di sana kita pindahkan baik-baik, tanpa membuat mereka rugi. Sebab bagaimana pun dagangan mereka itu sumber hidup mereka.

Baca juga  Ki Manteb Soedharsono Sabetan Dalang Setan

Sekarang hasilnya bisa kita lihat. Balekambang yang dulunya kumuh sudah menjadi taman yang bersih, rimbun dengan pohon-pohon besar. Bukan hanya nyaman, tapi juga menjadi paru-paru kota. Kita sekarang juga merasa lebih enak jalan-kalan di sepanjang Jalan Slamet Riyadi, karena sudah ada citywalk.

Khabarnya Anda dikenal sulit dirayu para investor  yang ingin membangun usaha tapi tidak bersedia menyediakan fasilitas umum…

Ha ha.. Saya ingin menciptakan ruang publik sebanyak-banyaknya. Pembangunan itu harus seimbang. Harus ada ruang nyaman di antara bantgunan fisik agar orang-orang betah berada di sekitarnya. Semakin banyak ruang publik, maka akan semakin banyak pula interaksi antar warga. Dari ruang publik  bisa memunculkan ruang-ruang sosial, kesenian dan kebudayaan. Para investor maunya nendirikan bangunan fisik, tapi tidak mau ikut menjaga lingkungan soasial dan budaya. Itu yang saya tidak mau.

Apa yang masih menjadi obsesi Anda untuk mempertegas Solo sebagai kota budaya?

Saya sedang termotivasi untuk mulai merencanakan membangun beberapa pusat seni dan budaya di Solo, seperti rumah opera standar internasional, kemudian pusat konvensi dan pameran, serta museum keris. Pusat konvensi dan pameran itu untuk membuat Solo menjadi kota tujuan ketiga setelah Jakarta dan Bali. Mudah-mudahan dalam waktu dia tahun akan terwujud.

Soal museum keris tadi?

Idenya sebenarnya dari Forum Bawarasa Tosan Aji (FBTA). Museum keris ini tidak hanya berisi koleksi keris saja, tapi sekaligus sebagai pusat kajian dan pengembangan keris, termasuk workshop. Di Solo banyak mpu-mpu hebat. Kita juga memiliki akademisi dan pakar keris yang mumpuni. Seperti halnya batik, nantinya kita juga akan lebih mengenalkan keris kepada masyarat. Selama ini  citra keris itu benda mistis dan jimat (pusaka). Padahal khan tidak begitu. Keri situ produk local genius.

Tentang pusat pengkajian dan pengembangan keris itu,  kami sudah berdialog dengan Forum Bawarasa Tosan Aji (FBTA).  Solo sendiri masih memiliki delapan unit besalen, kemudian manuskrip keris di Perpustakaan Radya Pustaka, Reksa Pustaka, dan Sono Pustaka.  Saya kira pengembangan keris sebagai benda budaya ini juga konsekuensi logis dari penetapan keris sebagai warisan dunia oleh Unesco.

Anda juga memiliki keris tentunya…

Ada beberapa. Mungkin sekitar 20-an keris. Tapi saya hanya senang saja, bukan kolektor. Sebelum menjadi walikota saya sudah sedang keris. Saya melihatnya sebagai barang seni yang luar biasa. Terutama filosofi dan nilai-nilai yang ada pada keris itu.

Anda menyempatkan diri untuk membeli keris? Seimak  juga Joko Widodo Solo Masa Depan adalah Solo Masa Lalu Bagian 1

Ada yang beli, ada juga yang diberi. Tapi lebih banyak yang diberi. Ha ha ha.. (Ganug Nugroho Adi)

Foto-foto: Ganug Nugroho Adi

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here