Joko Widodo: Solo Masa Depan adalah Solo Masa Lalu (Bagian 1)

Joko Widodo Solo Masa Depan adalah Solo Masa Lalu, NAMANYA Joko Widodo, tapi ia biasa disapa Jokowi. Sejak dilantik menjadi Walikota Surakarta (Solo) tahun 2005 lalu, kepeduliannya tak melulu soal ekonomi, tapi juga budaya. Ia misalnya mem-branding Kota Solo dengan ikon “Solo: The Spirit of Java”. Bukan sekadar ikon.  Lewat usahanya, tahun 2006  Solo menjadi anggota “Organisasi Kota-kota Warisan Dunia”, dan dua tahun berikutnya sudah menjadi tuan rumah bagi konferensi organisasi tersebut. “The Spirit of Java” membuat banyak perubahan; pasar tradisional yang tertata, taman kota, sentra batik, sentra jajanan, daerah bebas kendaraan bermotor, pusat-pusat pertunjukan seni,  budaya, dan wisata. Termasuk memberikan “roh Jawa” pada kota, dengan mewajibkan penggunaan aksara Jawa (ha na ca ra ka) untuk papan nama kantor pemerintahan, sekolah, dan pusat perbelanjaan.  Di bawah kepemimpinannya, Solo menjadi lebih percaya diri, tak lagi menjadi bayang-bayang Yogyakarta seperti selama ini.

Joko Widodo - Jokowi soloraya.com

Lahir di Solo, 21 Juni 1961, Jokowi adalah insinyur kehutanan  dari Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyaklarta tahun 1985.  Bulan Juli lalu, ia dilantik menjadi walikota untuk kedua kalinya (2010-2015), setelah meraih dukungan suara lebih dari 90 persen. Padahal, saat pertama kali mencalonkan walikota tahun 2005, banyak yang meragukan kemampuannya. Maklum, ia adalah pengusaha yang lebih dekat pada dunia bisnis. Namun ia kemudian membuktikan bahwa ia bukan walikota biasa. Tahun 2009, misalnya, Jokowi terpilih menjadi walikota terbaik se-Indonesia.

Ia juga dinobatkan sebagai ““Tokoh 2008” oleh sebuah media nasional besar.  Di bawah kepemimpinnya, Solo mendapat penghargaan sebagai “Kota Pro-Investasi” (Badan Penanaman Modal Daerah Jateng), “Kota Layak Anak” (Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan),  Wahana Nugraha (Departemen Perhubungan), “Kota Sanitasi dan Penataan Permukiman Kumuh” ( Departemen Pekerjaan Umum). Tahun 2010 ini, Jokowi menerima penghargaan “Bung Hatta Anti Coruption Award/BHACA”. Jauh sebelumnya, tahun 2005, berhasil memindahkan ribuan pedagang kaki lima dengan damai. Julukan “walikota kaki lima” pun melekat padanya.

Sikapnya yang anti gaya birokrat,  tak suka basa-basi, egaliter dan pro-rakyat membuatnya tak berjarak dengan warganya. Salah satu buktinya, ia mengubah  rumah dinasnya, Lodji Gandrung, menjadi tempat yang ramah, dan terbuka untuk semua warga yang ingin berdialog. Jokowi juga sering turun menemui warganya dengan pakaian santai, jauh dari kedinasan.

“Tidak semua urusan harus diselesaikan secara dinas. Rakyat itu butuh pemimpin yang memimpin dengan hati, pemimpin yang bisa memperlakukan mereka sebagai sesama,” kata Jokowi, dalam sebuah kesempatan berbincang di Lodji Gandrung, rumah dinasnya.

Baca juga  Tim Jokowi: Kalau Ada #2019GantiPresiden di Yogya, Kami Lawan

Maka, bukan pemandangan yang mengherankan jika menyaksikan Jokowi disapa dan disalami oleh warga biasa saat melintas, dan sang walikota pun membalas dengan sama hangatnya.

Jokowi juga dikenal sangat peduli terhadap seni, budaya, dan wisata Kota Solo. Di dalam banyak kesempatan, ia selalu mengatakan bahwa Solo masa depan adalah Solo masa lalu.   Dengan konsep ini, Jokowi  ingin mengembalikan ruh Solo tempo dulu ke dalam Solo masa kini. Ada banyak contoh yang telah ia lakukan untuk konsep tersebut, antara lain menghidupkan night market di kawasan Ngarsopuro. Dengan pasar ini, masyarakat seolah dingatkan kembali pada sebuah pasar tradisional yang dulu pernah ada di kawasan tersebut, yaitu Pasar Ya’i. Walikota yang dikenal  low profile ini kiha menghidupkan kembali bangunan-bangunan tua yang tak terawat, menata trotoar (city walk) di Jalan Slamet Riyadi layaknya kota-kota di Eropa, serta menghidupkan suasana kota tempo dulu dengan mengoperasikan kereta uap di tengah kota. Hokowi menyebut konsep pembangunannya dengan istilah “Solo masa depan adalah Solo masa lalu”.

Bisa dijelaskan mengenai konsep ‘Solo masa depan adalah Solo masa lalu’ itu?

Konsep itu sebenarnya biasa saja, tidak ada yang hebat.  Intinya, tidak semua yang lama harus dibuang.  Seperti kehidupan, tidak selamanya kita tidak membutuhkan barang lama khan? Terutama jika barang itu menyimpan kenangan. Kota juga seperti itu. Hanya saja ini lebih kompleks.    Intinya, pembagungan Kota Solo harus bertumpu pada potensi budaya yang dimilikinya.

Bukankah pembangunan harus menyesuaikan dengan perkembangan zaman?

Betul. Zaman berubah dan pembangunan harus dilakukan. Tapi jangan sampai kita merusak apa yang menjadi penanda kota.  Apa yang masih bisa dipertahankan ya dipertahankan, yang sudah rusak ya harus direvitalisasi, diperbaiki. Jangan dirobohkan. Itu untuk bangunan-bangunan tua dan bersejarah.  Pembangunan tidak boleh membabi buta. Solo banyak memiliki warisan seni budaya. Pembangunan fisik pasti. Tapi yang penting justru rohnya itu.

Apakah itu alasan memasukkan Solo menjadi anggota World Heritage Cities (Organisasi Kota-kota Warisan Dunia) sejaligus menjadi tuan rumah untuk World Heritage Cities Conference and Expo (WHCCE) tahun 2008  lalu?

Solo itu tidak punya sumber daya alam. Kita hanya punya potensi warisan budaya (heritage). Pengalaman saya sebagai pengusaha ekspor mebel, Solo perlu networking dan promosi jika ingin membuat kota ini kuat secara ekonomi. Solo harus punya jaringan dengan negara-negara lain di dunia. Solo memiliki  banyak peninggalan budaya, baik yang tangible (kebendaan) maupun intangible (seni budaya).  Karena itu Solo harus bergabung dengan Organization of World Heritage Cities (OWHC). Ketika saya ikut konferensi di Safranbolu, Turki (2005), saya mulai berpikir untuk menjadi tuan rumah konferensi. Ketika konferensi di Lijiang, Tiongkok, tahun 2006, saya pun melobi sidang untuk bisa menjadi tuan rumah pelaksanaan WHCCE 2008.

Baca juga  Hanindawan: Teater di Ruang Keluarga

Kenapa? Bukankah acara seperti itu biayanya mahal?Apalagi ketika itu nda menggratiskan biaya akomodasi peserta…

Tidak juga. Setelah dihitung-hitung, biaya total untuk acara itu Rp 6,8 miliar. Sedangkan untuk biaya akomodasi dan makan para peserta hanya Rp 400 juta. Itu sudah bisa ditutup dengan biaya dari APBD Rp 3,1 miliar. Perlu diingat, yang digratiskan tidak semua. Misalnya, dari Jepang ada 30 rombongan, yang kami gratiskan hanya 5 orang. Rombongan pengikutnya tentu harus bayar sendiri.

Apa sebenarnya keuntungan menjadi tuan rumah dari World Heritage Cities Conference and Expo (WHCCE)?

Ini sarana murah dan relatif mudah untuk mempromosikan Kota Solo.  Jangan dihitung secara materi. Bayangkan, sekitar 230 delegasi dari berbagai negara di dunia dating ke Solo. Ada  Amerika Serikat, Amerika Latin, Afrika, dan Australia. Kemudian Gambia (Afrika), Tavua (Fiji Island), juga Quebeq (Kanada). Paling banyak dari Rusia dan Tiongkok. Sebanyak  2.500 orang berada di Solo selama sepekan itu.  Ini promosi gratis, yang tidak akan bisa dicapai dalam waktu sesingkat, semudah, dan semurah itu jika dilakukan dengan promosi konvensional. Mengirim delegasi seni budaya dan ekonomi ke luar negeri jauh lebih mahal. Saya malah berpikir kalau acara-acara seperti ini sudah membudaya di Solo, maka semua biaya bias ditanggung pihak swasta. Khan mereka juga yang kelak mendapat keuntungannya. Simak juga Joko Widodo Solo Masa Depan adalah Solo Masa Lalu Bagian 2

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here