Hanindawan: Teater di Ruang Keluarga

Hanindawan – Teater di Ruang Keluarga: SESUNGGUHNYA penampilan pria ini terlalu rapi untuk ukuran orang panggung. Kaos atau kemeja yang dikenakan selalu bersih dan diseterika rapi. Sama rapinya dengan rambut yang dicukur nyaris plontos. Ia juga amat santun dan kalem.  Namanya Hanindawan, seorang dramawan dari Solo, Jawa Tengah. Hanin, begitu ia biasa disapa, menjadi istimewa karena hingga kini dialah penggerak bagi kehidupan teater di Solo dan kota-kota sekitarnya. Ia biasa berlama-lama di desa terpencil hanya untuk  memberikan workshop penulisan naskah dan latihan teater untuk anak-anak dan remaja di sana.

Tempat usaha Anda belum tercatat di web ini? Hubungi kami di sini.

“Mereka yang tinggal jauh di pedalaman juga  berhak tahu, apa itu teater, musik, pembacaan puisi dan lainnya.  Saya hanya menularkan apa yang saya tahu kepada mereka. Jadi apa yang saya kerjakan ini bukan sesuatu yang istimewa,” kata Hanin.

Hanindawan Kabarsoloraya.com

Jejak Hanin di dunia teater, terutama di Solo, cukup dalam dan panjang. Semuanya ia mulai ketika SMA tahun 1977, dengan menjadi anggota teater Gidag Gidig –sebuah kelompok teater yang terkenal di Solo.

“Saat itu saya bahkan belum tahu yang namanya teater. Teater atau bukan, pokoknya main saja. Tapi setelah itu ketagihan. Seperti orang yang sedang jatuh cinta,  seluruh masa remaja saya bisa tertampung di teater,” kata ayah dua putri ini.

Tahun 2004 , ia bersama kelompok teater Gidag Gidig mampu mencuri perhatian banyak kalangan dalam Panggung Teater Realis di TIM Jakarta. Ketika itu, ia menggarap lakon Dag Dig Dug karya dramawan Putu Wijaya yang sarat dengan teror, menjadi sugguhan panggung yang ringan, cair dan penuh guyonan,  namun  tanpa harus kehilangan ruh naskah.

“Bagi saya teater itu sebuah ruang baca, dan kita mengajak penonton untuk  membaca bersama tentang apasa saja, mulai masalah sosial, politik, hukum, lingkungan, hingga korupsi. Karena itu penonton harus dimudahkan,” kata Hanin di Taman Budaya Surakarta (TBS).

Lahir di Solo, 4 Desember 1959, sejak kelas 1 SD Hanin tinggal bersama  neneknya. Kedua orang tuanya hijrah ke Jakarta setelah pensiun, mengajak serta kakak dan adiknya.  Hanin menolak ikut, karena terlanjur menikmati pentas-pentas kesenian di RRI Surakarta yang berada tak jauh dari rumah neneknya. Pada era tahun 1970 hingga 1980, RRI Surakarta memang merupakan salah satu pusat kegiatan kesenian di Solo. Hampir setiap malam selalu ramai dengan berbagai kegiatan kesenian, seperti wayang kulit, wayang orang, ketoprak, pembacaan puisi, kerawitan dan musik keroncong. Dalam lingkungan seperti itulah Hanin kecil mengawali perkenalannya dengan dunia kesenian.

Baca juga  Danarsih Santosa: Batik Bukan Sekedar Kain

”Hampir setiap malam saya mbludus (masuk dengan cara sembunyi-sembunyi tanpa membeli tiket) untuk nonton pentas di panggung RRI.  Saya juga tidak tahu mengapa suka. Mungkin karena saya tidak mempunyai teman, jadi butuh hiburan,” kenang suami dari Sri Mahanani Nugrohoningsih ini.

Pentas-pentas kesenian di RRI itulah yang memberikan dasar kesenian (teater) tradisi  yang kuat pada dirinya.  Tak heran karakter tradisional selalu melekat pada setiap garapannya, termasuk naskah-naskah drama yang ia tulis.

Ketika tahun 1982  ia diminta memimpin Gidag-Gidig menggantikan pemimpin sebelumnya, unsur modern dan tradisional pun kental mewarnai Gidag Gidig. Hanin, misalnya, memasukkan gamelan berikut sinden sebagai ilustrasi musik. Ia mengemas teater dengan gaya khas; ringan, segar dan komedial -sehingga isu yang berat sekalipun akan mudah ditangkap penonton.

Kelak, dalam Festival Teater Yogyakarta tahun 1985, sejumlah teaterawan menyebut gejala semacam ini merupakan gaya sampakan –yang kemudian menjadi label Teater Gandrik. Istilah sampakan  mengacu pada gending sampak, yakni komposisi gamelan yang riang yang banyak  dipakai pada ketoprak.

”Bagi saya, itu sebenarnya hanya pilihan estetis pertunjukan. Bagian dari kreativitas,” kata Hanin.

Naskah teater pertama Hanin, Paing si Bediende, yang ditulis tahun 1982,  paling sering dipentaskan oleh kelompok-kelompok teater di Solo dan kota-kota sekitarnya, seperti Yogyakarta dan Semarang. Sejak itu mengalir naskah-naskahnya yang lain, seperti Gulipat (1990) , Pedati Kita di Kubangan (1993), Kanjeng Ratu (1996), Boneka Patah (1998), Membaca Calon Arang (2002) dan Hai Orang (2008) yang pernah ia pentaskan keliling Jawa, Bali, Sumatera dan Sulawesi.  Hampir semua naskah dan pentasnya sarat  guyonan, namun selalu memiliki nilai-nilai moral, kebaikan dan religiusitas. Tak jarang ia melesatkan sinisme, kritik dan protes social. Hanya saja, Hanin tak pernah melesakkan nilai-nilai itu dengan cara yang  meledak-ledak. Sebaliknya, ia selalu membungkus karyanya dengan santun, kalem dan sesekali kocak.

Lewat teater Gidag Gidig, Hanindawan menyebarkan ”virus” teater di SMA-SMA di Solo dan sekitarnya, hingga sempat terjadi booming teater pada era tahu 1990-an. Hingga kini, peran Hanin tak bisa dilepaskan dari menjamurnya kelompok teater sekolah di Solo, termasuk keberadaan festival teater sekolah yang rutin digelar setiap tahun dalam 20 tahun terakhir ini.

Baca juga  Enno Sulistyorini: Koreografer muda asal Solo

Dalam beberapa tahun belakangan, Hanin kerap berkolaborasi dengan sejumlah seniman lain; penari, dalang, wayang orang, musisi dan bahkan perupa. Februari ini, mislanya, ia tengah menyiapkan sebuah pentas kolosal teater-tari bersama koreografer Djarot B Darsono, yang akan dipentaskan  pertengahan Maret mendatang.

“Kesenian itu tidak pernah berdiri sendiri. Kesenian harus bertemu dengan kesenian lain dan penontonnya agar  lebih hidup. Saya punya mimpi teater, juga kesenian lain, bisa hidup di luar habitatnya gedung kesenian,” ujar Hanin yang sukses menggelar Mimbar Teater Indonesia II yang digelar di Solo, Oktober tahun lalu.

Mimpi itu diwujudkan lewat kelompok Thoprak Pendapan, sebuah pentas ketoprak dengan cita rasa lain;  panggung minimalis, gamelan mini,  tak ada bahasa Jawa halus, tak ada juga adegan abdi yang menyembah takzim kepada rajanya. Mengambil cerita dari kisah-kisah seputar kerajaan, namun dalam penyajiannya Thoprak Pendhapan membebaskan diri dari pakem ketoprak konvensional (klasik) yang kini semakin dijauhi terpinggir.  Di tangan Hanin, pementasan ketoprak menjadi sajian masa lalu yang  dinamis, modern, gampang dimengerti dan menghibur.

Seperti mimpinya pula, Thoprak Pendhapan lebih sering dipentaskan di kampung-kampung. Panggungnya adalah teras rumah penduduk, pendapa balai desa, atau lapangan bulutangkis RT.

“Saya tidak risi disebut sebagai seniman kampung. Kesenian harus mendekat dengan masyarakat agar terus dicintai,” ujar Hanin yang karyawan di di Taman Budaya Surakarta.

Dalam perkembangannya, Hanin mengusung ketoprak “gaya baru” ini ke ruang keluarga. Konsep ini, menurut dia, dijalankan dengan sistem  tanggapan. Sebuah keluarga yang sedang mempunyai hajatan pernikahan, misalnya, bisa menanggap Thoprak Pendhapan pentas di ruang keluarga rumahnya. Pentas eksklusif ini merupakan pentas kecil dengan tiga orang pemain yang memanfaatkan ruang tamu sebagai setting panggung.

“Penontonnya bisa hanya anggota keluarga.  Biaya tanggapan antara Rp 300 ribu hingga Rp 500 ribu.  Selama Januari, sudah ada tiga keluarga yang nanggap. Salah satunya adalah keluarga Mas Don (seniman tari Sardono W Kusuma),” ujar Hanin. (Ganug Nugroho Adi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here