GKR Wandansari: Galau Putri Keraton

GKR Wandansari:  Galau Putri Keraton   , PUTRI keraton itu berdiri di depan Panti Rukmi, sebuah bangunan tua dan kusam di komplek Keputren Keraton Kasunanan Surakarta. Ia sandarkan tubuhnya pada tiang pendapa.

Tempat usaha Anda belum tercatat di web ini? Hubungi kami di sini.

“Rasanya ingin menangis setiap kali memandang bangunan-bangunan  di sini. Hampir semuanya kumuh, rusak dan tidak terawat. Di mana-mana ilalang dan semak. Ironis sekali dengan slogan “Spirit of Java”  kota Solo,” ujarnya.

GUSTI MOENG KABARSOLORAYA.COM

Putri keraton itu adalah Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Wandansari, biasa disapa Gusti Moeng, salah satu putri Raja Surakarta Sampeyandalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan (SISKS) Paku Buwono XII (1944-2004). “Moeng” merupakan nama kecilnya  saat dia masih bergelar Gusti Raden Ayu (GRAy) Koes Moertiyah.

“Keraton tidak punya biaya untuk merenovasi bangunan-bangunan ini. Beberapa bangunan memang masih terawat, tapi lebih banyak lagi yang tinggal menunggu roboh,” kata dia.

Bagian dalam komplek keraton memang tak semegah bagian luarnya. Banyak bangunan yang lapuk, dinding mengelupas, dinding yang rengkah, sehingga lumut dan rumput hampir menutupi batu-bata. Di bagian lain, beberapa bangunan terlihat kosong, tanpa jendela dan pintu. Ilalang tumbuh tinggi memenuhi halaman.

“Seperti inilah kondisi keraton sekarang. Saya prihatin. Tapi sampai kapan pun saya akan terus berusaha membuat keraton kembali pantas untuk dlihat,” ujar Pangageng Sasono Wilopo Keraton Kasunanan Surakarta ini.

Lahir di Solo 1 November 1960, Gusti Moeng sejak kecil hidup dan tumbuh dalam lingkungan serta tradisi keraton yang ketat. Namun, takdirnya sebagai putri raja tak membuatnya manja dan hidup bermewah-mewahan.

“Sinuhun sangat keras dalam mendidik putra-putrinya. Sejak kecil, kami wajib mempelajari tetek-bengek tentang keraton, termasuk membatik, nembang dan menari,” kenangnya.

Hidup di lingkungan keraton  sedikit banyak memang  membuat perempuan ini merasa terkekang. Tak heran jika sejak kecil ia sering melakukan pemberontakan terhadap “tradisi” keraton. Saat kanak-kanak, misalnya, ia lebih memilih belajar silat yang diperuntukkan khusus laki-laki dibandingkan belajar menari dan nembang.

Gusti Moeng juga menolak bersekolah di sekolah khusus anak raja dan sebaliknya memilih sekolah umum. Karena sikapnya yang sering memberontak itulah mendapat julukan  “putri mbalela”.

“Di sekolah umum, teman-temannya beragam sehingga bisa kita bisa mengenal banyak orang dari berbagai latar belakang yang berbeda,” kata istri Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Edy Wirabumi ini.

Baca juga  Riwayat Pakubuwono V : Sunan Sugih Lama Belajar, Singkat Menjabat

Tidak heran jika sejak kecil Gusti Moeng memiliki pergaulan yang luas. Di luar keraton, ia memiliki minat besar pada  organisasi dan kegiatan sosial. Ketika SMP dan SMA, ia selalu menjadi pengurus Osis. Di Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Solo tempatnya kuliah, ia aktif di senat mahasiswa.

“Saat menjadi mahasiswa itulah saya sedikit demi sedikit mulai belajar politik. Sinuhun (PB XII) mengajari saya berpolitik dengan cara sering mengajak saya diskusi membahas masalah keraton,” ujar Gusti Moeng yang juga anggota DPR RI periode 2009-2014.

Meski sering melakukan pemberontakan, namun kecintaan Gusti Moeng terhadap keraton sangat besar. Ia begitu gigih mengupayakan kelestarian keraton berikut peninggalannya.

“Keraton itu bukan sekadar bangunan. Ini soal bagaimana  menghargai sejarah dan perjuangan dari para pendahulu kita. Ini juga soal bagaimana seharusnya kita menjaga kelestarian keraton  sebagai  pusat kebudayaan Jawa,” ujar perempuan yang masih terlihat cantik di usianya yang ke 51 tahun ini.

Meski merasa galau dengan kondisi keraton, namun perempuan berkulit kuning langsat ini selalu bersemangat jika membicarakan keraton. Kegalauannya tidak hanya pada banyaknya bangunan keraton yang rusak, tapi juga  benda-benda pusaka lain peninggalan keraton.

Di dalam keraton, kata dia, saat ini setidaknya masih terdapat lebih dari 500 benda keraton, seperti arca perunggu dan batu, peralatan upacara keraton, ageman keprabon yang berupa busana dan perhiasan, gamelan, topeng, foto, lukisan, joli atau tandu  serta bermacam senjata  mulai keris, tombak dan pedang. Benda-benda pusaka ini sebagian dipajang di museum dan sebagian   lainnya menumpuk di Sasana Pustaka.

“Keraton juga masih menyimpan sekitar 6.000 buku, mulai babad (sejarah), kumpulan tembang sampai aneka resep. Semua itu mau diapakan? Pemerintah harus berperan aktif. Apa generasi muda tidak akan pernah bisa mengenal itu semua, karena keraton sebagai pusat kebudayaan keburu hilang?” kata Sekjen Forum Komunikasi dan Informasi Keraton Nusantara ini.

Menurut lulusan pasasarjana Lingkungan Hidup UNS, kondisi keraton saat ini sungguh sangat paradoks. Pada sisi lain keraton sebagai warisan budaya (Jawa)  tidak boleh lenyap, tak boleh hilang. Namun pada sisi lain  upaya untuk pelestarian justru dilakukan pemerintah dengan setengah hati.

Baca juga  Joko Widodo: Solo Masa Depan adalah Solo Masa Lalu (Bagian 1)

“Terus terang, keraton  tidak akan mampu jika harus menangani sendirian. Keraton tidak mempunyai uang,” kata dia.

Galau hati putri keraton ini tidak sekadar pada kondisi fisik keraton, tetapi  justru lebih pada bagaimana bangsa ini menyikapi warisan budaya leluhur yang seharusnya tidak boleh berubah.

“Saya melihat generasi bangsa telah hanyut dalam arus budaya modern. Kaki-kaki mereka hampir tidak berpijak pada budaya leluhur. Kelak, keraton sebagai pusat kebudayaan (Jawa) pelan-pelan bisa ditinggalkan,” ujarnya.

Memang tidak semuanya. Sebab, kata Gusti Moeng, di tengah arus global yang menderu, masih saja ada sebagian kecil dari generasi muda yang peduli untuk belajar budaya keraton. Ia memberikan conroh bahwa setiap tahun jumlah kalangan muda yang belajar pambiworo (pembawa cara berbahasa Jawa) di Keraton Surakarta terus bertambah.

“Sejak lima tahun terakhir, sanggar pambiworo meluluskan 100 sampai 200 orang setiap tahunnya. Saya bersyukur karena sebagian besar justru dari anak-anak muda,” katanya.

Gusti Moeng paham, globalisasi pasti terjadi. Zaman memang sudah seharusnya berubah. Jika tidak, peradaban sebuah bangsa akan tertinggal dengan budaya bangsa lain. Bahkan keraton yang merupakan simbol budaya pun mulai terbuka dengan globalisasi-modernisasi. Dia mencontohkan sekarang ini tidak sedikit perempuan bangsawan yang mulai terjun ke politik. Padahal dulu keraton menganggap dunia politik tabu untuk perempuan, karena perempuan sekadar sebagai kanca wingking (mengurus dapur).

“Yang tidak boleh adalah jika  kita membiarkan begitu arus globalisasi menggerus budaya sebuah bangsa sampai lumat tak berbentuk,” ujar Gusti Moeng.

Di tengah kesibukannya sebagai anggota dewan, perempuan ini tetap berusaha mengembalikan pamor Keraton Kasunanan Surakarta yang mulai tenggelam. Salah satunya adalah dengan menagih janji pemerintah pusat yang akan membantu revitalisasi komplek keraton.

“Sebagai keluarga dalam, saya memiliki tanggung jawab yang besar untuk mempertahankan keberadaan keraton ini,” kata dia. (Ganug Nugroho Adi)

Foto: Ganug Nugroho Adi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here