Febri Hapsari Dipokusumo : Kecantikan Perempuan Jawa

Febri Hapsari Dipokusumo :  Kecantikan Perempuan Jawa TINGGAL di lingkungan keraton tidak menjadikan Raden Ayu (RAy) Febri Hapsari Dipokusumo kolot. Menantu Raja Surakarta, Paku Buwono XII, ini justru tampil menjadi perempuan Jawa modern yang sibuk dengan tetap memegang t ajaran dan nilai-nilai tradisi Jawa.

Tempat usaha Anda belum tercatat di web ini? Hubungi kami di sini.

“Perempuan modern itu berarti perempuan yang berpendidikan, dinamis, dan mempunyai komitmen terhadap keluarga. Yang terakhir ini sangat penting, karena banyak perempuan pintar  justru melupakan komitmennya terhadap keluarga, suami dan anak-anak,” kata istri Gusti Pangeran Haryo (GPH) Dipokusumo ini.

Febri Hapsari Dipokusumo Kabarsoloraya.com
Nilai-nilai lama Jawa tentang peran perempuan, menurut dia, masih sangat relevan di kehidupan masa sekarang. Ia mencontohkan ajaran “istri  sebagai kanca wingking suami”. Menurut Febri, pada zaman dulu kalimat “kanca wingking” dimaknai bahwa perempuan itu tempatnya di belakang, mengurus dapur dan melayani suami. Perempuan adalah kanca wingking dalam arti yang sebenarnya, yaitu teman suami di belakang (masyarakat Jawa menyebutnya seputaran dapur, kasur dan sumur). Artinya, seorang istri tidak berhak mencampuri urusan suami, seperti pekerjaan, gaji dan seterusnya.  Namun untuk masa sekarang, lanjut Febri, kanca wingking bisa dimaknai secara modern, yaitu sebagai teman bicara dan berdiskusi bagi suami, bukan sekadar perempuan yang mengurus dapur.

“Karena itu para perempuan harus berpendidikan, harus meningkatkan kualitasnya sebagai perempuan. Ingat, di belakang seorang laki-laki yang hebat selalu ada seorang perempuan yang hebat pula,” ujar perempuan yang masih terlihat cantik dan segar menjelang usia 40 tahun ini.

Menurut Febri, para perempuan yang mengaku dirinya modern ada baiknya melakukan introspeksi. Sebab, banyak dari mereka yang beranggapan   bahwa perempuan masa kini harus harus sejajar dan jika perlu mengalahkan laki-laki. Banyak dari mereka menyikapi emansipasi sebagai emosi untuk menandingi   laki-laki.

“Perempuan memiliki karir itu baik, tapi jangan melupakan keluarga. Di kantor menjadi direktur, tapi di rumah ia harus tahu perannya sebagai seorang  istri dan ibu. Jangan mentang-mentang direktur, suami sendiri diperlakukan seperti babu,” kata Febri.

Febri melihat bahwa yang diperjuangkan Kartini pada zamannya adalah  meraih kesempatan pendidikan untuk kaum perempuan, agar para perempuan Indonesia berkualitas. Sebab hanya perempuan yang berkualitas dan terdidik yang bisa melahirkan anak-anak yang berkualitas.

Baca juga  GKR Wandansari: Galau Putri Keraton

Maka, tambah Febri, emansipasi bukan gerakan untuk melawan atau menandingi lak-laki. Emansipasi adalah imbas atau efek dari kualitas perempuan dalam kehidupan sosial.  Emansipasi akan muncul secara otomastis, mengikuti kualitas perempuan.

“Perempuan bisa menjadi  polisi itu bentuk emansipasi. Ia menjadi polisi, karena sekolah di akademi kepolisian. Ia berpendidikan, berkualitas, sehingga akhirnya lulus dan bisa menjadi polisi. Itu contoh gampangnya.”

Pendidikan dan keseimbangan emosi perempuan menjadi komitmen dari Febri, karena dua hal itulah yang, kata dia, akan membentuk kecantikan perempuan Jawa.  Lahir dari keluarga darah biru Solo, Febri memang mengenal betul konsep kecantikan perempuan Jawa.

“Kecantikan perempuan Jawa itu ada di dalam, bukan di luar. Karena itu harus dimunculkan agar selaras dengan keseluruhan,” ujar perempuan kelahiran Surabaya, 2 Februari 1972.

Febri tumbuh dalam aturan dan tata krama Jawa yang ketat. Ayahnya, Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Hartono Brotoasmoro, seorang pejabat di lingkungan Pertamina, sedangkan ibunya, Raden Ayu (RAy) MB Hartuti, seorang ibu rumah tangga yang paham benar tentang perempuan Jawa. Dari ibunya inilah Febri banyak belajar tentang perempuan Jawa.

Febri memang beruntung. Meski berasal dari darah biru, namun ayah dan ibunya adalah orang tua yang modern dan moderat. Mereka membebaskan Febri untuk mengenal dunia luar, lengkap dengan pernik-perniknya. Setelah enikah, suaminya, GPH Dipokusumo, tak pernah mengekang aktivitas febri.

“Tapi tentu saja tetap memegang sopan santun dan tata krama. Bebas tapi bertanggung jawab, kira-kira begitulah,” ujar Febri.

Kebebasan itulah yang kemudian dimanfaatkan Febri untuk kembali  mempelajari banyak hal tentang perempuan Jawa, termasuk kecantikan, primbon, dan kamasutra Jawa. Sejak remaja, Febri memang sudah memiliki ketertarikan pada dunia keperempuanan.

“Ibu adalah guru pertama saya. Banyak perempuan yang masih memahami kecantikan hanya dari sisi wajah dan polesan kosmetik. Saya sangat kagum dengan perempuan yang berpendidikan. Perempuan pintar dan berkualitas akan menghasilkan generasi pintar dan berkualitas pula,” kata Febri.

Baca juga  Supardjo: Menyelamatkan Naskah Kuno

Berangkat dari semangat Kartini dan latar belakang sebagai perempuan Jawa, Febri menularkan metode kecantikan ala perempuan Jawa. Tahun  2005, ia mendirikan FHD Motivation Training & Personal Development Progam, sebuah lembaga yang mendorong para perempuan untuk tampil cantik luar dalam. Lewat FHD, Febri menawarkan program kecantikan yang sangat berbeda dari yang pernah ada. Ia tidak menawarkan praktek pelayanan kecantikan semacam spa, lulur  atau pun creambath, melainkan memberikan pelatihan tentang bagaimana cara memunculkan aura inner beauty, kecantikan dari dalam, seorang perempuan.

“Ini program pembangunan karakter perempuan. Kami memberi definisi baru bahwa cantik itu harmonisasi antara jiwa, raga dan sukma. Semua bisa dicapai lewat meditasi, minum jamu, tata karma dan seterusnya. Cantik itu harus diikhtiarkan sebagaimana kita mengikhtiarkan kesuksesan,” ujar Febri di rumahnya di Sasono Mulyo yang berada di komplek Kraton Kasunanan Surakarta.

Pada awal-awal berdiri, peserta pelatihan memang hanya datang dari Kota Solo. Namun kini peserta dating dari berbagai kota, termasuk beberapa kota di Jawa Timur.

“Umumnya mereka tertarik dengan konsep kecantikan perempuan Jawa, terutama untuk meditasi dan seni olah tubuh. Dulu pesertanya hanya perempuan, sekarang banyak pria yang bergabung.  Untuk pria, konsentrasinya pada pembentukan pribadi,” jelas alumni Universitas Airlangga (Unair) Surabaya ini.

Minatnya yang besar terhadap kualitas perempuan, terutama pembangunan karakter, juga diwujudkan Febri untuk  mengurusi langsung Putra-Putri Solo, sebuah ajang pemilihan duta budaya dan wisata Kota Solo yang sekaligus merupakan rangkaian kegiatan Yayasan Putri Indonesia.

“Putra-putri Solo tidak bisa dicapai secara instan. Mereka mungkin kalah bersaing untuk menjadi Putri Indonesia, tapi apa pun harus dipersiapkan dengan sebaik-baiknya. Setidaknya mereka tahu bahwa kecantikan itu bukan sesuatu yang instant. Mereka orang Jawa, jadi harus njawani (mencerminkan kecantikan perempuan Jawa),” ujar Febri yang menjadi Ketua Paguyuban Putra Putri Solo sejak tahun 2001.(Ganug Nugroho Adi)

Foto: Ganug Nugroho Adi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here