Enno Sulistyorini: Koreografer muda asal Solo

KOREOGRAFER muda asal Solo, Enno Sulistyorini, awal Oktober lalu baru saja mementaskan reportoar terbarunya yang berjudul “Klise”. Seperti karya-karya sebelumnya, ia selalu menampilkan karya eksperimen. Tahun 2010 lalu, misalnya, perempuan kelahiran Solo, 4 Juni 1981 ini menampilkan eksperimen ruang lewat koreografi “Ruang Dalam Tubuh”.
Ia menjadikan tubuh bukan saja sebagai gerak, tapi sekaligus properti panggung. Enno juga membawa musik dan para musisinya ke panggung sebagai bagian dari setting panggung. Alhasil, (alat) musik bukan hanya berfungsi sebagai penghantar ilustrasi, tetapi juga properti atau instalasi panggung.
ENNO2
Setahun sebelumnya (2009), ia bereksperimen lewat karya “Samparan Moving Space”. Dalam karya ini, Enno menjadikan kain dodot yang gemulai –biasa dikenakan penari Jawa klasik Bedoyo-menjadi kain yang garang dan perkasa. Sementara samparan, kain panjang yang menjuntai dalam tari Bedoyo, justru digunakan sebagai properti yang sewaktu-waktu bias disibakkan baik dengan kaki maupun tangan.

Pada karya “Klise”, perempuan bernama asli Retno Sulistyorini ini mengulangi eksperimennya dengan menjadikan galeri atau ruang pamer sebagai panggung.
“Saya mencoba memadukan unsur karya pameran seperti instalasi dengan gerak tari dalam sebuah ruang pamer. Saya membayangkan penonton pertunjukan tari saya bias berpindah-pindah tempat seusai sudut yang mereka inginkan,” jelas koreografer peraih “Empowering Women Artist” dari Yayasan Kelola ini.

Enno bukannya tidak tahu risiko sebuah karya eksperimen. Karya-karya semacam ini biasanya cenderung tidak sempurna karena akan terus mencari bentuk.

“Bagi saya tidak pernah ada karya yang seratus persen selesai. Sebuah penciptaan akan selalu memiliki peluang untuk berkembang. Eskperimen-eksperimen yang saya lakukan ini untuk menggali kemungkinan-kemungkinan itu,” ujar lulusan Sekolah Tinggi Seni Indonesia (sekarang ISI) Surakarta.

Enno lahir dan tumbuh bukan dari keluarga seniman. Ayahnya, Sudimantono, seorang wiraswastawan, dan ibunya, Siti Sundari, seorang ibu rumah tangga biasa. Sejak kecil, Enno justru akrab dengan kegiatan mengaji, latihan rebana dan kegiatan keagamaan lain. Maklum, kawasan Pasar Kliwon tempatnya tinggal merupakan lingkungan santri. Minatnya kepada dunia tari baru muncul saat Enno masuk SMP.

“Saya sering nonton acara musik dan tari-tarian di televisi. Entah kenapa, tiba-tiba saya ingin seperti anak-anak itu, biasa menari di televisi. Saya mendapat pelajaran menari pertama kali ya saat ikut kegiatan ekstra kulikuler tari SMP,” kenang Enno.

Baca juga  Sruti Respati: Sinden Demokratis

Selepas SMP, Enno bukannya melanjutkan ke SMA umum seperti anjuran orang tuanya, tetapi justru memilih masuk Sekolah Menengah Kerawitan Indonesia (SMKI) jurusan tari. “Saya sempat kursus privat tari Jawa klasik, karena syarat masuk SMKI harus bisa menari Jawa. Selama dua minggu saya belajar tari Gambyong, hingga akhirnya diterima masuk SMKI,” tutur koreografer yang juga belajar menari pada Suprapto Suryodarmo, Mugiyono Kasido, Eko Supriyanto, dan Jarot B Darsono.

Karya koreografi pertamanya, “Pisau”, lahir tahun 2000 untuk diikutkan dalam “Festival Penata Tari Muda” di Solo. Diluar dugaan, karyanya mendapat sambutan luar biasa. Selama 10 tahun terakhir, “Pisau” merupakan karya yang paling banyak dipentaskan ke berbagai kota seperti Solo, Pekanbaru, Jakarta, Yogyakarta, dan sejumlah kota di Itali.

“Demi kebutuhan eksperimen, visualisasi pertunjukan selalu berubah. Mulai tata panggung, ilustrasi musik, bahkan blocking penari pun berubah. Jadi mereka yang pernah menonton di Solo akan menemukan visual yang berbeda ketika menonton di Jakarta, Yogyakarta dan lainnya,” ujar Enno yang banyak terlibat kolaborasi dengan seniman-seniman dari lintas generasi, lintas Negara dan disiplin yang berbeda.

Tahun 2007 lalu, misalnya, bersama koreografer Danang Pamungkas, Enno berkesempatan mendampingi tiga koreografer dan kelompok tari dari Japan Contemporary Dance Networking (JCDN). Pentas bersama ini merupakan rangkaian dari pementasan ke sejumlah negara Asia Tenggara, seperti Malaysia, Thailand dan Filipina.
Lewat karyanya yang lain, “Samparan Moving Space” (2007), perempuan bertubuh mungil ini tampil memukau di dalam “Indonesian Dance Festival” 2008 di Jakarta. Ia juga membawa karya koreografi ini pentas keliling Eropa, antara lain Itali, Belanda, Amsterdam dan Belgia.

“Dari semua karya koreografi saya, ‘Nafas’ memiliki kesan paling penting dalam karir tari saya. Karya Itu adalah tonggak,” ujar Enno yang tinggal kawasan Jaten, Karanganyar.

Sebagai karya tonggak, menurut Enno, sebab karya itulah yang membuat dirinya memutuskan untuk mengambil jalur koreografer, bukan sekadar sebagai penari.

“Menjadi koreografer lebih menantang, karena dituntut menciptakan karya. Karir koreografer juga lebih panjang dibanding penari. Kalau saya tua nanti mungkin tidak ada koreografer yang meminta saya menari. Tapi kalau koreografernya itu saya sendiri, saya tetap bis menari. Setidaknya membawakan karya sendiri. Ha ha ha,” katanya berseloroh.

Baca juga  Sosiawan Leak: Penyair Gaduh

Seperti karya sebelumnya, “Nafas” juga bercerita tentang perempuan. Kelak, tema-tema perempuan dan anak-anak begitu lekat dalam karya-karya Enno.

“Saya seorang perempuan, juga seorang ibu, jadi saya lebih dekat dengan dunia itu . Kita akan mudah menyampaikan sesuatu kalau sesuatu itu sudah kita ketahui dengan baik,” ujar perempuan yang mengajar tari untuk anak-anak Taman Kanak Kanak ini.

Tema-tema perempuan itulah yang mengantar Enno ke New York dan Chicago, Amerika Serikat, untuk mengikuti “Cultural Exchange Program” (2007). Hingga akhirnya istri musisi Rudi Sulistanto ini meraih “Empowering Women Artist” dari Yayasan Kelola dua tahun berturut-turut, tahun 2010 dan 2011.

Enno yang pernah belajar tari pada maestro tari Sardono W Kusuma ini menuturkan “Nafas” terinspirasi oleh tradisi pingitan dalam masyarakat Jawa yang harus dijalani seorang calon mempelai perempuan. Dalam menjalani tradisi pingitan, seorang perempuan harus tinggal dalam sebuah kamar atau tidak boleh keluar rumah selama sepekan sampai hari pernikahan tiba.

“Penantian panjang, perasaan gelisah, dan hati yang berdebar-debar saat menunggu hari perkawinan itulah yang saya angkat dalam karya koreografi. Barangkali karya ini juga sebagai bentuk protes, karena hanya calon mempelai perempuan yang dipingit. Calon mempelai laki-laki tidak,” kata Enno yang tahun 2009 lalu melahirkan karya ”Tubuh Bisu”.

Di usianya yang masih relatif muda, jalan panjang masing terbentang bagi Enno. Bersama beberapa kawan sesama penari, ia pun membentuk “Enno Dance” yang tidak hanya aktif mengurusi pementasan, tetapi juga memberikan pelatihan tari dan workshop terutama untuk anak-anak. Lewat kelompok ini pula Enno memberikan terapi kepada anak-anak tuna rungu, tuna wicara, dan anak-anak autis.

“Kami menghibur mereka, mengajak mereka bermain, bersenang-senang lewat tari dan musik. Rasanya bahagia bisa melihat mereka bergembira,” ujar ibu seorang putri bernama Aksa Amieta Diwasasri ini. (Ganug Nugroho Adi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here