Djongko Rahardjo: Batik untuk Miss Universe

Djongko Rahardjo: Batik untuk Miss Universe

DJONGKO Rahardjo, perancang busana dari Solo, Jawa Tengah, tidak pernah menyangka rancangannya selalu dikenakan oleh Miss Universe ketika datang ke Indonesia. Setidaknya dalam tiga tahun terakhir ini, empat Miss Universe mengenakan gaun malam batik karyanya, mulai Riyo Mori (2007 ), Dayana Mendoza (2008), Stefania Fernandez (2009) dan Ximena Navarrete (2010).  Ia juga merancang busana untuk Putri Indonesia untuk ajang Miss Universe sejak tahun 2005.

“Saya merasa  terhormat. Tidak pernah mengira perancang dari daerah  dipercaya menyelesaikan pekerjaan besar seperti itu,” kata Djongko di rumahnya, Jalan Dr Supomo 128 Solo.

Djongko memang pantas kaget. Sebab, Jakarta selama ini menjadi kiblat segala hal, termasuk di dalamnya mode dan fashion. Dengan kondisi seperti itu, desainer yang tinggal di daerah hampir tidak dikenal, sehingga mustahil terlibat dalam pekerjaan-pekerjaan besar. Maka, tak jarang para desainer  muda memilih hijrah ke Jakarta untuk mengembangkan karyanya. Anehnya, Djongko tak pernah berpikir untuk melakukannya.

Djongko Rahardjo

“Saya memilih tetap tinggal di Solo, karena apa yang saya kerjakan sumbernya ada di sini.   Dasar rancangan saya itu batik, jadi untuk apa ke Jakarta?” ujarnya.

Menurut Djongko, rancangan busana batik itulah yang membuat dirinya terpilih sebagai salah satu desainer busana Miss Universe. Sebagai desainer yang tinggal di daerah, Djongko memang sering mondar-mandir Solo-Jakarta untuk mengikuti gelaran fashion. Pada sebuah ajang peragaan busana, ia mengikutkan beberapa desain batik. Dari kontes itu, sebuah perusahaan kosmetik nasional  tertarik dengan rancangannya dan memintanya untuk mengirimkan contoh  rancangan gaun malam dengan sentuhan batik untuk Putri Indonesia.

“Saya kirim apa yang mereka minta, dan ternyata mereka menyukainya. Tahun 2005 saya mulai mendesain baju untuk Putri Indonesia. Dua tahun kemudian saya dipercaya merancang gaun yang sama untuk Miss Universe,” kata Djongko.

Batik memang menjadi ciri khas dari rancangan Djongko, terutama untuk gaun malam. Banyak desainer menyebut garis rancangannya feminin elegan.

“Gampangnya, rancangan saya itu pokoknya perempuan sekali, ha ha…” ujarnya sambil tertawa.

Djongko memiliki resep, meski tinggal di Solo, namun jangan sampai terlambat mengikuti perkembangan dunia fashion. Ia menggali informasi lewat internet, majalah serta melakukan komunikasi dengan kolega dan jaringannya.  Maka, meski tinggal di Solo, sering memamerkan  rancangannya dalam beberapa event peragaan busana di Jakarta, Bandung, Ygyakarta, dan  Bali.

Baca juga  Supardjo: Menyelamatkan Naskah Kuno

“Perncang dari daerah harus memiliki ciri khas. Jadi begitu rancangan dibawakan model, orang akan langsung tahu itu karya siapa karena khas dan spesifik. Hanya dengan cara seperti itu karya kita bisa diterima,” kata Djongko.

Kecintaan Djongko terhadap batik tumbuh seiring dengan bakatnya sebagai perancang busana. Padahal ia tidak pernah berjar merancang busana secara formal. Bisa jadi, darah sebagai desainer mengalir dari ibunya, Setyowati (78) yang berprofesi sebagai penjahit. Sementera ayahnya, Boediono Linggo Rahardjo (82) yang pensiunan  pegawai pabrik rokok, selalu mendukung jalan yang dipilihnya.

“Ketika kecil saya suka melihat ibu menjahit. Tidak jarang saya ikut menggambari kain pesanan kemudian mengguntingnya sampai ibu marah-marah,” kenang Djongko.

Di luar kenakalannya itu, sejak kecil Djongko memang hobi melukis. Ia bahkan sepat tergabung dalam “Sanggar Bambu”, sebuah kelompok lukis di Solo. Dari kelompok itu, Djongko bahkan sempat mengikuti beberapa pameran lukisan.    Ketika SD dan SMP, ia beberapa kali menjuarai lomba lukis antar sekolah.

Pada masa-masa SMP Djongko mulai berkenalan dengan dunia batik, tepatnya ketika dia tergabung dalam kelompok tari Suryo Sumirat, sebuah kelompok tari di Pura Mangkunegaran.  Kelompok tari ini tidak hanya mengajarkan tari-tari klasik, tetapi juga mengenalkan bermacam perlengkapan untuk menari, salah satunya kain batik.

“Kebetulan saya sangat dekat dengan Gusti Heru (GPH Herwasto Kusumo, adik Mangkunegoro IX) dan para abdi dalem kraton. Dari Gusti Heru saya belajar tentang motif batik, kemudian dari abdi dalem saya belajar nyanting (membatik tulis),” kata pria kelahiran Solo, 19 Oktober 1968 ini.

Pergaulannya yang dekat dengan kraton Mangkunegaran membuatnya tak bias lepas dari dunia batik. Namun, karirnya sebagai desainer terbuka ketika Djongko menjadi finalis Lomba Perancang Mode yang diadakan oleh Majalah Femina tahun 1986. Ketika itu, lewat rancangan busana batiknya, ia berhasil menyisihkan puluhan pesaing yang datang dari berbagai kota. Salah satu desainer saingannya adalah Stefanus Hang yang hingga kini masih aktif di dunia mode.

“Hidup saya itu penuh kejutan. Banyak hal tak terduga datang, mulai juara lomba perancang busana, sampai bikin desain baju batik untuk Miss Universe itu,” kata Djongko yang pernah kuliah di Fakultas Pertanian Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Solo ini.

Di luar kegiatannya sebagai desainer, Djongko juga aktif dalam berbagai kampanye mengenalkan batik, salah satunya lewat Solo Batik Fashion (SBF) yang merupakan agenda tahunan di Solo. Event ini memberi kesempatan kepada para desainer untuk mengeksplorasi kain batik.

Baca juga  Santosa Doellah: Penjaga Tradisi Batik

Menariknya, catwalk SBF tidak berada dalam ruangan gedung yang megah dan mewah, melainkan hadir di tengah pasar.  Dalam SBF, batik dikenalkan sebagai sebuah corak yang luwes dan bisa dipakai oleh segala usia.  Batik dipadukan dengan berbagai busana, sehingga bisa dikenakan sebagai pakaian sehari-hari, pakaian kerja dan untuk santai.

“Kami ingin menghapus citra batik sebagai pakaian formal dan hanya pantas untuk orang tua.   Saya bermimpi batik benar-benar bisa menjadi kebutuhan masyarakat. Untuk para desainer, batik sebenarnya sumber inspirasi yang tidak pernah habis dibanding tekstil impor.”

Namun, menurut Djongko, merancang pakaian berkualitas dengan bahan dasar batik bukan sesuatu yang mudah. Sebab, hingga saat ini antara antara produsen batik dan desainer belum seiring sejalan.

“Produsen lebih mengutamakan corak dan warna sesuai permintaan pasar, sementara desainer lebih banyak berkutat pada seni. Jadi mereka belum cocok,” ujar pria berpenampilan lembut ini.

Oleh karena iu, lanjut Djongko, jika batik akan dibawa ke dunia mode internasional, produsen dan perancang busana harus saling membuka diri untuk bersinergi. Produsen harus berani mencoba corak dan warna baru  yang sesuai dengan tren, sementara desainer harus lebih kreatif dalam mengeksplorasi batik.

“Satu conoth, Eropa dan Amerika mempunyai empat musim yang masing-masing memiliki tren warna sendiri. Batik bisa menembus ke pasar dunia jika rancangan dan corak memenuhi selera di sana,” kata Djongko yang pernah belajar tata panggung dan majemen fashion show di Hongkong.

Obsesi Djongko yang yang lain adalah membentuk komunitas pecinta batik. Lewat komunitas ini, Djongko bersama sejumlah tokoh di Solo tidak hanya mengenalkan batik secara fisik, tetapi juga nilai-nilai filosofi yang terkandung dalam batik, sejarah batik, serta proses pembuatan batik tulis.

Nguri-nguri (melestarikan) batik itu harus dengan tindakan, bukan hanya omongan. Kalau upaya pelestarian tidak dimulai dari sekarang, jangan salahkan kalau batik di-klaim negara lain,” ujar Djongko yang sedang menyiapkan gelaran SBF III pada Juni mendatang. (Ganug Nugroho Adi)

Foto-foto: Ganug Nugroho Adi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here