Djarot B Darsono: Mimpi Membuat Kita Kuat

Djarot B Darsono memiliki banyak predikat di bidang seni pertunjukan: aktor teater, koreografer, sutradara, dan bahkan skenografi (tata panggung). Semuanya bisa ia kerjakan dengan sama sempurnanya. Padahal ia lahir bukan dari keluarga seniman. Ayahnya, Hardjodarsono, adalah seorang tentara berpangkat rendah yang jauh dari kehidupan seni. Sedangkan ibunya, Supartini, seorang ibu rumah tangga biasa.
Bisa jadi, darah seni di tubuhnya mengalir dari kakeknya yang seorang Ronggo, gelar untuk pejabat kesenian Pura Mangkunegaran, di Wonogiri, Jawa Tengah. Sang kakek juga merupakan salah satu penari andal Pura Mangkunegaran.

“Kakek adalah orang pertama yang mengenalkan saya dengan kesenian. Ia seorang penari Mangkunegaran. Ketika masih SMP, dia selalu mengajak cucu-cucunya ke kraton untuk menonton pertunjukan tari, ketoprak dan wayang. Tapi dari emua cucunya, akhirnya hanya saya yang ketagihan,” kenang Djarot di rumahnya, Plesungan, Gondangrejo, Karanganyar, Jawa Tengah.

Djarot D Darsono soloraya.comDari seringnya menonton pertunjukan itulah, selepas SMP Djarot memutuskan untuk tinggal bersama kakeknya di Solo, semata-mata agar lebih mudah untuk menyaksikan berbagai pementasan kesenian.

“Saya tinggal di sebuah desa di Boyolali yang jauh dari hiruk-pikuk kesenian. Kalau saya pindah ke Solo, saya bisa menonton lebih banyak lagi pertunjukkan kesenian. Saya jatuh cinta dengan seni pertunjukan, terutama tari. Di Solo, saya juga bisa melanjutkan sekolah di SMKI (Sekolah Menengah Kerawitan Indonesia),” tutur pria kelahiran Boyolali, 10 Januari 1961 ini.

Namun keinginannya untuk masuk SMKI gagal, karena ia tak menguasai satu pun tari klasik Jawa. Toh Djarot tak patah arang. Ia masuk SMA umum dan belajar tari dari kakeknya di Mangkunegaran.

“Ketika SMA, saya banyak bergaul dengan teman-teman dari SMKI, kelompok-kelompok teater kampus, kemudian masuk komunitas-komunitas kesenian di Taman Budaya Surakarta (TBS),” ujar pria kelahiran Boyolali, 10 Januari 1961 ini.

Di SMA juga ia mendirikan teater sekolah. Ia tak hanya menjadi aktor, tetapi juga menulis naskah, sutradara dan bahkan penata panggung. Sejak itu, tari dan teater seperti tak bisa lepas dari kehidupannya.

Keinginannya untuk sekolah formal di jurusan Tari baru terwujud selepas SMA tahun 1982, yaitu di Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI) -berubah menjadi STSI dan sekarang Institut Seni Indonesia Surakarta. Selama kuliah itulah Djarot bertemu dengan banyak tokoh seniman, seperti koreografer Sardono W Kusuma, Suprapto Suryodharmo, dan dramawan ST Wiyono.

Baca juga  Alpha Fabela Priyatmono: Arsitek Kampung Batik Laweyan

Tahun 1984 ia bergabung dengan Teater Gapit, sebuah teater berbahasa Jawa yang cukup ternama di Solo ketika itu. Di kelompok teater inilah ia bertemu banyak seniman-seniman kelak menyandang nama besar, seperti Bambang “Kenthut” Widoyo SP, Dedek Wahyudi, Trisno Santoso (Pelok), Wahyudiato, Wahyu Widayati (Inong Sahita).

Selama 13 tahun di Gapit (1984-1997) Djarot banyak belajar tentang kepekaan rasa dan ketajaman indera yang selama ini menjadi ciri khusus teater yang didirikan tahun 1980 itu.

“Gapit selalu berbicara masalah-masalah masyarakat pinggiran. Masyarakat kelas bawah yang hidupnya susah; tidak bisa makan, terlilit rentenir, panen yang gagal, penggusuran atau pun banjir. Lakon-lakon seperti itu membuat kita peka dengan lingkungan sekitar kita,” kata suami dari Charlotte, seorang pemandu wisata internasional.

Tahun 1995, ia belajar Seni Gerak Amerta pada Suprapto Suryodarmo di Padepokan Lemah Putih selama empat tahun. Pada tahun yang sama, ia bersama beberapa seniman, Budi S Susilo, Eko Supendi, dan Hengky S Rivai mendirikan Studio Taksu, sebuah kelompok yang menampilkan konsep pertunjukan tari, gerak, dan suara.

“Lewat kelompok ini, kami ingin membangun format pertunjukan tempat kami belajar dengan cara melakukan inovasi-inovasi pertunjukan,” ujar Djarot yang terlibat sebagai penari dalam beberapa lakon karya Sardono W Kusuma dan Elly D Luthan.

Bersama kelompok Contemporery Indonesian Performance Artist, Djarot menggelar pertunjukan di London Royal Hall Gamelan pada Womad Festival 1997 di Inggris. Dua tahun berikutnya, ia dana kelompok Empat Sekampung diundang dalam Ghost Festival untuk pentas sekaligus memberikan workshop teater-tari di beberapa kota di Jerman, antara lain Berlin, Islingen, Stuttgart, Bodensee, Köln, dan Uberlingen.

Djarot yang memiliki akar kuat seni tradisi banyak terinspirasi oleh cerita-cerita dalam epos Mahabarata dan Ramayana. Ia juga selalu memasukkan unsur-unsur tari klasik Jawa, baik untuk gerak maupun cerita, dalam setiap pertunjukannya.

“Wayang , ketoprak dan tari itu bukan hanya tontonan, tapi juga tuntunan. Itulah hebatnya orang zaman dulu, karena bisa mengemas ajaran kebaikan lewat sebuah tontonan bernama kesenian,” kata pria yang tahun awal Januari lalu mementaskan tari “Sringimpi” dalam Srawung Seni Candi di Candi Sukuh, Karanganyar, Jawa Tengah.
Karya-karya Djarot, baik teater maupun tari, selalu sarat dengan kritik sosial. Dalam “Sringimpi” yang juga pernah ia pentaskan di Central National de Dance Contemporaine (CNDC) I’Esquisse, Angers, Prancis, misalnya, bercerita tentang mimpi masyarakat marginal tentang kesejahteraan dan keadilan yang selama ini jauh dari kehidupan mereka.

Baca juga  Sosiawan Leak: Penyair Gaduh

“Pada akhirnya orang kecil adalah orang-orang yang kerap kalah dan tergusur,” ujar Djarot yang tahun 1997 lalu belajar Tari Afrika selama dua bulan di Jerman.

Kemampuannya sebagai akor teater dan penari juga membawanya memasuki duania film, baik film layar lebar maupun senima elektronik. Ia misalnya terlibat dalam beberapa film, antara lain “Dongeng Dari Dirah” (Sardono W Kusuma), “Komedi Putar” (Norman Beni), “Anna van Jogja” (Bobby Sandy) dan “Drupadi “ (Riry Riza).

“Dulu membayangkan bisa pentas di pendapa Mangkunegaran saja saya tidak berani, karena keluarga saya miskin. Tapi ternyata saya salah. Orang itu harus punya mimpi, karena mimpi membuat kita kuat. Saya beruntung bisa mewujudkan mimpi masa kanak-kanak, yaitu mementaskan karya-karya di panggung,” ujar Djarot yang juga mengajar teater dan tari untuk anak-anak.

Di Solo, alumni Sekolah Tinggi Seni Indonesia (sekarang ISI) Surakarta ini pun banyak menggagas berbagai festival seni pertunjukan. Salah satunya adalah “Festival Air Tirtonadi” yang ia gagas bersama teaterawan Hanindawan. Festival ini tak hanya menampilkan bermacam seni pertunjukan, tapi sekaligus juga sebagai kampanye sungai bersih. Sebab panggung pertunjukan dalam festival ini adalah sepanjang pinggir dan tengah sungai Kalianyar di sekitar Terminal Tirtonadi.

“Lewat pentas ini, kami juga menyampaikan pesan kepada penonton untuk selalu menjaga sungai. Kami bilang ke mereka, jika sungai penuh sampah, festival seperti ini tidak bakal ada. Lalu mereka tidak lagi membuang sampah ke sungai,” kata pria yang dikenal murah senyum ini.(Ganug Nugroho Adi).

Foto: Ganug Nugroho Adi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here